Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 35


__ADS_3

Bab 35


Mentari meremas roknya ketika para siswi di koridor sekolah terus menatap aneh ke arahnya. Jalan menuju kelas terasa jauh, Mentari tidak sanggup lagi untuk melangkah. Bayang-bayang bagaimana perlakuan teman-temannya saat di sekolah yang dulu terus berputar. Ditambah kejadian kemarin yang membuat Mentari semakin takut jika bertemu dengan kakak kelasnya. Dia tidak mampu menoleh, pandangannya lurus dengan tubuh yang menegang.


Mentari merutuki dirinya yang tadi malah menawarkan bantuan kepada Rean untuk berangkat bersama. Seharusnya dia membiarkan saja lelaki itu menunggu angkutan umum yang entah kapan datangnya.


Tepukan dipundak Mentari, membuat gadis itu semakin takut. Lehernya terasa kaku untuk menoleh pun dia sudah tidak sanggup. Jantungnya terus berdebar tidak karuan, bersama tubuh yang bergetar kecil. Tidak terlihat jika tidak memperhatikan gadis chubby itu dengan seksama. Telapak tangannya sudah mengeluarkan keringat. Mentari takut, jika sebentar lagi dirinya mendapat caci makian hanya karena dekat dengan Rean.


Kejadian yang sama ketika disekolahnya dulu, gara-gara Mentari dekat dengan cowok populer yang di idolakan banyak kaum hawa. Padahal dia tidak dekat, hanya saja setiap tugas guru memasangkan dengannya.


"Mentari, Lo kenapa?" Suara itu membuat Mentari tidak berkutik.


"Hey, are you okey?" tanyanya saat melihat wajah pucat Mentari.


Itu Rain, Mentari takut jika Rain akan marah padanya.


"Aku ... Rain__" Bahkan untuk menjelaskan saja Mentari tidak sanggup.


"Ayo ke kelas, Lo betah banget jadi tontonan orang!"


Mereka bukan hanya sekadar menonton, tapi juga mencemooh. Ada juga yang memuji Mentari juga merasa iri pada gadis itu karena bisa dibonceng Rean.


Mentari tidak bisa berkutik ketika Rain menarik tangannya yang basah.


"Lo kenapa? Tangan Lo berkeringat wajah Lo juga pucat. Lo sakit?" tanya Rain saat menaiki anak tangga.


Mentari menggeleng.


"Rain, maaf ya ... Tadi aku ... Eum." Napas Mentari seakan tercekat di tenggorokannya. Bibirnya terasa kaku untuk berkata.


"Ada apa, hey?" Rain berdiri di depan gadis itu dan memperhatikan wajah Mentari yang sudah pucat pasi. Keringat juga menetes dari pelipisnya.


"Aku minta maaf jika tadi berangkat bareng Rean. Sungguh bukan mau aku, tadi lelaki itu di pinggir jalan sendirian. Dia ditinggal temannya." Akhirnya Mentari bisa mengatakan hal itu. Mentari bernapas lega.


Meski saat berkata dia hanya menunduk karena tidak berani menatap Rain. Mentari pernah melihat Rain marah dan itu mengerikan.


Rain terkekeh dan membuat Mentari mengerjapkan mata. Dia merasa heran, kenapa gadis cantik itu malah terkekeh mendengar penjelasannya. Apa ada yang lucu?


"Ya ampu! Gue kira ada apa. Ngapain Lo minta maaf sih?"


"Kalian kan__"


"Mentari, denger ya!" Rain menepuk pundak gadis itu. Rain memang lebih pendek darinya jadi Rain sedikit menunduk saat bicara dengan Mentari.


"Gue nggak ada hubungan apapun sama Rean. Jadi yang bikin Lo pucet kayak gini karena takut gue marah?" tebak Rain.


Jika iya maka Rain akan merasa bersalah kepada Mentari. Tentu saja Rain akan menyalahkan Rean yang sudah membuat Mentari takut. Apalagi tadi gadis itu mendengar komentar negatif dari para fans Rean. Bukan Rain namanya kalau hanya diam saja. Rain sudah membereskan para gadis yang mengatakan hal negatif pada Mentari.


