Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 46


__ADS_3

"Lo pilih rumah sakit atau Lo minta maaf sama Mentari!"


Sudah Keyla duga, pasti Mentari yang mengadu. Padahal tadi dia sudah membully habis-habisan dan mengancam gadis itu agar tidak mengatakan pada siapapun. Nyatanya Rain datang dengan tatapan garangnya.


Sampai-sampai adik kelas yang hendak masuk ke toilet urung karena melihat tatapan Rain yang mengerikan. Terlebih dia berdiri di ambang pintu toilet.


"Masuk aja daripada Lo ngompol!" ucap Rain.


Gadis itu mendongak ketika tatapan Rain sudah biasa. Lalu dia mengangguk. Meski tetap saja takut.


Rain kembali menatap ketiga gadis itu, dia tidak membiarkan mereka kabur.


"Cepat katakan!" teriak Rain.


"Gu-gue .... Nggak ikut-ikutan, Rain!" kata Ima, membela diri.


Keyla menoleh ke arah Ima dengan tatapan tajam, tapi tidak semengerikan Rain.


"Gue cuma di suruh buat nahan tangan Mentari, Rain!" Secara tidak langsung Ima sudah mengatakan hal yang jujur.


Membuat kedua temannya kesal.


"Tetep aja kalian semua salah! Udah gue bilang kalau jangan bully Mentari lagi! Kalian semua budek apa gimana sih!" teriak Rain sambil memukul pintu toilet.


Gadis yang berada di salah satu bilik itu pun bergegas kabur. Sebenarnya ingin menguping tapi hawa yang mengerikan itu membuat gadis itu urung.


Rain mendekat ke arah Keyla, Rain sudah habis kesabarannya karena Keyla selalu saja mengganggu Mentari hanya karena dekat dengan Rean.


"Katakan gimana caranya supaya Mentari jauhi Rean? Sementara dia duduk sebangku dan bahkan sudah resmi menjadi sepasang kekasih!" kata Rain dengan seringaian yang mengerikan.


Dina yang hendak kabur segera dicekal tangannya. Rain menarik kerah baju Keyla lalu dengan sigap menendang kaki Ima yang sudah hampir keluar.


Gadis itu terhuyung. Sementara Keyla yang hampir melayang karena Rain mencengkeram kerah bajunya sambil berputar untuk menendang Ima. Jantung Keyla sudah hampir lepas dari tempatnya.


"Lo berdua coba-coba kabur gue pastiin masuk UGD!" ancam Rain tidak main-main.


Ima dan Dian pun menurut dengan tubuh bergetar hebat.


Entah kekuatan darimana Keyla segera mendorong tubuh Rain agar cengkramannya terlepas.


"Cewek gila!" teriak Keyla.


Rain jatuh tersungkur karena belum siap menerima perlawanan Keyla. Rain segera bangkit dan ....


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Keyla.


"LO YANG GILA! KARENA OBSESI LO KE REAN, MEMBUAT MENTARI KETAKUTAN DAN MENYIMPAN TRAUMA! MESKI GUE NGGAK TAHU APA YANG TELAH LO LAKUKAN KE DIA. DASAR CEWEK MURAHAN YANG PAKAI CARA MURAHAN HANYA KARENA COWOK!" Kesabaran Rain sudah habis.


Gadis itu juga memberi tamparan pada Ima juga Dian. Membuat sudut bibir kedua gadis itu berdarah.


"Ini belum seberapa, kalau sampai kalian bertiga ngancurin hidup Mentari, gue nggak akan segan-segan bales semua itu!" Rain menunjuk ke arah ketiga gadis itu.


"Siapa elo, hah! Gue bisa dengan mudah hancurin hidup Lo! Gue juga bisa dengan mudah cari tahu pekerjaan Lo yang sebenarnya! Orang miskin kayak Lo ini pakai barang mewah? Gue yakin kalau Lo yang lebih murahan karena Lo jual diri ke om-om dan Lo gunain tubuh Lo ini buat ngerayu Rean juga Radit!" Keyla tidak mau kalah beradu argumen.


