Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 60


__ADS_3

Di apartemen Rean tepatnya di ruang televisi. Reno dan Sandy menatap heran Rean yang sejak tadi hanya duduk diam. Pandangannya memang tertuju pada layar televisi tapi sebenarnya pikiran tidak di sana. Rean seperti sedang merenungkan sesuatu. Dia juga kadang senyum sendiri. Membuat kedua sahabatnya saling pandang dan juga takut.


Rean sedang memikirkan kejadian tadi pagi saat di pantai. Dimana dia mengajak Mentari pacaran untuk kedua kalinya tapi dengan cara dan perasaan yang berbeda. Kali ini tidak ada unsur paksaan. Rean benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.


Rean memang pernah jatuh cinta pada seorang gadis saat duduk di bangku SMP kelas dua. Itu adalah cinta pertamanya. Gadis itu juga menyukai Rean, hanya saja dia lebih tua satu tahun dari Rean. Mereka menjalin hubungan hingga Rean kelas satu SMA. Mereka berada di sekolah yang berbeda. Namun, hubungan mereka harus berakhir ketika Rean melihat kekasihnya sedang tidur bersama lelaki lain.


Saat itu Rean sangat sakit hati dan tidak mau lagi membuka hatinya. Dia juga sangat benci pada semua perempuan yang menjadi fansnya. Dia lelah selalu mendapatkan hadiah dan yang paling menyebalkan para gadis itu melakukan hal-hal konyol. Rean ingat betul saat fansnya ini diam-diam masuk ke dalam bagasi. Rean mendengar suara aneh di dalam bagasi. Akhirnya Rean meminta supir untuk berhenti dan membuka bagasi. Rupanya ada seorang gadis yang tak lain kakak kelasnya di dalam sana.


Dia melakukan itu untuk mengetahui dimana rumah Rean. Sungguh hal yang konyol.


Kembali fans fanatik Rean melakukan hal bodoh, dimana saat Rean di hukum mereka ikut membuat ulah supaya di hukum dan bisa bersama Rean. Menggoda lelaki itu sampai membuat Rean risih dan takut lagi dekat-dekat dengan fansnya.


Kejadian kekasih dan para fansnya itu membuat Rean menutup hati dan bersikap dingin. Dia akan lembut hanya dengan Rain, akan tetapi ketika Rain membangun dinding di antara mereka karena Rain tidak mau semua orang tahu jika mereka kembar, Rean menjadi dingin pada gadis itu ketika di sekolah.


Dia selalu berusaha untuk bersikap baik dan menjadi kakak yang bisa melindungi adiknya. Semua kejadian itu terus berputar di kepala Rean. Hingga pertemuannya dengan Mentari dan kejadian pagi ini. Dia tidak menyangka jika hatinya meleleh oleh pesona Mentari, si gadis biasa saja.


Entah kenapa Rean bisa tertarik pada gadis itu. Rean sendiri tidak tahu. Jika dibandingkan dengan mantannya dulu, Mentari tidak ada apa-apanya. Hanya saja karena tampil apa adanya dan tidak seperti gadis lainnya itulah yang membuat Rean tertarik padanya.


Kelebihan Mentari adalah dia tidak malu jika mengakui dia anak orang biasa dan pas-pasan. Juga dia tidak malu ketika bercerita mengenai semua masalahnya. Mentari harus bekerja setelah sepulang sekolah. Rean sangat kagum dengan gadis itu yang benar-benar tangguh. Tidak pernah mengeluh sedikitpun. Selalu ceria menjalani kehidupannya yang berat. Meski Rean tahu jika Mentari tidak bahagia dengan hidupnya. Dia selalu ketakutan jika sewaktu-waktu ayahnya datang dan berniat menjualnya. Bahkan Mentari pernah bercerita jika dia hampir di perkosa oleh ayahnya.


Ah, Rean semakin ingin selalu berada di samping gadis itu. Rean juga berterima kasih kepada Rain karena telah membuka pikirannya. Agar dia tidak menyakiti Mentari dan hanya memainkan perasaannya saja. Rain selalu berkata untuk melupakan semua masa lalu dan bilang kalau semua gadis itu berbeda. Termasuk dirinya.


