
Rain menikmati baksonya dengan perasaan bahagia karena sudah mempermalukan Ella. Sementara Mentari bingung karena kehebohan itu. Mia? Jangan ditanya lagi, dia sudah sangat heboh sekali sampai-sampai menuangkan sambal nggak kira-kira karena saking fokusnya sama berita yang beredar.
Seorang siswi SMA Pelita Bangsa yang duduk di kelas Xl-Ips 3 sedang bermesraan dengan om-om yang diperkirakan usianya empat puluh lima tahun. Gadis cantik yang bernama Ella Clarensia ini rupanya seorang kekasih most wanted SMA Pelita Bangsa yang bernama Kenan Aditya Wiguna.
"Rain, ini siapa ya yang ngirim. Gila bener kalau emang si Ella simpanan om-om!"
Rain bersikap tenang karena dia pelakunya. Dia juga memakai nomor yang sudah diatur agar tidak bisa dilacak.
*
Ella membasuh wajahnya berkali-kali lalu mengelapnya dengan tissue. Dia menatap pantulan dirinya di kaca wastafel. Kemudian seseorang menarik atensinya. Ella melirik gadis yang tengah mencuci tangannya.
"Lo nggak ada puasnya ya gue permalukan di depan Kenan!"
Rain menoleh sekilas lalu melanjutkan mencuci tangannya dan mengeringkan menggunakan*hand dryer.*
"Gue bilangin sama Lo sekali lagi! Jauhin Rean juga Kenan!" Ella mendorong bahu gadis itu.
Meski Rain lebih tinggi dari Ella tetap saja dia bisa mendorong bahu Rain dengan sedikit berjinjit.
Plak
Tamparan itu mendarat tepat mengenai pipi mulus Ella. Mentari yang baru saja masuk hendak ke salah satu bilik toilet terkejut dengan kejadian barusan. Rain melirik sekilas Mentari yang takut untuk melangkah.
"Masuk aja!" ujar Rain.
Mentari mengangguk. Dia pun melaksanakan hajatnya sambil mendengar pertengkaran Rain dan Ella.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka?
Rupanya setiap sekolah sama saja.
Mentari terus berpikir hal itu di dalam bilik toilet. Sebenarnya dia sudah selesai buang air kecil tapi dia takut untuk keluar.
"Siapa elo ngatur gue, hah!" bentak Rain. "Seharusnya Lo ngaca, udah jadi simpanan om-om masih aja ngarepin cowok lain!" sindir Rain.
Hal itu membuat Ella melotot. Darimana Rain tahu rahasianya.
"Elo!" Ella menunjuk Rain. "Berani Lo sebar gosip seperti itu, nyawa Lo bakal terancam!" ancam Ella.
Rain tersenyum miring, "Makanya punya hape tuh gunain! Berita udah nyebar dan gue tahu dari grup sekolah!" ujar Rain kemudian pergi begitu saja.
Ella menggeram kesal. Dia pun membuka ponselnya dan benar saja ada berita yang Rain katakan. Sungguh Ella sangat malu karena foto syur dengan sang Daddy tersebar. Beruntung wajah Daddy tidak diperlihatkan.
Ella nampak mondar-mandir di depan wastafel. Memikirkan apa yang harus dia katakan pada Kenan. Sementara untuk menggapai hati Rean saja dia sangat sulit. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu yang selalu saja haus akan damba seorang lelaki tampan.
Mentari yang merasa sudah tidak mendengar obrolan Rain dan Ella pun bergegas untuk keluar. Mentari terkejut saat melihat Ella yang masih di tempat semula. Dia melirik Mentari dengan tajam. Gadis itu segera menundukkan kepala dan berlalu pergi.
Mentari sempat melihat kemesraan Kenan yang membantu Ella bangkit saat jatuh tadi. Perlakuan manis itu membuat Mentari iri. Mentari menebak jika mereka adalah pasangan goals di sekolah ini. Saat perlakuan Kenan tadi saja banyak pasang mata yang memekik iri saat melihat itu.
Ah, ya Kenan dan Ella memang sangat cocok.
"Rain juga cantik dia pemberani. Kapan ya aku bisa seperti dia!" batin Mentari.
Di dalam pikiran Mentari terus berputar kejadian Rain yang menampar Ella tadi. Dia melangkah dengan melamun dan tanpa sadar ....
Bugh ...
Mentari terjatuh, dia sudah siap jika bokongnya itu mencium lantai. Namun, ternyata ....