Plak


Plak


Tamparan mendarat di kedua pipin Keyla. Rasa panas menjalar di pipinya, membuat kepalanya berdenyut nyeri dan telinga yang berdengung. Tamparan Rain tidak main-main. Gerakan tangan Rain yang cepat membuat Keyla tidak bisa menghindar.


"Jaga ucapan Lo ya!" Rain sudah sangat murka.


Ima dan Dian mencoba menenangkan Keyla agar tidak lagi membuat Rain emosi.


"Kenapa? Emang gitu kenyataannya kan? Mana mungkin bokap Lo yang cuma supir di rumah Rean bisa beliin barang branded dan motor mewah itu kalau bukan Lo yang jual tubuh Lo ini! Nggak usah munafik. Lo ngatain gue murahan tapi Lo sendiri lebih murahan! Ingat, Rain. Gue akan buka kedok Lo yang busuk itu!" Keyla mendorong tubuh Rain.


"Silahkan saja! Gue nggak takut. Seharusnya Lo sih yang takut karena bisa saja dalam hitungan hari bokap Lo bangkrut!" Keyla terkejut, tidak mungkin Rain bisa melakukan hal itu. Buru-buru gadis itu memasang wajah penuh dendamnya.


"Oh, jadi simpanan Lo itu punya kekuasaan tinggi? Silahkan saja lakuin. Gue bakal bikin hidup Lo hancur dulu!"


Rain menarik tangan Keyla dan memelintirnya. "Sekali lagi Lo bilang gue simpenan om-om, gue nggak segan-segan masukin Lo ke UGD. Biar Lo koma sekalian!"


Keyla meringis karena rasa sakit di tangannya.


"Rain, udah Rain. Lo bisa bikin Keyla terluka. Kita minta maaf atas apa yang telah kita lakuin ke Mentari. Tolong lepasin Keyla," ucap Ima karena tidak tega melihat Keyla yang kesakitan.


Rain melepas tangan Keyla dan mendorong kuat gadis itu hingga keningnya membentur tembok. Belum puas Rain menjambak rambut Keyla.


"Sampai tersebar rumor seperti itu, habis nyawa Lo di tangan gue!"


Beberapa rambut Keyla rontok karena jambakan Rain. Lalu Rain memberikan bogem di wajah Keyla. Meski tidak memakai tenaga dalam, tapi wajah gadis itu sudah bonyok bahkan hidungnya berdarah.


"Rain! Apa-apaan ini?" Bu Santi selaku wali kelas di kelas Rain datang karena aduan salah satu siswi yang hendak ke toilet.


"Kalian berempat ikut saya ke ruang BK!"


Mereka pun mengikuti perintah Bu Santi untuk keruang BK. Radit yang membawa tumpukan buku tugas itu terkejut melihat wajah Keyla yang lebam dengan darah segar yang terus menetes di hidungnya. Meski gadis itu sudah menutupi dengan tissue.


Radit susah payah meneguk salivanya ketika melihat Rain dengan raut wajah mengerikan. Pokoknya tidak enak dipandang sama sekali.


Marvels yang berjalan di belakang Radit pun tidak sengaja menabrak punggung lelaki itu karena tiba-tiba berhenti.


"Aduh! Kasih klakson kek kalau mau berhenti dadakan!"


Marvels menatap ke arah pandang Radit. Menemukan ke empat gadis yang di giring Bu Santi ke arah ruang BK. Melihat wajah Rain penuh emosi dan ketiga wajah gadis lainnya memar pun membuat Marvels geleng kepala.


"Penegak kebenaran dan keadilan. Gue makin suka sama Rain. Semakin membuat sekolah ini aman dari pembully!"


Radit melirik ke arah Marvels. Membuat lelaki itu bergegas pergi ke kelas.


**


"Kalian ini kenapa sih bikin masalah terus?"


"Kamu juga, Rain. Kalau Ibu nggak dateng pasti Keyla sudah babak belur sama kamu!"


Sementara Keyla duduk di sofa sambil diobati lukanya oleh Dina.

