
Mia terus saja mendesak Rain untuk jujur tentang pakaian yang berserakan di sofa. Padahal gadis itu sudah menjelaskan sedetail mungkin, tapi tetap saja Mia tidak percaya. Hal itu membuat Rain kesal sekaligus risih karena ocehan Mia yang mengganggu telinganya. Rain merasa salah karena sudah mengajak gadis itu membereskan apartemen, tapi malah mendapatkan ceramah panjang yang melebihi ceramah mama Dedek.
"Rapih sih ... Tapi ... Males banget harus dengerin ceramah Lo!" sindir Rain.
Tawa Mia menyembur, dia memang suka menggoda Rain dan membuat gadis itu kesal, karena Rain tidak sekaku dulu. Sebelumnya Rain itu gadis cupu yang sulit untuk di ajak bercanda. Fokusnya selalu saja ke Kenan yang membuat semua nilainya anjlok.
"Iya deh iya, gue percaya Lo nggak ngapa-ngapain. Gue percaya kalau Lo kesiangan terus belum ngerjain tugas dan langsung ganti gitu aja tanpa mandi!" Mia mengulang penjelasan Rain.
"Gue mau mandi, bye!" Rain berlalu meninggalkan Mia yang sibuk dengan mie instan spesialnya.
Suara bel terdengar, membuat Mia menggerutu karena mengganggu dirinya yang sedang santai sambil menikmati mienya.
"Lo berdua lama banget sih!" Mia mengambil alih keresek belanjaan yang ada di tangan Reno.
"Sorry, sayang. Sandy tadi ngajakin ngintilin cewek!"
Mia tidak menggubris. Dia kembali ke dapur dan menikmati mie yang sempat tertunda.
Namun, tiba-tiba saja Reno duduk di sebelah Mia dan menyeruput kuah mie milik Mia.
"Reno!" Mia menarik telinga Reno dengan kuat.
"Aduhh, sayang. Sakit lho ini!"
"Suruh siapa makan!"
Mia menggeser mangkuk mie nya. Dia tidak mau ada yang mengganggu. Reno menempelkan es krim di pipi Mia. Membuat gadis itu cemberut tapi senyum mengembang saat melihat sesuatu yang Reno bawa.
"Ini buat gue?" tanya Mia dengan mata berbinar.
"Iya, tapi Lo harus cium pipi gue!"
Mia kembali cemberut, daripada harus cium Reno mending nggak usah pengen es krim. Toh nanti dia bisa beli sendiri. Lagipula siapa sih yang mau sama Reno si playboy.
"Ogah, pipi Lo udah terkontaminasi sama banyak cewek! Geng Lo kan semua pada playboy! Apalagi si Sandy!"
"Woy, ngapa gue di bawa-bawa dah!" sahut Sandy yang sejak tadi sibuk menata belanjaan ke tempatnya. Sandy memang sudah hafal kerena dia selalu mendapatkan tugas berbelanja.
Reno merangkul Mia, "Mana ada, pipi masih bersih apalagi bibir. Lo nggak percaya?"
Mia melepas tangan Reno yang merangkul pundaknya. "Nggak!" Gadis itu kembali melanjutkan makan.
"Udah makan, nanti keburu meleleh!" Reno meletakkan sekantong plastik es krim di meja lalu pergi begitu saja.
Membuat Mia merasa bersalah saja, memikirkan apa mungkin ucapannya tadi sangat menyinggung Reno? Tapi gadis itu tidak perduli. Memilih menghabiskan mie lalu menikmati es krim kesukaannya yang Reno beli.
Saat Mia membuka keresek tersebut, rupanya ada empat es krim. Mia segera bangkit dan mendekati Sandy, memberi satu bungkus es krim pada lelaki itu.
"Gue kebanyakan!" kata Mia saat Sandy hanya menoleh.
"Thanks!" kata Sandy.
Mia hanya mengangguk meski jantungnya berdebar. Sebelumnya mereka ini jarang berbicara apalagi bertegur sapa. Sama sekali belum pernah meski satu kelas. Sejak Rean dan Rain akur Mia selalu berinteraksi dengan Reno, Sandy dan Lando.
Mia menuju ruang televisi. Dimana sudah ada Rain dan Reno yang asyik bermain game. Sementara ada sepasang kekasih yang baru saja datang. Kehadiran mereka sejak tadi di tunggu. Membuat kedua orang yang sibuk dengan game pun menoleh.