Wajah Rean yang semula memperlihatkan senyuman berubah sendu ketika mengingat nasib Rain yang dihadapkan dengan lelaki brengsek. Rean berharap adiknya juga akan bahagia seperti dirinya. Menemukan sosok lelaki yang baik dan bisa membahagiakan Rain.


"Rean!" seru Reno.


Rean sangat terkejut mendengar Reno yang memanggilnya dengan berteriak.


"Apaan sih, gue nggak budek!"


"Lo lagi cosplay jadi orang kesurupan setan budek apa gimana sih? Dari tadi Lo senyum sendiri terus murung. Di panggil juga nggak denger!" kesal Reno.


Sejak tadi dia terus memanggil Rean tapi lelaki itu tetap diam saja dan tidak mendengar panggilannya.


"Lo kapan dateng, Lan?" Rean mengernyit saat melihat kedatangan Lando.


Lando hanya geleng kepala saja melihat tingkah Rean yang tidak biasanya ini.


"Gini nih kalau orang jatuh cinta!" celetuk Reno.


"Serius Lo lagi jatuh cinta?" Lando menggeser duduknya dan merapat ke tubuh Rean.


"Ish, gue normal, anjir! Jauh-jauh sono!"


Plak


Lando memukul kepala Rean. "Gue juga normal kalik!" gerutu Lando.


"Iya dia sukanya sama janda sih tapi!" sindir Sandy.


"Heh Lo jatuh cinta sama siapa?" tanya Lando, mengabaikan ucapan Sandy.


"Mentari lah, siapa lagi!" sahut Rain yang baru saja datang.


Entah darimana dia, wajahnya terlihat lelah sekali. Rean bangkit dan menatap lekat adik perempuan satu-satunya itu.


"Lo nggak di apa-apain sama Bara kan?"


Mendengar nama Bara di sebut, ketiga lelaki yang tadi duduk itu seketika berdiri.


"Apa? Bara?" ucap mereka bertiga bersama.


Sandy, Lando dan Reno malah saling pandang dan tertawa.


"Nggak, tenang aja. Kalau dia macem-macem juga gue bisa jaga diri!"


"Kalau dia jebak Lo gimana? Orang bisa aja jahat tuh dengan cara elegan!" sungut Rean. Dia kesal karena Rain santai banget kalau Bara deket-deket dia.


"Apa sih? Dia nggak bakal sejahat itu!"


"Belum, Rain. Siapa tahu dia punya rencana jebak Lo. Kasih Lo obat bius, obat perangsang misalnya!" Lando ikut bersuara. Dia semakin memercikkan api pada Rean.


"Lando benar! Lo jangan terlalu dekat!"


Rain memutar kedua bola mata malas, dia memilih melangkah ke kamar karena sangat lelah. Pekerjaan untuk memecahkan masalah Bara menguras tenaga juga emsoinya. Belum lagi itu cowok sering ganggu dan melontarkan pertanyaan nggak masuk akal.


Ke empat lelaki itu tanpa sadar mengikuti langkah Rain.


"Lo nggak tahu gimana brengseknya Bara."


"Dia hamilin anak orang dan nggak mau tanggung jawab!" imbuh Reno.

__ADS_1


"Gue nggak mau Lo terlalu deket sama dia!" kata Rean.


"Rean benar, Rain. Jauhin tuh lakik!"


"Kita semua nggak mau Lo kenapa-kenapa!"


Rain menghentikan langkahnya saat sudah sampai di kamarnya. Gadis itu menatap keempat lelaki bergantian.


".... Lalu kalian berempat juga mau ikut gue mandi?"


Keempat lelaki itu saling pandang dan rupanya mereka baru sadar sudah berada di dalam kamar Rain. Gadis itu menatap tajam ke empat lelaki itu dan berhasil membuat mereka kabur.


"Berisik Lo semua!" teriak Rain, dia menutup pintu dan menguncinya.


"Lo sih!" Reno menyikut lengan Lando.


Lando menyikut lengan Sandy dan Sandy menyikut lengan Rean. Mereka geleng-geleng kepala dan tertawa. Kemudian kembali ke ruang televisi.


"Gue nggak sadar udah ada di dalam kamar adik Lo!"