__ADS_1


Rain dan Ima duduk di kursi depan Bu Santi.


Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan Pak Erwin selaku guru BK dan Bu Yanti, kepala sekolah.


Bu Yanti menghela napas ketika melihat Keyla yang sudah babak belur. Bahkan bibirnya sudah bengkak.


"Rain, sangat di sayangkan sekali sikap kamu yang main hakim sendiri ini. Ibu bisa saja cabut beasiswa kamu!" kata Bu Yanti.


"Lebih baik panggilkan orangtua Rain saja, Bu!" usul Pak Erwin.


"Bu Yanti, Ibu kepala sekolah di sini kan? Seharusnya ibu tanya dulu kepada saya, kenapa saya melakukan itu?" kata Rain santai.


Sementara Ima menunduk karena takut jika orangtuanya di panggil.


"Rain tiba-tiba menyerang saya, Bu. Padahal saya tidak melakukan apa-apa. Ini hanya salah paham karena dia mengira saya merebut Rean!" kata Keyla dengan air mata yang sudah menetes. Meski membuat lukanya semakin perih.


Keyla akan membuat Rain dikeluarkan dari sekolah. Apalagi mendengar beasiswanya dicabut, Keyla sudah sangat puas.


"Apa!?" Rain tidak habis pikir dengan fitnah kejam yang Keyla buat.


"Jadi ini hanya karena masalah laki-laki? Rain, seharusnya kamu bisa menyikapi dengan kepala dingin. Kamu bisa bersikap lebih baik, bukan selalu cari perkara saja. Selama ini hukuman kamu selalu ringan karena Ibu mempertahankan beasiswa kamu. Sekarang tindakan kamu benar-benar keterlaluan. Ibu bisa saja keluarin kamu dari sekolah."


Keyla semakin bahagia mendengar itu.


"Bukan Keyla saja yang kamu serang. Ima dan Dina juga kamu buat babak belur seperti ini."


Sementara Pak Erwin memanggil orangtua Rain agar datang ke sekolah. Rain selalu menggunakan supir pribadi sang papa juga pelayan yang mengurusnya sejak kecil sebagai orangtuanya.


"Ima, katakan yang sejujurnya apa yang terjadi?" Ima yang sejak tadi menunduk pun tersentak.


"Seperti yang Keyla bilang, Bu. Kalau Rain ... Tiba-tiba menyerang kami!"


"Iya, Bu. Kami tidak tahu salah kami apa."


Rain mengepalkan kedua tangannya karena mulut ketiga gadis itu berbisa. Tidak ada kapok rupanya. Ima dan Dina berusaha agar orangtua mereka tidak di panggil ke sekolah.


"Mereka berbohong, mereka sudah berkali-kali merundung Mentari. Mereka membuat Mentari trauma. Ibu bisa lihat di cctv buktinya. Bukankah di toilet memang ada cctv dibagian wastafel?"


"Mana mungkin Keyla berbohong, Rain! Ibu akan memanggil orangtuamu ke sini! Juga orangtua kalian bertiga."


Rain mendekat ke arah Bu Yanti.


"Ibu lupa siapa saya? Nama belakang yang saya sembunyikan! Apa ibu benar-benar tidak mau melihat cctv, hm? Ibu siap kehilangan pekerjaan ibu?" bisik Rain. Membuat tubuh Bu Yanti meremang.


"Ibu juga lupa kasus perundungan yang hampir membuat saya kehilangan nyawa? Lalu salah satu sekolah di sini di tangkap karena kasus narkoba. Ibu lupa jika bisa saja saya laporkan ini supaya pamor sekolah ini jelek!" sambung Rain.


"Pak Erwin, kita ke ruang keamanan dan cek cctv untuk mengetahui apa yang terjadi."


"Saya sudah memanggil orangtua mereka, Bu."


"Iya sekarang cek saja apa yang terjadi."


Keyla ketar-ketir mendengar hal itu. Dia tidak akan tinggal diam, kenapa bisa Bu Yanti berubah pikiran. Tadi bukannya dia membela dirinya. Keyla bangkit dari duduknya dan melupakan rasa sakit yang ada di area wajahnya.