"Eh__" Mentari terkejut karena tidak merasakan sakit. Rupanya lelaki di hadapannya itulah yang menangkap tubuh Mentari.
Wajah Rean sangat dekat apalagi saat Mentari membuka mata dia terkejut bukan main ketika melihat ketampanan Rean.
Mentari segera bangkit, "Ma-maaf, aku nggak sengaja!" ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Kenapa Lo hobby banget sih nabrak orang!" gerutu Rean.
"Aku__"
"Dua kali Lo nabrak gue, sekali lagi dapet piring!" canda Rean, membuat Mentari tersenyum.
Senyum yang tentu saja menular kepada Rean. Lelaki itu yang jarang terlihat senyum pun ikut senyum tipis sampai tidak ada yang menyadarinya.
"Aku minta maaf ya. Minuman kamu jadi jatuh. Aku akan menggantinya."
"Nggak usah!" ucap Rean dingin dan berlalu begitu saja.
Mentari menggeleng lemah juga tidak ambil pusing. Dia langsung melangkah menuju kelas. Jarak Rean dan Mentari cukup jauh tapi gadis berpipi chubby itu bisa mendengar bisikan-bisikan dari para siswi yang berada di setiap lorong. Mereka membicarakan Rean.
"Kayaknya Keyla bakal jadian sama Rean deh."
"Gila sih kalau mereka sampai jadian bakal ada next pasangan goals."
"Patah hati berjamaah ini!"
"Jadi nama lelaki tadi Rean ya," gumam Mentari.
Rupanya lelaki tadi adalah anak populer di sekolah ini. Jadi banyak gadis yang menyukai Rean. Hanya saja lelaki itu terkesan dingin dan tidak pernah terlihat dekat dengan cewek. Bahkan dia juga tidak pernah membonceng gadis manapun. Maka dari itu saat Rain dibonceng Rean para fans-nya teriak histeris.
"Terus gimana sama Rain? Kayaknya juga mereka udah nggak sedekat dulu!"
"Iya, mungkin hanya deket aja kali ya! Padahal cocok juga. Apalagi Rain pemberian. Duh nggak kebayang kalau mereka nikah bahagia banget!"
Mentari terkejut dengan berita itu, rupanya Rean pernah dekat dengan Rain.
"Sekolah ini banyak juga yang populer. Semoga aja aku nggak dapet perundungan lagu!" batin Mentari
"Mentari, darimana aja?" tanya Mia.
Mentari kaget karena dia baru sadar jika sudah berada di dalam kelas.
"Lo ngelamun ya?" tanya Mia lagi.
Mentari nyengir, memperlihatkan lesung pipinya.
Mia hanya berdecak. Mentari ingin duduk tapi rupanya Rean sedang bermain game sambil menyenderkan punggungnya di tembok. Kakinya juga selonjoran di kursi.
__ADS_1
"Maaf, aku mau duduk."
Rean mendongak lalu dia berdiri dan mempersilahkan gadis itu duduk.
Tidak ada obrolan apapun lagi sampai pelajaran pun dimulai.
***
Kenan menatap tajam Ella, seakan ingin menguliti gadis itu. Sementara tubuh Ella sudah bergetar hebat karena tatapan Kenan. Dia sudah siap jika harus mati di tangan lelaki itu. Berkali-kali tamparan juga dia rasakan di kedua pipinya.
Hingga sudut bibir itu mengeluarkan darah.
Bahkan kakinya seperti jelly yang sudah tidak mampu menopang lagi tubuhnya.
Di apartemen milik Kenan ini mereka berada. Sejak tadi tidak ada obrolan apapun, hanya ada kemarahan Kenan yang terus Ella rasakan. Kepalanya berdenyut nyeri akibat benturan di tembok juga jambakan dari Kenan. Lelaki itu benar-benar murka.
"Siapa lelaki itu!" bentaknya yang menggema di ruangan tersebut.
Ella hanya terisak, bibirnya bergetar dan suaranya tercekat di tenggorokan. Dia tidak bisa mengatakannya siapa lelaki itu. Bukan hanya hubungan keluarga Kenan saja yang hancur tapi nyawa Ella juga akan melayang jika berkata jujur.
"Aku ... Nggak kenal, Ken!" jawabnya berbohong.
Kenan mencekik leher Ella. Hingga gadis itu kesulitan bernapas.
"Katakan sekali lagi!"
"Le-pa-sin, Ke-en!" Susah payah dia berkata.