"Ya, begitulah. Aku ... Juga takut mereka liatin aku kayak gitu!"


Siapa yang tidak takut coba, para fans Rean itu menatap mentari seakan menelanjangi gadis itu dan siap-siap menerkamnya.


"Biarin aja nggak usah dengerin mereka. Selama Lo sama gue semua aman!"


Mentari mendongak, karena tingginya hanya sebatas pundak Rain. "Kamu nggak marah sama aku?" tanya Mentari.


"Nggak sama sekali. Ya udah ke kelas yok!" ajak Rain.


Mentari mengangguk dan berjalan ke kelas. Sementara Rain mengacungkan tinju pada seseorang yang ada di belakangnya.


Rain sudah mengibarkan bendera perang pada lelaki yang sedang menggaruk tengkuknya.


Di kelas yang heboh karena Rean dan Sandy sedang bermain gitar tiba-tiba hening ketika kedatangan Rain dan Mentari.


"Mentari alamku, Mentari cintaku!" Reno yang bernyanyi. Dia pun berjalan mendekat.


"Hay, cantik! Kok pagi-pagi udah di__"


"Reno, Lo mau pipi kanan apa kiri?"


Reno seketika kicep, dia langsung kembali ke tempat duduknya di sisi Sandy dan mengambil alih gitarnya.


"Pawangnya serem euy!" sindir Reno yang mendapatkan tatapan tajam dari Rain.


Mentari hanya mengulum senyum, lelaki saja takut sama Rain. Mentari semakin suka dengan sikap Rain yang pemberani itu, dia ingin sekali memiliki sikap pemberani dan jago bela diri sepertinya.


"Rain, tar malem ada balap Lo mau ikut nggak?" Sandy sudah menarik bangku dan duduk di depan Rain.


Mentari yang duduk dibelakang Rain terkejut mendengar itu. Rupanya selain jago beladiri Rain seorang pembalap.


Ya ampun, Mentari jadi iri sama Rain. Apalah dayanya yang nggak ada bakat sama sekali.


"Heh, Ogeb! Lo bisa nggak sih kecilin suara Lo!" bisik Rain yang mencubit lengan Sandy.


Lelaki itu meringis karena cubitan Rain yang tidak main-main.


"Sorry, gue kan cuma ngasi tahu!"


"Tar gue pikirin. Hadiahnya apa?"


"Geng Omorfos yang nantangin. Kalau dia kalah mobil sport milik si Nathan yang bakal jadi hadiahnya." Sandy berbicara serius. Kali ini nadanya sedikit pelan.


Reno menatap mereka berdua curiga. Dalam otak Reno sudah memikirkan jika ada udang dibalik bakwan yang sedang mereka bicarakan. Meski kedua matanya memicing dan memasang telinga untuk mendengar, tetap saja Reno tidak mendengar apapun obrolan mereka. Padahal jaraknya hanya dua meja dari tempat duduk yang Reno gunakan.


"Terus gue ngikut siapa? Dari awal gue kan ikut si Radit!"


"Gampang itu, Kenan nggak bisa ikut. Tar gue bilang ke Rean."


Rain hanya mengangguk saja. Dia memang tidak mau bergabung lagi dengan geng motor manapun. Hanya saja kalau ada balapan dia mau saja ikut.


"Ehmm ...."


Riuh suara penghuni kelas Rain ketika seseorang datang dan berdiri di samping Sandy.


Rain mendongak saat melihat Radit dengan wajah masamnya. Sandy bangkit dari duduknya.


"Santai, Bos! Gue nggak apa-apain Rain kok!" cengir Sandy yang kemudian menuju ketempat semula. Bermain gitar sama Reno.


"Woah, pagi-pagi sudah gerah!" sindir Reno dengan mengibas-ngibaskan kerah seragamnya.


Radit hanya menatap tajam Reno, sementara para gadis terpukau melihat kedatangan Radit.


Tentu saja mereka iri dengan Rain.

__ADS_1


"Pagi, sayang aku," teriak Rain yang memang sengaja. Rain juga melirik ke arah Keyla yang sejak tadi menatapnya tidak suka.


