Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 21


__ADS_3

Malam pun tiba, acara yang sangat dinantikan oleh Livia. Dia akan menjadi ratu semalam dan akan dibanggakan oleh kedua orangtuanya. Dia sudah tidak sabar untuk menertawakan nasib Rain yang akan ditendang dari keluarga Klopper. Livia sudah berdandan secantik mungkin. Dia menggunakan gaun pesta yang mewah berwarna biru muda dengan belahan dada rendah dan lengan pendek. Livia tentu saja terlihat sangat cantik dan manis. Dia akan bergegas ke lantai dasar untuk bergabung dengan para keluarga sebelum ....


"Ikut gue!" Dion menarik tangan Livia saat melewati kamarnya.


Yah, Livia harus menelan kekecewaannya. Semua penampilannya akan rusak sebelum ke acara pesta. Dion tentu saja yang akan merusaknya. Mau tidak mau Livia pun menurut saja masuk ke kamar Dion dan lelaki itu menguncinya.


"Lo cantik banget malam ini!" Dion membelai lembut wajah Livia.


"Makasih, Sayang." Livia tersenyum kecil. Dia merasa bahagia dengan perlakuan Dion malam ini.


Penampilan Dion dengan setelan tuxedo dengan warna senada dengan gaun milik Livia pun menambah kesan ketampanannya. Bahkan Dion terlihat lebih dewasa. Ah, tanpa sadar Livia mengagumi sosok lelaki yang berdiri di hadapannya ini. Lelaki yang telah merenggut mahkotanya dan lelaki yang ternyata adalah kakak sendiri. Livia harus segera menghilangkan perasaan aneh itu sebelum dia menelan kekecewaan jika suatu hari nanti Dion akan mendapatkan gadis lain untuk menjadi pasangan hidupnya. Sementara dia? Livia ragu jika akan ada yang mau dengannya karena dia bukan gadis yang suci lagi. Dia gadis yang kotor, yang selalu menikmati permainan dari sang kakak.


Tanpa sadar Dion sudah ******* bibir manis milik Livia yang selalu menggoda dimata Dion. Lelaki itu sudah kecanduan dengan semua yang ada pada diri Livia. Persetan dengan status kakak-adik itu. Dion ingin menikmati malam yang indah ini. Malam yang sepesial bagi gadis yang selalu dia dambakan.


"Love you, sayang," bisik Dion.


Tubuh Livia menegang, dia kehilangan konsentrasinya. Seakan jiwanya melayang jauh ke angkasa.


Dion mengatakan Love you? Aku nggak salah denger kan? Batin Livia.


Panggilan 'sayang' yang dia dengar dari bibir tipis lelaki itu pun terdengar sangat tulus. Bersama dengan itu Livia terkejut karena Dion sudah membuka resleting belakang gaunnya agar bisa melorot sedikit. Dion menghisap dengan kencang bagian yang sangat dia kagumi. Bagian yang sudah bertambah ukurannya akibat ulah Dion. Bagian yang Dion harap bisa mengeluarkan sebuah air yang akan menjadi sumber kekuatannya.


"Aahhh, Sayang ... Pelan-pelan," ucap Livia yang merasakan perih di ujung payudara miliknya.


Dion melepaskan hisapannya dan memberikan tanda merah di kedua gunung kembar milik Livia.


"Lo akan selalu jadi milik gue. Sebentar lagi tugas Lo harus nyusuin gue kapanpun gue mau!" Dion menekankan itu.


Seharusnya Livia sadar jika Dion hanya memanfaatkannya saja. Kata-kata tadi hanya bualan semata agar Livia mau menuruti semua perintah Dion. Ingin rasanya Livia menangis dan menghapus semua video telanjang miliknya yang disimpan oleh Dion. Foto-foto dirinya saat berada di pengaruh obat perangsang yang begitu menggoda. Ah, Dion memang sekejam itu.