"Bu, apa ibu lebih percaya pada gadis miskin ini? Dia ini menyerang saya karena Rean dan juga karena saya tahu kalau Rain jual diri! Makanya dia menyerang saya dengan membabi buta. Bahkan perut saya sakit karena di tendang olehnya." Keyla berkata sambil terisak.


Dia takut jika kehilangan pekerjaannya. Mengingat siapa orangtua Keyla.


"Lakukan saja perintah saya. Supaya jelas apa yang terjadi!" Daripada mempercayai Keyla lebih baik dia adil dalam bertindak.


Melihat cctv untuk mengetahui apa yang terjadi. Bu Yanti tidak akan pernah takut dengan siapa Keyla. Dia akan berbuat seadil mungkin, bukan karena siapa Rain.


"T-tapi, Bu?"


"Ayo, Pak Erwin!"


Rain tersenyum puas. Sementara Keyla dan kedua temannya sudah pucat pasi.


"Bu Santi, tunggu di sini saja sampai orangtua mereka datang," titah Bu Yanti.


"Baik, Bu."


***


Damian memijat pelipisnya setelah mendengar kabar dari Pak Slamet, supir pribadinya itu. Bahwa Pak Slamet di telepon oleh pihak sekolah untuk datang karena Rain membuat masalah. Ketika Slamet bertanya apa yang terjadi, lelaki paruh baya itu terkejut buat main.


"Rain telah memukuli ketiga temannya dan membuat mereka babak belur."


Slamet bergegas ke ruangan Damian dan mengatakan semuanya. Di sana juga ada Rendy asisten Damian. Rendy pun menggeleng kepala mendengar kelakuan Putri Damian. Biasanya dia akan di panggil karena Rean membuat ulah. Rean sudah tidak lagi membuat ulah sekarang kembarannya. Hal yang lebih mengejutkan kalau Rain memukuli teman sekelasnya sampai babak belur. Rendy memang sudah tahu jika gadis itu bisa bela diri. Hanya saja seumur dia bekerja baru kali ini Rain membuat ulah.


"Jadi ... Bagaimana, Tuan? Saya harus kesana sekarang?"


"Biar saya saja yang ke sana. Supaya mereka tahu siapa Rain dan tidak bertindak seenaknya untuk mengeluarkan Rain."


Rendy terkejut karena pertama kalinya Damian mau meluangkan waktu untuk putrinya. Ya meski mereka sudah berbaikan tapi tatap saja membuat Rendy terkejut.


"Apa Tuan yakin?" tanya Rendy.


"Apa aku terlihat main-main?"


Rendy langsung bungkam. Damian bergegas ke sekolah Rain untuk pertama kalinya. Dia juga merasa bangga karena berguna juga untuk putrinya itu dan lagi ini kesempatan untuknya agar semua orang tahu siapa Rain ini.


***


"Dia ini anak supir Rean tapi gayanya selangit, Pa. Aku hanya tanya kerjaan dia apa karena punya barang mahal, nggak mungkin dia bisa beli. Aku hanya takut kalau itu barang curian. Eh dia malah nyerang aku kayak gini!" adu Keyla kepada papanya.


Papa Keyla--Agung Hutomo itu menatap tajam Rain. Dia akan membuat perhitungan pada Rain dan menghancurkan keluarganya.


"Permisi ...." Seorang wanita yang terlihat modis itu masuk ke ruang kepala sekolah.


Mereka di pindahkan ke sana karena ruang BK yang sempit tidak memungkinkan menampung para orangtua.


"Saya Mama dari Dina!" Wanita itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bu Santi.


"Silahkan duduk, Bu."


Wanita yang mengaku mama Dina itu duduk di sebelah Dina yang duduk di sebelah Keyla. Pada sofa panjang. Mia duduk di sofa yang muat untuk dua orang. Sofa itu berada di sebelah kiri mama Dina.


Sementara Rain duduk di kursi depan meja kepala sekolah dengan santainya. Dia tidak di perbolehkan duduk di sofa oleh Bu Santi.

