
Rain meletakkan motornya di parkiran. Selesai membuka helm, gadis itu memakai tudung hoodienya. Dia berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku hoodie. Menatap sekitar taman kota yang menjadi tujuannya. Di sebuah bangku yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat sosok lelaki yang duduk memunggunginya. Langkahnya sedikit pelan dan mendekat ke arah lelaki itu.
Lelaki itu mendongak, lalu bibirnya mencetak sebuah senyuman. Rain melempar tatapannya ke sembarang arah. Dia nggak mau bertatapan dengan lelaki itu, karena tatapan lelaki itu mampu menghipnotis Rain dan satu lagi, Rain juga tidak mau menatap bibir yang menyunggingkan senyuman. Bibir yang terasa manis dan selalu memberikan sensasi menggoda. Rain masih bisa merasakannya bibir itu menyapa bibirnya.
Rain menghela napas panjang lalu dia duduk di sebelahnya. Dengan pandangan yang masih lurus ke depan. Menatap anak-anak yang sedang berlarian. Ada yang di kejar-kejar ibunya karena tidak mau makan. Ah, lucu sekali. Rain ingin kembali pada masa anak-anak. Dimana tidak memiliki beban hidup yang berat.
"Rain," panggilnya. Jemarinya ingin meraih jemari tangan Rain, tapi gadis itu segera menepisnya.
"Katakan apa yang Lo mau omongin!" kata Rain.
Bahkan Rain juga menjaga jaraknya. Ucapan Rain juga sudah tidak seperti sebelumnya.
Lelaki itu berdehem untuk menetralkan tenggorokannya yang terasa sakit, hatinya pun lebih sakit.
"Aku minta maaf, mungkin kamu udah bosan dengar kata ini. Aku juga nggak tahu lagi harus gimana. Semua yang aku ucapin itu__"
"Dit, kalau Lo mau bahas itu lagi, mending gue pergi deh!" Rain bangkit berdiri dan hendak pergi.
Namun, lelaki itu mencegahnya dengan menarik tangan Rain dan mendudukkannya lagi. Ya, lelaki itu adalah Radit.
"Grandma bilang udah bujuk kamu buat dateng ke rumah sakit, tapi nggak mau dan malah pergi sama cowok lain. Grandma bilang kalau grandma punya rencana biar kamu jengukin aku. Dengan memakaikan cincin ke jari manis Gwen. Grandma bilang udah kirim foto itu ke kamu buat panas-panasin kamu."
Rain tersenyum miring, dia sekarang berani menatap Radit. Agak terkejut ketika melihat wajah itu yang pucat.
" ... Dan Lo tahu? Apa yang grandma Lo bilang?"
Radit menggeleng lemah.
"Wanita sialan! Sekarang Radit sudah lupain kamu dan mendapatkan gadis lebih layak. Berkat Gwen, Radit jadi mendapatkan fasilitas yang bagus dan besok sudah bisa keluar dari rumah sakit! Pergi saja dari muka bumi ini!" Rain menirukan gaya bicara grandma Rima. Pesan singkat itu selalu Rain ingat sampai kapan pun.
"Jadi ... Aku benar-benar di jebak!" gumamnya dengan kedua tangan terkepal kuat.
"Nggak usah pura-pura deh, Dit!" Rain mulai di kuasai oleh emosi. Dia mengingat kejadian di balkon tadi.
"Gue sejak pagi di rumah nenek, gue di balkon duduk dan liat Lo lagi ngelamun di balkon. Setelahnya ada Gwen dengan penampilan yang acak-acakan. Dia peluk Lo dari belakang dan Lo sendiri ngelus tangan tuh cewek! Semua udah jelas, bukan? Lo juga cuma manfaatin gue!"
Radit menggeleng heboh, "Itu nggak seperti yang kamu pikirkan! Aku bisa jelasin semuanya!"
"Kalau Gwen mantan Lo?"
Radit terhenyak, dia menatap Rain yang wajahnya sudah memerah. Menahan emosi yang meletup sejak tadi. Kedua tangan di balik saku itu sudah terkepal kuat.
"I-iya," jawab Radit kaku.
__ADS_1
"Cinta pertama yang nggak pernah Lo lupain?" Rain sudah tahu semuanya.
"Aku nggak ada perasaan apapun sama dia, tadi aku lagi mikirin kamu dan aku pikir tadi itu kamu. Makanya aku bales pelukan itu. Setelah sadar jika itu bukan kamu ... Aku marah!" Radit menjeda ucapannya. Dia mengusap wajahnya frustasi.
"Rain, percaya sama aku!" Radit memaksa Rain untuk menatapnya. Namun, gadis itu menolak dan memilih untuk menatap ke sembarang arah.
"Di hati aku hanya ada kamu, Rain."
"Cih!" Rain kembali memasang tudung hoodienya.
"Gue udah muak dengan kata cinta Lo, Dit! Lo lelaki brengsek yang udah tidur sama Gwen bahkan itu pertama kalinya buat dia! Gue udah tahu semuanya!" kata Rain dengan dada yang naik turun karena dipenuhi oleh emosi.
