
Bab 27
"Shely ... Shely ... Shely!" teriak Damian, membuat siapa saja yang mendengar bergidik ngeri.
Bahkan pelayan yang membukakan pintu saja takut untuk menyapanya saat melihat wajah Damian seperti seekor singa yang siap memakan mangsanya.
Sementara wanita yang dipanggil namanya dengan santai berjalan menuruni anak tangga.
"Apa sih, Mas? Bisa nggak jangan teriak-teriak be__"
Plak ...
Plak ...
Plak ...
Tamparan berkali-kali itu membuat pipi Shely yang mulus memerah. Wajah wanita itu terasa kebas dan kepala sedikit nyeri. Tamparan itu tidak main-main.
"Apa-apaan ini, Mas!" Shely melotot tajam.
"Kamu yang apa-apaan! Selama ini aku terlalu bodoh percaya dengan ucapan dari mulut busukmu itu!" Damian menoyor kening Shely.
Wanita itu tersenyum miring, sedetik kemudian dia memasang wajah memelas.
"Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan, Mas!" Shely mulai terisak. Tentu saja itu hanya sandiwara.
"Hapus air mata busukmu itu! Pergi dari rumah ini bersama kedua anakmu yang tidak jelas asal-usulnya itu!"
"Papa! Kenapa Papa usir kami!" Livia yang baru saja pulang sekolah terkejut melihat kedua orangtuanya yang bertengkar.
"Jam berapa ini, Livia? Kamu baru pulang, hah!"
"Aku ada ekstrakurikuler menari, jadi baru pulang. Papa kenapa mau usir kami?"
"Oh, begitu ya? Ekstrakurikuler menari yang sebenarnya kau sendiri tidak ikut! Selama ini kau juga berbohong seperti mamamu ini!" Tunjuk Damian kepada Shely. "Apa yang kau lakukan selama ini? Pulang terlambat dengan alasan ekstrakurikuler? Atau kau menjual tubuhmu itu, hah!" Ucapan menohok itu membuat Shely geram.
Wanita itu menoleh ke arah Livia dengan seragam yang sedikit berantakan.
"Mas, jaga ucapan kamu ya. Dia anakmu bukan anak haram itu! Livia selalu menjadi juara dan mengikuti banyak kegiatan di sekolah. Kamu kalau ada masalah di kantor jangan jadikan anakmu ini sasaran! Cukup aku yang kamu maki-maki!"
"Anak? Dia bukan anakku!" Damian melemparkan sebuah amplop cokelat ke arah Shely.
"Dion juga bukan anakku!"
"Kita memang pernah melakukan kesalahan, tapi Dion bukan hasil dari kesalahan itu! Entah dengan pria mana kamu melakukannya! Selama ini aku terlalu bodoh dan percaya begitu saja denganmu!"
Shely membuka amplop itu dan terkejut dengan hasilnya.
*Darimana dia tahu semua ini? Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini?*
"Pergi dari sini! Lagipula kau tidak akan jadi gelandangan, bukan?" ucap Damian.
Shely tersenyum puas, dia sudah tidak lagi memasang wajah sedihnya.
"Ya, kau benar! Kau memang bodoh sampai-sampai membuang anak kandungmu sendiri!" Shely melempar amplop cokelat itu.
"Damian ... Damian ... Kamu tidak akan bisa mengusir aku dari sini. Semua harta milikmu ini sudah jatuh ditanganku! Apa kau lupa jika semua aset milikmu ini atas namaku juga kedua anakku, hah!"
Damian tersenyum miris. Akhirnya topeng Shely yang asli terbuka juga. Selama ini Shely selalu menjadi wanita penurut dan manja dihadapannya. Sekarang Damian benar-benar terkejut jika selama ini wanita yang ada dihadapannya ini adalah ular. Setiap ucapannya memang sangat beracun.
"Lebih baik kamu yang pergi dari sini!" bisik Shely yang sudah berdiri di samping Damian.
Sementara Livia syok dengan kabar tersebut. Jika dia bukan anak kandung Damian. Lalu siapa papa kandungnya?
"Tidak akan pernah aku meninggalkan hasil jerih payahku!"