"Aku ... Nggak mau!" tolak Livia. Dia harus bisa menolak semua yang Dion lakukan. Hubungan ini terlalu jauh.


"Kenapa? Lo mau __"


"Apa? Kakak mau sebarin foto-foto sama video aku? Silahkan! Aku nggak peduli lagi, Kak! Lagian kakak juga lakuin ini bukan hanya sama aku aja. Kakak juga mau ngincar Rain kan? Aku capek, Kak! Diperlakukan layaknya wanita ****** sama kakak. Mending kita akhiri semuanya!"


Kilatan amarah terpancar dari kedua mata elang milik Dion. Tatapan tajam itu mampu membuat tubuh Livia bergetar. Dia tidak menyangka jika dirinya seberani ini. Seharusnya dia tidak memercikkan api disaat Dion sedang memperlakukannya dengan manis.


Dion menampar pipi Livia hingga meninggalkan bekas merah. Mati-matian Livia tidak menangis karena nanti akan merusak make up-nya.


"Gue cuma mau Lo! Gue nggak bakal lepasin Lo sampai kapanpun!"


"Nggak! Sampai kapan kita akan seperti ini? Kak, sadar! Kalau kita ini kakak adik!"


"Persetan dengan status itu. Lo milik gue, juga tubuh Lo ini. Nggak ada yang boleh nyentuh Lo selain gue!" tegas Dion.


Lelaki itu pun mencium bibir Livia secara brutal. Hingga gadis itu memberontak. Pasokan oksigennya seakan hampir habis, tapi Dion tidak melepaskan ciumannya. Dia menikmati bibir itu dengan napsu yang sudah berada di ubun-ubun.


Dion sudah tidak perduli lagi tentang Rain yang akan merusak gadis itu. Menghamilinya dan meninggalkan gadis itu. Ambisinya untuk mendapatkan Rain sudah hilang karena dia hanya ingin bermain dengan Livia yang lebih menggoda.


Satu fakta baru yang Dion baru saja tahu ketika tidak sengaja mendengar mamanya itu sedang menelpon seseorang yang Dion dengar itu adalah ayah kandung Livia. Jadi mereka rupanya bukan saudara kandung. Tentu saja Livia beda orangtua karena Livia dilahirkan dari seorang perempuan yang sudah meninggal. Ayahnya sangat gila harta dan menjual Livia pada Shely. Dion sudah mendengar semua itu, Shely melakukan itu agar bisa menikah dengan Damian. Menguasai hartanya dan mengusir semua yang menjadi penghalang.


"Jangan nangis, nanti make-up mu rusak!" Dion menghapus air mata yang tumpah dari kedua mata Livia.


Dion juga mengusap bibir Livia yang bengkak akibat ciumannya yang terlalu kasar.


"Maafin gue, sayang. Gue janji nggak akan ngejar Rain lagi. Gue akan selalu perlakuin Lo dengan lembut dan cuma Lo satu-satunya cewek yang main sama gue!"


"Jangan pernah memikirkan tentang siapa kita. Lo percaya aja sama gue, Lo tetep jadi budak gue kapanpun gue butuhin!"


Livia mengangguk dia pun menghapus sisa air matanya. Tidak perduli soal menjadi buka Dion. Lelaki itu berjanji untuk tidak mengejar Rain saja, Livia sudah sangat senang.


"Hadiah sepesial dari gue karena Lo udah jadi gadis yang manis!" Dion memakaikan kalung emas putih dengan liontin hati.


"Jaga baik-baik hati gue!" Dion mengecup kening Livia.


"Makasih, Sayang!" Livia memberanikan diri untuk mengecup bibir lelaki itu. Biarkan dia bahagia untuk malam ini.


"Dandan lagi gih, jelek tau kalau nangis gini! Mulai sekarang Lo boleh manggil gue senyaman Lo aja deh."


"Beneran?" Livia merasa senang dengan kedua mata yang berbinar.


