Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 31


__ADS_3

Bab 31


"Nenek senang akhirnya rumah ini tidak sepi lagi," kata Sania ketika sedang menikmati makan malam.


"Ya, Ando juga senang karena tidak perlu lagi makan sendirian!" sahut Ando sambil melirik ke arah Damian.


"Ando, kapan ajak pacar kamu ke sini?" tanya Sania.


Membuat Ando tersedak makanan.


"Hati-hati dong, Ndo!" ujar Damian menyodorkan segelas air putih. Kebetulan dia duduk di sebelah Ando.


Damian mengulum senyum karena tahu pertanyaan dari Sania sangat sensitif untuk Ando.


"Bang Ando habis patah hati, Nek!" celetuk Rean.


Lelaki itu pun mendapatkan pelototan dari Ando.


"Oh ya? Ya ampun kasian sekali cucu nenek yang manis ini!"


Mendengar itu Rean berekspresi seakan mau muntah.


"Rean, kamu jahil sekali dengan Abangmu! Ando memang manis kan?"


Albert tertawa, "Rean iri karena tidak kamu puji, sayang!" Meski usianya tidak lagi muda tapi Albert selalu berkata romantis.


"Cucu nenek yang lelaki ini tampan semua. Lalu Rain si cantik."


"Jangan patah hati lagi, nanti nenek kenalkan kamu sama cucu teman nenek!"


"Bukan jamannya perjodohan lagi, Nek."


Ando tentu saja tidak mau di jodoh-jodohkan seperti Rain. Pernikahan bisnis tentu saja sangat menyiksa.


"Nenek tidak menjodohkan kamu, Ando. Hanya memperkenalkan! Kalau tidak suka ya sudah lupakan," jelas Albert.


Ando mengangguk paham, "Baiklah."


"Jadi bagaimana kerjasama dengan perusahaan Indodarma?" tanya Albert kepada Damian.


"Mereka setuju dengan harga yang kita tawarkan. Kualitas produk dari kita pun membuat mereka yakin jika ini barang yang bagus."


"Apa nantinya akan memiliki banyak peminat? Mengingat semua bahan pokok yang naik."


"Kakek tenang saja, semua akan baik-baik saja. Biarkan rasa yang berbicara, meski banyak yang beredar dengan merk lain, tapi jika produk kita memiliki rasa yang enak pasti akan banyak peminatnya."


Albert mengangguk, dia memang tidak sia-sia memberikan perusahaan untuk Damian. Selain pintar bisnis Damian juga cerdik. Dia selalu memikirkan sesuatu dengan detail.


Sementara Rain hanya diam menyimak. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Rain takut jika saat itu datang dan dia sudah nyaman dengan kondisi ini. Mungkin lebih baik dia mempersiapkan diri dari sekarang. Sebelum Rain asli menggantikan posisinya lagi.


"Aku pamit ke kamar. Aku sudah selesai makan." Rain bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Membuat mereka yang sedang menikmati makan malam pun menoleh ke arah Rain. Gadis itu tidak perlu menunggu jawaban, dia langsung saja ke kamar dan merebahkan dirinya di ranjang. Menatap langit-langit kamar seakan perpisahan itu ada di depan mata.


Hidup ini memang lucu, ketika aku menolak takdir yang terjadi dan ingin kembali untuk menjadi diri sendiri. Lalu sekarang aku ingin tetap bertahan dengan takdir ini. Ketika aku menyerah dan ingin kembali, Tuhan tidak mengabulkannya. Setelah semua selesai aku menjadi ketakutan sendiri. Takut jika sewaktu-waktu aku tidak sadarkan diri dan pergi seperti yang pernah terjadi. Rain asli sudah bisa tersenyum. Mungkin dia juga bersiap untuk kembali. Lalu aku? Tubuhku sudah menjadi tanah dan tidak mungkin untuk kembali. Ya, aku akan gantikan Rain asli di surga. Menatap kehidupan kedua orang tua yang sangat aku cintai.


Rain ... Hidupmu tidak mudah. Seperti rumus matematika. Rumit. Namun, aku sadar jika kehidupan itu tidaklah selalu mulus. Ada lika-liku kehidupan yang harus kita jalani.


Ketika aku jatuh cinta pada seseorang dan terbalaskan, rasanya bahagia. Seperti plangton yang mendapatkan resep rahasia Tuan Crab. Namun, harus terjatuh dan merasakan sakit saat itu juga, ketika Plangton tahu kalau resep itu palsu. Ya kebahagiaan tentang cinta ini hanya semu, aku harus merelakan Radit bersamanya. Melihat mereka bercengkrama dan Radit tertawa bahagia saja ... Aku merasa bahwa dia tidak bahagia denganku.


Rain melempar ponselnya asal setelah mengetik beberapa kata. Lalu dia memejamkan mata karena kantuk yang datang. Tidak perduli pada siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya.


**


Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu


Rain membuka mata, ketika mendengar suara merdu dari seseorang. Rain terkejut ketika melihat suasana sekitar. Dia berada di sebuah bukit dengan danau yang memiliki air jernih.


Kan ku jadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku


Suara itu kembali terdengar bersamaan dengan petikan gitar. Rain melangkah untuk mencari siapa yang sedang menyanyi.


Suara merdunya menenangkan jiwa-jiwa yang sedang tidak baik-baik saja.


Namun, tak kan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupmu


Rain terus melangkah, dia merasa bingung karena belum pernah berada di tempat seindah ini.


Banyak bunga-bunga bermekaran dan tanaman jamur. Lalu ada kupu-kupu indah yang hinggap di tanaman bunga itu.


Yang telah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah....


