
Melihat Damar dan Nayla pergi, keduanya kesal dan menggerutu. Kenapa tadi repot-repot meminta bawakan minuman, kalau akhirnya mereka sendiri yang harus meminumnya.
Damar dan Nayla mendengar gerutuan kedua pembantu itu, tapi mereka tidak mengindahkannya.
Mereka terus saja berjalan ke kamar, untuk bersiap dan mengambil tas sebelum berangkat ke rumah sakit.
Hari ini, mereka harus berhasil meyakinkan Seyna agar mau menerima lamaran dari Arkan.
Dewo yang sudah tiba di rumah sakit, berpapasan dengan Aira saat gadis itu mau ke kantin.
"Lho, Kak Dewo kok sudah sampai sini? Apa tidak ada tugas dari Tuan?"
"Justru Tuan yang menugaskan aku ke sini Ai!"
"Untuk apa? Apa yang di perintahkan Tuan Kak?"
"Melamarmu!"
Aira kaget, lalu wajahnya memerah. Dia merasa malu dan mungkin salah dengar, tentang yang barusan di katakan oleh Dewo.
"Kenapa kamu bengong? Aku serius lho. Aku ingin melamarmu di hadapan Kak Arkan."
"Mas jangan macam-macam, sekarang bukan saat yang tepat Kak!"
"Justru sekaranglah saat yang tepat, mumpung Kak Arkan juga ingin melamar Nona Seyna. Barangkali dengan melihat kita jadian, mereka berdua akan segera menyusul."
"Kakak yakin? Kakak tidak takut jika Abang menolak lamaran Kakak?"
"Pantang menyerah sebelum mulai berperang. Jika Kak Arkan menolak, gampang saja!" ucap Dewo sambil senyum-senyum sendiri."
"Gampang bagaimana Kak?"
"Kita kawin lari saja, bukankah Tuan Damar sudah memberi dukungan? jadi tidak ada yang perlu kita takutkan lagi."
"Ya sudah, kita coba dulu. Mudah-mudahan Abang tidak menolak."
"Ayo kita masuk sekarang!" ajak Dewo.
"Tapi Kak, Abang masih menyuapi Seyna."
"Nah ini kesempatan kita agar mereka duluan."
"Baiklah Kak."
Keduanya bergegas masuk dan Arkan masih menyuapkan makanan ke mulut Seyna.
Seyna malu tapi Arkan malah mengelap mulutnya dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Dewo dan Aira senang melihat keduanya terlihat mesra.
"Ada apa kamu kesini Wo? Apa ada pesan dari Tuan?" tanya Arkan.
"Ti-tidak, aku ingin bicara hal penting sama kamu Kan?"
"Bicaralah!" ucap Arkan sambil masih menyuapi Seyna.
"Aku ingin melamar Aira Kan! Aku dan Aira saling mencintai dan kami ingin segera menikah!" ucap Dewo dengan gamblang.
"Seyna tersedak, sedangkan Aira tertunduk malu. Arkan sendiri sejenak terpaku, lalu dia memberikan minum kepada Seyna."
Tanpa memandang keduanya, Arkan bertanya kepada sang adik, "Apakah kamu bersedia Ai?"
Aira diam, dia takut untuk menjawab.
"Ai...Abang tanya, apakah kamu bersedia menikah dengan Dewo?"
"I-iya Bang. Aku mencintai Kak Dewo dan bersedia menikah dengannya."
"Baiklah, kalau itu kesepakatan kalian. Sekarang giliran ku, "Nona Seyna, maukah kamu menikah denganku? Aku ingin kita bersama Dewo dan Aira mempersiapkan pernikahan kita masing-masing."
Wajah Seyna memerah, dia terdiam dan berhenti mengunyah makanannya.
"Dek, jawablah pertanyaan Abangku, aku berharap kita bisa sama-sama bahagia," ucap Aira.
"Bagaimana Non? Adakah kesempatan untuk ku?"
"Tidak akan pernah!" jawab Arkan tegas.
Arkan menggenggam tangan Seyna, lalu dia mencium tangan pucat dan mungil itu.
"Menikahlah denganku. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu. Aku menyayangi dan mencintai mu Dek! Aku akan menjaga dan merawat mu hingga maut memisahkan kita."
Ucapan Arkan semakin membuat Seyna menangis. Arkan menghapus air mata Seyna, lalu dia menarik Seyna kedalam pelukannya.