Panggilan 'kakak' adalah panggilan yang nyaman untuknya daripada harus memanggil dengan sebutan 'sayang' karena Livia selalu saja keceplosan.

__ADS_1


Setelah merapikan kembali tampilannya, Livia menggamit lengan Dion dan mereka menuju lantai dasar. Dimana semua sudah berkumpul.


**


Acara pembuka dan tiup lilin pun berjalan dengan lancar. Semua tamu undangan memuji kecantikan Livia. Bahkan banyak rekan kerja Damian yang memiliki anak lelaki mengantri untuk melakukan perjodohan. Tentu saja perjodohan bisnis dikalangan para pengusaha itu sangat wajib, selain menguntungkan mereka tidak akan pernah merasa kesusahan. Semua demi masa depan anak cucunya nanti kan?


Kini para tamu menikmati makanan yang sudah tersaji. Sementara Rean celingukan mencari Rain yang sejak awal tidak terlihat batang hidungnya.


"Dimana Rain?" tanya Radit. Lelaki itu juga datang kepesta karena kedua orangtuanya mendapatkan undangan.


Papa Radit memang memaksa untuk datang, tentu saja dengan maksud terselubung.


"Alex, apa kabar? Akhirnya kau datang juga!" sapa Damian.


"Ya, seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja." Alex mengalihkan pandangan pada Livia yang berdiri di samping Damian. "Livia, selama ulang tahun ya, cantik!" Alex mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, Om." Livia membalas uluran tangan itu.


"Oh, ya. Apa dia Radit?" tanya Damian.


"Ya, dia putra sulungku!"


"Radit, kenalan dong sama si cantik ini." Alex memaksa Radit untuk berkenalan dengan Livia.


Livia menatap takjub lelaki yang ada dihadapannya ini. Dia sangat tampan bahkan Kenan saja kalah. Ya hampir sebelas dua belas lah.


"Radit sudah punya pacar?" tanya Damian basa-basi.


"Sudah, malah jadi calon istri nanti!" jawab Radit santai.


Alex berdehem, "Hah, biasa anak muda jaman sekarang ini. Eum, bagaimana kalau kita bahasnya sambil duduk. Ya, biarkan mereka berdua menikmati malam ini!" Alex memberikan kode pada Damian.


Tentang perjodohan Radit dan Livia memang sudah pernah mereka bahas sebelumnya. Damian sangat setuju karena jika Livia menikah dengan Radit, maka dia akan mendapatkan saham 30% dari perusahaan Alex yang sudah sangat maju dan memiliki banyak cabang di luar negeri. Ini sangat menguntungkan.


"Kak, kita berdansa saja yuk?"


"Sorry, gue lagi nyari cewek gue!" tolak Radit yang langsung pergi begitu saja.


Rean melihat itu pun menahan tawanya. Rean juga kecewa jika papa Radit akan menjodohkan dengan Livia. Bagaimana nasib Rain nanti.


"Bukankah kau bilang jika hanya Livia?"


Alex membenarkan posisi duduknya, "Ya, hanya gadis biasa saja. Tidak apa biar aku bujuk anak itu dan sering memintanya datang ke rumahmu untuk melakukan pendekatan!"


Sementara kedua lelaki itu sedang mengobrol Rain datang. Penampilannya tidak kalah cantik dengan bintang utama acara tersebut.


Rain melangkah masuk dan mengedarkan pandangan. Terlalu banyak orang-orang yang sedang menikmati acara itu rupanya.


"Hanya ulang tahun sudah seperti pesta pernikahan saja!" gumam Rain.


Jika Livia terlihat lebih dewasa, maka Rain terlihat natural seperti usianya. Meski dia tidak nyaman dengan gaun yang dia kenakan. Apalagi heels yang mengganggu langkahnya. Rain berusaha berjalan dengan anggun, memperlihatkan ketegasan dan aura dingin yang memancar. Siapa saja yang mau mendekati gadis itu harus menyiapkan mental yang kuat.


