Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 79


__ADS_3

Seorang pria berpakaian serba hitam sedang mengintai seorang gadis yang baru saja keluar dari apartemennya. Gadis itu menuju basement dan mengambil motor sportnya. Motor yang sengaja dia beli mirip dengan motor Rain. Gadis itu memulai penyamarannya, dia akan menuju kafe yang akan launching malam ini.


Itu Gwen! Radit telah membebaskannya, tentu saja Gwen mengajukan sebuah perjanjian baru Radit mau membebaskan dirinya. Meski kedua orang tua Gwen bangkrut, setidaknya dia mendapatkan fasilitas kemewahan dari Radit.


Gwen akan melancarkan aksinya dan mempermudah Radit menculik Rain. Gwen baru tahu jika kafe tersebut adalah milik Rain, bukan Bara. Kini dia tersenyum miring karena malam ini semua dendamnya akan terbalas. Dia akan melihat Bara meregang nyawa lalu Rain akan hancur di tangan Radit yang sangat terobsesi pada Rain.


Ya, Radit akan menjebak Rain dengan begitu dia bisa memiliki Rain seutuhnya. Membuat gadis itu tidak akan pernah bisa jauh darinya. Semua rencana sudah tersusun secara rapih. Sayangnya, hal itu sudah bocor di telinga Rain.


Pria itu sudah memasang earpiece di telinganya dan sudah terhubung dengan seseorang di seberang sana. Earpiece itu memang didesain khusus jadi siapapun yang melihat tidak akan tahu jika dia memakai benda tersebut. Bentuk kecil dan warna menyerupai kulit.


"Dia mulai menuju lokasi!" ucap pria tersebut.


Kemudian menyalakan mesin motornya dan perlahan mengikuti Gwen dari jarak yang tidak terlalu dekat juga tidak membuat gadis itu curiga.


Sementara Radit sudah siap dengan para anggota inti untuk menculik Rain. Beberapa orang akan datang sebagai pengunjung. Lalu ada yang berjaga di area belakang dan area-area tertentu yang sudah dipastikan Rain akan pergi ke tempat tersebut.


Gritell Queen sudah ramai pengunjung, kebetulan memang ini malam minggu. Malam yang dinanti para remaja yang sedang dimabuk asmara dan malam yang dibenci kaum jomblo. Menurut sebagian orang, malam minggu adalah malam yang indah juga panjang. Malam yang bisa dihabiskan bersama kekasih tercinta.


Alunan musik dari band universitas ternama ini benar-benar membuat mereka yang sedang dimabuk asmara pun semakin berbunga. Banyak yang datang hanya berdua bersama kekasih, ada juga yang bersama-sama sahabatnya.


Ada juga yang hanya berdua bersama sahabat meratapi nasib menjadi jomblo.


Awalnya tak mengerti apa yg sedang kurasakan


Lagu romantis dari penyanyi terkenal dan dinyanyikan oleh salah satu band universitas ternama itu mengalun dengan indah, membuat siapa saja yang mendengarkan pun ikut terhanyut dalam suara merdu laki-laki yang berada di panggung itu.


Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada


Rain masih santai di ruangannya. Memperhatikan layar lebar yang menampilkan rekaman cctv diberbagai sudut. Senyum miring tercetak di bibir ranumnya. Gadis dengan gaya yang mirip dengan seorang Queen itu telah datang. Dia sedang di parkiran dan entah berkirim pesan kepada siapa.


Rain heran, ada ya manusia model seperti Gwen. Ketika kedua orangtuanya sedang kesulitan dia tidak perduli dan malah masih berjuang untuk ambisinya. Benar-benar gadis yang patut dijodohkan dengan boneka chucky!


"Rupanya Lo pengen banget terkenal ya?" kata Rain yang jujur saja dia kagum dengan penampilan Gwen.


Bisa menyerupai dirinya ketika menjadi seorang Queen. Pembalap yang memiliki banyak fans itu. Bahkan ada beberapa akun sosial media yang mengunggah video editan saat berada di sirkuit. Mengambil fotonya secara diam-diam untuk di posting. Siapa sangka jika video-video itu akan tenar dan orang yang melihatnya berbondong-bondong mencari akun sosial media seorang Queen si gadis misterius.