Seyna terisak, dia merasa nyaman dalam dekapan Arkan yang sudah berulangkali mengucapkan kata lamaran.
"Kamu mau bersedia 'kan Dek?"
Seyna tidak mampu berkata-kata, dia hanya mengangguk sambil air mata terus mengalir.
Dewo dan Aira saling pandang, akhirnya sang kakak mengikuti jejak mereka.
Damar dan Nayla yang baru saja tiba di depan pintu ruangan, ikut senang.
"Alhamdulillah, akhirnya adikku akan menikah!" ucap Nayla sembari mendekat.
__ADS_1
Seyna makin malu, tapi Arkan sekali lagi menegaskan, "Kita berhak bahagia, seperti Tuan dan Nyonya."
"Mulai sekarang panggil aku Kakak! Kamu adikku dan kami mohon berbahagialah kalian."
"Dan kamu juga Dewo, apa Arkan sudah menyetujui lamaran mu?" tanya Damar.
"Alhamdulillah Bos, kami juga sudah diberi restu."
"Syukurlah, kita semua harus bahagia," ucap Nayla.
"Jadi kapan kita adakan pestanya?" tanya Damar.
Kedua pasangan saling pandang lalu mereka serempak berkata, "Kami hanya akan membuat syukuran sederhana saja Bos. Yang terpenting akad nikahnya."
Semua tertawa, ternyata pemikiran kedua pasang calon pengantin bisa sama.
"Baiklah kalau begitu, aku dan Nayla yang akan mengatur rencana pernikahan kalian. Dan kami akan memberikan tiket bulan madu ke tempat yang kalian inginkan. Sebelum aku berubah pikiran, silakan secepatnya kalian request. Aku tunggu jawaban kalian besok."
"Segeralah kalian berembuk, selain itu, aku pribadi juga akan memberikan hadiah khusus untuk kalian!" ucap Nayla.
"Terimakasih Kak," ucap Seyna sambil memeluk sang Kakak. Aira juga berterima kasih dan memeluk Nayla.
Begitu pula dengan Arkan, Dewo dan juga Damar, mereka tidak menyangka akan menjadi satu keluarga.
"Sebagai awal untuk merayakan keputusan ini, silakan kalian berikan buah ini untuk pasangan masing-masing," ucap Damar sambil menyerahkan apel dan anggur kepada Arkan dan Dewo.
Arkan dan Dewo mencuci buah dan mengupasnya, lalu keduanya menyuapkan ke pasangan masing-masing.
Begitu pula dengan Damar, dia mengupas jeruk dan menjulurkan ke mulut Nayla. Damar tahu, Nayla juga menginginkan perhatian seperti yang lain.
Nayla, Seyna dan juga Aira melakukan hal yang sama. Ketiga pasangan itu, sangat bahagia hari ini dan semua berharap kebahagiaan tidak akan pernah berlalu dari kehidupan mereka.
Damar dan Nayla pamit, mereka akan segera mengurus acara pernikahan. Jadi, saat Seyna kembali ke rumah semuanya sudah tinggal pelaksanaan saja.
Sementara Dewo, izin dengan Arkan untuk membawa Aira mengunjungi sang ibu untuk meminta restu.
Arkan mengizinkan mereka dan kini tinggal mereka berdua di sana.
Dengan senyum manis, Arkan memegang tangan Seyna dan berkata, "Akhirnya kita akan menikah. Besok aku akan minta izin dengan dokter, untuk membawamu ke makam orangtua kita. Kita akan meminta restu, meski mereka sudah tidak ada di dunia ini lagi."
"Iya Kak, sudah lama aku tidak mengunjungi makam ayah dan ibu. Jika besok Kak Nayla dan Kak Damar ada waktu, kita ajak mereka ya Kak?"
"Oke Sayang. Kamu telepon mereka atau aku yang telepone?"
"Biar aku yang akan telepon nanti malam."
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat, tapi minum obat ini dulu."
__ADS_1
Arkan memberikan obat ke tangan Seyna, lalu dia mengambilkan air minum. Setelah minum obat, Seyna pun merebahkan diri dan menutup mata sambil tersenyum.
Hari ini kebahagiaan sedang menghampirinya dan Seyna berharap, bisa membahagiakan Arkan sebelum kematiannya tiba.