
Rain mematung, menatap bangunan mewah yang ada di hadapannya itu. Bangunan yang di dalamnya penuh dengan kehangatan. Rain sangat rindu dengan kakek dan neneknya. Hanya saja dia malas jika bertemu dengan Damian yang selalu menuntut dirinya untuk di kenalkan pada semua media. Agar semua orang tahu siapa Rain dan tidak akan ada yang berani menyinggungnya. Rain juga sibuk dengan urusan novelnya. Sebentar lagi salah satu novelnya akan di buat film layar lebar. Belum lagi dia harus menulis agar novel-novel lain yang on going bisa terus update. Dia tidak mau mengecewakan pembacanya.
Rain juga sedang merintis usaha. Dia akan membuka kafe untuk tempat tongkrongan anak muda. Rain berharap jika suatu hari nanti usahanya lancar dan bisa buka cabang dimana-mana. Tentu saja dia membuka ini tanpa bantuan Damian sedikitpun. Uang yang dia gunakan hasil dari menulis dan hasil balap liar maupun tidak. Damian memang selalu memberi uang jajan dan uang kebutuhan lain untuknya. Namun, tidak pernah Rain usik. Rencananya nanti akan dia sumbangkan ke panti asuhan. Damian maupun Rean juga belum tahu jika Rain akan membuka kafe. Usahanya sedang dalam tahap renovasi bangunan.
Kalau saja Damian tahu, pastilah semua akan berjalan dengan mudah atas bantuannya. Rain tidak mau itu, dia hanya ingin membuka kafe benar-benar hasil jerih payahnya sendiri.
Cewek setangguh, sepintar dan semandiri Rain saja selalu di sakiti oleh kaum lelaki. Entah sampai kapan dia merasakan itu. Rain sudah lelah menjalin hubungan asmara dengan siapapun. Cukup dengan Radit. Selebihnya dia memilih untuk menggapai masa depan. Rain yakin pasti suatu saat akan menemukan seseorang yang menyayanginya dengan tulus dan mendampingi hidupnya.
Menjalin hubungan dengan Kenan juga tidak Rain rasakan. Karena itu dulu adalah Rain asli. Pemilik tubuh yang saat ini digantikan oleh Lea. Lea, gadis tangguh yang seharusnya sudah menikmati masa wisudanya kini bisa mengubah kehidupan Rain menjadi lebih berwarna.
Rain menghela napas panjang sebelum melangkah lebih dekat menuju gerbang. Kali ini dia tidak menggunakan motornya. Memilih untuk naik taksi online saja.
Setiap hari libur selalu Rain gunakan untuk menulis atau melihat perkembangan bangunan kafenya. Rean sendiri sibuk bucin sama Mentari. Hanya saja Rean selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah kakek dan neneknya. Sementara Rain tidak sama sekali.
"Selamat pagi, Nona Muda!" sapa seorang satpam yang langsung membukakan pintunya.
"Pagi, Pak Tono!" jawab Rain dengan senyum seramah mungkin.
Rain pun melangkah menyusuri jalan setapak kecil di halaman mansion itu. Lalu menuju pintu yang sudah di buka oleh para pelayan. Ada perasaan rindu yang teramat dalam pada keluarganya. Ada juga perasaan lelah yang berkecamuk juga amarah yang Rain berusaha untuk meredamnya.
"Selamat pagi, nona muda!" sapa para pelayan itu.
"Pagi, dimana kakek dan nenek?" tanya Rain.
"Mereka sedang sarapan, ayo saya antar!" kata salah satu pelayan.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri," tolaknya.
Rain pun berjalan menuju ruang makan. Dia melewati ruang utama lalu ruang tengah. Ruangan itu terdapat sekat dinding dan di sana Rain mendengar dengan jelas suara tawa para penghuni mansion. Biasanya jika sedang makan mereka tidak ada yang berani bersuara. Apa Rean datang? Setahu Rain, anak itu sedang tidur.
Rain mematung saat melihat ada seorang wanita yang duduk di hadapan Bang Ando. Pikiran Rain melanglang buana. Apa dia akan jadi ibu tirinya? Ah, rasanya tidak mungkin. Akan seheboh apa nanti jika ayahnya itu menikah dengan wanita yang salah lagi.
