
Seorang gadis tengah mencengkram rambut lelaki yang sedang menikmati bibirnya itu. Ciuman yang benar-benar tidak dikatakan lembut, bahkan bibir gadis itu sudah bengkak dan bibir bawahnya sudah mengeluarkan darah. Napasnya tersengal ketika lelaki itu melepas pagutannya. Hanya satu detik dia membiarkan gadis tersebut menghirup oksigen, setelahnya kembali menyerang. Satu tangan lelaki itu dia gunakan untuk menekan tengkuk gadis bermata sayu, supaya memperdalam lima(t)annya. Sementara satu tangannya menjamah area yang sangat dia sukai.
Dua benda kenyal dengan ukuran yang cukup besar itu mampu membuat seorang lelaki berambut ikal itu gemas. Ciumannya turun ke leher dan memberikan beberapa tanda merah di sana.
"Eunghhhh ..." Gadis berkulit kuning langsat itu melenguh.
Lelaki itu menyeringai saat berhasil membuka kancing baju yang gadis itu kenakan. Lalu menghirup dalam-dalam aroma vanila yang menjadi favoritnya. Perlahan dia menghisap ujung benda kenyal itu yang sudah menonjol.
Dia menghisap sekuat mungkin, supaya air yang keluar semakin banyak. Rasa hausnya yang sejak tadi menjalar pun hilang karena air manis yang selalu menjadi kesukaannya. Bak bayi mungil lelaki itu menghisap bergantian. Hingga membuat gadis itu mencengkram apa saja yang ada di sampingnya. Rasa sakit dan juga kenikmatan yang bercampur menjadi satu.
"Pe-pelan-pelan ... Sa-sakit,"ucapnya.
Namun, rupanya lelaki itu tidak perduli. Dia terus meminum asi yang keluar dari sumbernya.
"Lu makan banyak, hm?" Lelaki itu mendongak, menatap sang gadis yang sudah dipenuhi kabut gairah.
Gadis itu hanya mengangguk. Lelaki itu perlahan merebahkan tubuh sang gadis. Lalu kembali menikmati asi yang terus keluar dengan deras.
Lelaki bermata sipit itu tersenyum puas. "Bagus, pertahankan!"
Gadis itu mengangguk, lalu kembali gelisah ketika satu jemari lelaki tersebut menjamah perutnya hingga menyingkap rok mini yang dia kenakan. Seperti yang dia mau, jika gadisnya telah menuruti semua permintaanya malam ini untuk tidak memakai dalaman.
Jadi dengan mudah satu jarinya masuk ke dalam celah yang sejak tadi sudah berkedut meminta ingin dijamah.
"Lu udah basah, baby!"
Gadis itu menggigit bibir bawahnya.
"Aaah, Sam ...." desahnya ketika satu tangan itu berhasil keluar masuk.
Sensasi yang menggelitik juga ada yang ingin meledak secara bersamaan. Namun, lelaki itu justru menghentikan gerakan jemarinya dan kembali sibuk menyesap asi yang selalu dia butuhkan.
Tahu jika sang gadis gelisah dan menginginkan lebih dia tersenyum miring.
"Ada apa?"
Gadis itu hanya menggigit bibir bawahnya.
"Lu mau gue gini?" Lelaki itu kembali memasukkan jemarinya.
Namun, saat hendak mencapai puncaknya lagi dan lagi dia menghentikan gerak jemarinya. Membuat sang gadis kecewa dan ingin menangis.
"Katakan dan memohonlah padaku, Luna!"
Gadis bernama Luna itu hanya menggigit bibir bawahnya. Dia memalingkan tatapan ke sembarang arah. Enggan mengatakan itu, harga dirinya akan turun dan Samuel pasti akan terus mengejek juga memperlakukannya seperti gadis murahan.
Gadis murahan?
Bukankah memang sekarang dia gadis murahan? Sejak lelaki itu tahu jika dia mengeluarkan asi, sejak itu pula lelaki itu telah merenggut semuanya.
"Kalau tidak mau ya sudah, gue mau pergi!"
Luna berpikir sebentar, jika dia membiarkan Samuel pergi maka tubuhnya akan terus menginginkan sebuah sentuhan. Membayangkan Samuel bersama gadis lain tentu saja membuat Luna tidak rela. Tubuhnya terasa panas karena belum mendapatkan sesuatu yang ingin dia keluarkan. Rasanya sudah sangat gelisah, dibawah sana menginginkan kembali sentuhan seorang Samuel.
"Aku mohon ... Sentuh aku, Sam." Pada akhirnya Luna pun meminta seperti yang Samuel inginkan.
Lelaki itu menyeringai, dia puas akhirnya Luna yang angkuh itu pun luluh.
Samuel melanjutkan memasukkan jemarinya. Kali ini dua jari. Gerakan keluar masuk yang pelan itu membuat Luna merasa nikmat dan sebentar lagi ledakan itu datang.
Dengan napas yang terengah-engah.