Rain hanya memakai satu akun sosial media. Dia tetap memakai nama Queen. Hanya saja dia tidak pernah upload foto atau status apapun. Ada tiga postingan saja itu juga beberapa bulan yang lalu. Rain akan buat postingan kalau dia lagi gabut.


Semua orang menatap ke arah gadis yang berjalan santai menuju kafe tersebut. Dia masih memakai helmnya. Lalu Gwen membuka helm tersebut ketika membuka pintu kafe.


Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku


Gwen mengibas-ngibaskan rambutnya. Lalu mengedarkan pandangan, mencari kursi kosong karena kafe ini sangat penuh.


"Queen? Lo beneran Queen?" Seorang lelaki yang lebih tinggi dari Gwen menatap kagum padanya.


Gwen tersenyum miring dan mengabaikan pertanyaan itu. Dia tetap berjalan ke arah kursi kosong yang hanya ada di pojokan.


"Lo nggak punya malu ya! Setelah semua ngehujat Lo dan dengan santainya Lo datang ke sini?" Gwen di dorong bahunya oleh seorang gadis yang tak lain adalah pengunjung kafe itu.


Aku tahu sesuatu sedang terjadi padamu


Gwen lagi dan lagi hanya tersenyum miring. Dia segera duduk di kursi kosong itu.


Sudah sekian lama ku alami pedih putus cinta


"Mau pesan apa, Kak?" tanya seorang pelayan laki-laki.


"Cappucino satu!" jawab Gwen.


Dia sudah hafal minuman yang Rain sukai.


Dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara


Gwen menikmati alunan lagi tersebut dan menurutnya lagi itu sangat cocok untuk dirinya yang sedang jatuh cinta.


Dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku


Meski Gwen tahu luka itu dari orang yang sama, orang yang masih dia cintai.


Kau berbeda dari yang ku kira


Menurut Gwen, Radit itu berbeda dari laki-laki lain. Dia spesial dan akan selalu ada di hatinya. Meski Radit tidak akan pernah bisa Gwen dapatkan. Radit mempercayai dirinya saja dan bersikap baik karena rencana ini sudah membuat Gwen merasa bahagia. Bahkan Radit mau menemaninya yang sedang sedih karena kabar kedua orangtuanya. Radit seharian berada di apartemen menemani Gwen tanpa adanya paksaan.

__ADS_1


Aku jatuh cinta kepada dirinya


Beberapa pengunjung yang hafal lagu tersebut ikut bernyanyi.


Sungguh-sungguh cinta oh apa adanya


Gwen juga berteriak dan suaranya berhasil membuat si penyanyi itu menoleh.


"Kakak yang di seberang sana boleh naik ke panggung?"


Gwen pun ke panggung dan ikut bernyanyi. Suaranya memang lumayan lah.


Tak pernah ku ragu namun tetap selalu menunggu


Sungguh aku jatuh cinta kepadanya


Coba-coba dengarkan apa yang ingin aku katakan


Yang selama ini sungguh telah lama terpendam


Aku tak percaya membuatku tak berdaya


Tuk ungkapkan apa yang kurasa


Gwen pun bernyanyi hingga akhir dan mampu menghipnotis pengunjung dengan suaranya yang memang merdu.


Penyanyi itu pun juga kagum. Penampilan Gwen yang tomboy juga menarik sang penyanyi. Dia sebenarnya salah satu fans Queen.


"Wow, tepuk tangan untuk ... Siapa namanya?"


"Queenara!"


"Tepuk tangan yang meriah buat Queenara!" teriak si penyanyi tersebut.


Seluruh pengunjung pun bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Mereka lupa jika nama Queen sedang mendapatkan hujatan. Namun, malam ini mereka sangat kagum dengan seorang Queen palsu.


"Sebentar, kalian penasaran nggak sih kayak mirip sama siapa?" tanya Penyanyi itu, laki-laki berusia dua puluh tahun bernama Leon.


