
Bab 32
"Jadi ... Benar? Kau akan kembali?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Lea. Dia sangat penasaran.
Hati kecilnya berharap Rain mengatakan tidak, tapi jika memang benar-benar iya, Lea harus bisa melepaskannya.
Toh dia akan bertemu dengan sang nenek yang sudah lama tiada. Ada adiknya juga yang pernah di dalam kandungan sang mama lalu harus dilahirkan prematur karena sudah meninggal di dalam kandungan.
Lea pasti akan bahagia, bukan?
Rain tersenyum, "Siapa bilang?" ujarnya yang membuat Lea semakin bingung.
"Aku tahu apa yang kakak pikirkan!" Rain menggenggam kedua tangan Lea.
"Tetap jadi pribadi seorang Lea. Meski di dalam tubuh gadis cengeng dan lemah ini."
"Maksud kamu apa?"
"Aku tidak akan kembali ke dalam tubuhku. Itu tidak akan pernah terjadi. Meski tugas kakak selesai, tapi itu sudah menjadi kehidupan kakak."
"Ha?" Lea melongo antara percaya dan tidak. Antara senang dan sedih, juga ... Kebingungan yang masih menyelimuti pikirannya.
"Ya, Lea akan tetap menjadi Raina Grittella. Karena Lea Anandita itu sudah lama meninggal. Untuk apa kakak bersedih?"
Senyum mengembang di bibir sexy milik Lea.
"Jadi ... Aku akan menjalani kehidupan ini? Tetap menjadi dirimu selamanya?"
"Selamanya ...." Rain tersenyum bahagia. Dia tidak salah meminta kepada Tuhan untuk menjadikan Lea sebagai pengganti dirinya.
Lea adalah gadis yang baik, tegas dan tangguh.
"Benarkah, Rain?"
"Tentu saja. Aku sudah bahagia bersama mama. Bisa saja aku meminta untuk kembali, tapi itu tidak akan mungkin terjadi. Ini bukan cerita fiksi yang alurnya terserah kepada author!"
"Aaaa ... Rain ... Aku seneng banget!" Lea memeluk erat tubuh Rain.
Rain membalas pelukan itu, "Jangan sedih lagi ya. Lagian kenapa kakak bisa berpikir jika aku akan mengambil lagi apa yang sudah aku berikan?"
Lea merenggangkan pelukannya, "Aku pikir seperti itu. Aku membacanya di novel."
"Kebanyakan baca novel sih!"gerutu Rain.
Lea terkikik geli. Lalu dia bangkit dari duduknya dan bermain air terjun yang rupanya sangat dingin.
"Jangan membenci Kenan ya. Buat dia buka mata dan menyesal saja aku sudah bahagia, sekarang dia menyesal jadi biarkan saja mengalir begitu saja. Kakak hanya jalani semuanya. Takdir sudah digariskan kepada siapa Kakak akan berjodoh."
Lea mengerti. Hatinya seakan ditumbuhi oleh bunga-bunga yang indah. Begitu bahagia karena Lea akan tetap menjadi Rain.
"Kembalilah, waktuku sudah habis dan aku tidak akan bisa lagi menemui kakak!"
Lea bersedih karena pertemuan itu hanya sebentar. Mereka saling berpelukan erat.
***
"Raina Grittella! Sampai kapan Lo bakal merem, hah!" Teriakan itu telah mengusik mimpi indah Rain.
Gadis itu menggeliat, bergerak gelisah seperti ditarik oleh lubang hitam dan terhempas di dasaran bikini bottom.
Bruk ...
"Aduh!" Rain memekik.
"Hahahaha, mampus kan Lo!" Itu suara Rean.
Rain kemudian bangkit dan kembali di atas ranjang sambil mengusap-usap bokongnya yang sakit akibat mendarat di lantai.
Rain yang bener aja gue di lempar sampe jatuh beneran! Gerutu Rain yang tentu saja di dalam hati.
Rain memasang wajah cemberut, bukan hanya sakit saja, dia mendapati wajahnya yang basah karena air yang terus Rean usapkan. Mau guyur juga sayang nanti kasur basah.
"Lo apa-apaan sih, Bang! Nggak bisa apa bangunin secara lemah lembut!"
__ADS_1
Rean menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, membuat tubuh Rain jadi memantul-mantul.
"Dengan seperti ini?" Rean menempelkan bibirnya pada bibir Rain.
Gadis itu segera mendorong dada bidang Rean.
"Ck, Lo apaan sih!" Rain mencubit pinggang Rean.
"Wadidaaaawwww, sakit, nyet!"