"Kau sudah bukan apa-apa lagi, pergi dari sini dan aku akan mengurus surat perceraian. Aku yakin kau tidak akan mampu mengurus itu semua karena tidak memiliki uang sepeserpun."
Damian berdecih, "Percaya diri sekali anda!" sinisnya.
"Tentu saja, semua yang aku inginkan sudah berhasil. Menaklukkan kamu dan menguasai hartamu!" Shely tertawa puas. "Tidak ada lagi sainganku. Dia sudah mati ditanganku sendiri!" Shely akhirnya mengakui itu.
"Apa?" Damian terkejut. "Kamu yang membunuh Kimberley, hah!"bentaknya.
"Jangan membentak, lebih baik siapkan tenagamu untuk hidup di jalanan!"
"Mama!"
"Diam kamu anak kecil, tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa!" bentak Shely, membuat Livia bungkam dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kau__"
Satu tamparan mendarat di pipi Shely.
"Benar-benar iblis! Jadi semua ini sudah kamu rencanakan, hah! Aku tidak menyangka jika selama ini aku hidup dengan wanita iblis sepertimu!"
Shely justru tertawa puas seperti orang gila.
"Tampar aku sepuasmu, Mas. Aku sudah lelah bersaing dengan Kimberley yang selalu lebih dariku. Sekarang dia sudah mati karena aku bunuh. Jadi untuk apa bersaing lagi? Semua sudah aku dapatkan dan sekarang ..." Shely memutari tubuh Damian lalu membelai pipi lelaki itu.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pergi dari sini, aku tidak butuh kamu lagi!" tegas Shely.
"Kau memang wanita ja(l)ang! Kimberley memang lebih baik darimu karena dia berhati bersih tidak sepertimu yang menjual para gadis untuk dijadikan budak pemuas nafsu!"
"Oh, jadi kamu sudah tahu ya?" Shely membelai dada Damian lalu jarinya membentuk huruf abstrak di dada bidang itu.
"Baguslah kalau kau sudah tahu, karena anakmu itu akan aku jadikan budak pemuas nafsuku. Bodohnya kau menyetujui perjodohan itu, padahal Arya yang akan menjual gadis itu."
Tawa Shely menggema di ruang tengah. Tawa yang mengeringkan dia juga bertepuk tangan.
"Aku bahagia sekali!"
"Kenapa tidak kau jual saja dia! Bukankah selama ini kedua anakmu itu selalu berhubungan badan secara diam-diam?" Damian kini tertawa sinis. Dia lebih tenang menghadapi wanita dihadapannya ini.
Hanya dengan memancingnya saja dia bisa mendapatkan apa yang dia mau.
"Apa?" Shely terkejut lalu menarik krah seragam Livia. "Kau sudah tidak per*wan, hah!" Livia pun menampar gadis itu.
Lalu mendorong tubuhnya, kemudian dia menarik lagi dengan cara menjambak rambut gadis itu.
"Selama ini kau aku pungut dan aku rawat supaya hargamu lebih mahal dari Rain sialan itu, kau malah memberikannya pada Dion dengan cuma-cuma!"
Damian hanya diam menonton, meski Livia terus menatap Damian agar mau menolongnya. Dia sudah cukup muak dengan semua orang yang selama ini dia bela. Biarkan Livia merasakan apa yang Rain rasakan dulu.
"Ampun, Ma. Kak Dion yang perk*s(a) aku waktu itu!" tutur Livia.
"Dasar bodoh! Apa barusan kau juga melakukannya dengan Dion?"
Livia menggeleng.
"Oh, sudah jadi pe(l)a*u* kecil rupanya ya!"
Bugh
Plak
Bugh
Lagi dan lagi Shely meluapkan kekesalannya pada Livia. Dia memukul dan menampar gadis itu hingga jatuh pingsan.
"Bisa-bisanya aku kecolongan dan rugi miliaran!"
Shely menoleh pada Damian lalu melirik ke arah berlawanan untuk memberi kode pada seseorang yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu.
"Kau juga akan bertemu dengan Kimberley. Bersiaplah sebentar lagi kau akan menjemput ___"
"Jangan bergerak! Kau sudah kami kepung!"
"Kalian, maju satu langkah maka dia akan melayang!" Tunjuk Shely pada Damian.