Rain melihat Damian sedang berbincang-bincang dengan para koleganya. Ada ayah Radit juga di sana.


"Selamat malam, papa?" sapa Rain lembut.


Damian menoleh, senyum yang sejak tadi mengembang pun seketika pudar. Dia terkejut karena Rain datang di acara ini. Padahal dia tadi sudah meminta orang untuk mengurungnya di paviliun.


*Kenapa dia bisa lolos?*


"Lho, Pak Damian, siapa gadis cantik ini?" tanya salah satu rekan bisnis Damian.


Arya yang sudah tahu pun diam saja. Sementara Alex menahan senyum, dia juga tahu tapi pura-pura tidak tahu saja. Tentu ini rencana Alex jadi perjodohan dengan Livia hanya omong kosong saja. Dia sengaja menjebak Damian agar mau mengakui Rain anak kandungnya. Alex juga yang menolong Rain melalui orang kepercayaannya yang menyamar menjadi pelayan di mansion Damian. Semua sudah direncanakan sesuai prediksi Rain. Gadis itu memang sangat cerdik.


"Dia ... Ah, dia sudah aku anggap putriku sendiri," jawab Damian sambil merangkul punggung Rain.


"Pa, makasih ya kalung ini ... Bagus banget. Aku suka lho!"


Damian sangat terkejut saat melihat Rain memakai kalung yang selama ini dia sembunyikan.


"Kamu memang penyayang anak ya, Pak Damian. Kami bangga lho, meski bukan anak kandung tapi kamu sangat menyayanginya."


"Ya, benar. Andai anak lelaki saya sudah besar pasti sudah saya ajak untuk perjodohan!"

__ADS_1


"Kalau begitu ... Biar putraku saja yang berjodoh dengan Rain. Livia sudah diambil Pak Alex. Cepat sekali dia!"


Begitu ucapan para rekan kerja Damian. Sementara lelaki itu hanya berdiri mematung. Memaksakan wajahnya untuk tersenyum.


"Aku ... Memang anak kandungnya. Hanya saja tidak dianggap olehnya."


Deg ...


Damian semakin menegang tubuhnya. Dia butuh Shely yang pandai bersilat lidah. Entah dimana wanita itu. Damian sangat tidak nyaman dengan kondisi ini. Mengapa Rain tiba-tiba bisa datang lalu mengatakan hal buruk pada rekan kerjanya. Jika mereka tahu, maka habislah Damian.


Tatapan para rekan kerja Damian pun berbeda-beda. Mereka tidak menyangka Damian sekejam itu.


"Jadi ... Ini ada kesalahpahaman. Dalam keluarga papa dan mama tidak ada yang memiliki keturunan kembar. Saat melakukan tes DNA ada yang menukarnya. Heran juga bisa tiga kali hasilnya sama." Rain menundukkan kepalanya. Dia memasang wajah yang sedih.


Di kejauhan sana, Rean dan Radit berdiri bersandar meja dengan kedua tangan yang dilipat di dada. Melihat betapa beraninya Rain yang sudah membuat seorang Damian mati kutu. Wajah Damian sudah sangat tegang. Ini sangat menyenangkan untuk Rean.


"Apa? Kenapa bisa begitu!" tanya Banu, yang memiliki tubuh gempal.


"Damian, tolong jelaskan!" Arya menginterupsi. Dia juga baru tahu fakta ini.


Arya hanya tahu jika Rain tidak dipublikasikan karena permintaan gadis itu. Rupanya ada fakta lain yang mengejutkan.


"Aku sudah melakukan tes DNA ulang secara sembunyi-sembunyi supaya tidak ada paparazi yang tahu. Jadi ... Hasil ini!" Rain mengambil sebuah kertas yang ada di hand bagnya.


Seluruh orang di sana pun melihat hasil itu.