"Mampus!" Rain memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hatinya terasa berbunga-bunga karena Rain asli tidak mengambil lagi kehidupannya.
Rain bersenandung ria saat berada di dalam kamar mandi. Hal itu di dengar oleh Rean.
"Lo lagi bahagia ya?" tanya Rean yang berada di depan pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban dari Rain. Gadis itu terus bernyanyi dan menulikan telinga.
"Pasti karena abis dapet kecupan dari gue kan?"
"Rean! Awas Lo ya gue guyur!" teriak Rain dari dalam sana.
Sementara Rean sudah lari ngacir keluar dari kamar Rain.
***
Kenan menyuapi Gina bubur dengan telaten. Senyum terus mengembang di wajah tampannya itu. Gina sudah siuman dua hari yang lalu, membuat nyawa Kenan seakan kembali. Kenan sangat menyayangi Gina. Jadi dia sangat takut jika Gina pergi untuk selama-lamanya.
"Ken, Mama pengen ketemu Rain!"
Kenan tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak mungkin menghubungi gadis itu hanya sekadar memintanya kemari. Kenan tahu diri karena telah banyak memberi luka pada gadis itu. Sekarang membiarkan dan melihat dia bahagia saja sudah membuat hati Kenan senang.
Dia tidak mau Rain merasa terbebani oleh keadaan keluarganya. Gina memang sangat dekat dengan Rain dan menyayangi gadis itu seperti anak sendiri. Kenan tidak masalah akan hal itu.
Namun, ketika Kenan ditampar oleh kenyataan, dia tidak mau membiarkan Gina memikirkan Rain lagi. Tidak mau mengusik kebahagiaan Rain. Mungkin pilihannya untuk menatap di Singapura adalah hal yang tepat.
Kenan hanya ingin Gina melupakan Rain dan tidak lagi menanyakan gadis itu seperti sekarang. Kenan ingin mengatakan jika hubungan mereka sudah berakhir, tapi tidak sampai karena takut jika Gina drop lagi.
"Ah, iya ... Rain lagi sibuk, Ma."
Gina menundukkan kepala karena kecewa dengan jawaban Kenan. Dia hanya ingin bertemu Rain saja tapi Kenan malah menjawab seperti itu. Dulu ketika Gina ingin bertemu Rain maka dengan senang hati Kenan menjemput gadis itu.
"Nanti biar aku telepon ya. Mama jangan sedih!"
Suara pintu terbuka menginterupsi keduanya untuk menoleh. Rain datang dengan celana jeans-nya warna hitam dan Hoodie kebesaran. Gadis itu sudah terbiasa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia tidak tahu saja jika Gina sudah siuman.
Rain menenteng beberapa paper bag, lalu menutup pintu tanpa menatap ke arah dua orang yang sedang menatap Rain dengan pandangan yang berbeda.
Saat Rain melangkah dan menoleh ke arah brankar, langkah Rain terhenti dengan bibir yang terbuka. Dia ... Terkejut sekaligus malu.
"Rain, kok bengong?" tanya Gina.
Bibir Rain terkatup dia segera mengubah ekspresinya dengan senyuman.
"Tante udah sadar? Ya ampun, Rain nggak tahu!"
"Maaf ya, Tante. Tadi aku pikir Kenan lagi tidur jadi aku nggak ketok pintu dulu!" sambungnya.
Gina memeluk tubuh Rain. "Nggak apa-apa, sayang. Kamu tadi pas kaget tuh gemesin banget!" Gina mencubit hidung Rain.
"Oh, iya aku bawain buah juga buat Tante. Dimakan ya, aku kupasin!"
Rain mengeluarkan parcel buah dan diletakkan di meja.
"Nih jatah makan siang Lo!" Rain memberikan paper bag ke pada Kenan yang masih saja terkejut dengan kedatangan Rain.
Kenan tidak menduga jika gadis itu datang tepat waktu. Menjenguk sang mama ketika Gina ingin bertemu dengannya.
"Tante sejak kapan siuman?" tanya Rain sambil mengupas apel.
"Dua hari yang lalu."
"Oh, itu aku pas habis dari sini. Tante belum siuman. Rain seneng banget deh karena Tante bangun."
__ADS_1
Rain menjadi cerewet jika bersama Gina. Sementara dengan Kenan dia akan dingin. Lelaki itu duduk di sofa sambil menikmati makanan yang Rain bawakan. Menghilangkan rasa ... Yang entah di dalam hatinya.
