Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 56


__ADS_3

"Kenapa? Gue nggak masukin obat apapun di dalamnya. Jangan berpikir gue ini cowok yang suka ambil keuntungan!" kata Bara, saat melihat Rain yang belum menyentuh makanannya.


Bara curiga jika gadis itu berpikir kalau dirinya memberikan obat apapun seperti di sinetron atau novel-novel. Gitu-gitu juga Bara suka baca novel. Ya, kadangkala sih.


"Gue bukan cowok bad boy yang di novel-novel ya!" Lagi dia berkata di sela makannya.


"Lo suka baca novel?" tanya Rain. Mengalihkan pembahasan itu.


Rain bukan curiga pada Bara yang hendak mengambil keuntungan. Sejak tadi kan dirinya selalu makan apapun yang Bara berikan dan dia tetap baik-baik saja. Kalaupun Bara berniat jahat seperti di tokoh-tokoh novel yang sering dia baca maupun dia tulis, pasti sudah sejak tadi kan?


Rain juga sadar diri kok, kalau dia tidak hidup di cerita novel. Dia hidup di dunia nyata. Mana ada kan cowok seperti itu. Dari pandangannya, Rain menilai kalau lelaki itu baik. Hanya saja Rain belum memakan masakan Bara karena ragu.


Tampilannya sih menggiurkan, tapi ... Soal rasa ... Rain ragu kalau rasanya tidak semenarik tampilan sop ayam itu. Apalagi Bara yang slengean dan cara bicaranya asal itu membuat Rain semakin yakin jika lebih baik tidak makan. Namun, melihat Bara yang lahap makan membuat cacing di dalam perut Rain meronta.


"Suka, kalau lagi gabut!" jawab Bara santai.


Nasi sepiring penuh itu tinggal sedikit. Bara lapar atau memang porsinya kuli ya?


Rain mencoba mencicipi kuah sopnya saja daripada penasaran kan? Nggak enak juga sih kalau menolak makanan Bara. Dia sudah capek-capek masak, setidaknya hargai.


Bara melihat Rain menyeruput kuah dengan sendok bebek. Melihat ekspresi Rain, Bara tersenyum tipis.


Rain tidak menyangka jika kuah sopnya saja seenak itu. Gurih dan segar terasa bersamaan. Ini ... Beneran masakan dia? Masa sih?


Kalau gini rasanya sih bakal nambah. Apalagi ada sambelnya yang menggoda. Seorang ketua geng motor yang ditakuti banyak orang bisa masak?


Curiga kalau di sini ada orang lain.


"Lo kenapa, Queen?"


Rain menggeleng, dia malu karena kepergok menatap sekeliling.


"Lo yang masak? Gue curiga ada orang lain di sini!" kata Rain jujur.


Bara terkekeh, "Mana ada, serius gue masak sendiri. Di dapur ada cctv, kalau Lo nggak percaya Lo bisa cek rekamannya. Nanti gue kasih liat deh!" ucapnya.


"Kok bisa sih? Lo ketua geng motor yang nyeremin tapi bisa masak?" Rain benar-benar meragukan keahlian Bara.


"Astaga, memang kalau ketua geng motor nggak boleh bisa masak ya?" Air muka Bara sudah masam.


Rain semakin penasaran dengan Bara. Banyak hal yang di luar dugaannya. Bara juga berhasil membuatnya lupa dengan segala masalah yang menimpanya.


"Ya ... Boleh sih. Serius deh masakan Lo enak. Lo jago juga ya!" puji Rain dengan mata berbinar.


"Iyalah, gue habis nyolong resep rahasia Tuan Crab soalnya."


Rain menepuk keningnya. "Benar-benar di luar nurul!" pekiknya.


"Di luar nurul, tidak habis fikri, benar-benar Herman, sangat tidak masuk di akar!" Bara menggeleng dengan wajah seriusnya.


Begitu saja membuat Rain tertawa geli.


*


"Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu!" ajak Bara setelah mereka selesai makan malam.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Rean belum juga datang. Jarak apartemen dan villa memang sangatlah jauh. Rain juga sudah meminta Rean untuk tidak datang saja, besok pagi pasti dia akan pulang. Hanya saja lelaki itu tidak bisa dicegah.


"Lakukan apa?" tanya Rain penasaran.


Perut sudah kenyang, apa yang akan dilakukan malam-malam begini coba? Di luar juga sangat dingin. Lebih baik bergelung ke dalam selimut dan kembali terpejam. Apa salahnya kan puas-puasin tidur sebelum kembali beraktivitas lagi.