Samuel menjilati area sensitifnya yang baru saja menyemburkan cairan bening itu. Membuat Luna semakin kacau karena kenikmatan yang diberikan Samuel. Entah sudah berapa kali Luna melakukan ini, tapi selalu saja tubuh Luna merasakan kenikmatan yang luar biasa.
"Gue masukin ya!"
Luna sudah tidak sanggup lagi, dia ingin Samuel melakukan hal lebih. Tanpa sadar dia membuka kedua kakinya lebih lebar. Menikmati setiap hujaman yang Samuel berikan.
Ketika keduanya telah sampai pada puncaknya, Samuel melepas pengaman yang sudah dipenuhi oleh cairan miliknya.
__ADS_1
Lalu satu lelaki yang sejak tadi menikmati permainan Samuel pun meminta giliran.
"Santai, Boy! Dia biar istirahat dulu!" cegah Samuel.
"Nggak bisa, gue udah tegangan tinggi!"
Luna yang memang tahu sejak tadi ada orang lain merekam kegiatan mereka pun, merasa ketakutan. Dia harus melayani lelaki itu. Lelaki bernama Boy yang tak lain adalah sahabat Samuel.
Samuel terkekeh, dia pun tidak perduli apa yang akan terjadi pada Luna. Dia memilih untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Jika Samuel selalu mencium dan memperlakukan Luna dengan kasar, berbeda dengan Boy yang lebih lembut dan membuat tubuh Luna kembali menegang.
"Asi ... Lo keluar asi?" tanya Boy.
Luna mengangguk dengan wajahnya yang lelah. Tubuhnya sudah penuh dengan keringat.
"Enak juga, pantas Samuel suka nyusu Lo dimanapun! Sekarang Lo jadi budak gue seperti perjanjian Samuel. Jadi kapanpun gue mau Lo harus nyusuin gue!"
Luna membelalak. Apa ini? Perjanjian apa yang telah Samuel dan Boy buat? Rasanya dia tidak rela jika Samuel tidak lagi menginginkan tubuhnya. Hatinya terasa nyeri, meski Boy tidak kalah tampan, entah mengapa Luna tidak menginginkan permainan Boy.
Hah, Luna sudah seperti wanita ja(l)ang.
Braak
Suara pintu yang dibuka secara kasar itu membuat Luna dan Boy terkejut. Lelaki dengan kulit putih, rahang kokoh dan alis tebal itu menggelengkan kepala ketika melihat pemandangan di atas ranjang milih Samuel.
"Lo bener-bener ya!"
Boy berdecak, lalu kembali menyusu seakan tidak perduli dengan lelaki itu. Sementara Luna hendak menutupi tubuhnya dengan selimut pun Boy cegah.
"Nggak usah di tutup. Toh udah diliat sama Rafa!"
Rafa mendekat dan menatap tubuh Luna yang benar-benar menggoda. Siapa sangka gadis cupu di sekolahnya ini memiliki tubuh yang bagus. Beberapa bagian pun berisi.
"Woah, tembem!"
"Lo ngapain di sini, Fa?" tanya Samuel yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Sementara Boy melakukan tugasnya tanpa perduli dengan keduanya. Luna merasa sangat malu, tapi perlakuan Boy yang lembut membuatnya terus mendesah. Bahkan setiap desahannya itu terus memanggil nama Boy.
"Aksara setuju soal tantangan gue!" Rafa tersenyum miring.
Sementara jemari Rafa sudah menelusup ke area sensitif milik Luna. Gadis itu digarap oleh dua orang dan membuat otak warasnya tidak bekerja. Dia hanya butuh pelepasan dan kenikmatan surga dunia.
"Terus black devil gimana?" Samuel duduk di sofa dengan kaki yang diangkat. Dia hanya memakai bathrobe yang menutupi tubuhnya.
"Tentu saja mau, Lo tahu kalau gue menang, bukan hanya motor Kenan yang gue dapetin tapi mobil keluaran terbaru milik Radit!"
Rafa terus mengocok lubang hutan rimba milik Luna. Sementara Boy masih saja menyesap asi.
Bahkan dia sudah memberi banyak bercak merah di area benda kenyal milik Luna.
Selama ini gadis itu selalu menutupi tubuhnya dengan seragam yang besar. Rupanya dibalik seragam itu dia menyembunyikan tubuhnya yang memiliki ukuran dada besar.
Boy yang baru pertama kali melihat tubuh Luna itu pun takjub.
"Kalau Lo kalah 500 juta melayang! Atau Lo berikan itu cewek buat mainan Radit atau Kenan!"
Rafa menggeleng, "Mereka nggak main ginian ... Ahh ... Jari gue di jepit. Lo nikmat juga ya, Lun!" Rafa mengerang nikmat.
"Raf, minggir gue kenyang asi nih. Udah nggak tahan!"
Rafa mengernyit, lalu dia melepas jarinya dan membiarkan Boy menikmati tubuh Luna. Dia duduk di sofa sebelah Samuel sambil melihat Luna dan Boy. Membuat dibalik celana jeans-nya sesak.