"Woah, penganten baru jalan lama amat ya!" celetuk Reno.
Sandal rumah pun melayang ke arahnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Rean.
"Duduk gih, gue ganti baju dulu!" perintah Rean yang di angguki oleh Mentari.
"Lo mau ganti baju? Pakai baju gue aja! Ayo!" ajak Rain.
"Lah Lo nggak nawarin gue?" protes Mia yang sibuk dengan es krimnya.
"Abisin dulu, tar nyusul!"
Rain menggandeng Mentari dan berjalan tepat di belakang Rean. Mentari mengernyit ketika Rean membuka pintu kamar yang ternyata bersebelahan dengan kamar yang Rain masuki.
Mereka satu rumah? Jangan-jangan mereka ini sudah menikah tapi di sembunyikan?
Mentari terus menerka-nerka.
"Tari, malah diem aja sih!" Rain menarik tangan Mentari yang masih mematung di ambang pintu.
"Rain ... Serumah sama Rean?" tanya Mentari ragu. Takut jika Rain tersinggung.
Rain terkekeh, dia lupa kalau Mentari belum tahu siapa dirinya.
"Gue ini sebenarnya ...." Rain menunduk sambil menghela napas panjang.
"Iya, gue serumah sama dia!" lirih Rain.
"Lo beruntung karena Rean bisa suka sama Lo, Tari. Dibandingkan sama gue yang___"
"Jadi bener kalian udah nikah?" tebak Mentari heboh, melihat wajah Rain yang lesu juga takut untuk jujur Mentari langsung saja melontarkan pertanyaan seperti itu.
Tawa Rain menyembur, wajah yang sejak tadi menunduk dan terlihat sedih itu hilang begitu saja.
"Hahaha ... Ya ampun! Kata siapa gue nikah sama Rean? Gue mana bisa nikah sama dia karena kita ini sedarah!"
Mentari mengerjap beberapa kali untuk mencerna ucapan Rain.
"Se-sedarah?" cicit Mentari.
"Gue kembaran Rean. Dia lahir lebih dulu lalu selang dua menit gue lahir. Kalau di perhatikan secara seksama wajah kita mirip, tapi kalau hanya sekilas pasti nggak ada mirip-miripnya!" jelas Rain.
__ADS_1
Mentari tersenyum canggung. Jadi semua dugaannya selama ini salah. Rasa bersalah tentang apa yang sudah dia lakukan dengan Rean hilang begitu saja ketika Rain mengatakan jika dia adik kembar Rean.
"Rain, maaf kalau aku selalu berpikir negatif sama kamu."
Rain menggeleng, "Gue nggak bisa bilang ke semua orang tentang siapa gue karena gue pengen hidup tenang!" Rain menghela napas panjang. Mengingat Damian sudah memberitahu siapapun tentang dirinya, ketenangannya pasti akan terusik kembali.
"Gue sama Kenan, cowok yang pake baju hitam itu tunangan tapi gue nggak mau. Lalu gue pacaran sama Kak Radit. Makanya Lo mikir aneh-aneh!"
Mentari tadi memang sempat melihat Kenan datang saat hendak ke kamar Rain.
"Dia ganteng, kenapa Rain tolak?" tanya Mentari. Meski hanya melihat sekilas wajah Kenan.
"Dia selingkuh. Sama aja sih gue juga. Udah ah nggak usah bahas dia. Lo mau pakai baju yang kayak gimana? Kalau baju cewek-cewek gitu ada nih Lo mau? Ambil semua karena gue nggak suka!" Rain membuka lemari miliknya.
Ada banyak dress di sana dan bahkan banyak yang baru. Label belum di lepas soalnya. Mentari memindai semua dress di dalam lemari itu. Tentu dari merk-nya saja Mentari tahu berapa harga satu pakaian itu.
Rain menggeret koper kecil lalu memberikannya pada Mentari.
"Lo nggak perlu sungkan. Semua ini buat Lo. Ambil yang masih baru kalau bekas jangan. Tar gue buang aja!"
"Aku ambil yang lama aja. Aku pakai ini aja ya!" Mentari mengambil salah satu dress warna biru laut itu.
"Lo mau yang bekas juga. Ya udah masukin semua di koper ini!"