"Pagi, girl!" Radit duduk di sebelah Rain dan mencium kening gadis itu.


"Aaaa, Sandy, gue juga mau di cium!" Reno mencium kening Sandy.


"Anjir, geli gue!" Sandy mengelap keningnya dengan tissue. Dia bergidik ngeri sendiri melihat Reno. Apalagi lelaki itu memeluk gitarnya.


"So sweet banget, jadi pengen di kecup ayang!"


"Beruntungnya jadi Rain!"


Kelas jadi heboh.


Sementara Rain mencubit pinggang Radit.


"Kamu apaan sih! Malu tahu!"


Radit mengangkat kedua bahunya santai.


"Mama bawain bekal buat kamu, katanya ini makanan kesukaan kamu. Nanti istirahat makan bareng ya, soalnya aku juga dibawain."


Rain mengambil paper bag yang ada ditangan Radit dan membuka tempat bekal tersebut.


Ada nasi, balado udang, nuget dan ca brokoli kesukaannya. Wadah satu lagi salad buah. Ah, benar-benar calon mertua yang pengertian.


"Waah, makasih ya. Bilang ke Tante Fania."


Radit mengangguk lalu mengacak rambut Rain.


"Woy, kalian semua di sini tuh kalian hanya ngontrak lho! Awas jangan macem-macem!" Lagi Reno berkata yang membuat gelak tawa teman-temannya.


"Kuingin selamanya mencintai dirimu, sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku!" Reno memetik gitar sambil bernyanyi.


"Udah sana pergi, bikin kelas jadi ribut tau nggak!"


Radit terkekeh, tentu saja membuat para gadis terkejut. Lelaki itu tidak pernah tersenyum sama sekali dan Rain berhasil membuat si kulkas luluh. Ah, benar-benar pasangan yang membuat iri semua orang.


"Ya udah, nanti aku jemput ya."


Rain hanya mengangguk. Mentari menatap mereka dengan menopang dagu, dia juga iri. Andai Mentari terlahir dari orang berada mungkin tidak pernah merasa minder.


Mia yang sejak tadi duduk di bangku lain pun segera menyambar bangku miliknya dan duduk di bekas Radit tadi.


"Anget!" kata Mia tiba-tiba.


"Apanya?"


"Bekas cowok Lo! Gue jadi pengen punya ayang biar ada yang perhatiin!"


"Bebeb Mia, ayo kita pacaran!" Sahut Reno.


"Cieeee ...." Ucap teman-teman sekelas serempak.


Rean baru saja datang, entah darimana saja itu anak. Padahal tadi dia ada dibelakang Rain saat gadis itu sedang mengobrol dengan Mentari.


"Ehm, yang habis diapelin!" celetuk Rean yang duduk di sebelah Mentari.


"Nggak tuh!"


Rain mengulum senyum, dia melirik ke arah Mentari yang sejak tadi melamun. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.


"Ren, kalau gue nih ya lebih suka apel lho daripada anggur!"


Rean menoleh ke arah Reno, "Nggak nanya!"


"Yeuh, si kobokan! Gue cuma bilang mending ngapelin cewek daripada tuh cewek dianggurin!"


Gelak tawa terdengar lagi. Reno pun memetik gitar untuk menyanyikan sebuah lagu.


Rean tertarik dan langsung menyambar gitar Reno. Duduk di meja sambil memetik gitar itu. Sementara yang lain sedang bergosip. Kebetulan guru sedang ada rapat satu jam kedepan pelajaran kosong.


"Gue mau nyanyi!" Rean meminta izin.


"Boleh, sayang .... Suara kamu kan bagus. Aku suka!" kata Reno dengan suara yang dibuat-buat.


"Njiir, geli gue! Cowok modelan kayak Lo bakal susah ditaksir cewek!" celetuk Sandy.


"Kata sapa, buktinya ayang Mia naksir gue! Iya kan Mia?"


Sang pemilik nama hanya menepuk keningnya. Dia enggan menoleh, ini gara-gara Rain yang asal bicara waktu itu.


