
"Kalian dimana?" tanya Damar ke salah satu pengawal saat ponselnya tersambung.
"Bos, kami terpaksa mengikuti kemauan Tuan!" ucap pengawal yang ditelepon Damar.
"Iya, tapi kalian dimana saat ini!"
"Tuan telah mengejar seseorang yang tadi berusaha menyelinap di kamar hotel! Saat ini Tuan sedang berada di area pasar Bos!"
"Apa sudah gila kalian membiarkan Papa mengejar orang saat beliau belum pulih!"
"Kami nggak berani menghalangi Tuan Bos!"
"Ah...dasar kalian, aku sudah berulangkali mengatakan halangi Papa jika beliau ingin keluar, melaksanakan tugas begitu saja kalian tidak becus!" ucap Damar marah.
"Jika terjadi hal yang membahayakan diri Papa, kalian akan aku habisi! Kacau rencanaku gara-gara kebodohan kalian!" ucap Damar lagi.
Pengawal tersebut tidak berani lagi membantah omongan Damar. Mereka hanya mengatakan di mana tepatnya posisi Richat saat ini berada.
Damar kemudian menghampiri Nayla, "Sayang, kamu tunggu di kamar saja ya! Pokoknya kunci kamar dan jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali. Siapapun yang datang selain aku jangan kamu buka pintunya. Aku tidak ingin terjadi hal buruk terhadap mu! Ingat Sayang, jaga keselamatan mu dan anak kita! Pengawal akan tetap berjaga di depan pintu!" ucap Damar.
"Iya Mas! Mas juga harus hati-hati!" ucap Nayla.
"Iya Sayang, aku pergi dulu ya!" pamit Damar sambil mencium sang istri.
Nayla langsung mengunci pintu sesuai permintaan Damar.
"Kalian bertiga, kesini! Jaga keselamatan istriku dan jangan biarkan siapapun mendekati kamar ini! Nyawa kalian taruhannya jika sampai istriku celaka! Paham kalian!"
"Siap Bos!" jawab ketiganya serempak.
Setelah menginstruksikan tugas, Damar segera meninggalkan hotel. Dia harus secepatnya menjemput Richard, agar rencana kepulangan tidak tertunda lagi.
__ADS_1
Apapun urusan atau masalah yang terjadi di sini harus Damar abaikan dulu demi keselamatan keluarganya.
Damar melajukan dengan kencang mobilnya menuju alamat yang tadi telah pengawalnya share.
Sementara Richard berhasil menemukan tempat berkumpulnya para preman yang dia curigai telah memata-matai hotel tempat mereka menginap.
"Kalian menyebar! Kita beri mereka pelajaran, biar jangan sembarangan mengintai, memata-matai ku dan juga Damar!" perintah Richard.
Satu orang pengawal mendekati Richard, lalu dia berkata setengah berbisik bahwa di dalam adalah tempat salah satu gembong pengedar narkoba dan perdagangan senjata.
"Oh, berarti mereka mau cari gara-gara denganku. Barangkali mereka pikir, setelah aku sembuh akan kembali kedunia yang sama," ucap Richard sembari tersenyum sinis.
Richard sudah bersiap akan bergerak masuk, tapi satu pengawal berlari menghampirinya dan berkata setengah berbisik, "Tuan, tolong baca pesan dari Bos Damar, penting!" ucap sang pengawal sembari menyerahkan ponselnya.
Damar sengaja tidak menelepon, karena dia belum tahu situasi di sana. Daripada memancing pergerakan musuh, lebih baik menghindar untuk saat ini.
Richard kesal saat membaca chatt dari Damar, tapi dia tidak berkutik karena Damar akan memperpanjang perawatan jika Richard tidak mundur.
Dan Damar malam ini akan bertolak ke tanah air meski tanpa Richard.
Akhirnya Richard pun memilih menuruti permintaan Damar untuk mundur dan kembali ke hotel.
Tapi sebelum kembali, Richard sempat melepaskan tembakan ke udara beberapa kali, hingga membuat orang-orang yang sedang berkumpul di dalam berlarian, ada yang bersembunyi dan ada pula yang siaga serta mencari asal suara.
Damar yang sudah hampir sampai ke lokasi segera putar balik karena mendapatkan info dari pengawal jika Richard memutuskan untuk kembali.
Dia senang, kali ini bisa menakhlukkan ke keras kepalaan sang Papa. Jika Richard sudah total pulih, mungkin Damar akan membiarkan apa yang ingin Richard lakukan.
Saat ini jika membiarkan dan membebaskan Richard, berarti Damar menginginkan sang Papa menggali kuburnya sendiri.
Damar sengaja berkendara tidak terlalu kencang, hingga Richard bisa menyusulnya.
__ADS_1
Richard yang melihat putranya di depan segera meminta pengawal untuk menyalip mobilnya.
Damar pun berhenti dan dia melihat Richard turun dan mendekatinya, "Sudah berani kamu mengancam ku ya!" seru Richard yang masih kesal dengan putranya.
"Pa, aku melakukan ini demi Papa, karena aku sayang dan tidak ingin melihat Papa kembali terbaring di rumah sakit," ucap Damar.
Kemudian Damar berkata lagi, "Ingat Pa, berapa lama papa terbaring, berjuang untuk bisa memiliki kesempatan hidup seperti sekarang! Jadi, tolong Pa! Sayangi diri Papa. Aku janji akan menyelesaikan siapapun yang mencoba mengganggu Papa dan juga anak istriku."
"Ya sudah ayo kita pulang! Iya, aku mengalah untuk kali ini. Itupun, bukan karena diriku atau dirimu, tapi karena menantu dan calon cucuku!" ucap Damar sambil naik ke mobil Damar.
Damar tersenyum menyikapi tindakan Richard dan dia bersyukur, sekeras-kerasnya sikap Richard, ternyata masih memikirkan kebaikan anak menantu dan calon cucunya.
"Ayo cepat jalankan mobilnya!" ucap Richard.
"Baik Pa!" jawab Damar.
Mereka pun kembali ke hotel dan bersiap untuk segera menuju bandara.
Damar sengaja tidak mengurus check-out hotel dulu untuk menghindari perhatian musuh. Tapi dia telah memerintahkan satu pengawal yang tinggal untuk mengurusnya nanti.
Mereka keluar dari hotel secara bergantian, lalu bergegas ke mobil yang telah menunggu untuk mengantar ke bandara.
Malam ini perjalanan mereka tanpa hambatan hingga tiba di bandara. Dan di sana pilot pesawat pribadi mereka telah menunggu.
Richard, Damar, Nayla dan Arkan sudah naik ke dalam pesawat, lalu para pengawal menyusul naik. Pesawat pun sudah siap tinggal landas untuk kembali ke tanah air.
Richard senang, akhirnya setelah lama terkungkung di rumah sakit dia akan bebas, terutama di negara sendiri.
"Pa, tidurlah! biar aku yang berjaga-jaga. Nayla juga sudah tertidur. Itu mungkin akan bagus untuknya daripada dia terjaga dan merasakan mual serta pusing," ucap Damar.
"Baiklah! Aku akan tidur. Kamu harus perhatikan Nayla, jangan ikut tertidur!" pinta Richard.
__ADS_1
"Iya Pa, Papa tenang saja. Aku akan menjaga kalian."
Kemudian Richard pun memejamkan mata, walau awalnya sulit untuk tidur tapi akhirnya dia terlelap juga.