"Dia anak kandung anda, Pak Damian!"


Runtuh sudah dunia Damian. Dia tidak lagi memiliki kewibawaan di depan semua reka bisnisnya. Rain berhasil membuat dia malu. Bahkan semua rekan kerjanya pun sudah tahu jika Rain adalah anak kandungnya.


Damian juga merasa lega dan benci, perasaan itu datang secara bersamaan. Dia juga melihat hasil itu bahwa DNA Rain dan DNA dirinya memiliki kecocokan itu berarti Rain dan Rean memang anak kandung Damian.


Jadi ... Apa yang terjadi selama ini? Kenapa ... Setiap kali Damian melakukan tes DNA secara diam-diam hasilnya berbeda?


"Semua ini tentu saja ulah istri anda, Tuan!" bisik Rain yang tentu saja tidak ada siapapun yang mendengar. Hanya Damian dan Rain saja.


Apa lagi ini? Damian memijat pelipisnya.


"Pak Damian, sepertinya anda mengalami masalah yang rumit. Sebaiknya selesaikan dulu masalah ini berdua dengan putri anda," usul Pak Reza.


Damian mengangguk dan undur diri sebentar. Dia menarik tangan Rain, lalu menuju ke lorong yang sepi.


"Jangan pernah membohongi saya seperti ini! Saya tahu apa yang kamu rencanakan!" Meski dengan suara pelan tapi nada suara Damian terdengar tegas.


Rain dengan santainya menanggapi ucapan Damian yang sudah sangat emosi.


"Tuan, apa anda lupa jika saya lahir dari wanita yang sangat anda cintai? Wanita yang rela melakukan apapun demi menikah dengan anda? Tiga anak yang lahir dari rahimnya pun anda campakan dan lebih mempercayai wanita jalan itu!"


Damian sudah melayangkan tangannya, hendak menampar Rain. Dengan sigap gadis itu menangkisnya.


"Jangan pernah lagi menyakiti saya, Tuan! Jika anda tidak ingin saya balas lebih dari itu!" ancam Rain.


"Apa mau kamu, hah! Harta saya?"


Rain menggeleng, "Sayangnya, saya tidak gila harta!" Rain mengambil sebuah plastik klip yang berisi lima helai rambut Rain.


"Lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Shely, jika anda penasaran saya berbohong atau tidak!" Rain memberikan palstik itu di saku jas yang Damian kenakan.


"Jangan sampai supir anda yang bernama Tom tahu kemana anda pergi!" sambung Rain.


Gadis itu pergi meninggalkan Damian yang mematung. Rain puas membuat Damian malu dan mengancam lelaki itu. Misinya sudah sukses. Dia juga mengantongi banyak bukti kejahatan Shely, dia akan membongkarnya jika Damian sudah melakukan tes DNA ulang untuk memastikan benar tidaknya hasil yang Rain berikan.


Tom adalah supir pribadi Damian yang bekerja sama dengan Shely. Juga memiliki hubungan yang spesial. Dari Tom lah Shely tahu jika Damian selalu melakukan tes DNA kepada Rain dan juga Ando.


Shely selalu bertindak lebih cepat untuk mengganti hasil tersebut. Semua rencananya berjalan lancar tapi kini tidak akan Rain biarkan. Rain akan terus memantau Damian melakukan apa yang dia perintahkan atau tidak.


"Om, terima kasih bantuannya. Tanpa bantuan Om ... Mungkin aku masih terkurung di sana," ucap Rain pada Alex.


"Jangan sungkan minta bantuan sama Papamu ini, jangan panggil Om dong. Panggil Papa karena kamu sebentar lagi jadi menantu di keluarga saya!" kata Alex.


Rain menggeleng, dia masih ingat tentang obrolannya dengan Radit. Dimana lelaki itu sedang bersama seorang perempuan.


"Radit ... Sudah memilik kekasih lain, Om."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2