Kenan melepaskan cekikannya dan mendorong gadis itu sampai terbentur tembok. Penampilan Ella bahkan sudah acak-acakan. Seragamnya sudah sobek dimana-mana.
Kenan mengeluarkannya sebilah pisau kecil, dia menekan di leher Ella agar gadis itu berkata. Hati Kenan benar-benar sakit saat mengetahui jika kekasihnya itu adalah seorang simpanan om-om!
"Katakan atau aku akan menusuk pisau ini di lehermu!" tekan Kenan.
Tangisan Ella semakin pilu, dia benar-benar takut.
"Aku ... Dijual sama Paman aku, Ken. Demi membayar hutangnya." Ella sepenuhnya tidak berbohong.
Memang Pamannya itulah yang menawarkan Ella pada Madam. Wanita yang selalu menjual para gadis penghibur. Akhirnya bertemulah dengan Arya hingga Ella bisa menikah fasilitas mewah darinya.
"Jadi Lo masih jual diri demi sekolah? Lo bohong kerja di kafe, hah?" Kenan mengunci pergerakan Ella. Pisau itu masih berada di leher Ella. Jika Kenan menekan maka habislah Ella ditangannya.
"Lo bohongin gue selama ini? Lo anggap apa perasaan gue ke Lo, hah!"
"Maaf, Ken. Aku ... Nggak tahu lagi harus gimana. Aku memang masih kerja di kafe. Itu foto udah lama. Maafin aku, Ken!" Ella menangkupkan kedua tangannya.
"Gadis munafik, selama ini Lo nggak mau gue sentuh, gue pikir Lo masih suci rupanya Lo adalah seorang ******!"
"Ken ... Hemmpt!"
Kenan menggoreskan pisau pada leher Ella. Membuat leher jenjang itu mengeluarkan darah. Kenan melempar pisau itu lalu memiringkan kepalanya dan ******* bibir Ella. Menyesapnya lalu memaksa gadis itu untuk membuka bibirnya. Kenan mengabsen gigi dan rongga mulut Ella.
Ciuman yang penuh paksaan dan Kenan tidak memberikan jeda untuk Ella menghirup oksigen. Tangan Kenan bahkan merobek atasan seragam Ella hingga memperlihatkan tanktop hitam yang dia kenakan.
"Ken, ja-jangan!" cegah Ella saat Kenan memberikan tanda merah di lehernya.
"Lo sama om-om aja mau, sama gue nggak mau? Berapa bayaran Lo sekali open, hah? Udah berapa lelaki yang tidur sama Lo!" Kedua mata Kenan sudah memerah. Lelaki itu sudah diselimuti oleh emosi juga kabur gairah.
Ucapan Kenan benar-benar menusuk hati Ella. Dia memang simpanan om-om tapi entah mengapa jika Kenan yang berkata hatinya sangat sakit. Ella memang mencintai Kenan, tapi dia juga ingin mendapatkan hati Rean.
"Nikmatin aja, tenang gue bakal bayar Lo kok!"
Ella terus memberontak, tapi tubuhnya berkata lain. Permainan Kenan yang kasar malah membuat Ella menikmatinya. Kenan tersenyum miring. Dia langsung mendorong tubuh Ella hingga pelipisnya membentur pinggiran meja.
Kenan menarik tangan gadis itu dan membawanya ke kamar. Dia meletakkan tangan Ella di atas kepalanya dan mengikat dengan tali. Kenan mengeluarkan sebuah alat yang belum pernah Ella lihat.
"Permainan dimulai, ******!"
Kenan memasangnya pada dua gunung kembar milik Ella lalu memasukkan satu alat lagi di area sensitif Ella.
**** toys itu Kenan atur dengan getaran yang rendah. Gadis itu meronta. Ingin sekali meremas sesuatu tapi kedua tangannya di ikat oleh Kenan.
"Aaaah ... Ken, ampun!" lirih Ella.
Tubuhnya terus menggelinjang. Ella menikmati permainan dari alat yang Kenan berikan. Lelaki itu duduk di sofa dengan satu kaki menopang di kaki satunya. Menyalakan rokok dan menikmati tontonan itu.
"Ah, boleh juga juga gue ambil video Lo dan gue sebarin biar langganan Lo makin banyak!" Kenan mengambil ponselnya dan merekam permainan Ella.
Ella menggeleng kuat, tapi dia tidak bisa berkata apapun.
"Daddy, tolong aku. Aku udah nggak sanggup!"
