RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 42. TIBA DI LOKASI PENYEKAPAN


__ADS_3

Berbagai upaya telah Seyna lakukan agar bisa melepaskan ikatan tangan dan kakinya, namun tetap sia-sia.


Tubuhnya yang masih lemah, kian tidak bertenaga karena terlalu banyak meronta. Apalagi ditambah rasa lapar dan haus yang saat ini Seyna rasakan.


Seyna menangis, dia berharap bisa pergi menghadap sang pencipta dan berkumpul dengan kedua orangtuanya tanpa menyusahkan sang kakak.


Rasa lelah membuat Seyna akhirnya tertidur di lantai, dia bermimpi Nayla berteriak-teriak memanggilnya sambil berlari kesana-kemari.


Seyna dalam tidurnya juga memanggil Nayla tapi teriakannya tidak di dengar oleh sang Kakak.


Kemudian Seyna pun terbangun, saat wajahnya terasa dingin dan ternyata di hadapannya tengah berdiri seorang wanita memakai masker dengan memegang sebuah gelas yang kosong. Ternyata rasa dingin tadi, karena perbuatan Carolina yang telah menyiramkan air ke wajahnya.


Carolina marah mendengar teriakkan Seyna, lalu dengan berkacak pinggang, dia berkata, "Berisik! Kamu bisa diam atau tidak, telingaku pekak mendengar teriakanmu!" ucap Carolina.


Seyna dengan susah payah berusaha duduk, lalu dia berkata, "Siapa kamu! Aku tidak mengenalmu, kenapa kamu menyekap ku. Memangnya apa kesalahan ku!" teriak Seyna.


"Ha-ha-ha, masih punya nyali kamu berteriak!" seru Carolina.


"Kamu memang tidak punya salah, tapi Kakak mu yang sangat bersalah! Jadi untuk memancing kakakmu agar datang kesini, maka aku membutuhkan mu. Kamu adalah kelemahan utama untuk kakakmu."


"Memangnya apa kesalahan Kak Nay terhadapmu! Kakakku tidak pernah menyakiti orang lain, jadi tidak mungkin dia yang menyakitimu. Mungkin kamu salah orang!" ucap Seyna yang mencoba menerangkan.


"Sudah, tak perlu membela kakakmu! Sekarang makanlah ini, Aku tidak mau kamu mati, sebelum rencanaku berhasil," ucap Carolina sambil membuka ikatan tangan Seyna agar dia bisa makan


Seyna yang sedari tadi menahan lapar, segera memakan makanan yang di sodorkan oleh Carolina.


Carolina kembali meninggalkan Seyna dan mengunci kamar itu dari luar. Dia harus bersiap, saat Nayla nanti tiba.


Sedangkan Nayla masih dalam perjalanan menuju alamat yang Carolina kirimkan.


Dewo yang sudah masuk ke dalam ruangan Damar, segera memeriksa komputer dan dia menemukan titik signal yang dikirim dari alat penyadap yang ada pada liontin yang dipakai oleh Nayla.


"Sekarang kita berangkat menuju arah signal ini! Kita harus gerak cepat, sebelum sesuatu hal yang membahayakan terjadi pada Nyonya!" ucap Dewo kepada para pengawalnya.


Merekapun bergegas pergi dengan membawa berbagai senjata, untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti dibutuhkan.

__ADS_1


Dewo menelepon Nayla tapi panggilannya tidak di angkat. Nayla memang sengaja dan dia hanya mengecilkan volume ponselnya saja.


"Neng, kenapa jalanan di sini sepi sekali, memangnya neng ada keperluan apa pergi ketempat ini?" tanya sopir taksi.


"Mencari adikku Pak, ini sesuai titik lokasi yang dikirim oleh si penculik."


"Neng berani sekali pergi sendirian, apakah Neng sanggup melawan penculik itu!"


"Ntahlah Pak, itu syarat dari si penculik, targetnya sebenarnya aku bukan adikku," ucap Nayla.


"Sebaiknya minta bantuan polisi saja Non, bahaya sendirian, bisa-bisa nyawa Non dan adik Non melayang keduanya."


"Tapi, bagaimana jika ancamannya benar Pak, penculik akan membunuh adikku apabila aku membawa orang lain datang kesini."


"Aku tidak memiliki orangtua lagi pak, hanya tinggal adikku seorang. Apapun resikonya, aku harus bisa menyelamatkan adikku demi amanah orangtuaku."


"Memangnya tidak ada keluarga lain Non?"


"Ada suami Saya Pak, tapi saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang dari luar negeri, mungkin besok baru sampai."