Mentari menggeleng, dia tidak mau jika nanti ibunya bertanya terus menerus. Pasti ibunya akan marah kalau Mentari menceritakan semuanya.
"Kenapa? Bilang aja sama nyokap Lo kalau ini pemberian gue. Kalau nggak nanti gue anter Lo balik deh!"
Rain seolah tahu apa yang ada di pikiran Mentari. Gadis polos itu tersenyum.
"Nanti Rain gimana kalau aku ambil semua bajunya? Ini masih bagus-bagus!"
"Rain mana doyan pake dress!" celetuk Mia yang baru saja masuk ke kamar Rain.
"Kenapa?" tanya Mentari.
"Lo nggak liat tuh dia pakai apa?"
Mentari melirik ke arah Rain yang pakai kaos oversize dan celana pendek di atas lutut. Meski sederhana tapi terkesan keren dimata Mentari.
"Bawa gih, Lo masukin aja semua. Daleman ada nih masih baru!" Rain membuka pintu lemari sebelahnya lagi. Ada banyak stok dalaman di sana yang tersusun rapih.
"Enak kan? Kalau nginep di sini nggak perlu repot-repot!" Mia dengan santainya memilih kebutuhan untuk dirinya yang hendak mandi. Gadis itu memang sudah terbiasa begitu.
Mentari pun pada akhirnya memasukkan semua pakaian milik Rain ke dalam koper setelah beberapa kali Rain membujuknya.
Sekarang Mia dan Rain pergi entah kemana. Mentari baru saja keluar dari kamar mandi dengan dress pilihannya tadi. Gadis itu sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tiba-tiba saja pintu kamar Rain terbuka.
Mentari menoleh ketika melihat siapa yang datang, tubuhnya mulai menegang.
"Rean?"
"Duduk!" perintah Rean. Mentari menurut saja untuk duduk di kursi. Lelaki itu kemudian menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambut Mentari.
"Lo tahu nggak kalau soda di kasih susu aja bisa gembira. Apalagi gue?" kata Rean.
Mentari menelan salivanya susah payah.
"M-maksud Rean? Rean mau aku buatin soda gembira?" tanya Mentari.
Rean menggeleng, lalu meletakkan hairdryer itu ke meja. Kemudian menatap Mentari yang sedang duduk.
"Cantik!"
"Rain ngasih baju-bajunya!"
"Ambil aja, dia mana mau pakai begituan!"
"Rean kenapa nggak bilang kalau kalian kembar?"
Rean menghentikan gerakannya yang sedang menyisir rambut panjang Mentari.
"Rain bilang gitu?" tanya Rean.
Mentari mengangguk, "Dia cerita semua. Maaf ya kalau aku sempat marahin Rean karena aku pikir Rain cemburu!"
Rean tertawa, sebenarnya dia juga ingin bilang kepada Mentari kalau Rain adiknya. Namun, melihat tingkah Mentari yang takut juga bercampur rasa cemburu, membuat Rean mengurungkan niatnya. Dia suka ketika melihat Mentari cemburu tapi gadis itu tidak mau mengakuinya.
"Nggak apa-apa lupain aja!"
Mentari pun bangkit dari duduknya. "Aku buatin Rean soda gembira ya!" ucapnya.
Rean memeluk Mentari dan mulai berani mencium pipi gadis itu.
"Bukan itu yang gue mau! Jatah yang pernah gue bilang ke elo, sekarang gue minta!" bisik Rean.
Bulu kuduk Mentari berdiri mendengar hal itu. Jadi ... Rean sudah memulai perjanjian yang pernah dia buat sebelumnya? Dia akan meminta jatah dan menjadikan Mentari kekasihnya. Dia juga tidak mau mendapatkan penolakan. Ya, tentu saja Mentari mengingatnya. Meski sebenarnya berada di dekat Rean itu sangat nyaman.
Surat perjanjian yang Rain temukan itu belum sempurna karena Rean kembali menambahkan beberapa.
Rean membawa Mentari ke ranjangnya dan membuka resleting belakang dress yang Mentari gunakan. Menampilkan punggung putih bersih milik Mentari.
"Rean, aku malu!"
Rean tidak perduli, dia kembali membuka pengait bra yang Mentari gunakan. Setelah itu Rean duduk di sebelah Mentari dan menarik dagu gadis itu. Memberikan kecupan pada bibir ranum Mentari.
