Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 59


__ADS_3

"Lo yakin mau bantuin gue?"


Entah sudah yang ke berapa kali pertanyaan itu Bara lontarkan dan membuat Rain jengah. Konsentrasinya menjadi terganggu. Dia melayangkan tatapan tajam pada lelaki yang sejak tadi hanya mondar-mandir tidak jelas, lalu duduk dan bertanya kembali.


"Sorry, gue heran aja. Lo kan nggak kenal gue. Kenapa Lo mau bantu gue, Queen?"


Rain hanya menghela napas saja, lalu dia kembali berkutat dengan dua laptopnya. Mencari informasi tentang manusia-manusia yang mengganggu Bara. Dia suka sekali jika menyelidiki masalah. Jadi dengan senang hati Rain membantu Bara meski tidak kenal sekalipun.


Bara mengusap tengkuknya, dia menjadi salah tingkah ketika Rain kembali menatapnya dengan wajah datar. Dia memilih duduk bersila di sofa. Sungguh hari yang tidak menyenangkan bagi Bara. Sejak tadi dia hanya berdiam diri. Tidak mempunyai ponsel dan tidak ada hiburan apapun. Bara hanya di suruh duduk dan menunggu Rain bekerja. Sudah dua jam mereka berada di ruangan rahasia milik Rain.


Ruangan itu sebenarnya rumah sederhana yang Rain beli beberapa minggu yang lalu. Dia membeli karena menyukai dekorasi rumah tersebut. Rumah sederhana dengan halaman yang luas dibelakang. Halaman depan penuh dengan tanaman bunga dan air mancur berbentuk anak kecil yang memegang kendi. Menenangkan.


Pemiliknya akan pindah ke luar kota dan tidak akan kembali, jadi mereka menjual dengan harga yang murah. Rain harus merogoh tabungannya untuk membeli lebih tinggi karena pemiliknya bilang sudah ada yang membeli, tapi belum melakukan transaksi.


Pada akhirnya rumah itu Rain miliki. Dia baru membersihkannya beberapa hari yang lalu. Rencananya akan dia tinggali nanti setelah lulus sekolah.


Belum ada televisi dan perabotan lainnya. Karena pemiliknya sudah membawa semua yang bisa dibawa.


Rain akan membelinya perlahan. Lalu sofa yang sedang Bara duduki itu adalah sofa baru. Entah mengapa Rain suka dengan warnanya saat dia tidak sengaja melewati toko furniture. Akhirnya Rain membeli itu. Sementara gadis itu duduk di karpet bulu. Jemarinya dengan lincah mengetik di keyboard.


Wajah Rain nampak serius. Sesekali memicingkan mata, mengerutkan kening dan melotot. Ekspresi-ekspresi itu sungguh membuat Bara semakin kagum. Ya, dia kagum terhadap Rain bukan karena kecantikannya saja, tapi kemandirian juga keahliannya yang serba bisa.


Bara akui, Rain bukan gadis seperti gadis di luar sana. Dia sangat tertutup dan tidak mudah dirayu. Bara membayangkan jika suatu hari nanti bisa mendapatkan Rain, maka betapa bahagianya dia ini. Ah, membayangkannya saja sudah membuat hati Bara tidak karuan. Sungguh, Bara sama sekali belum pernah merasakan perasaan asing itu, dia tidak tahu perasaan apa yang muncul ketika melihat Rain, yang jelas dunianya jadi jungkir balik begini.


Bara juga masih terheran-heran, kenapa di zaman seperti ini masih hidup gadis dengan kecantikan yang natural. Rain benar-benar cantik tanpa di bantu oleh make up. Dia bisa menjaga dirinya sendiri.


Bara yakin, Radit pasti akan sangat merasa bersalah jika meninggalkan gadis seperti Rain.


Ngomong-ngomong soal Radit, Bara ingat bagaimana lelaki itu sangat marah padanya. Lalu melihat Rain yang seolah cuek itu sepertinya mereka sedang ada masalah. Apa mungkin Rain sedang patah hati? Lantas, kenapa dia tidak menangis?