"Apa kau mabok? Sebaiknya nikmati saja rumah barumu itu bersama anak buahmu, Shely!"
"Apa?!"
"Kau pikir aku bodoh? Sejak aku menikah dengan Kimberley semua aset atas namanya hingga sekarang. Kau merayuku untuk mengubah itu? Sementara hatiku belum sepenuhnya percaya padamu!"
Damian tertawa puas. Ini yang sudah dia rencanakan kemarin dengan Rain dan juga Rean untuk menangkap Shely di rumah. Membuat wanita itu sibuk hingga tidak tahu kabar tentang anak buahnya yang sudah di tangkap. Berkat bantuan Kakek Albert juga tentunya.
Damian akui memang kedua anak kembarnya itu sangat cerdik dan pintar.
"Tom!" teriak Shely.
"Nyonya," panggil Tom yang sudah dibekuk oleh salah satu anak buah Albert.
Di sini mereka juga bekerja sama dengan aparat kepolisian. Shely sudah menjadi buronan di luar negeri karena kasus narkoba dan penjualan ilegal film dewasa.
Shely semakin murka, dia tidak menyangka jika Tom secepat itu ditangkap. Bukankah tadi mereka baru bersama lalu Damian tiba-tiba datang? Lantas siapa orang yang bersembunyi dibalik lemari kaca itu?
"Apa anda mencari saya, Nyonya?"
"Elang?"
Dengan cepat lelaki itu menangkap Shely yang hampir melarikan diri. Kedua tangan Shely langsung diborgol oleh Elang.
"Bersenang-senang bersama Tom, Shely. Bukankah kalian saling mencintai? Aku memiliki video kalian. Mungkin bisa aku jual nanti dengan harga fantastis!" Damian memperlihatkan layar ponselnya. Ada rekaman cctv di kamar mereka yang memperlihatkan aksi perselingkuhan Tom dengan Shely.
"Apa kau terkejut, Nona Angel Kharisma?"
Shely benar-benar tidak menyangka Damian mengetahui semuanya. Dia juga tidak tahu jika Damian memasang cctv di kamarnya. Bahkan Damian tahu nama asli Shely. Selama ini dia memakai identitas palsu untuk melarikan diri.
"Kurang ajar! Kau tidak akan bisa menangkapku. Sebentar lagi aku akan bebas dan mencabut nyawamu, Damian!" Shely berontak saat hendak dibawa Elang menuju mobil.
Damian memijat pelipisnya yang terasa pening. Terhitung seminggu lebih dia bekerja keras untuk menyusun sebuah rencana. Bahkan saat anggota Albert melakukan penyerangan di markas milik Shely pun dia tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya memantau Shely dari kejauhan. Anggota Damian banyak yang menjadi kaki tangan Shely. Pantas saja selama ini jika dia melakukan tes DNA dan mencari informasi tentang Shely tidak pernah membuahkan hasil.
Hasilnya tetap sama. Rain, Rean dan Ando bukan anak kandungnya. Shely tetaplah Shely si anak sebatang kara.
Padahal Damian menyuruh orang yang salah. Orang itu bekerja sama dengan Shely dan selalu mengatakan berita itu pada Shely.
Sekarang ... Semua sudah terbongkar. Shely dan semua anak buahnya tertangkap. Meski dengan pertarungan yang bisa saja menghilangkan nyawa seseorang. Anak buah Shely tidaklah main-main. Mereka memiliki senjata api juga menyimpan berbagai macam bom. Beruntung Albert memiliki anak buah yang sudah terlatih dan koneksinya luar biasa.
__ADS_1
Dion ikut andil dalam kasus Shely, dia rupanya bekerja sebagai fotografer model dewasa yang dijual secara ilegal. Dion sudah lebih dulu kabur, beruntung bisa cepat ditangkap meski harus kejar-kejaran dan membuat lelaki itu mengalami kecelakaan.
Sementara Livia adalah korban mereka. Shely sudah tahu skandal Dion dan Livia tapi dia pura-pura diam saja. Tentu saja itu permintaan Dion sebagai uang tutup mulut karena Shely gagal mengumpankan Rain.
Livia dibawa ke rumah sakit. Sementara Damian ikut ke kantor polisi untuk menjadi saksi.
