
Bab 26
Damian memegang amplop cokelat yang berisi hasil tes DNA dengan Rain, Ando, Dion dan Livia. Dia melakukannya secara diam-diam seperti perintah Rain. Agar tidak mengajak Tom sebagai supir pribadinya. Memang jika sedang berada di luar kota, Damian tidak pernah memakai Tom. Jadi itu alasan Damian untuk diam-diam melakukan tes DNA sendiri.
Tangannya bergetar dan kedua mata mulai memanas saat membaca hasil dari Ando dan Rain.
"Aku juga anak kandungmu, Pa! Kenapa selalu dibandingkan dengan Livia!"
"Pah, Ando nggak nyangka kalau papa lebih sayang Dion! Sebenarnya Ando ini anak papa apa bukan sih!"
"Rean kecewa sama Papa!"
Ucapan ketiga anaknya itu terus berputar dikepala Damian. Tubuhnya bergetar seiring air mata yang menetes. Hasil itu ... Hasil tes DNA nya dengan Ando dan Rain menyatakan jika ...
Mereka memang anak kandungnya. Kimberley tidak pernah berbohong.
"Maafkan Papa, Nak!" ucap Damian dengan suara serak.
Baru kali ini dia menangis atas semua kesalahannya. Dia juga telah membuat Kimberley kecewa, padahal perjuangan wanita itu sangat luar biasa. Bahkan sikap dinginnya tidak membuat Kimberley menyerah. Dia selalu minta maaf meski sebenarnya tidak ada yang salah pada wanita itu.
Damian membuka lembar berikutnya. Dion dan Livia tidak ada kecocokan pada DNA nya. Itu berarti mereka bukan anak kandung Damian.
Kedua tangan itu mengepal kuat, rasa sedihnya berganti dengan kemarahan yang luar biasa. Damian segera menyambar ponselnya dan menelpon seseorang.
"Kemari, ada hal yang ingin aku bicarakan!"
Setelah itu Damian pergi keluar dari apartemen rahasianya. Shely bahkan tidak tahu jika Damian memiliki apartemen lain.
Lelaki itu mengemudi dengan cepat menuju kantornya untuk menemui orang yang dia telepon tadi. Dia tidak mau melakukan pertemuan di apartemen yang selama ini dia rahasiakan. Damian membeli apartemen itu setelah menikah dengan Shely. Awalnya hanya untuk berjaga-jaga saja. Rupanya sekarang ada gunanya juga.
"Tuan, ada apa?" tanya Elang, orang kepercayaan Damian.
"Cari tahu siapa orang ini!" Damian menunjukkan foto yang dulu Shely berikan.
Foto lelaki yang bersama dengan Kimberley.
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan. Apa ada lagi yang anda butuhkan?"
"Shely, cari tahu tentang siapa dia yang sebenarnya!"
"Dimengerti, Tuan."
Damian mengangguk, Elang pun pergi meninggalkan Damian dan langsung mulai bekerja. Pekerjaan Elang memang bagus, dia juga sangat pandai. Oleh sebab itu Elang diangkat menjadi asisten Damian. Elang juga sering menggantikan pekerjaan Damian ketika lelaki itu sedang ada urusan diluar kota.
__ADS_1
Damian menekan nomor Rain untuk mengatakan sesuatu.
"Hallo, siapa ya?" tanya Rain.
Damian terdiam, "Sebegitu benci kah kamu pada papamu, Nak? Sampai tidak menyimpan nomor papa!" batin Damian.
"Rain, bisa kita bertemu siang ini?"
"Oh, Tuan Damian. Ya, baiklah. Kirim lokasinya saja."
Sambungan telepon pun diputus oleh Rain.
Tuan Damian! Panggilan itu semakin membuat rasa bersalah Damian bertambah. Dia merasa permintaan maafnya tidak akan pernah Rain terima.
Damian mengusap wajahnya kasar. Dia bergegas untuk pergi menemui Rain di restoran yang sudah di pilih.
"Tuan, anda mau kemana? Sebentar lagi kita ada rapat dengan para kepala divisi!" ujar Tami--sekertaris Damian.
"Katakan rapat ditunda dua jam."
"Baik, Tuan."