"Selamat pagi," sapa Rain.
Semua orang menoleh ke arah Rain. Termasuk wanita itu. Rain melirik sebentar. Wanita itu sangat cantik dan terlihat dewasa. Namun, jika disandingkan dengan sang ayah tentu saja itu tidak masuk akal, karena lebih pantas untuk jadi istri bang Ando. Wanita itu terlalu muda. Diperkirakan usianya dua puluh satu tahun.
"Oh, cucu nenek. Akhirnya kamu datang juga!" ujar sang nenek yang merentangkan kedua tangannya.
Rain langsung memeluk nenek Sania. Lalu beralih ke kakek Albert, Damian dan Ando. Rain mendaratkan bokongnya di kursi sebelah wanita itu.
"Malina, kenalin dia adik bungsu aku, Rain. Dan Rain ini Malina calon istri Abang!" kata Ando.
Rain tersenyum dan mengulurkan tangannya. Malina membalas uluran tangan itu. Bisa Rain rasakan jika Malina berhati lembut. Namun, Rain belum percaya sepenuhnya dia akan terus mencoba mendekati agar bisa menilai Malina pantas atau tidak bersanding dengan Ando. Rain tidak mau jika pernikahan Ando gagal karena salah memilih perempuan.
"Rain, saudara kembarnya Rean!"
"Malina."
"Rain, dimana kakakmu?" tanya Damian.
"Aku di sini, papa!" sahut lelaki yang baru saja datang.
Lelaki itu mencium punggung tangan nenek, kakek, Damian dan Ando. Lalu mencubit gemas pipi Rain yang membuat gadis itu kesal.
Rean duduk di sebelah Rain.
"Malina, dia Rean. Kembaran dari Rain." Ando memperkenalkan Rean.
"Hay, cantik!" Rean mengedipkan matanya.
Malina terkekeh dibuatnya. Suasana canggung tadi sedikit hilang.
"Abang Rean, Lo lupa sama Mentari?" sindir Rain.
"Ssst, Rain cantik mau makan apa?" Rean berusaha merayu agar Rain tidak berkata apapun pada Mentari.
Dia tadi hanya menghilangkan suasana canggung yang Rean yakin sedang di rasakan calon kakak iparnya itu. Apalagi Rain menatap wanita itu penuh selidik.
Nenek Malina terkekeh melihat tingkah kedua cucunya itu. Dia benar-benar merindukan suasana yang berwarna seperti ini. Sayangnya mereka memilih tinggal di apartemen lagi.
"Roti selai kacang dan strawberry. Buatkan!"
"Baik, nona manis!"
Malina bisa merasakan kehangatan keluarga itu. Dia membayangkan seseru apa nanti jika sudah menikah dengan Ando dan bertemu kedua adik kembarnya itu.
***
"Jadi ... Kamu sudah tidak lagi berhubungan dengan Radit? Padahal Nenek sangat menyetujui hubungan kalian. Radit ini lelaki yang baik," kata nenek Sania saat berada di ruang keluarga.
Setelah sarapan mereka berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang. Rean dan Rain duduk di karpet bulu. Damian, Albert dan Sania duduk di sofa yang sama. Sementara Malina duduk di sofa single sebelah sofa para orang tua. Ando entah kemana. Saat sarapan selesai ada yang menelponnya dan sampai sekarang belum kembali.
__ADS_1
Malina menyimak obrolan itu, karena dia tidak tahu sama sekali dan tidak mau ikut campur. Malina sadar diri karena belum menjadi bagian dari keluarga itu.
"Ya, dia baik memang. Rain juga menyayangi lelaki itu. Hanya saja dia bukan lelaki yang tegas!" sahut Rain.
"Lelaki lembek seperti dia tidak pantas bersanding dengan gadis serba bisa seperti adikku ini!" Rean mengacak puncak kepala Rain.
"Perbuatan Rima memang tidak bisa dimaafkan. Bisa-bisanya dia mengusir cucuku di rumah sakit milikku sendiri!" kata Albert dengan wajah geram.