Merasa tidak ada penolakan, Rean pun bukan hanya mengecupnya melainkan ******* juga menyesap. Bibir manis itu kemudian Rean paksa untuk terbuka sedikit agar dia bisa memperdalam ciumannya.
__ADS_1
Mentari hanya pasrah saja karena ini ciuman pertamanya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Satu tangan Rean menekan tengkuk Mentari, satu tangannya memilin ujung benda kenyal Mentari.
Rean melepas pagutannya ketika Mentari sudah kehilangan oksigen. Tatapan Rean turun ke arah benda kenyal milik Mentari yang rupanya memiliki ukuran besar. Rean berlutut di hadapan Mentari. Menyesap ujung benda kenyal itu seperti bayi yang sangat kehausan.
Mentari sangat malu karena ini pertama kali tubuhnya dilihat oleh seorang lelaki bahkan di sentuhnya.
"Aw sakit, Rean!" pekik Mentari. Gadis itu meringis ketika Rean dengan beringas menyesap ujung benda kenyal milik Mentari.
"Susunya enak! Meski nggak ada isinya!" kata Rean santai.
Wajah Mentari sudah memerah. Bisa-bisanya Rean berkata seperti itu. Dia tidak menyangka jika Rean bisa mesum juga.
Rean mendorong tubuh Mentari agar tiduran. Dia merangkak naik ke atas tubuh Mentari dan kembali menyusu. Dia sangat suka area itu. Bahkan wajahnya sesekali diusap ke sela-sela dua gunung kembar milik Mentari.
"Gue bakal bikin ukurannya lebih gede!" ujar Rean yang masih menikmati benda kenyal itu. Satu tangannya memilin ujung benda kenyal yang menganggur. Membuat Mentari menggigit bibir bawahnya juga meremas sprei.
"R-Rean!" Mentari merasa tubuhnya ingin mendapatkan sentuhan lebih. Dia ingin mendesah tapi di tahan. Sentuhan Rean benar-benar memabukkan.
"Ya?" Rean mendongak. Melihat Mentari yang sudah menikmati sentuhannya, lelaki itu tersenyum puas. Dia pun memberikan jejak merah di area gunung kembar itu. Banyak sekali malah.
Lalu saat Rean mencium leher Mentari, gadis itu mendongak untuk memberikan akses agar Rean leluasa menciumnya.
"Nikmatin, sayang .... Ahhh," bisik Rean. Membuat tubuh Mentari semakin menegang. Kedua tangan Rean masih saja bermain dengan gemas area yang sangat di sukai itu.
"Rean, aaah sakit ... Pelan-pelan!" kata Mentari dengan ******* yang lolos begitu saja.
Rean terus menggoda gadis itu. Dia kembali menyusu dengan kuat. Mentari merasa seperti seorang ibu yang sedang menyusui bayi besarnya.
***
Radit duduk dengan gelisah, seakan ada bisul gede di bokongnya yang hendak pecah. Sedari tadi kedua kakinya itu tidak bisa berhenti bergerak. Dia sesekali juga menghela napas jengah. Obrolan grandma dengan kedua orangtua Gwen membuatnya ingin lari saja.
Makan malam yang terasa menyiksa bahkan setiap detiknya terasa lama bagi Radit. Dihadapannya tersaji makanan mewah yang menggoda selera tapi bagi Radit semua makanan itu hambar. Private room yang menjadi tempat makan malam kedua keluarga itu terasa seperti neraka bagi Radit.
"Jadi ... Tanggal berapa kita langsung peresmiannya?" tanya grandma Rima.
Alex melirik ke arah putranya, meminta persetujuan karena dia tahu bahwa Radit menolak perjodohan ini.
"Apa ini tidak terlalu cepat? Sebaiknya biarkan mereka saling mengenal dulu!" Alex yang sejak tadi bungkam kini ikut bersuara.
"Buat apa? Nanti lama-lama mereka juga kenal. Mama bahkan sudah berencana untuk pernikahan mereka sebelum Radit dan Gwen kuliah. Supaya nanti Gwen ada yang menjaga!"
Radit yang hendak menolak itu segera diberi tatapan tajam dari Alex. Akhirnya kekasih Rain ini memilih diam.
"Sebaiknya kita serahkan sama Gwen dan Radit. Apa mereka setuju untuk nikah muda? Aku rasa ini terlalu cepat dan mereka tentu saja ingin menikmati masa remaja. Dimana kebebasan selalu ingin mereka rasakan tapi tetap harus dalam pantauan kita para orangtua!"