Petikan gitar dari jemari Rean mulai terdengar.


Beberapa orang menikmati itu, lagu dari seorang penyanyi yang sedang booming.


I'll tell you how I almost died


While you're bringing me back to life


Suara Rean yang benar-benar bagus bak penyanyi itu membuat siapa saja yang mendengarnya meleleh.


I just wanna live in this moment forever


'Cause I'm afraid that living couldn't get any better


Setiap bait yang dia nyanyikan benar-benar menyentuh hati.


Started giving up on the word forever


Until you gave up heaven, so we could be together


Sesekali kedua matanya melirik ke arah Mentari. Berharap gadis itu menoleh.


You're my angel


Angel baby, angel


You're my angel, baby


Ketika itu, Mentari menoleh. Netranya bersirobok dengan netra abu-abu milik sosok yang sedang bernyanyi.


Baby, you're my angel

__ADS_1


Angel baby


Mentari hanyut dalam sebuah lagu yang sedang Rean nyanyikan. Suasana hening hanya terdengar suara Rean dan gitar saja. Benar-benar membuat penghuni kelas terhipnotis.


Reno menganga lebar, baru kali ini melihat Rean menyanyi dengan suara lantangnya. Biasanya lelaki itu hanya akan memetik gitar saja dan enggan untuk bernyanyi.


Wajah Mentari sudah merona dia ikut terbawa suasana juga tersipu dengan tatapan Rean secara bersama. Jantung kembali berdebar tidak karuan, hatinya sudah diporak-porandakan oleh tatapan Rean yang lembut.


Sesekali Rean menatapnya sambil bernyanyi, seakan lagu itu dinyanyikan untuknya.


Suara tepuk tangan terdengar riuh, ketika Rean selesai bernyanyi. Mereka semua seperti sedang menonton konser. Baru pertama kali mereka mendengar suara Rean ketika bernyanyi. Bertepatan dengan itu guru datang dan mereka bergegas duduk di bangku masing-masing. Suasana mendadak hening.


"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Pak Tri, selaku guru biologi.


"Pagi, Pak," jawab murid serempak.


"Baik, hari ini kita akan praktikum secara kelompok, jadi buatlah kelompok bebas ya. Satu kelompok terdiri dari enam orang. Setelah itu kita ke ruang praktek."


Kelas menjadi ricuh kembali karena menentukan kelompok.


"Rean, Lo sama gue ya. Pas nih enam orang sama belakang Lo biar Lo nggak cowok sendiri!"


"Atur aja!"


"Woah, kita satu kelompok sama si genius!" celetuk Reno.


Mereka pun bangkit dari duduknya. Rean menggenggam tangan Mentari. Membuat gadis itu terkejut.


"Eh___" Mentari hendak melepas tangan Rean tapi lelaki itu tidak membiarkannya.


"Rean, boleh aku gabung? Soalnya yang lain udah penuh!"


Rean melirik ke arah Rain agar gadis itu saja yang menjawab.


Rean tidak percaya jika kelompok lain sudah penuh, siapa sih yang mau menolak pesona Keyla?


"Lo nggak liat apa kalau kita udah pas juga!" kata Rain sambil menatap sinis Keyla.


Keyla memasang wajah lesu, "Yah, aku sama siapa dong?" Gadis itu seakan sedih karena gagal satu kelompok dengan Rean.


Ketika yang lain sudah menuju laboratorium, kelompok Rean belum karena Keyla yang tetap ingin satu kelompok dengan Rean.


"Kenapa kalian belum ke ruang laboratorium?"


"Maaf, Pak. Ini salah saya karena mau ikut kelompok mereka. Saya tidak memiliki kelompok karena sudah penuh."


Alis Pak Tri mengerut, karena seharusnya pas jika masing-masing enam orang. Mengapa ada yang tidak kebagian kelompok.


"Ya sudah gabung saja sama kelompok Rean!" Pak Tri tidak mau ambil pusing dan berlalu ke ruang laboratorium.


Keyla tersenyum puas saat Rain menatapnya.