Rain membulatkan matanya. Darimana Albert tahu jika Rain di usir? Oh, ya Rain lupa jika rumah sakit itu milik kakeknya dan dengan mudah kakeknya tahu semua. Tidak perlu penguntit seperti yang dilakukan papanya.
"Kakek, aku akui kakek hebat. Bisa tahu semua tentang kejadian Rain di rumah sakit tanpa perlu penguntit!" kata Rain sambil melirik ke arah Damian.
Lelaki itu mengusap wajahnya. Anak perempuannya ini benar-benar ingin dia cubit.
Albert terkekeh, "Kakek juga tahu kau sedang membuka kafe!" ujar Albert santai.
Rain semakin melotot. Sementara Damian sangat terkejut. Dia tidak tahu menahu. Orang kepercayaannya selalu gagal karena Rain selalu mengetahui jika sedang dimata-matai. Bahkan terakhir kali dia memberikan uang lebih banyak dari bayaran yang Damian berikan.
Damian memang tidak kapok setelah orangnya ketahuan di rumah sakit, dia kembali mengirim orang lagi untuk memata-matai Rain.
Lantas darimana Albert tahu? Jika dia melakukan hal yang sama dengan Damian, pasti Rain dengan mudah menemukan orang yang memata-matainya. Kenapa Rain tidak tahu?
"Darimana kakek tahu?" tanya Rain sangat terkejut.
Rean juga terkejut karena dia tidak diberitahu oleh Rain. Padahal mereka tinggal bersama.
"Lo bener-bener ye! Gue tinggal sama Lo tapi gue nggak tahu apa-apa!" kesal Rean.
"Rain, apa kamu lupa? Jika kakek punya usaha toko material bangunan dan properti lainnya dimana-mana?"
Rain menggeleng lemah. Dia mana tahu perusahaan kakeknya ini. Bang Ando yang menjabat Presdir sekarang. Menggantikan tangan kanan Albert. Dulu dia membantu tugas Damian di kantor lelaki itu. Sekarang Ando sudah memiliki perusahaan Albert. Ya, perusahaan itu di wariskan untuknya.
Sementara, nanti Rean yang akan menggantikan tugas sang Papa.
"Ya ... Ya ... Cucuku ini tidak perduli seberapa kayaknya kakek dan papanya ya! Jadi dia kurang hati-hati!" sahut Sania. Albert dan Damian juga terkekeh.
Melihat wajah Rain yang pucat pasi itu adalah kepuasan bagi Damian.
"Jadi ... Mau sampai kapan kamu mandiri, Rain? Bahkan kamu selalu berhati-hati pun akan ketahuan!" kata Damian.
"Papa, diem deh. Rain lagi males ngomong sama Papa!" Sungguh Rain tidak tahu harus berkata apa.
Dia padahal sudah berusaha untuk tidak mengatakan pada siapapun. Nanti, jika sudah sukses baru Rain mengatakannya. Jika begini ya ... Untuk apa dia merahasiakannya kan?
"Ketinggalan nih. Pasti lagi bully Rain ya!"
"Bang Ando!" rengek Rain.
"Sudah-sudah, jadi ... Kamu mau main rahasia-rahasia sama kami, hm?" kata Albert lagi.
Rain menghela napas berat. "Bukan gitu ... Rain hanya mau kasih tau nanti kalau udah sukses. Rain nggak mau kesuksesan Rain ini campur tangan kakek maupun papa! Kalau sudah tahu gini pasti ujung-ujungnya dibantu. Rain nggak suka!" Akhirnya Rain bisa mengungkapkan uneg-uneg di hatinya.
Malina mulai mengagumi Rain karena kemandiriannya. Biasanya kan remaja di usia Rain selalu menghamburkan uang bapaknya dan juga pamer kekayaan. Bahkan kebanyakan dari mereka berperilaku seenak uang bapaknya.
Albert juga sudah menduganya. Maka dari itu dia memberikan bantuan secara diam-diam. Bahkan Albert juga menambahkan pekerja bangunan yang profesional. Semua bahan juga dia berikan dengan kualitas yang bagus. Agar Rain tidak tersinggung dan juga menolaknya. Albert tidak mengatakan hal itu.
"Kakek tahu, makanya kakek diam saja. Biarkan kamu berjuang sendiri. Kamu lihat sendiri kan? Di sini tidak ada yang tahu!"