Seluruh tubuh Ella terasa sakit dan juga nikmat secara bersamaan. Kenan tidak berniat untuk melepaskan alat itu. Dia membiarkan Ella terus berteriak mendesah.
***
Rain sibuk mengetik sesuatu di layar laptopnya sambil menunggu seseorang. Sudah tiga puluh menit dia duduk di kafe dekat sekolah tapi lelaki yang dia tunggu belum juga datang.
Berkali-kali dia mengecek layar ponselnya tapi tidak kunjung ada notifikasi.
"Ck, kemana sih nih orang!" gerutu Rain.
Suara lonceng di pintu membuat Rain menoleh. Sejak tadi memang Rain sesekali menoleh ketika pintu terbuka. Namun, orang yang Rain tunggu tidak datang. Kali ini senyum mengembang ketika orang yang dia tunggu muncul.
Lelaki itu terlihat kusut. Lengan kemeja yang dikenakan sudah digulung sampai siku. Satu kancing kemejanya pun di buka. Dia juga sudah tidak pakai dasi lagi.
"Maaf, gue telat. Macet banget tadi!"
"Nggak apa-apa. Udah makan?"
Lelaki itu menggeleng, "Gue sambil makan ya?" ujarnya yang lalu memanggil pelayan.
Di kafe itu memang ada menu makanan berat, jarak yang dekat dengan sekolahan dan seringkali para siswa-siswi SMA Pelita Bangsa pergi ke sana ketika jam istirahat.
"Lo udah makan?" tanya Aldi.
Rain mengangguk, dia kemudian mematikan laptopnya dan menutup layar tersebut. Memasukkan benda itu ke dalam tas laptopnya.
__ADS_1
"Jadi ... Ada apa?" tanya Rain tanpa basa-basi lagi.
Aldi terkekeh, "Bahkan gue belum makan siang, baru dateng sudah ditodong informasi!"
Rain berdecak, "Setengah jam nungguin terus nungguin Lo makan juga?" Rain menggeleng-gelengkan kepala.
Aldi terkekeh, "Lo mirip banget sama Lea. Sikap Lo kayak adik sama kakak. Jangan-jangan Lea reinkarnasi ya," tebak Aldi yang membuat Rain terdiam.
Rain segera mengubah ekspresi wajahnya secepat mungkin. Dia tidak mau terlihat terkejut. Apalagi yang dikatakan Aldi itu benar.
"Kebanyakan baca novel sih!"
Aldi tertawa, "Ya habisnya gue ngerasa lagi sama Lea!" Tawanya berhenti saat pelayan datang membawa pesanannya.
"Yaelah, jadi bahas Lea. Bilang aja Lo kangen!"
Aldi tersedak makanannya. Dengan sigap Rain meraih gelas minuman lelaki itu dan menyodorkan padanya.
"Pelan-pelan, gue nggak bakal minta kok!"
"Lo sih ngajak ngobrol!"
Rain tertawa, memancing Aldi memang sangat mudah. Dia jadi tahu jika Aldi menyimpan rasa untuk Lea. Selama ini Aldi selalu ada untuknya, membantu apapun yang dia bisa demi kebahagiaan Lea.
Selesai menghabiskan makanannya, Aldi memberikan flashdisk kepada Rain.
"Ini bukti yang Lo butuhkan. Tom adalah ayah kandung Livia. Shely seorang germo dan Ella adalah salah satu korban. Dia mengincar anak SMA untuk dijadikan budak pemuas nafsu para pejabat."
Dan ... Rain menganga mendengar hal itu.
Mengejutkan!
"Jadi Shely selingkuh dengan Tom?"
Aldi menggeleng, "Tidak, Tom menjualnya pada Shely saat masih bayi. Shely menggunakan kesempatan itu untuk hadir kembali di kehidupan Damian."
"Hadir lagi?" ulang Rain.
"Iya, dia dulu selingkuhan Damian. Shely adalah sahabat almarhumah nyokap Lo. Dia selalu iri sama nyokap Lo sehingga merebut apa yang nyokap Lo punya."
"Secara diam-diam!"
Rain memang tidak salah menyuruh Aldi, juga tidak rugi membayar mahal lelaki itu demi informasi yang dia butuhkan. Aldi memang seorang hacker dan detektif yang handal.
"Gila, Lo emang keren! Nggak sia-sia gue bayar Lo mahal!" puji Rain.
"Bayarin juga makan siang gue!"
Rain melotot, "Matre sekali anda!" dengkus Rain.