Wajah Rima mendadak masam ketika Fania ikut bicara. Sejak dulu memang Rima tidak menyukai menantunya itu. Entah apa yang membuat Rima tidak menyukai Fania. Rasa tidak sukanya bertambah karena Fania menjadi penghalang niatnya.
"Kalau Gwen tentu pasti sangat senang dengan perjodohan ini. Iya kan, Gwen?" kata Ines--ibu Gwen.
Gwen mengangguk malu, dia memang sangat menyukai Radit sejak dulu. Mereka memang saling mengenal sejak kecil.
"Sepertinya perkenalan juga tidak diperlukan. Bukankah mereka sejak kecil ini berteman dan pernah satu sekolah? Sebelum Gwen memilih ikut kami keluar negeri!"
Fania tersenyum, "Iya benar, jadi biarkan mereka menjalin hubungan layaknya teman dulu. Supaya tidak terbebani dengan perjodohan ini. Sebentar lagi kan mereka juga akan ujian. Sebaiknya jangan menekan kepada Gwen maupun Radit soal pernikahan!" ujar Fania. Menambah api amarah dihati Rima.
"Apa yang dikatakan Fania ada benarnya juga, Oma Rima. Pertunangan mereka lebih baik setelah kelulusan saja. Lalu soal menikah biarkan mereka menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu," usul Ines.
Dia juga tidak mau jika Gwen terganggu dalam menuntut ilmu. Juga tidak mau sakit hati nantinya. Melihat gelagat Radit saja sudah bisa Ines tebak kalau putra dari Fania dan Alex itu menolak perjodohan. Ah, membayangkan saja sulit, tapi biar bagaimanapun Ines akan terus berjuang demi kebahagiaan Gwen.
"Baiklah, jika begitu pertunangan akan diselenggarakan setelah kelulusan. Juga untuk perayaan kelulusan mereka. Bagaimana?" kata Zain--ayah Gwen.
Alex menghela napas, pikirannya buntu karena dia juga tidak bisa menolak semua ini di depan Rima. Namun, melihat wajah putranya yang nelangsa itu membuat Alex iba.
"Ya, kita bahas nanti saja."
Kemudian mereka menikmati menu penutup dalam keheningan. Gwen sejak tadi mencuri pandang ke arah Radit. Mengagumi wajah tampan yang selalu menjadi penghuni hatinya.
"Aku permisi sebentar!" Radit bangkit dari duduknya untuk menghirup udara segar.
Obrolan mereka masih berlanjut, bedanya ini tentang bisnis. Radit memilih pergi saja dan menikmati angin malam di sebuah taman yang berada di samping restoran tersebut.
"Dit," panggil Gwen.
"Hmm." Radit hanya bergumam tanpa menoleh. Dia sudah tahu siapa yang memanggilnya.
Gwen duduk di sebelah Radit dan memandangi lelaki itu. Gwen juga memberanikan diri menggenggam tangan Radit. Meski lelaki itu menepisnya.
"Apa kita nggak bisa kembali seperti dulu?" tanya Gwen.
"Kembali? Lo pikir setelah semua yang Lo lakuin itu bisa buat gue kembali?" Emosi yang sejak tadi Radit tahan kini meledak.
Setiap kali melihat wajah Gwen akan selalu menyakitkan bagi Radit.
"Diiiit, bisa nggak sih jangan kasar gitu?" Gwen merajuk dengan wajah kesal yang dibuat-buat.
"Nggak bisa!"
"Aku kangen sama kamu, Dit! Kamu nggak akan bisa benci aku setelah apa yang kamu lakuin ke aku!" Gwen tersenyum puas ketika melihat wajah tegang Radit dari samping.
Lelaki itu bangkit dan menatap tajam Gwen. Radit benar-benar muak dengan gadis yang pandai bersandiwara ini.
"Oh ya? Sampai kapanpun gue nggak bakal mau kembali sama Lo lagi!" bentak Radit yang memilih pergi meninggalkan Gwen.
Kedua tangan Gwen mengepal kuat. Wajah memerah karena menahan letupan emosi.
"Liat saja nanti, Dit!" gumam Gwen.
__ADS_1
"Gue nggak bakal nyerah buat dapetin Lo lagi!"
Bersambung ...