Dia sedang menghibur para pengunjung.


"Ya, gue Queen. Kebetulan sekali gue lagi berdiri di sini. Gue cuma mau bilang maaf atas kejadian yang nggak mengenakan beberapa hari yang lalu. Kalian boleh hujat gue sesuka hati kalian. Gue salah dan ya ... Setiap orang pasti melakukan kesalahan, bukan? Gue hanya manusia biasa!" ucap Gwen penuh percaya diri.


"Wow! Ini ... Ini keren sekali. Saya sangat terkejut bisa nyanyi bareng dengan idola!" pekik Leon.


Gwen memasang senyum ramah. Dia melirik ke arah Radit yang mulai masuk ke dalam. Menyamar sebagai pelayan.


"Jadi apa benar ini kafe milik anda?" Leon memang tidak tahu siapa pemilik kafe yang berada di dekat kampusnya.


Leon hanya mendapatkan undangan dari seseorang yang mengaku manager kafe itu.


"Ya, semoga kalian semua suka dengan menu-menu di kafe ini. Kalian bisa berikan kritik dan saran di akun sosial media kafe ini. Jangan lupa rating untuk kafe ini ya! Gue berharap kafe ini akan terus maju dan menjadi tempat hits di kota ini!"


Tepuk tangan meriah menggema dan membuat siapa saja semakin kagum sama Queen.


"Waah saya tidak menyangka sekali bisa tampil di kafe kamu lho!" Leon pun merasa bangga bisa di undang di kafe milik Queen.


"Saya juga senang bisa bernyanyi dengan band terkenal dari universitas Airlangga!" Gwen sangat bahagia karena bisa bernyanyi dengan lelaki tampan yang memiliki banyak fans juga.


Lelaki yang menjadi idola kampus juga siswi SMA manapun.


Leon dan para anggotanya selalu tampil dari kafe satu ke kafe lainnya. Dia sering mendapatkan job di kafe-kafe. Hasilnya memang lumayan. Leon selalu berharap bandnya bisa terkenal seperti band-band lain.


"Kalau begitu, silahkan nikmati malam minggu di kafe Grittell Queen yang sudah resmi di buka. Selamat bersenang-senang!"


Gwen turun dari panggung dan berjalan menuju toilet. Tiba-tiba ada seseorang yang membekapnya dengan sapu tangan. Gwen sudah tidak sadarkan diri akibat bius yang dia hirup.


Rean mengambil alih keamanan kafe bersama Mentari, sementara anggota inti Aksara berjaga di depan. Semua urusan Black Devil sudah diambil alih oleh orang asing yang entah utusan siapa dan anggota Liol. Mereka sedang bertarung di gedung kosong. Entah siapa yang memulai, saat saling kejar-kejaran terjadi akhirnya gedung itu menjadi pilihan.


Anggota Black Devil banyak yang tumbang, setelah Bara menusukkan belati di lengan musuh. Angga menatap heran para anggota Black Devil yang sepertinya tidak bernapas itu.


"Ada apa?" tanya Bara melihat wajah Angga yang aneh.


"Kenapa mereka tiba-tiba pingsan?"

__ADS_1


"Mereka bukan pingsan tapi udah beda alam!" jawab Bara santai.


"Apa?!"


Bara mengangkat belati itu, "Benda ini sudah dilapisi racun! Queen yang menyuruh gue buat lakuin itu!" Bara nyengir saja.


Angga geleng-geleng dan juga bergidik ngeri.


"Gadis berdarah dingin. Apa dia ketua mafia?"


Bara mengangkat kedua bahunya. "Ayo kita tolong, Queen!"


Bara berlari ke arah kafe tapi dia tidak menemukan Rain, dia hanya melihat anggota Black Devil yang babak belur dan tidak berdaya. Bedanya mereka masih bernapas. Entah siapa yang membuat mereka tumbang. Bara kemudian kembali ke arah gedung tadi dan dia sudah tidak melihat Angga. Bara ke arah basement dan terdengar suara langkah kaki.