"Jika mau informasi lagi!" lanjut Aldi.
Rain tidak habis pikir dengan Aldi jika berhubungan dengan uang maka lelaki itu akan selalu memanfaatkan kliennya.
"Ya ya ya, silahkan katakan! Bahkan makan malam Lo gue bayarin sekalian!"
Aldi menghabiskan minumannya lalu berkata, "Livia dan Dion bukan anak kandung Damian. Ando, Lo dan Rean anak kandung Damian hasil dari pernikahan dengan Kimberley."
Jantung Rain berdebar kencang, pikirannya melayang hingga kutub Utara. Berharap ini berita kebohongan. Namun, sekali lagi Rain katakan ini benar. Ini nyata dia memang anak kandung Damian bukan selingkuhan sang mama. Sebentar lagi semua akan terbongkar. Sebentar lagi Rain akan mendapatkan keadilan. Wajah gadis itu mendadak sendu, wajahnya juga pucat karena memikirkan hal yang selanjutnya terjadi.
Apa jika semua terungkap dia akan pergi untuk selamanya? Atau kembali menjadi Lea. Lea sudah merasa nyaman sekarang menjalani kehidupannya. Lalu jika semua berakhir begitu saja bagaimana kisah selanjutnya? Apa dia akan bersama Rain di akhirat?
"Apa gue bakal mati?" gumam Rain yang di dengar oleh Aldi.
Lelaki itu tidak mengerti kenapa gadis dihadapannya berpikir seperti itu. Melihat wajahnya pucat dia segera menempelkan punggung tangannya dikening Rain, memastikan gadis itu sakit atau tidak.
"Apa sih!" Rain menepis tangan Aldi.
"Lo pucet banget kayak mayat idup. Lo sakit?"
Rain menggeleng lemah, "Terus gimana rencana selanjutnya?" Gadis itu memang pandai mengendalikan suasana hatinya.
Aldi menghela napas gusar, dia tidak yakin jika rencana yang akan dia katakan bisa berhasil. Mengingat koneksi Shely tidak main-main.
"Damian berhasil melakukan tes DNA tanpa diketahui oleh Shely." Aldi tidak menanggapi pertanyaan Rain. Sementara dia mendinginkan dulu kepalanya yang mendadak penuh dan ingin pecah.
Seumur dia menjadi hacker dan menyelidiki masalah, kali ini masalah yang paling rumit yang dia hadapi. Benar-benar memusingkan. Aldi juga tidak menyangka kehidupan gadis di hadapannya penuh liku. Apalagi dia bisa bertahan dengan kekerasan yang pernah dialaminya.
Aldi ... Benar-benar salut.
Rain tersenyum miring. Rupanya Damian mendengarkan apa yang dia katakan.
"Apa gue bakal denger ucapan minta maafnya selama ini?" Rain tersenyum getir. Mengingat Damian begitu membencinya.
"Kecelakaan itu ulah Shely. Di dalam flashdisk ini sudah gue salin buktinya. Lo tinggal kasih ke Damian supaya dia buka mata. Shely juga ada main dengan Tom. Mereka selalu melakukan hubungan ketika Damian pergi."
Rain memasukkan flashdisk itu. Lalu menimbang-nimbang apakah dia harus mengatakan semuanya pada Rean? Apa lelaki itu bisa diajak kerjasama? Mengingat tabiatnya yang mudah emosian Rain menjadi bingung sendiri.
"Begitu ya?" Rain mengusap wajahnya. Lelah benar-benar lelah. Persoalan ini sangat rumit.
"Siapa yang bisa gue percaya buat masalah ini?"
Aldi mengangkat kedua bahunya. "Gue belum punya kenalan mafia. Lo kalau tahu minta tolong sama mereka yang memiliki kekuatan lebih dari koneksi Shely. Nyawa Lo bakal terancam kalau Lo sendiri yang nanganin masalah ini!"
Mafia? Dia jadi teringat dengan Alex. Papa Radit itu bisa Rain mintai tolong.
"Kalau gitu gue pulang, terima kasih atas bantuan Lo!" Rain bangkit dari duduknya. "Tugas Lo belom selesai, Kakak!" ucap Rain kemudian.
"Bayaran makan malam gue mana?"
Rain mendengus kesal. Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seratus ribuan.
"Mata duitan!"
Rain juga merogoh saku roknya. Menemukan uang logam yang entah ada berapa. Dia letakkan di meja.
"Sekalian buat parkir!"
__ADS_1
Bersambung....