Seminggu ini mereka banyak melibatkan orang, pekerjaan ini benar-benar tidak mudah, tapi sangat mudah untuk Albert yang sudah tahu seluk beluknya.
"Tuan Albert," panggil Damian yang menemani Rain juga Rean.
Mereka dipanggil untuk menjadi saksi.
Albert menepuk dua kali pundak Damian. "Akhirnya kau membuka matamu!" ucap Albert terdengar santai tapi sangat menusuk hati Damian.
Dia sangat bersalah pada Albert selama ini. Bahkan Damian mengalami kebangkrutan karena balas dendam Albert. Lelaki paruh baya itu tidak terima dengan perlakuan Damian yang sudah menuduh putri semata wayangnya itu berselingkuh. Tentu saja Damian tidak tahu jika Albert adalah seseorang yang berkuasa dan sangat di segani.
"Tuan, maaf jika selama ini aku tidak tahu siapa dirimu. Maaf aku juga tidak tahu jika anda adalah ayah dari wanita yang aku nikahi!"
Ya, Kimberley semasa hidupnya tidak pernah memperlihatkan jika dirinya orang berada. Dia tidak suka dipublikasikan. Kimberley lebih suka jika dia hidup bebas tanpa harus memikirkan paparazi yang ada dimana. Dia tidak mau menjadi orang terkenal karena ada campur tangan kedua orangtuanya. Kimberley ingin meraih semua itu dari nol. Ingin menjadi orang biasa tanpa ada yang menyorotnya. Bahkan selama bersekolah pun tidak ada yang tahu siapa Kimberley dan siapa kedua orangtuanya.
"Maafkan aku karena tidak percaya dengan putrimu. Maafkan aku yang terlena dengan ucapan wanita busuk itu. Maafkan aku yang telah menelantarkan ketiga cucumu. Maafkan aku___" Damian tidak bisa berkata apapun lagi. Hatinya sudah sangat merasa bersalah. Bahkan dia merendahkan dirinya untuk meminta maaf juga bersujud di depan lelaki yang pernah menjadi mertuanya ini.
"Sudah, jangan bahas yang sudah berlalu. Aku sudah memaafkanmu!" Albert meraih tangan Damian agar lelaki itu bangun.
"Ayo bangun, Rain akan memarahiku jika kau seperti ini!"
"Berterima kasihlah pada Rain karena dia, aku memaafkanmu. Kalau saja dia tidak memohon padaku maka aku tidak akan menolong dan juga memaafkanmu. Mungkin sudah aku penggal kepalamu untuk dijadikan santapan para buaya!"
Damian bergidik ngeri mendengar ucapan Albert. Lelaki itu benar-benar sangat berbahaya. Meski usianya sudah tidak lagi muda Albert masih bisa untuk berkelahi dan juga menggunakan senjata api bagi siapa saja yang menyinggungnya.
"Aku berjanji untuk menjaga ketiga anakku dengan baik. Menebus semua kesalahanku."
"Mereka tidak butuh hartamu! Mereka lebih kayak darimu," sindir Albert.
Damian hanya menunduk lemas, ya mungkin setelah ini dia tidak bisa meminta Rean juga Rain untuk tinggal bersamanya lagi.
Mansion milik Damian juga digeledah karena ada beberapa barang bukti. Kamar milik Dion juga digeledah oleh polisi.
"Ada beberapa karung ganja di sana, video juga foto film dewasa kami temukan," ujar salah seorang polisi pada Damian.
Damian tidak menyangka jika di rumahnya ada barang-barang seperti itu. Dia terlalu sibuk bekerja untuk membangkitkan lagi perusahaannya.
Damian juga melihat Arya berjalan disebelahnya. Bersama seorang gadis yang seumuran dengan Rain. Sementara anak gadisnya itu tersenyum puas.
"Apa kau mengenalnya?"
"Dia pacar Kenan dan juga fans berat Rean!" ucap Rain santai.
"Jadi ... Apa kalian mau tinggal bersama ayah bodohmu ini?" tanya Albert.
Rean dan Rain saling menatap.
"Tidak!" jawab mereka serempak.