"Enak juga kamarnya!" celetuk Lando yang mendapat tatapan tajam Rean.


"Mending Rain jadi pacar gue deh. Bakal gue sayang sepenuh hati daripada di sakiti terus!" Itu Sandy yang berkata.


Ketiga sahabatnya menatap ke arah Sandy. Lelaki berambut ikal itu mengangkat kedua tangannya.


"Gue becanda!" Sandy pun nyengir saja.


"Jadi ... Beneran Lo normal?" tanya Reno.


"Astaga ... Gue normal tapi nggak ada cewek yang mau sama gue!" Sandy mengelus dadanya.


Sahabatnya itu selalu mengatakan jika Sandy ini tidak normal. Dia tidak pernah mau dekat dengan cewek dan bahkan tidak ada tanda-tanda menyukai lawan jenisnya. Sementara dengan cowok, Sandy biasa saja dan malah terkesan nyaman. Sahabatnya ini selalu curiga jika Sandy belok.


Rean terkekeh melihat ekspresi Sandy.


"Gue ada sepupu dia jomblo. Nanti liburan dia bakal ke sini dan gue kenalin ke Lo!"


"Gue aja, Ren!" sahut Reno semangat.


"Mia mau di kemanain!"


Reno langsung menutup mulut Lando yang lemes.


"Bukan gitu, Ren!" Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Sandy hanya terkekeh.


"Jadi beneran Lo jadian sama Mia?" tanya Sandy.


"Gue baru kemarin nembak dia. Jadi gue belum bilang karena kalian kan sibuk. Jangan salahin gue lah. Nggak ada rahasia kok. Paling juga si Rean!"


Lando dan Sandy beralih menatap Rean.


"Santai, bro! Lo pada tahu sendiri gue deket sama Mentari!"


"Iya cuma buat *****!" celetuk Reno.


"Bocor Lo ya!" Rean menoyor kepala Reno.


"Gimana rasanya, Ren?" tanya Lando.


"Jangan dengerin Reno!" gerutu Rean.


Reno tertawa puas. "Lagian Lo jadian juga diem aja kan? Segala bilang ada rahasia segala!" tebak Reno.


"Iya deh iya!"


Lando dan Sandy menarik bahu Rean.


"Serius?" Kedua lelaki itu berkata bersamaan. Mereka tidak percaya jika Rean jatuh cinta dan jadian sama Mentari.


"Gue ikut seneng akhirnya Lo bisa buka hati Lo!"


"Makan-makan kita! Iya nggak, gays! Ada Reno dan Rean yang siap traktir!" sambung Lando.


***


Gwen menopang dagunya dan tersenyum ketika menatap wajah Radit. Meski lelaki itu cuek dan sibuk dengan ponselnya. Gwen tetap tidak perduli. Dia bahkan memeluk naik ke atas ranjang lelaki itu dan memeluk lengannya.


Radit sudah keluar dari rumah sakit dan tidak boleh masuk sekolah selama seminggu karena sedang pemulihan. Gwen dengan setia merawat lelaki itu, meski selalu Radit tolak dan lelaki itu juga bersikap kasar padanya. Gwen tetap menyukainya.


"Kita bakal seperti ini kalau sudah menikah!" ucap Gwen.

__ADS_1


Radit menggeser duduknya. Namun, Gwen juga bergeser dan merapatkan tubuhnya. Dia menarik dagu Radit dan mengecup bibir lelaki itu.


"Apa-apaan sih, Gwen!" Radit menghapus jejak bibir Gwen.


"Rasanya masih sama ya."


Radit mendorong tubuh Gwen supaya menjauh.


"Lebih baik Lo pergi dari sini!"


"Dit, Lo lupa kalau gue tunangan Lo?"


"Gue nggak akan pernah mau!"


Radit menyesal karena telah menyetujui permintaan grandmanya. Dia sedang di selimuti emosi dan juga kabut cemburu. Sekarang Radit menyesal telah membuat Rain sakit hati dengan segala ucapannya lewat pesan itu. Gadis itu sama sekali tidak menghubunginya bahkan nomornya juga sudah di blokir.


Dengan beraninya Gwen meremas area celana Radit.