"Stop Pak, Saya berhenti di sini saja, tempatnya sudah dekat. Bapak tunggu di sini saja ya, jika dalam 10 menit saya atau adik Saya tidak kembali ke sini, Bapak pergilah! mungkin itu sudah takdir kami. Ini uang buat Bapak, terimakasih ya Pak," ucap Nayla sambil turun dari mobil.


"Jangan Pak, berbahaya. Ingat pesan Saya ya Pak!"


Pak sopir akhirnya hanya mengangguk, tapi dia diam-diam mengikuti Nayla dari kejauhan.


Sementara Dewo yang menggunakan motor, sudah hampir sampai ke titik di mana Nayla berada. Mereka mengendarai motor dengan kecepatan tinggi hingga dalam waktu singkat sudah sampai di tempat tujuan.


Beberapa orang pengawal mengendarai mobil, menyusul Dewo.


Carolina yang sedang mondar-mandir menunggu kedatangan Seyna merasa kesal. Dia diminta oleh Rendra untuk pulang saat ini juga, karena putra mereka sedang terserang demam tinggi dan harus di bawa ke rumah sakit.


"Hei kalian bertiga, jaga tawanan jangan sampai kabur, aku akan kembali lagi nanti. Kamu ikut Saya, kita akan pulang dan membawa putraku ke rumah sakit."


Carolina yang panik karena desakan Rendra, segera naik ke dalam mobilnya dan meminta pengawal untuk mengantar dirinya pulang secepat mungkin.

__ADS_1


Dia sampai lupa memberitahu Nayla jika hari ini membatalkan perjanjian untuk bertemu.


Nayla yang sudah dekat ke lokasi terus menyusuri jalan itu di ikuti oleh Pak sopir, mereka tidak menyadari jika Dewo dan empat pengawal juga sudah berada beberapa meter di belakang Nayla.


Carolina meminta pak sopir untuk melintas dari jalan potongan saja, agar mereka lekas sampai di rumah.


Nayla sudah sampai ke titik lokasi yang penculik kirim, dia melihat sebuah gudang tua yang di kelilingi semak belukar dan tumbuhan menjalar hampir menutup atap gudang.


Tanpa pikir panjang lagi, Nayla berlari masuk ke dalam, lalu dia berteriak memanggil Seyna.


Tiga penjaga yang ditugaskan untuk menjaga Seyna kaget kenapa ada orang datang ke tempat tersebut, padahal bosnya tadi tidak meninggalkan pesan apapun selain harus menjaga tawanan.


Seyna yang mendengar suara teriakan Nayla jadi bersemangat, ternyata sang kakak yang dia tunggu akhirnya datang untuk menyelamatkannya.


Tiga penjaga menghadang Nayla, "Hai siapa kamu! Berani-beraninya masuk ke dalam sini. Ayo teman-teman, mumpung Bos sedang pulang, kesempatan emas ini kita pergunakan baik-baik. Jarang-jarang ada wanita cantik nyasar, apalagi ini daerah terpencil dan sangat sepi. Lumayan 'kan, nanti malam dia akan menjadi penghangat bagi kita. Kalian setuju!"


"Setuju! ayo kesini nona manis, cepat, ayo mendekat!"


"Lepaskan adikku dulu! setelah itu aku akan menemani kalian bersenang-senang!" ucap Nayla.


"Sabar Nona, ternyata gadis itu adikmu? Kamu ingin kami melepaskan dia? tenang saja, pasti akan kami lepaskan setelah kamu melayani kami satu persatu."


"Ayo teman-teman, kita undi dulu, siapa yang akan mendapatkan giliran pertama. Nampaknya gadis ini masih ori, jadi penikmat pertama pasti akan beruntung."


"Baiklah, kita suit saja. Siapapun nanti yang menang, langsung bawa dia kesana dan keluarkan gadis penyakitan itu, agar ruangan bisa kita pakai untuk bersenang-senang."


"Oke, kami setuju!" jawab dua pengawal itu dengan serempak.


Ketiga pengawal itupun melakukan suit, sementara Nayla sedang memikirkan cara, bagaimana menyingkirkan mereka dan segera membawa Seyna pergi dari tempat itu.


Bersambung.....


Selamat malam sahabat, kali ini aku rekomendasikan karya kakak ku yang rajin membantu para penulis untuk sukses, sampai rela mengabaikan karyanya sendiri. Yuk para sobat bantu dukung dengan cara pavorit, vote, like dan coment yang membangun ya. Terimakasih 🙏🥰


__ADS_1




__ADS_2