Membuat Damian terduduk lemas. Dia mengusap wajahnya. "Ya, aku memang tidak pantas tinggal bersama kalian!"
Rean dan Rain mengulum senyum. Juga Kakek Albert. Dia juga duduk di sebelah Damian.
"Jual saja rumah jelekmu itu. Sudah banyak setan di sana!"
Damian mengernyit, tidak terima dengan ucapan Albert yang mengatai rumahnya jelek. Itu mansion bagus dan mahal. Hasil dari jerih payahnya.
"Tinggal bersama kami, kakek dan nenek pasti kesepian jika aku tinggal di mansion papa. Aku juga nggak mau di sana! Banyak kejadian yang bikin aku jengkel!" ujar Rain yang duduk di sebelah kiri Dimana. Lalu memeluk lengan lelaki itu.
"Ya, Rain benar! Kita mau tinggal bersama papa jika di mansion kakek. Bang Ando ikut bersama kami!"
Damian tersenyum haru, dia akhirnya diberi kesempatan untuk tinggal bersama putra-putrinya. Dia akan menebus semua kesalahannya selama ini. Dia juga menuruti perintah putra-putrinya untuk menjual mansion itu karena memiliki kenangan yang buruk.
Pada akhirnya mereka yang terlibat dengan Shely pun mendapatkan hukuman yang setimpal.
***
"Mah, bangun. Aku nggak mau kalau harus hidup sendirian!" ucap Kenan. Lelaki itu menggenggam tangan Gina yang terbaring lemah di rumah sakit.
Gina syok mendengar suaminya ditangkap polisi. Dia juga syok mengetahui suaminya itu berselingkuh dengan gadis yang usianya sama dengan Kenan. Gadis itu juga rupanya kekasih Kenan. Gina langsung drop. Penyakit jantungnya kambuh mendengar kabar mengejutkan ini.
Sudah hampir tiga hari Gina masih dalam kondisi kritis. Kenan tidak tahu lagi harus gimana. Beberapa aset milik ayahnya juga telah di sita. Beruntung mamanya ini memiliki usaha yang tidak kalah sukses. Rumah yang selama ini mereka tinggali juga hasil dari usaha Gina.
Namun, Kenan tidak memikirkan soal harta. Kali ini dia hanya ingin kesembuhan untuk mamanya yang sangat Kenan sayangi. Keluarga satu-satunya yang dia punya. Kenan sudah menganggap Arya telah tiada.
Kemarahan Kenan pada sang Papa saat mengetahui fakta itu, benar-benar tidak akan pernah memaafkan lelaki itu. Bisa-bisanya dia berselingkuh dengan seorang gadis yang usianya terpaut jauh. Bahkan Kenan lebih sakit mengetahui gadis itu adalah orang yang selama ini dia cintai. Gadis yang mampu merebut hatinya. Menggantikan posisi Rain yang baru sedikit di hatinya. Kenan susah payah mencintai Rain karena perjodohan tapi tetap saja lelaki itu tidak memiliki perasaan apapun. Kenan jatuh cinta pada Ella yang berbeda dari gadis yang lainnya.
"Lelaki itu berkata untuk setia, menekankan jika selingkuh sangat tidak diterima di keluarga ini. Nyatanya dia sendiri yang berselingkuh!" Kenan tersenyum miris.
Dia menghapus air matanya dan mencium pipi Gina. Wajah wanita itu sangat pucat.
"Sembuh ya, Mah. Aku janji akan menjaga mama semampuku. Mama bangun, jangan sampai Arya tertawa puas melihat mama yang lemah. Ayo, Mah. Tunjukkan ke dia kalau mama kuat. Biar dia menangis penuh penyesalan!"
Kenan hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpanya. Dia merasa sendiri sekarang. Rupanya menjadi anak tunggal itu ... Sangat tidak menyenangkan!
__ADS_1
Bersambung ...
Maaf ya kalau ceritanya nggak jelas. Mungkin nggak layak juga untuk dibaca. Kalau memang nggak suka bisa kok di skip aja, jangan berkomentar dengan kata kasar. Aku orangnya gampang nangis soalnya. Aku juga masih tahap belajar dan berusaha biar update setiap hari. Terima kasih yang selalu setia baca cerita gaje ini.