Kenan rasa meski sekarang Rain dekat tapi dia sulit untuk digapai. Andai waktu berputar, Kenan ingin memperbaiki semuanya. Menerima perjodohan itu dan membuka hati untuk Rain. Ini salahnya, karena terlalu mencintai paras yang cantik. Topeng yang sempurna dan rupanya dibalik kesempurnaan itu banyak keburukan.
"Terima kasih ya, Rain. Kamu selalu dateng kasih makanan buat Kenan. Kemarin kata Kenan kamu sibuk ya? Tante nungguin kamu dateng."
Rain meletakkan potongan buah apel ke piring. Lalu menyuapi Gina buah tersebut.
"Rain banyak tugas, Tante," jawab Rain berbohong.
"Kenan pasti sudah ketinggalan banyak pelajaran karena nungguin Tante di sini." Gina mendadak merasa bersalah pada putranya.
Rain melihat raut wajah Gina yang bersedih. Lalu melirik Kenan yang langsung membuang muka. Sejak tadi Kenan memang terus memandangi Rain sambil menikmati makan siangnya.
"Jangan sedih, Tante." Rain mengelus punggung tangan Gina.
"Kenan nggak ketinggalan kok. Aku selalu bawain dia materi-materi yang baru dipelajari di sekolah."
Rain menoleh ke arah Kenan,"Iya kan, Ken?" Rain mengedipkan satu matanya sebagai isyarat.
"Iya, Ma. Mama tenang aja, yang penting mama sehat dan jangan banyak pikiran."
Gina tersenyum lalu mencubit pipi chuy Rain.
"Kamu perhatian banget sama Kenan. Tante harap kalian selalu langgeng ya. Setelah keluar dari rumah sakit kamu sering-sering main ke rumah lho. Jangan seperti kemarin-kemarin jarang banget main ke rumah!"
"I-iya, Tante," jawab Rain kaku.
*
"Aku pamit ya, Tante cepet sembuh!" kata Rain sambil cipika-cipiki.
Terlalu asyik mengobrol dengan Gina, Rain sampai tidak sadar jika hari sudah hampir sore. Akhirnya Rain berpamitan karena ada janji sama Rean nanti malam. Dia tidak mau pulang terlambat, nenek Sania pasti akan mengkhawatirkannya.
"Hati-hati ya, Rain."
"Iya, Tante. Besok aku kesini lagi!"
Gina mengangguk, bertemu dengan Rain akan menambah semangatnya untuk sembuh.
Kenan mengantar Rain hingga keluar dari ruang tersebut.
"Rain, gue bakal berusaha buat jujur sama mama. Lo tenang aja!" ujar Kenan saat mereka berada di luar.
"Nggak apa-apa, biarin dulu Tante Gina tidak tahu. Tante baru sembuh jangan sampai drop lagi."
Kenan juga tidak mau kalau mamanya drop lagi, tapi jika dibiarkan pasti sang mama akan beranggapan jika mereka masih terikat pertunangan dan menjalin hubungan yang baik-baik saja.
Dulu Rain memang sangat sering main ke rumah Kenan. Hanya memastikan lelaki itu tidak pulang terlambat dan membawa Ella ke rumah.
"Sampai kapan? Mama berhak tahu jika kita nggak ada lagi hubungan apapun!"
Kemudian ....hati Kenan terasa sakit.
"Tunggu waktu yang tepat. Hubungi gue kalau Tante Gina pengen ketemu. Sementara waktu kita sandiwara saja."
Kenan menggeleng, "Nggak, Rain. Gue cukup tahu diri karena udah nyakitin Lo dan gue nggak mau Lo terbebani karena nyokap gue sakit!"
"Gue lakuin ini demi nyokap Lo yang harus dijaga perasaannya."
"Jadi gue sama sekali nggak terbebani. Gue baik sama Lo tadi itu semata-mata hanya karena ada Tante Gina. Jangan harap kalau gue bakal buka hati gue lagi buat Lo!"
Rain kemudian pergi begitu saja meninggalkan Kenan terlihat begitu menyedihkan.
"Gue tahu kok, gue cuma mau bilang makasih dan gue sayang sama Lo!" gumam Kenan meski tidak akan pernah Rain dengar.
Bersambung ...
Maaf ya, pendek. Biasanya lebih dari 2 RB kata. Othor lagi nggak bisa berimajinasi soalnya pas nulis pas lagi puasa. Terima kasih ya yang sudah setia baca cerita ini.
Salam sayang dari othor rangginang dan semoga kalian sehat selalu.
Semoga suka ya bab ini juga maaf kalau banyak typo.
__ADS_1