Dia berjalan mengendap-endap dengan pistol yang sudah berada di tangannya. Tidak ada siapapun di sana, tempat itu benar-benar mencekam dan tidak ada cahaya apapun. Entah gedung itu akan dibuat apa, tapi terlihat tidak terawat. Mungkin sudah bangkrut pemiliknya.


Bara bersembunyi dibalik tembok ketika ada sebuah cahaya datang bersamaan dengan suara mesin mobil. Bara baru menyadari bahwa tempat itu adalah sebuah mall yang gagal buka.


Bara terus mendengarkan suara mesin itu sambil bersembunyi. Meski jantungnya berdebar tidak karuan, dia saja bisa mendengar detak jantungnya.


Mobil melintas tepat dimana Bara bersembunyi, dia melihat dengan jelas ada sosok perempuan dengan darah terus mengucur di kepalanya.


"Queen!?" pekik Bara dalam hati.


Bara segera berlari sekuat tenaga meski rasanya tenaga dia sudah habis.


"Cepat datang di gedung kosong sebelah kafe. Queen dalam bahaya!" kata Bara pada earpiece yang memang sudah terhubung pada siapa saja.


"Bawa senjata kalian! Kepung mobil yang akan keluar!"


Bara terus mengejar mobil itu dengan penuh amarah. Melihat Rain yang terluka dan Radit yang ada di mobil itu.


Siapa yang melukainya?


Brengsek!


Gue nggak akan pernah biarin Lo hidup, Dit!


Bara terus berkata dalam hati. Dia tidak akan membiarkan si brengsek itu lolos. Mobil tersebut menambah kecepatan karena Bara terus saja mengejar.


Hingga ada sebuah truk yang menghalangi jalannya mobil itu. Bara berlari dan melompat ke atas mobil tersebut sambil menodongkan pistol. Bertepatan dengan itu seluruh anggota geng liol yang tersisa dan anak buah Rain datang membawa senjata masing-masing dan mengepung mobil itu.


"Keluar Lo! Atau gue tembak kepala Lo!" ancam Bara.


Radit tidak memperdulikan itu, dia akan mencari cela untuk kabur. Sementara supir mobil sudah sangat ketakutan.


Depan mobil ada Bara yang berdiri, lalu samping kanan, kiri dan belakang sudah dipenuhi oleh orang-orang bersenjata api.


Radit yang hendak mengambil senjata api di kotak penyimpanan dengan gerakan cepat, Rain mengambil alih senjata itu.


"Buka pintunya, atau gue akan lubangi kepala kalian sekarang juga!" Rain menodongkan senjata itu tepat di kepala si sopir.


Sementara Radit hendak mencegah tapi orang yang berada di luar memecahkan kaca mobil itu. Menodongkan senjata tepat di kepalanya.


Sejak tadi Rain memang pura-pura pingsan karena luka di kepala yang mengakibatkan darah terus menetes hingga membasahi pakaiannya.


Rain perlahan membuka pintu mobil sambil menodongkan senjata. Dia berhasil keluar dan Bara langsung turun. Terkejut dengan luka dan darah yang lumayan banyak.


"Kalian urus mereka!" perintah Bara.


Lelaki itu segera menarik Rain untuk pergi karena luka itu cukup serius.


Sang supir mulai melajukan mobilnya, tapi tidak berhasil karena anak buah Rain yang memakai mobil menghalangi jalannya. Kini Radit di tarik paksa untuk keluar. Juga supirnya. Mereka akhirnya menyerang Radit, meski laki-laki itu berusaha untuk melawan tapi tetap saja dia kalah jumlah.


"Sial!"


Radit berusaha kabur, tapi ...


Door


Satu peluru mendarat di kakinya. Radit tidak bisa berlari. Dia jatuh, anak buah Rain pun menendang kepalanya. Membuat kepala itu juga terluka seperti bosnya.


"Bawa ke markas!" kata Rain yang mendengar laporan jika Radit berhasil ditangkap.

__ADS_1


Bersambung ...


Catatan: Lagu dari Roullet_aku jatuh cinta


__ADS_2