***


Kenan mengemasi barang-barang milik Gina, hari ini Gina sudah diperbolehkan pulang setelah hampir dua Minggu lebih di rumah sakit. Gina sering drop karena pikirannya masi memikirkan suaminya. Berkali-kali Kenan memberi semangat, tapi wanita itu tetap saja memikirkan nasib Arya yang jelas-jelas sudah berkhianat. Kenan tidak mau jika mamanya terus bersedih.


"Kenan beneran janji sama mama buat nurutin semua keinginan mama?"


Kenan hanya mengangguk.


"Mbak, aku bantu duduk di kursi roda ya?" ujar Maya.


Gina mengangguk, sebenarnya dia bisa jalan saja karena sudah merasa sehat. Namun, putra semata wayangnya itu bersikeras agar Gina memakai kursi roda.


Sementara Lily sudah berada di rumah Gina untuk mempersiapkan kepulangan mereka.


"Apapun kalau mama nggak mikirin laki-laki itu lagi!" kata Kenan dengan kilatan amarah.


Siapa yang tidak kesal? Jika seseorang yang kita sayang masih saja memikirkan orang yang telah menghancurkan kehidupan kita. Bahkan Gina ingin bertemu dan terang-terangan mengatakan jika dirinya kasian dengan Arya. Ini hanya jebakan lalu dia ingin membebaskan Arya. Di situ puncak amarah Kenan yang sudah beberapa hari dipendam. Beruntung ada Maya yang ada ditengah-tengah mereka jadi Kenan tidak terlalu meluapkan emosinya.


"Mama mau ... Rain datang makan malam bersama kita."


Kenan menghela napas lelah, kalau begini Kenan harus berkata apa? Hanya memikirkan Arya saja kondisi Gina drop apalagi mengatakan jika dia sudah putus dengan Rain.


"Ken," panggil Gina.


Sementara Maya menatap Kenan yang paham arti sorot mata itu.


"Mbak, sebaiknya mbak istirahat saja dulu. Rain pasti sibuk dengan sekolah. Apalagi ini bukan hari libur."


"Nanti Kenan hubungi dia. Mama tenang aja!" sahut Kenan membuat Gina tersenyum.


Mereka pun pulang ke rumah dengan perasaan yang berbeda-beda.


Gina menghela napas ketika hendak menuju ke rumah. Bayang-bayang bersama Arya masih terlintas. Kenan yang tahu itu segera mengalihkan tatapan ke arah jendela.


"Ken."


"Mama kalau mau bahas itu lelaki nggak usah bicara sama Kenan. Percuma Kenan bilang bakal nurutin apa yang mama mau!" sergah Kenan.


"Kenan," tegur Maya.


"Maaf, Ken." Gina merasa bersalah karena kemarin selalu membahas Arya. Gina sekarang tahu jika Kenan sangat membenci papanya itu.


Gina menatap ke arah jendela dan mengernyit karena jalan menuju ke rumahnya berbeda. Ini lebih jauh.


"Kita nggak salah jalan kan, Pak?"


"Tidak, Nyonya," sahur sang supir.


"Kita pindah rumah supaya mama tidak lagi inget sama dia!"


Gina tersenyum, karena dia tidak perlu menahan kesedihan ketika menginjakkan rumah yang penuh kenangan itu. Sebenarnya Gina ingin mengatakan jika pulang ke apartemen Kenan saja tapi lelaki itu sudah marah terlebih dahulu.


Dalam perjalanan Kenan mengirim pesan kepada Rain jika mamanya ingin bertemu. Beruntung Rain cepat membalas pesan itu, mungkin sedang pelajaran kosong atau sedang di kamar mandi. Pikir Kenan.


Lalu sekarang gadis itu menelponnya? Kenan mengabaikan telepon itu, dia sedang tidak ingin berdebat. Kenan curiga jika gadis itu menuduhnya jika memakai nama mama padahal Kenan sendiri yang ingin bertemu. Lelaki itu enggan jika Rain menelpon hanya menyulut emosinya.


Lebih baik Kenan mematikan ponselnya dan akan menelpon gadis itu nanti ketika sampai di rumah.


Bersambung ...


Selamat membaca ...

__ADS_1


__ADS_2