"Mainan Lo oke juga! Kalau Lo tawar ke Kenan atau Radit sebagai bahan taruhan, gue yakin mereka bakal ketawain Lo!"
"Maksud Lo?"
"Mereka nggak main gitu, woy. Mereka nggak sebrengsek kita!"
Samuel mengangguk, pantas saja waktu dia memberikan Luna sebagai bahan taruhan dengan Radit, lelaki itu menolak. Bahkan saat ada balap liar setelah lomba berakhir pun mereka berpesta. Ada gadis penghibur di sana. Kenan menolak untuk bersenang-senang. Rupanya mereka belum pernah menikmati surga dunia.
__ADS_1
Meski Samuel heran kenapa ada anak remaja yang bisa tahan dengan godaan seperti ini.
"Gue penasaran sama ceweknya Radit, Boy pernah lihat kalau dia tuh sempurna. Lo nggak minat buat rebut tuh cewek?"
"Gue masih penasaran dengan Keyla! Gue yakin sebentar lagi dia akan bertekuk lutut di hadapan gue dan dia akan bernasib sama seperti Luna!"
Rafa menyeringai, setelah menetralisir otaknya supaya berpikir jernih dan menenangkan si gaper (gagah perkasa) miliknya.
"Besok Queen bakal ikut? Gue denger dia gabung di geng si Radit?" Samuel meneguk sedikit minuman sodanya.
"Queen ya? Gue penasaran kenapa tuh cewek susah digapai? Kita liat aja nanti, sampai mana dia tahan sama pesona gue!" kata Rafa penuh percaya diri.
***
Sementara Rain terus menatap Rean tajam dengan kedua tangan dia lipat. Rain sama sekali tidak tahu jika Rean memiliki sebuah perjanjian dengan Mentari. Kalau saja Rain tidak menemukan kertas dengan isi perjanjian dan tangan Rean juga Mentari, pasti Rain akan mengira jika lelaki yang menjadi kembarannya itu benar-benar jatuh cinta.
Surat perjanjian antara Rean dan Mentari
Pertama Diamana pun Rean berada maka Mentari harus ikut.
Kedua Mentari harus selalu menuruti permintaan Rean.
Ketiga Mentari harus mau menjadi pacar Rean selama yang Rean mau. Selama itu pula Mentari nggak boleh dekat-dekat dengan lelaki manapun begitu juga sebaliknya.
Ke empat: Jangan pernah mencampuri urusan Rean. Selalu berkata jujur sama Rean meski hanya menjalin hubungan sesuai kontrak
Anggap ini sebagai balas budi Mentari karena Rean selalu menolong Mentari ketika dibully, karena di dunia ini tidak ada yang gratis.
Rain merobek kertas itu dan membentuk bulatan, lalu dia melempar ke tong sampah yang ada di dekat meja belajar Rean.
Sementara lelaki itu duduk di atas ranjang dengan mengacak rambut frustasi.
"Apa-apaan ini! Lo mau mempermainkan Mentari?" tanya Rain sambil berkacak pinggang.
Beruntung mereka di apartemen, jika tidak pasti Ando akan membela Rean. Menganggap itu namanya laki-laki. Nakal dikit boleh.
"Bukan gitu, Rain. Lo salah paham!"
"Salah paham gimana? Itu udah ada buktinya!" geram Rain. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rean.
"Lo mau rusak Mentari, hah? Dengan dia menuruti semua ucapan Lo, kalau Lo mau nikmatin tuh tubuh dia nggak bisa nolak karena perjanjian busuk ini!"
Rean tidak menyangka jika Rain akan menemukan surat itu, maka perjanjian untuk membuat Mentari terus bersamanya gagal sudah.
Bagaimana gadis itu bisa menemukan suratnya? Rean terus saja mengumpati dirinya di dalam hati karena terlalu ceroboh.
"Rain, gue minta maaf ya. Udah dong jangan marah!" Rean menaik turunkan alisnya.
Kembarannya itu hanya menggeleng pelan, bisa-bisanya dia sesantai ini?
"Nggak ada perjanjian lagi diantara kalian! Lo sampai macem-macem sama Mentari, Lo bakal berurusan sama gue!"
"Iya gue janji!" kata Rean pasrah.
"Tuh, gue pakai duit Lo 700 juta buat belanja!"
Rean mengerjapkan kedua matanya. Otak encernya itu seakan bekerja perlahan untuk mencerna ucapan Rain. Selama amnesia Rain tidak pernah belanja sebanyak itu dan sekarang ....
Rean melompat dari tempat duduknya dan memeluk Rain.
"Gue seneng akhirnya Lo abisin duit gue!" Satu kecupan mendarat di pipinya.
"Makasih ya, Rain!" Pipi kiri pun tak luput dari kecupan Rean.
Rain mendorong tubuh lelaki itu yang bergelayut di tubuhnya seperti bayi koala.
"Aneh Lo!"
Bersambung...
__ADS_1