Rain langsung berhambur memeluk kakeknya itu.
"Terima kasih, Kakek. Kakek lah yang mengerti Rain!"
"Jadi kamu anggap papa tidak mengerti kamu?"
Rain mengerucutkan bibirnya. "Rain lagi males ngomong sama papa!" ketusnya.
"Harusnya kamu bangga sama Rain, Damian! Kalau begini kan uang kita tidak keluar sedikitpun!" ucap Albert yang langsung di barengi gelak tawa.
"Papa curiga, uang darimana kamu? Setahu papa uang jajan kamu dan kebutuhan lainnya nggak cukup?"
"Papa ini kayak nggak tahu Rain aja. Dia kan__" Rain langsung membekap mulut Rean yang seperti ember bocor.
"Lo kalau bocor gue pites tuh ular piton!" bisik Rain.
Kedua mata Rean membulat. Membayangkan masa depannya di hancurkan Rain? Ah, tidak dia tidak sanggup jika aset berharganya di pites sama Rain. Nanti Mentari berpaling ke yang lain.
Rean mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Seluruh orang yang ada di sana tertawa melihat itu.
"Malina, kau lihat? Kalau adikku ini selalu bisa mengalahkan kau pria. Jadi tidak heran kalau dia putus cinta tidak merasa galau!" ungkap Ando.
Damian terkekeh, "Setelah di pikir-pikir memang kamu tidak usah memakai nama Klopper! Terserah kamu saja kalau begitu! Papa beri kebebasan tapi kamu harus bisa jaga diri!" Damian pun akhirnya menyerah. Dia lebih berusaha untuk memahami putra-putrinya.
__ADS_1
Rain yang ingin kebebasan dan Rean yang nurut saja karena dia juga akan memiliki beban yang berat. Suatu hari nanti masa depan perusahaan beralih ke tangannya. Jadi mana bisa Rean meminta untuk seperti Rain. Rean juga bangga jika bisa melindungi adiknya.
"Nenek senang sekarang kalian semua sudah akur seperti ini!" celetuk Sania.
Membuat Malina mengerutkan keningnya. Dia sendiri tidak tahu dengan masalah keluarga Ando.
"Nenek, ada orang lain. Tolong jaga bicaramu!" bisik Albert yang tidak di dengar oleh siapapun.
Sania terkekeh, "Maksud nenek si kembar ini. Selalu membuat kami pusing dengan perdebatan yang tidak penting!" ralat Sania.
Membuat Malina mengerti dan mengangguk paham.
"Hal seperti itu sudah terbiasa terjadi, Nek. Aku juga memiliki kakak laki-laki dan saat usia kami kecil sampai seumuran si kembar ya selalu saja bertengkar!" ujar Malina. Nampaknya sudah tidak canggung lagi.
"Jadi kau memiliki kakak laki-laki?" tanya Albert.
Malina mengangguk, "Ya, kakakku hanya dua tahun lebih tua dariku," jelas Malina.
"Dia sudah bekerja?" tanya Damian yang nampaknya mulai tertarik dengan obrolan ini.
Rain yang bahagia dan ingin memeluk sang papa pun urung karena lebih suka memperhatikan Malina. Dia akan menilai seberapa baiknya wanita itu.
Mereka semua memang baru pertama kali mengenal Malina, karena Ando baru hari ini membawanya. Sudah lama Ando di desak untuk memperkenalkan kekasihnya. Namun, Ando belum siap karena suatu hal. Dia sangat menghargai kekasihnya itu.
Setelah Rain perhatikan, dia agaknya tidak asing dengan wajah Malina.
"Sudah, Tuan."
"Panggil saja papa atau jika kamu sungkan om juga boleh," protes Damian.
Malina hanya mengangguk dan tersenyum.
"Dimana dia bekerja?" tanya Damian lagi.
"Perusahaan, Om Damian. Dia ... Di bagian pemasaran," jawab Malina ragu, dia melirik kekasihnya itu.
Malina meremas jemarinya. Sungguh dia tidak ingin membuat kekasihnya malu meski berkali-kali Ando mengatakan jika keluarganya tidak pernah memandang orang lain dari harta. Mereka selalu baik kepada siapapun jika orang itu baik.