"Menangkap ubur-ubur, meminum cokelat hangat lalu menonton televisi. Bagaimana? Lo suka?" Bara mondar-mandir di hadapan Rain yang duduk di sofa.


Astaga, ingin sekali Rain membuka kepala Bara untuk melihat isi kepalanya.


"Bara, sepertinya otak Lo ini konslet!"


"Ya, sepertinya gue terlalu banyak makan siput berlendir!"


Otak Rain seketika traveling!


"Haish! Lo mikir aneh-aneh!" Bara menoyor kepala Rain.

__ADS_1


"Sialan!" Ya gimana nggak traveling coba! Ucapan Bara ini kan mengundang arti yang berbeda.


Memang ada sih di kartun spons kuning kalau siput berlendir di makan. Hanya saja kan otak Bara berbeda. Siapa tahu kan mengarah ke hal yang jorok!


Jadi jangan salahkan Rain ya? Kalau pikirannya kotor.


Wajah Bara mendadak lesu. Kenapa lagi itu anak?


"Gue kangen menangkap ubur-ubur lalu melepaskannya. Itu sangat mengasyikkan. Apa Lo nggak mau coba?"


Rain menggeleng, "Nggak deh, gue masih waras soalnya!" Lama-lama bersama Bara pasti akan membuat otaknya tidak beres.


Bara duduk di sebelah Rain dengan kepala tertunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Rean itu Abang Lo? Kenapa bisa seumuran? Abang kandung apa tiri sih!" tanya Bara dengan wajah yang mulai serius.


"Kembar."


"Ha?" Bara terkejut mendengar pernyataan Rain. Mulutnya masih terbuka sambil geleng kepala.


Dia tidak tahu tentang fakta ini. Selama mengenal Rean juga dia tidak tahu jika Rean memiliki kembaran sekeren Rain ini.


"Kembar? Kenapa Lo baru terlihat? Sebelumnya kemana? Gue selama menghilang dua tahun jadi kudet begini ya!"


" .... Karena gue dulu terlalu takut dengan dunia luar."


Bara mengangguk paham.


"Lo kenapa menghilang? Hamilin anak orang?"


"Astaga! Lo nilai gue buruk banget!" sungut Bara.


Ya gimana orang nggak nilai dia buruk. Dari tampilannya saja sudah terlihat kan? Kalau dia ini bad boy kelas kakap. Ada sisi baiknya juga sih menurut Rain.


"Ya kalik Lo anak baik-baik modelnya begini!" ucap Rain sangat pedas menusuk hingga ke ginjal Bara.


"Kenalin, gue Bara Alexio!" Bara mengulurkan tangannya.


Alexio? Rain tidak asing dengan nama itu. Sedikit kemudian dia ...


Bara berdecak dengan tangan masih terulur. "Seenggaknya balas kek uluran tangan gue!"


Rain terkekeh, dia pun membalas uluran tangan Bara. "Raina Grittella Klopper!" Baru kali ini Rain berkenalan dengan orang menggunakan nama Klopper. Biasanya dia akan menghilangkan nama itu.


"Kekayaan bokap kita sebelas dua belas ya!" Bara menaik turunkan alisnya.


"Benar-benar beban keluarga Lo ya! Pantesan hidup Lo tuh seenak duit bapak Lo!" sindir Rain.


Bara tertawa geli, "Eh ... Gue bisa menghasilkan uang sendiri ya." Bara tidak mau dipandang sebelah mata oleh Rain.


Rain mengubah posisi duduknya. Dia memilih menyilakan kaki dan menghadap Bara.


"Serius? Lo kerja?"


Bara mengangguk mantap.


"Buka restoran seafood yang lumayan terkenal. Gue nggak mau sombong sih!" kata Bara serius.


"Dimana? Gue juga suka seafood. Siapa tahu recommend!"


"Bikini bottom, di urus oleh Tuan Crab dengan dua karyawan. Satu koki dan satu lagi kasir. Soalnya rugi kalau kebanyakan karyawan. Jadi yang kasir suka berperan sebagai pelayan juga."


Rain melempar bantal sofa, dia sudah serius dan kagum pada Bara. Lagi dan lagi dibuat kesal dengan bualannya.


Suara mesin mobil yang berhenti di halaman membuat mereka langsung berhambur keluar. Itu Rean.


"Rain!" pekik Rean yang langsung berhambur ke dalam pelukan gadis itu.


Rean memeluknya sangat erat, sampai Rain sesak napas.


"Lo baik-baik aja kan?" Rean menangkup wajah Rain. Memastikan tidak ada luka di wajah.