__ADS_1


"Dina, apa yang kamu lakukan?" bisik Mama Dina.


"Semua ini gara-gara gadis miskin itu!" jawab Dina membuat Bu Santi menatap ke arah Dina.


"Jadi ... Seharusnya sekolah ini paham dan bisa melakukan tindakan tegas karena kenakalan anak itu!" celetuk Agung.


"Tidak perlu lagi untuk melihat cctv, bukan? Buktinya sudah sangat jelas!" sambungnya lagi, ucapannya penuh penekanan.


Membuat Bu Santi ketar-ketir.


"Saya sekali Wali kelas Rain, meminta maaf kepada Bapak dan Ibu. Rain memang murid bermasalah," kata Bu Santi.


"Kalau bermasalah kenapa tidak di keluarkan?"


"Rain ini ... Siswi beasiswa jadi kami masih mempertahankannya karena beberapa bulan terakhir dia sudah mengharumkan nama sekolah atas prestasinya."


"Hanya karena itu? Ini sudah sangat keterlaluan, Bu. Saya bisa saja membuat sekolah ini tutup dan kalian para guru kehilangan pekerjaan!"


Lisa, mama Dina pun sangat puas dengan ucapan Agung. Melihat putri bungsunya terluka dibagian bibir tentu saja tidak terima.


"Permisi ...." Ketukan pintu terdengar.


Bu Santi segera membukanya. Menampilkan sosok wanita berhijab panjang. Wajahnya enak dipandang juga sejuk.


"Saya Bunda Ima."


"Oh, silahkan masuk."


Rain mengernyit, jika ibunya terlihat sopan dan baik kenapa putrinya bisa bersikap berbalik?


Bunda Ima menyalami Mama Dina yang tersenyum ramah. Lalu menangkupkan kedua tangan kepada Agung. Dia tidak bersalaman dengan lawan jenisnya. Sungguh membuat hati Rain terasa sejuk melihat bunda Ima seperti melihat seorang bidadari surga.


Baru saja Bu Santi hendak menutup pintu, terkejut karena datang seorang lelaki.


"Tuan Damian?" pekik Bu Santi.


Pemilik yayasan sekolah itu pun masuk. Bu Santi kalang kabut karena Bu Yanti dan Pak Erwin belum juga datang. Darimana pemilik yayasan itu tahu tentang masalah ini? Perasaan Bu Santi semakin tidak enak.


Padahal Damian datang karena dia adalah papa dari Rain.


Damian memilih duduk di sofa single. Dia tidak mau ikut gabung pada orangtua siswi yang lain.


Satu kaki di angkat dan bertumpu pada kaki satunya. Punggung bersandar pada sandaran sofa. Sangat santai dan membuat Rain kagum dengan sikap papanya itu.


"Pa, dulu dia gadis bodoh yang entah kenapa bisa jadi pintar. Dulu dia sering bolos dan pergi ke gudang bersama seorang cowok. Aku pernah memergokinya. Eh dia ngancam aku, Pa. Dia ini suka godain cowok-cowok di sini dengan tubuhnya. Aku mau bongkar semuanya tapi takut. Rain suka ngancem aku bakal bikin babak belur kalau aku bocorin ke guru tentang kelakuan dia yang jual diri." Keyla bersuara ketika Bu Santi kembali duduk.


Tentu saja Bu Santi mempercayai hal itu, meski sebenarnya dia takut dengan ucapan Keyla yang sangatlah jujur karena ada Damian.


Agung menatap ke arah Damian, dia adalah kliennya. Bekerja sama dengan Damian tentu saja sangat menguntungkan bagi perusahaan miliknya. Dia juga tahu kalau Damian pemilik yayasan.


"Tuan Damian, siswi seperti ini alangkah tidak layaknya mendapatkan beasiswa. Seharusnya dia sudah dikeluarkan dari sekolah juga diblacklist supaya tidak bisa melanjutkan sekolah dimanapun. Dia sangat berbahaya bagi siswa-siswa lainnya meskipun pindah pasti akan terjadi seperti ini lagi!" kata Agung yang hanya ditanggapi dengan santai oleh Damian.