"Dia pasti merindukannya, Dit!"


Radit mendorong gadis itu hingga jatuh dari ranjang. Memegangi bokongnya yang sakit.


"Sekali lagi Lo kurang ajar, gue bakal bikin Lo babak belur. Nggak peduli kalau Lo cewek!"


Gwen tersenyum dan mengabaikan sakit di bokongnya.


"Terserah, Dit! Lo tetep aja nggak bisa sama Rain. Lo sendiri kan yang ngenalin rasa itu ke gue, jadi nggak ada salahnya gue berlaku kurang ajar sama Lo!"


"Lo lupa kalau Lo pernah bilang semua yang ada pada diri Lo itu milik gue!"


Radit mengepalkan tangannya. Dia sudah sangat kesal jika Gwen terus berada di dekatnya. Dia menatap tajam gadis itu. Gwen benar-benar sudah tidak waras. Radit menyalahkan diri sendiri. Kenapa dulu dia bisa jatuh cinta pada gadis keras kepala seperti itu.


"Pergi dari sini!" teriak Radit.


"Nggak mau! Gue mau temenin Lo, Dit. Biar Lo nggak ketemuan sama tuh cewek!"


Radit berusaha bangkit dari duduknya dan menyeret Gwen agar pergi.


Kegaduhan itu menarik perhatian Fania. Dia langsung berlari ke arah kamar Radit dan melihat Radit sedang menyeret tangan Gwen. Wajah Radit memerah karena saking emosinya. Sampai-sampai lelaki itu melupakan rasa sakit di kakinya.


"Radit, ada apa ini?" tanya Fania.


Gwen berusaha mengeluarkan air matanya. Dia berlari ke arah Fania dan menyembunyikan tubuhnya dibalik punggung wanita itu.


"Tante ... Radit marah sama aku dan ngusir aku. Padahal aku cuma mau temenin dia biar nggak suntuk!" adunya yang penuh dengan kebohongan.


"Radit,"


"Ma, suruh gadis itu pergi! Radit mau sendiri!"


Fania menghela napas, "Gwen, sebaiknya kamu pulang aja. Biarkan Radit istirahat!"


"Tapi, Tante__" Gwen yang hendak protes pun kalah cepat dengan gerakan Fania yang memaksa gadis itu untuk segera keluar dari kamar Radit.


Radit menutup pintu kamarnya dengan keras dan mengunci pintu tersebut. Dia tidak mau di ganggu siapapun. Dia berjalan ke ranjang dengan langkah tertatih. Baru terasa kakinya sangat sakit.


"Cewek sialan!" Radit membanting vas bunga yang ada di meja.


Fania yang mendengar pun terkejut dan ingin sekali masuk ke sana. Namun, melihat Radit yang emosi, Fania membiarkan putranya tenang terlebih dahulu.


"Kamu dengar itu? Radit sedang emosi dan kamu jangan memancingnya!"


"Aku hanya mau menjaganya. Aku juga tidak mau jika dia bertemu Rain!"


Fania sangat tidak menyukai Gwen jadi Fania tidak pernah bersikap lembut pada gadis itu.


"Mereka satu sekolah dan pacaran. Hubungan mereka belum selesai. Biarkan Radit menyelesaikan itu dulu dan biarkan Radit sembuh. Jika kamu seperti ini akan menambah masalah!" Fania menekan itu. Biarkan Gwen sakit hati dengan ucapannya.


"Jadi Tante dukung hubungan mereka begitu? Tante tidak malu jika menantu Tante itu dari keluarga miskin!" Gwen berkata dengan lantang.


Bahkan sopan santunnya sudah dia lupakan. Seharusnya dia bersikap baik untuk mengambil hati Fania kan? Ini malah seperti menunjukkan sikap asli Gwen.


"Tante, aku minta maaf." Gwen meraih tangan Fania.


Namun, wanita itu menepisnya.


"Lebih baik kamu pulang sekarang, Gwen!"


Dengan berat hati gadis itu pun akhirnya mau pulang. Meski di dalam hatinya dia sangat kesal dan mengumpati Fania.


"Lihat saja! Aku akan adukan hal ini pada grandma!" kata Gwen saat sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2