"Kebetulan sekali, siapa namanya?" Damian melihat kecemasan di wajah Malina. Dia tidak mau membuat wanita yang akan menjadi menantunya itu canggung.
"Aldo, Pa. Sepertinya papa juga kenal!" Kali ini Ando yang menjawab. Dia merasakan jika kekasihnya itu sedang merasa minder.
Malina memang merasa jika sedang di interogasi. Dia sejak tadi menahan agar tidak membicarakan keluarganya. Namun, suasana telah menghanyutkan dia dan akhirnya bercerita tentang keluarganya. Malina sudah siap jika harus mengakhiri hubungan dengan Ando. Dia sudah pasrah. Menjalin hubungan dengan Ando memang harus siap mental. Sejak awal dia selalu menempatkan dirinya jika tidak akan pernah mungkin bersanding dengan Ando.
"Aldo Saputra?" celetuk Rain.
Sejak tadi dia memperhatikan wajah Malina dan mengingatnya. Namun, dia lupa entah siapa wanita itu. Rain seakan pernah bertemu sejak pertama kali melihat pun Rain curiga pernah bertemu dengan wanita itu secara tidak sengaja.
Malina terkejut, entah darimana Rain tahu nama kakaknya itu. Namun, Malina juga mengangguk. Biarlah semua orang tahu kehidupannya dari awal sebelum melanjutkan ke hubungan yang serius.
"Darimana kamu tahu, Rain?" tanya Damian penuh selidik.
"Jangan-jangan itu gebetan Lo juga ya?" sambung Rean.
"Oh, iya ... Dia kan sering ke kantor papa. Bisa aja dia ketemu Aldo, Pa?" Ando pun ikut mencairkan suasana.
"Ha? Beneran?" Malina juga terkejut mendengar hal ini. Padahal itu hanya sebuah candaan.
"Sembarangan! Lama-lama punya dua Abang gini setres gue!"
Ando dan Rean tertawa. Suasana yang agaknya menyeramkan bagi Malina tadi pun mencair. Malina merasa sedang berada di ruangan dan berhadapan dengan dosen killer yang siap membantainya ketika sedang melakukan sidang skripsi.
"Gue nggak sengaja ketemu terus ajak kenalan. Btw, Bang Aldo ganteng tahu!" sambung Rain.
Berkenalan dengan cowok lebih dahulu itu bukan Rain banget. Rean tahu betul tabiat adiknya sejak amnesia. Dia tidak seganjen dulu. Namun, Rean diam saja. Dia akan menanyakannya nanti.
Damian menepuk keningnya, "Kamu tidak usah ke kantor papa saja!" gerutu Damian.
"Sudah-sudah, jadi bagaimana kelanjutan hubungan Ando dan Malina? Kapan kalian siap untuk menikah? Kami akan selalu mendukung kalian dan selalu siap untuk datang ke rumah Malina untuk melamar," ujar Sania.
Mendengar penuturan Sania, Malina menjadi terharu. Jadi ... Mereka tidak mempermasalahkan hal itu? Mereka menerima jika Malina berasal dari keluarga biasa saja?
Malina mendongak untuk menatap sang kekasih yang duduk di pinggir sofa itu.
"Sudah aku bilang, jika keluargaku tidak mempermasalahkan asal-usulmu!" ucap Ando sambil tersenyum.
"Ando benar, Malina. Kakek dulu adalah orang yang tidak punya. Kakek bisa memiliki semua ini ketika menikah dengan nenekmu ini. Keluarga nenek selalu memandang semua orang sama. Jadi untuk apa membedakannya. Kami semua selalu mendukung keputusan anak dan cucu kami. Jika itu yang terbaik dan juga menurut kami baik!" Albert melirik ke arah Damian.
Lelaki itu menundukkan kepalanya. Betapa bersalahnya dia yang sudah mengecewakan mertuanya itu dan membuat putri semata wayang mereka meninggal. Andai waktu bisa diputar kembali, Damian akan memperbaiki semuanya dan tidak mempercayai ucapan Shely.
Nasi sudah menjadi bubur dan semua yang berlalu tidak akan pernah bisa kembali lagi.
__ADS_1
Bersambung ...