Bara ingin menanyakan tentang pertunangan itu, tapi dia urungkan takut jika Rain tersinggung. Ya, Bara tahu jika Radit sudah bertunangan dengan Gwen. Bara adalah sepupu Gwen jadi jelas saja dia kenal. Mengingat itu, Bara jadi tersenyum sendiri karena memiliki kesempatan untuk dekat dengan Rain. Dia akan membuat Radit merasa bersalah karena telah membuang permata dan memilih batu karang. Bara sangat tahu betul bagaimana Gwen. Meski cantik dari luar tapi ********** seperti kaleng rombeng.


Kalau Bara ada di posisi Radit, tentu saja dia akan memperjuangkan Rain. Dia gadis yang teramat sempurna dan bahkan tidak pantas untuk di sakiti.


"Lo ngapain senyum-senyum?" tanya Rain.


Lamunan Bara seketika buyar, dia mengacak rambutnya karena malu tertangkap basah oleh Rain sedang melamun.


"Gue bosen, Queen!" gerutu Bara.


Rain mengangguk dan ber oh ria. Dia merogoh tas ranselnya dan menyodorkan ponsel.


"Banyak game yang bisa Lo mainkan!"


Dengan senang hati Bara meraih ponsel tersebut. Dia berniat untuk membaca semua pesan yang ada di ponsel Rain. Mencari-cari apa yang bisa dicari. Namun, saat melihat ponsel itu nampaknya Bara sangat terkejut. Tidak ada aplikasi lain selain aplikasi game. Jadi Rain memiliki ponsel lain?


"Lo kenapa mukanya kusut? Lo pikir itu ponsel utama gue yang bakal bisa seenaknya Lo buka aplikasi apapun?" kata Rain sambil menopang dagu.


Lagi dan Lagi Bara merasa jika Rain itu bisa membaca pikirannya. Rain memang memiliki tiga ponsel. Satu untuk menghubungi siapapun, satu khusus game dan satu lagi khusus menulis.


"Siapa juga yang mau buka-buka ponsel Lo. Ini gue kaget aja kenapa isinya game semua. Berasa pegang ponsel cowok kalau gini!"


Rain menggeleng pelan, kelakuan Bara ada saja yang membuatnya geleng kepala. Rain kembali membaca ruang pesan pada ponsel Dira yang sudah berhasil Rain retas. Sekarang tinggal menunggu pelaku utama. Gadis itu rupanya sedang berada di villa tempat Bara dan Rain menginap. Di sana masih ada Mentari dan Rean. Mereka berdua sudah di wanti-wanti untuk berkata tidak mengenal Bara.

__ADS_1


"Bar, Lo punya musuh?"


Bara mengangguk mantap.


"Rean salah satunya!"


Rain memutar kedua bola mata. "Lo berdua musuhan karena hal sepele. Nggak bakal Rean ngelakuin hal kayak ginian. Dia nggak segabut itu!" jelas Rain.


"Iya deh kembarannya!"


Rain yang hendak buka suara pun tidak jadi karena ponselnya berdering. Rain meraih ponsel tersebut yang masih di dalam tas dan kembali meletakkan asal setelah tahu siapa yang menghubunginya.


"Kok nggak di angkat?"


"Nggak penting!"


Dari raut wajah Rain yang kesal, Bara tebak jika itu adalah Radit. Benar, kan? Mereka sedang ada masalah. Mungkinkah ini yang membuat Rain pergi sampai ke pantai itu?


Sementara di pantai Mentari sedang memasang wajah jeleknya. Dia sejak tadi kesal dengan tingkah Rean yang seenaknya sendiri. Hobby mengambil foto orang tapi nggak suka kalau di foto. Alhasil tidak ada satupun foto Rean yang benar di ponsel Mentari. Sementara Rean puas dengan hasil jepretannya itu. Ada banyak foto Mentari yang dia ambil secara diam-diam dengan berbagai gaya. Sejak tadi Rean memegang kameranya untuk mengambil gambar Mentari.