Lalu membuat tubuh Rain berputar untuk memastikan jika adiknya baik-baik saja.

__ADS_1


"Ehm!" Bara berdehem. Drama adik-kakak itu seketika berhenti.


Rean mengernyit, kenapa bisa ada lelaki ini bersama Rain?


"Gue nggak sengaja ketemu dia!"


Cara bicara Bara sudah berbeda. Rupanya dia bisa berganti-ganti peran ya.


"Terus kenapa bisa kalian di sini?"


"Panjang ceritanya!" jawab Bara. "Mending masuk. Ajak tuh cewek masuk. Di sini dingin banget!" ajak Bara.


"Dia siapa?" bisik Bara ketika Rean mengajak Mentari masuk.


"Pacarannya," lirih Rain.


"Pa ... Apa?" seru Bara. Membuat Rean dan Mentari menatap ke arah mereka.


"Pacarnya!" bisik Rain sambil mencubit pinggang Bara.


"Sakit, pacar!" pekik Bara.


"Astaga ... Lo bener-bener ya!" Rain yang hendak melayangkan sandal rumahnya ke wajah Bara, lelaki itu sudah lebih dulu berlari.


"Lo kenapa bisa seakrab itu sama dia?" tanya Rean penuh selidik.


Rain menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Masuk dulu deh!" Rain menarik tangan Mentari.


"Lo nggak pulang sejak kemarin? Nyokap Lo nggak marah?" kata Rain pelan. Dia sebenarnya menghindari tatapan Rean.


"Aku bilang sama ibu kalau kamu hilang. Akhirnya ibu ngizinin buat bantu Rean cari kamu!"


"Lo modus ya!" ucap Rain kepada Rean yang malah membuat lelaki itu terkejut.


"Apa sih, Rain!"


Wajah lelah Rean tentu saja memperlihatkan seberapa tidak baik-baik saja lelaki itu setelah tahu jika Rain pergi tanpa pamit. Bahkan ponselnya mati, siapa yang tidak khawatir coba. Sekarang saat bertemu, Rain tidak meminta maaf malah menuduh Rean yang tidak-tidak.


"Lo bilang khawatir tapi sebenarnya Lo modus buat bisa habisin waktu sama Mentari kan?" Sekarang Rain yang curiga sama Rean.


"Astaga ... Gue baru dateng dan Lo bikin gue kesel! Kasih minum kek apa kek!"


"Silahkan diminum, musuh!" kata Bara yang sudah membawa dua cangkir cokelat hangat.


"Apa ini?" tanya Rean.


"Darah segar yang gue ambil dari kucing tetangga dicampur racun biar Lo mati sekalian!" kesal Bara.


Sudah jelas itu cokelat hangat, dari aromanya saja sudah bisa tertebak. Rean segala bertanya.


Mentari langsung saja membayangkan hal itu, dia mengira apa yang Bara katakan benar adanya. Perutnya terasa mual dan ingin sekali memuntahkan isinya.


"Tari, Lo baik-baik aja?"


"Huweeek, dimana wastafel! Huweeek!"


Rain panik dan segera menarik tangan Mentari menuju wastafel yang ada di dapur. Dia bergegas kembali ke ruang televisi. Mendekat ke arah Rean dan menarik tangan lelaki itu. Berjalan menjauh dari Bara.


"Gila Lo ya, Bang! Gue nggak nyangka punya Abang brengsek kayak gini!" Wajah Rain sudah sangat marah.


Sementara Rean tidak tahu apa-apa.


"Lo nggak mikir punya adik cewek, hah! Lo nggak mikir kalau apa yang lo lakuin nanti yang dapet karmanya gue! Kalau sampai gue dapet cowok yang lebih brengsek dari Lo gimana?"


"Gue nggak akan tinggal diam!" jawab Rean santai karena memang nggak paham dengan omelan Rain.


"Gue bakal bilang ke bokap. Lo harus tanggung jawab. Jangan cuma mau enaknya aja. Gue nggak nyangka kalau hubungan Lo sama Mentari nggak sehat! Selama ini gue jaga diri supaya nggak terjerumus ke hal-hal ___"


Rean membekap mulut Rain, dia mengerti apa yang Rain maksud.


"Gue nggak apa-apain dia, Lo gila apa! Gue masih batas wajar, Rain! Maksud Lo apa sih!"


Iya batas wajar Rean itu ya ... Sampai menyusu dan membuat Mentari kewalahan.

__ADS_1


"Mentari hamil!"


Bersambung...


__ADS_2