Damian terburu-buru untuk pergi menemui Rain. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin memeluk erat gadis itu. Dugaannya benar jika Rain memang anaknya. Kecantikan Rain mewarisi kecantikan sang mama. Setiap kali melihat Rain, rindunya kepada Kimberley seakan terobati.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?"
"Atas nama Damian!"
Pelayan wanita itu pun mengangguk dan mengantarkan Damian untuk pergi ke private room yang sudah dia pesan. Damian juga mengatakan hal itu pada Rain.
Dia lebih baik menunggu daripada Rain yang menunggu.
"Selamat siang, Tuan," sapa Rain yang baru saja datang.
Damian langsung memeluk gadis itu dengan erat. Air matanya tidak dapat lagi dibendung. Rean yang ada dibelakang Rain ikut terharu juga tersenyum melihat pemandangan ini. Sudah lama sekali Rain tidak merasakan pelukan seorang ayah.
"Maafkan Papa, Nak. Maafkan semua kesalahan Papa yang telah membencimu dan selalu memperlakukanmu dengan kekerasan. Maafkan Papa, Nak!" ucap Damian penuh penyesalan.
Rain bisa merasakan suasana mendadak haru. Perjuangannya tidak sia-sia. Sebentar lagi, apa yang Rain asli inginkan tercapai. Mendapatkan pengakuan dari Damian, lalu menikah dengan Kenan.
Meski hati kecilnya mengatakan agar tidak menikah dengan Kenan. Rain berkali-kali meminta maaf pada Rain asli jika dia tidak bisa menepati janjinya untuk berhubungan baik dengan Kenan.
"Apa aku bermimpi?" ucap Rain dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Tidak, Nak. Ini nyata. Papa benar-benar minta maaf. Papa ... Sudah melakukan seperti yang kamu katakan. Hasilnya kalian putra-putriku!"
"Rean, sini, Nak!"
Rean pun mendekat dan mereka saling berpelukan. Meski Damian tidak membencinya tapi tetap saja Rean tidak terima dengan perlakuan kasar sang papa terhadap Rain.
"Mama kecelakaan bukan karena Rain, Pah!"
"Iya, Rean. Papa akan menyelidiki ini semua."
"Nggak perlu!" sahut Rain. Membuat Damian menoleh.
"Ambil ini, semua yang ... Tuan butuhkan ada di sini!"
"Rain?" tegur Rean.
"Ya ... Ya ... Emm ... Papa!" Rain sebenarnya masih malas memanggil lelaki itu dengan sebutan papa.
"Tidak apa-apa jika Rain belum bisa memanggil Papa."
"Ini ... Apa?" sambung Damian.
"Tentang Shely dan semua rahasianya."
Damian menatap Rain tidak percaya. Rupanya gadis itu melangkah lebih jauh darinya. Entah bagaimana caranya dia mendapatkan itu semua. Damian benar-benar mengagumi keahlian Rain.
"Sudahlah mending kita makan aja!"
"Apa kamu memaafkan Papa? Setelah semua kebusukan Shely terbongkar maka Papa akan mengadakan konferensi pers untuk memperkenalkan kamu, Rain!"
Rain berpikir sejenak, jika semua orang tahu dia kembaran Rean, maka di sekolah Rain tidak bisa menjahili anak itu yang hendak mendekati seorang cewek. Lalu kemungkinan lain yang terjadi ... Dia akan selalu kerepotan dengan para fans Rean.
"Nggak perlu, aku belum siap. Biarlah seperti ini."
"Rain ... Ini demi kebaikan kamu."
"Pa, aku akan baik-baik saja. Lebih baik kamu meminta maaf kepada kakek Albert dan nenek Sania. Katakan semuanya. Maka aku akan memaafkanmu!"
Rean membernarkan ucapan Rain. Kakek dan Nenek sangat membenci Damian karena telah menuduh putri semata wayangnya berselingkuh. Lalu membiarkan ketiga anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.
Disitulah peperangan dimulai. Apalagi kehadiran Shely yang menambah bumbu penyedap. Membuat Alber dan Sania sangat membenci lelaki itu.
"Papa ... Sudah kehilangan jejak mereka!"
__ADS_1
Bersambung..