"Rean! Hapus nggak!"


"Nggak!"


"Ish, ngeselin. Sementara aku nggak punya foto kamu!"


"Bisa tiap hari bertemu kan?"


"Terus kamu ngapain fotoin aku diam-diam gitu kalau bisa tiap hari bertemu?"


Wajah Mentari cemberut karena Rean terus saja membuatnya kesal. Namun, lelaki itu justru terkekeh tanpa dosa. Di saat Mentari hendak pergi, dia mendengar suara bisik-bisik. Saat menoleh dia mendapati segerombolan anak remaja perempuan sedang menatap kagum ke arah Rean. Mereka mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ke arah Rean. Lelaki itu tidak sadar jika sedang di foto oleh orang-orang itu.


"Mereka fotoin kamu dan kamu diam saja!" cibir Mentari.


Rean menoleh dan melihat para gadis sedang mengarahkan ponselnya. Rean segera berlari dan meriah pinggang Mentari. Memutar tubuh gadis itu agar menghadap ke kamera supaya yang para gadis itu ambil adalah foto punggung Mentari. Juga foto ...


Rean sedang mencium Mentari.


Ini ... Berhasil membuat wajah Mentari sudah gosong.


Siapa sangka jika moment tersebut membuat galau para remaja perempuan di belakang mereka. Pekikan itu sangat jelas Mentari dengar.


"Astaga! Dia kekasih Rean!"


"Ini tidak benar!"


"Ya ampun, kenapa Rean udah punya pacar!"


"Huwaaaa, mama ... Anak gadismu galau!"


Mereka pun memandang keduanya dengan berbagai ekspresi. Sementara Rean tidak perduli dan memilih mengajak pergi Mentari untuk menjauh.


"Rean, kamu bikin aku bermasalah!" Mentari mencubit pinggang Rean.

__ADS_1


"Auuuw ... Sakit, sayang!" rintih Rean dan memasang wajah kesakitan. Padahal cubitan Mentari tidak sakit sama sekali.


Ah, Mentari di panggil Sayang?" Betapa berbunga-bunganya hati gadis itu. Jantungnya seakan berdebar tidak karuan dan dunianya berhenti berputar. Jangan tanyakan wajah gadis itu, benar-benar tidak enak di pandang dengan bibir menganga.


Rean mencubit hidung Mentari.


"Lo kayak badut kalau kaget gitu!"


Mentari menundukkan kepalanya. Sungguh Rean benar-benar menyebalkan.


"Tadi ... Rean panggil aku apa?"


"Sayang!"


Mentari mendongak lalu menggeleng pelan.


"Jangan panggil itu, aku nggak mau. Nanti pacar kamu marah!"


Rain mengangkat satu alisnya. "Pacar?" ulang Rean.


"Iya, pacar Rean."


Tangan kekar Rean terulur untuk mengacak puncak kepala Mentari.


"Gue nggak punya pacar."


"Sungguh?" Binar di wajah Mentari sangat kentara.


"Hmm!" Rean mengangguk mantap.


"Lo sendiri punya pacar?" tanya Rean, tentu saja dia akan menghajar lelaki yang dekat dengan Mentari.


Mentari adalah miliknya sampai kapanpun.


"Nggak! Mana ada yang suka sama modelan kayak aku!"


"Iya sih, Lo kan jelek!"


Mentari mendongak, lelaki itu sebenarnya mengejek atau memuji sih! Tapi ucapan Rean benar kalau Mentari jelek.


"Iya aku memang jelek!" kata Mentari santai.


"Lo juga manis dan gemesin!"


Kali ini wajah Mentari memerah. Dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


"Rean!" Mentari mencubit lengan kekar itu.


"Lo lagi suka sama orang nggak?"


Mentari mendongak kembali untuk menatap lelaki tampan yang ada di sampingnya.


"Iya, aku suka Rean!"

__ADS_1


"Kalau gitu ayo kita pacaran sungguhan!"


Bersambung ....


__ADS_2