Rain pun melangkah, tapi dia berhenti dan berkata tanpa menoleh."Selamat buat pertunangan Lo!"
Rain pergi meninggalkan Radit yang terluka hatinya. Bukan, ini bukan salah Rain sepenuhnya. Salahkan Radit yang terpancing emosinya dan mengeluarkan kata kasar pada sang kekasih. Seharusnya Radit lebih bisa mengontrol emosinya.
Radit memang sudah tidak mencintai Gwen. Ada sesuatu yang telah membuat hubungan mereka pupus. Sekarang ... Radit sangat mencintai Rain. Hubungan yang selama ini dia inginkan pun akhirnya harus berakhir juga karena kesalahannya. Rain pergi untuk meraih kebahagiaan. Dia sudah tidak perduli lagi dengan ucapan cinta.
Baginya cinta itu menyakitkan. Nggak ada lelaki yang baik. Mereka hanya baik di depan saja. Rain butuh lelaki seperti Rean. Setia dan selalu melindungi pasangannya. Hanya ada satu Rean di dunia ini. Bahkan jika sedang ada masalah pun Rean selalu menatap dari dua sisi. Dia tidak akan pernah langsung menyalahkan.
"Semua cowok emang brengsek!" Rain menendang kaleng minuman.
Pletak
Rain nyengir saat melihat ke samping. Dimana seorang lelaki memegang kaleng yang baru saja Rain tendang.
"Ck, untung Lo! Kalau orang lain udah gue ajak gelud!" gerutunya.
Rain mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. Tanda perdamaian.
"Gue nggak sengaja, Bar!"
"Lo ngapain di sini?" tanya Rain sambil menengok kemana saja. Mencari entah siapa.
"Mulung!" jawab Bara asal.
Lelaki itu meletakkan kaleng ke tong sampah yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya.
"Serius?"
"Ya nggak lah! Gue gabut aja. Habis nggak bisa kemana-mana. Akhirnya gue jalan kaki ke sini!"
Rain menatap iba lelaki yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
Sementara telinga Rain dengan samar mendengar suara seorang lelaki dan perempuan yang sedang cekcok. Memang tidak jauh dari tempat Rain dan Bara berdiri ini ada yang sedang bertengkar. Itu Radit dan Gwen.
Rain menatap datar dua insan itu, setelah Gwen berlari dengan kedua mata yang memerah, Radit pun mengejarnya. Radit tidak sadar jika Rain belum pergi.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Bara.
Rain mengangkat kedua bahunya. "Kenapa emangnya?" tanya Rain.
"Ck, Lo tuh selalu aja jawab pertanyaan yang malah bikin pertanyaan lain. Lo sakit hati enggak?" Bara agaknya harus menahan emosi ketika bicara dengan Rain.
"Ngapain gue sakit hati! Gue sama dia udah berakhir. Lo mau ikut gue apa mau di sini?"
"Ini ajakan?"
"Serah Lo!" Rain bergegas pergi.
Bara pun mengejar gadis itu untuk mengikuti langkah lebarnya.
"Gue ikut Lo deh!" ujarnya kemudian.
***
Mentari memotong kue bolu buatannya dan menyuapi Rean. Lelaki itu sedang asyik bermain PS dengan teman-temannya. Apartemen ramai, tapi tidak dengan Kenan. Sejak tadi dia hanya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Dia hanyut dalam dunianya sendiri yang padahal hatinya cemas. Sejak datang dia tidak bertemu dengan Rain. Ada rasa rindu yang teramat dalam, hanya saja dia tidak bisa melepaskannya. Dia hanya bisa memandang wajah Rain saja tanpa bisa dia peluk. Gadis itu sekarang sangat sulit di raih.
Meskipun sekarang Rain sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi, Kenan merasa lega karena Rain tidak lagi benci padanya. Walau hanya berteman setidaknya hubungan mereka baik-baik saja. Entah mengapa setelah mengetahui siapa Ella, hatinya mulai sadar jika dia mencintai Rain. Hanya saja semua itu terlambat dan sekarang hatinya sulit untuk melupakan sosok gadis itu.
"Keeeeenn!" teriak Sandy.
Kenan kaget mendengar teriakkan Sandy. "Apa?" jawabnya santai.
Sandy menghela napas kesal, "Gue manggil Lo dari tadi ya!" Sandy memang memanggil Kenan sejak tadi, tapi lelaki itu diam saja dan entah sedang memikirkan apa.
"Terus?"
"Dahlah, Lo aja yang ngomong, Ren!" Sandy menepuk lengan Rean.
Rean meraih piring bolu dan meletakkan di sebelah Kenan tanpa mengatakan apapun. Kenan langsung memakan bolu tersebut dan kembali sibuk dengan ponselnya.
"Sesama es kutub agak laen emang cara bicaranya!" kata Reno. Menatap heran kedua sahabatnya itu.
Sandy, Lando dan Mentari pun terkekeh. Rupanya interaksi Rean dan Kenan memang beda. Tanpa perlu mengeluarkan suara saja sudah Kenan pahami.
Bersambung ....
__ADS_1