"Apalagi ... Maaf, dia ini kan anak supir. Sebaiknya Tuan pertimbangkan ini. Lalu barang-barang yang dia gunakan juga selidiki karena siapa tahu itu hasil curian."


Damian masih diam untuk menjadi pendengar setia.


"Tuan Agung Hutomo, apa anda lebih percaya dengan putri kesayangan anda ini?" Rain buka suara.


Sementara Bunda Ima menatap Rain dengan senyuman karena berani buka suara. Mendengar penuturan Keyla, bunda Ima bisa merasakan bahwa itu suatu kebohongan. Mama Dina masih saja menatap genit Damian. Membuat Dina menyikutnya.


"Ganteng ya. Duh mama jadi pengen nikah sama dia!" bisik Lisa.


"Maaf, Pak, Bu, sudah menunggu lama. Saya selaku kepala sekolah di sini mau menunjukkan hasil cctv. Di dalam sini ada bukti siapa yang salah. "


"Sudah jelas-jelas anak itu yang salah!" celetuk Lisa.


"Putri saya sudah terluka parah seperti ini. Apalagi yang harus diperlihatkan? Sudah terbukti siapa yang salah."


"Tuan, Nyonya, sebaiknya kalian duduk kembali saja. Bukankah lebih bagus kita turuti perintah Bu Kepsek?" kata Bunda Ima.


Lisa dan Agung kembali duduk.


"Kita tidak boleh asal tuduh. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Sebaiknya lihat saja dulu."


Bu Yanti memasang flashdisk dilayar laptopnya. Memperlihatkan kejadian di toilet itu. Rekaman itu diambil dari Mentari yang masuk ke toilet dan langsung diberikan tamparan oleh Keyla.


Agung melirik ke arah Keyla yang sudah menunduk.


Hingga serangan demi serangan yang dilayangkan Keyla dan kedua temannya kepada Mentari. Lalu Rain datang dengan luapan emosi.


Rahang kokoh Agung mengeras melihat kelakuan putrinya yang sejak tadi dia banggakan. Bahkan dia tidak memiliki wajah di hadapan Damian. Beruntung Damian tidak melihat itu karena dia masih saja duduk santai di sofa.


"Bu Yanti, jadi hukuman apa yang akan anda berikan kepada ketiga siswi ini? Mengingat putri kesayangan saya ini tidak bersalah." Damian melambaikan tangannya kepada Rain agar gadis itu mendekat.


Rain duduk di pangkuan Damian.


"Putri?" Keyla mengerutkan keningnya. Melihat Rain duduk di pangkuan Damian, otak Keyla seketika memiliki ide.


"Atau mungkin simpanan Pak Damian?"


"Keyla! Jaga ucapanmu!" kata Agung penuh penekanan.


"Keyla, sebaiknya kamu diam. Di sini sudah terlihat jelas jika kamu yang bersalah. Bukan Rain!" kata Bu Yanti.


"Rain memang putri kandung Tuan Damian yang tidak lain kembaran Rean."


Keyla, Ima, Dina, para orangtua juga Bu Santi dan Pak Erwin terkejut mendengar penjelasan Bu Yanti.


Sebelum Damian datang, Bu Yanti lebih dulu menceritakan semua yang terjadi. Lalu Damian meminta Bu Yanti agar membongkar identitas Rain. Damian tidak mau membuat Rain menjadi sasaran amukan para orangtua.


Wajah Agung sudah pucat pasi.


"Tu-Tuan Damian, anda sedang tidak bercanda kan?"


"Apa wajah saya terlihat bercanda, Tuan Agung?" jawabnya sambil tersenyum miring. "Terima kasih ya, sudah menghina anak saya. Putri anda sebaiknya di didik sebaik mungkin jangan jadikan pembohong kecil yang akan membuat saya mencabut kerja sama kita." Meski ucapan itu santai tapi terdengar mengerikan.


Bersambung ....


Nb : Spesial Dobel up ya. aku mau prepare buat mudik.

__ADS_1


__ADS_2