Dan Rain terpaku melihat siapa yang sedang menyanyi sambil memetik gitar itu. Wajahnya putih berseri dengan dress selutut warna putih. Rambut panjang yang digerai dengan hiasan kepala yang terbuat dari rangkaian bunga.


Gadis itu ...


"Akhirnya kamu datang juga, Kak Lea." Senyumnya membuat tubuh Lea menegang.


Ini ... Sudah saatnya dia kembali?


"Ayo kemari!" Dia menepuk batu di sebelahnya yang kosong.


Gadis itu menyandarkan gitarnya pada batu besar yang ada dihadapannya. Pemandangan air terjun yang indah, udara sangat sejuk karena belum terkontaminasi dengan polusi udara.


"Kok diam saja, Kak?" tanya Rain.


Itu ... Rain asli! Lea hanya mematung, rasanya kedua kaki Lea sulit bergerak. Lea tidak percaya jika dia akan bertemu Rain asli secepat ini. Ingin rasanya dia berlari dan kembali. Namun, kemana dia harus keluar dari tempat ini. Sementara Lea tidak tahu dimana dia berada.


Rain berjalan mendekat dan menarik tangan Lea.


"Aku ingin bicara dengan Kakak. Beberapa hari aku memohon pada Tuhan untuk bertemu denganmu, tapi belum di izinkan. Sekarang ... Sudah saatnya dan aku ingin bicara sebentar sebelum pergi dan juga waktunya habis."


Kedua mata Lea memanas. Jadi ... Benar? Tugasnya sudah selesai dan sekarang kehidupannya bukan lagi di dunia. Lea akan hidup bersama orang-orang yang telah meninggalkan untuk selama-lamanya. Di akhirat tempat Lea tinggal?

__ADS_1


"Rain ... Tugasku selesai?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibir Lea.


Gadis itu mengangguk. Lalu duduk di batu besar tadi bersama Lea. Rain memeluk Lea erat, sementara Lea hanya menepuk punggung Rain lemah. Dia menatap ke arah air terjun yang menenangkan. Lea harus bisa melepas semuanya dan melupakan itu. Baru saja dia merasakan kehangatan sebuah keluarga, indahnya cinta dan bertemu sahabat lama. Kini semua akan lenyap karena sang pemilik tubuh kembali.


"Kak Lea, aku berterima kasih karena papa sudah percaya jika aku dan Rean adalah anak kandungnya. Hubunganku dengan Rean membaik. Terima kasih juga karena Kakak sudah membalaskan dendam kepada Kenan dan sekarang lelaki itu menyesalinya. Aku tahu, perasaanku untuk Kenan terlalu dalam, sehingga kakak tidak bisa membenci Kenan sepenuhnya."


Rain menghela napas lega. Meski ada kesedihan di raut wajahnya dia berusaha untuk tetap tersenyum.


"Kenan lelaki baik, hanya saja Ella yang membuat dia seperti itu. Meski pada akhirnya hubungan pertunangan itu berakhir dan kakak memilih Kak Radit. Aku senang karena kakak bisa jatuh cinta."


"Emmm, sama-sama, Rain." Lea tidak bisa lagi berkata apapun.


Dia belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada semua orang yang dia kenal. Ah, lagipula untuk apa? Bukankah Rain akan tetap kembali dan dia adalah Lea yang sebenarnya memang sudah tiada?


"Aku memang gadis lemah dan menyerah karena terlalu lelah dengan semuanya. Kakak hebat, kakak wanita tangguh dan buat aku kagum."


"Kamu ... Juga gadis yang hebat, Rain. Bertahan sampai sejauh itu meski pada akhirnya menyerah."


Lea mengusap kepala Rain, gadis itu terlihat sangat cantik.


"Mama bahagia banget karena dia sudah mendapatkan keadilan. Melihat kedua orangtuanya bahagia dan menghabiskan waktu bersama ketiga cucunya. Mama berterima kasih padamu, Kak."


Lea tersenyum getir. Entah mengapa dia tidak rela jika Rain asli mengambil lagi kehidupannya. Ya, seharusnya kan memang begitu? Rain asli berhak atas tubuhnya.


"Aku minta ... Jangan benci Kenan meski kakak sangat mencintai Radit. Meski Kenan selalu menyakitiku tapi dia sebenarnya baik. Kakak juga sudah berhasil mengembalikan Kenan yang tersesat."


"Aku tidak membencinya."


"Jaga Rean ya, dia sedang jatuh cinta. Jaga Kenan dan juga Tante Gina. Suatu hari kakak akan tahu bagaimana Kenan yang sebenarnya." Rain menepuk pundak Lea.


Lea si gadis tomboy pun mengernyit bingung.


Melihat wajah Lea yang kebingungan membuat Rain tertawa.


"Apa?" tanya Lea.


"Pantas saja kak Radit sangat gemas. Kalau sedang bingung gemesin. Ah, iya yang kak Radit lihat itu kan aku."


"Rain, semoga kamu bahagia bersama Kenan. Katakan pada Radit jika Sandra memang cocok untuknya."


"Kenapa aku?" Kali ini Rain yang bingung.


"Kakak yang jalani, kenapa memberi pesan padaku? Kakak nggak perlu memaksa diri bersama Kenan agar aku bahagia. Sekarang ... Semua sudah selesai."


"Kau ... Benar."


Lea menghela napas. Ini sangat menyakitkan. Awalnya dia sangat menolak takdir dan ingin kembali ke dalam tubuhnya. Ketika semua tugasnya selesai ... Lea berpikir jika Rain asli akan mengambil alih kehidupannya, maka Lea sangat berat untuk melepasnya. Dia ... Sudah nyaman dengan kehidupan baru, dengan takdir yang sudah digariskan. Hidup di dalam tubuh anak remaja.


"Jadi ... Benar? Kau akan kembali?"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2