Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 44


__ADS_3

Rain menyusuri lorong-lorong sekolah yang masih sepi. Dia berjalan ke kelas dengan santai sambil mendengarkan lagu-lagu dari headset yang terpasang ditelinga. Hari ini Rain berangkat lebih pagi karena dia belum selesai mengerjakan tugas matematika. Semalam dia terlalu lelah hingga ketiduran di saat sedang mengerjakan tugas itu sebagian.


Ruang kelas yang sepi, membuat bulu kuduk Rain meremang. Kalau saja dia sudah mengerjakan tugasnya, pastilah dia enggan berangkat sepagi ini. Juga dia tidak serumah dengan Rean. Entah kemana lelaki itu semalam, dia tidak pulang ke apartemen.


Rain pun bergegas mengambil buku tugasnya dan mulai mengerjakan tugas itu dengan wajah yang serius. Tentu saja pekerjaan itu sangat mudah bagi Rain. Mengingat otaknya yang genius dan pernah duduk dibangku kuliah.


Suara derap langkah masih bisa Rain dengar karena telinga satunya tidak dipasang headset. Jantung Rain berdebar tidak karuan, entah mengapa suasana menjadi horor seperti ini. Biasanya dia tidak akan takut jika ada hantu sekalipun. Rain kembali mengerjakan tugasnya ketika pintu kelas terbuka. Jika itu hantu Rain sudah berencana untuk membuat hantu itu menyesal telah mengganggunya.


Bisik-bisik terdengar, membuat Rain mendongak.


"Lo berdua ngapain di sini? Bukannya kelas kalian bukan di sini?" tanya Rain. Kedua matanya memicing.


"Eum ... Gue ... Nyari Keyla, Rain. Katanya dia udah berangkat makanya gue samperin!" ucap salah satu gadis yang berdiri di dekat pintu.


Rain tidak menjawab lagi, dia juga sekilas melihat salah satu siswi itu membawa sebuah kotak. Rain pikir mungkin hendak memberikannya kepada Keyla.


Mereka berdua juga sudah keluar. Namun, Rain mendengar suara siswi tadi.


"Gagal deh kita! Tumben banget sih dia udah dateng!"


"Terus gimana dong, Len? Nggak mungkin kan kita bawa lagi ini kotak?"


"Gue tahu! Lo tenang aja!"


Lalu hening, tidak ada lagi dua orang itu. Rain merasa ada yang sedang mereka rencanakan. Mengingat Helen dan Sisi itu pernah membully nya ketika dia pertama kali sekolah. Lantas siapa yang akan menjadi target mereka? Jika itu Keyla, Rain tidak akan perduli.


"Kelar juga!" Rain menghela napas lega. Dia memasukkan kembali buku tersebut ke dalam laci.


Sebuah kotak bekal mendarat di mejanya. Rain mendongak, melihat siapa yang memberikan kotak itu.


"Aku tahu kamu dateng pagi banget terus belum sempat sarapan!" kata Radit.


Rain tersenyum, kebetulan sekali dia lapar dan hendak pergi ke kantin. Rain meraih kotak itu dan membukanya. Nasi goreng spesial. Aroma yang sangat menggugah selera.


Radit duduk di kursi sebelah Rain. Lelaki itu mengeluarkan susu kotak rasa vanilla.


"Makan yang banyak biar pinter."


"Iya, sayang."


"Kok kamu tahu kalau aku belum sarapan?" tanya Rain, karena dia tinggal di apartemen jadi mana mungkin kan Radit ke sana.


"Feeling aja," sahutnya.


"Kamu udah sarapan?"


"Udah, makan aja biar kenyang."


Rain mengangguk. Rain tidak tahu saja jika Radit sedang iseng mengambil fotonya diam-diam. Lalu mengunggah salah satu foto Rain di akun sosial medianya.


Dengan caption, "Sarapan pagi kamu nasi goreng spesial, kalau aku cukup liatin kamu yang spesial."


Tidak lama setelah itu notifikasi masuk. Banyak sekali komentar pada foto Rain. Ya maklum, Radit itu banyak fansnya. Bahkan ketika hubungannya dengan Rain dipublikasikan saja, banyak yang berkomentar negatif maupun positif.


Namun, ketika Radit membaca komentar-komentar di foto yang baru saja dia unggah itu ... Membuat Radit terkejut. Biasanya mereka para fans Radit akan merasa iri dengan ke uwuan Rain dan Radit. Berbeda dengan saat ini. Banyak yang memaki kekasihnya itu.


"Oh, jadi rupanya gadis ini pelakor."


"Dapetin Radit dari jalur sok cool!"


"Cantik sih, tapi sayang rebut tunangan orang!"


"Gue yakin dia pura-pura sakit biar Radit kasih makan."


"Apa istimewanya gadis ini? Urakan iya. Masih mending Gwen kemana-mana."


"@GweenCans, yang sabar ya. Lo pasti bisa kok dapetin Radit kembali."


"Si paling oke. Padahal miskin! Nggak pantes banget deh bersanding sama seorang pangeran. Mending ngangkang aja di depan om-om!"


"Eh, dia ini cewek gatel lho! Masa suka bareng sama Rean. Ada lho foto mereka berdua. Gila sih kalau Radit mau sama dia. Mungkin udah nyerahin tubuhnya jadi semua lelaki mau sama dia!"


Radit tidak menyangka jika komentar mereka akan sepedas ini. Lelaki itu tahu siapa penyebab jari jahat mereka mengetik kata-kata yang menyakitkan. Radit tidak akan tinggal diam.


"Sayang, ih!"


"Ya?" Radit segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Aku panggil dari tadi! Kamu kenapa?"


"Oh, maaf. Tadi aku lagi baca novel aja,"jawab Radit berbohong.


Dia tidak mau Rain tahu, meski Radit tahu jika kekasihnya pasti akan buka sosial media. Ya, walaupun jarang. Apalagi kekasihnya ini sangat tidak terlalu suka mengunggah apapun di akun sosial medianya.


"Rain, boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?" Rain meminum susu pemberian Radit. Sarapannya telah habis.


"Kenapa kamu nggak publik aja sih soal identitas kamu!" tanya Radit hati-hati.

__ADS_1


Seharusnya ketika masalah telah selesai memang rencananya Rain akan mengikuti kemauan papanya untuk mempublikasikan dirinya. Bukan hanya Rean dan Ando saja. Namun, mengingat banyak kemungkinan yang terjadi, juga dia tidak mau dunia terlalu menyorotinya hanya karena putri seorang konglomerat nomor dua di negeri ini. Bahkan Rain juga tidak mau jika semua prestasi dan apapun yang ingin dia raih dari hasil usahanya nanti, pasti semua orang mengatakan bahwa keberhasilan itu karena ada pengaruh Damian.


"Nggak! Aku nggak mau kalau sampai orang tahu siapa aku. Mereka pasti akan memanfaatkan aku, bahkan pasti ada orang baik yang bertopeng. Terlebih para fans Rean yang pastinya akan mendekati aku agar bisa dekat dengan Rean. Semua sudah aku pikirkan matang-matang."


"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti ini?" tanya Rain menyelidik.


"Enggak, aku kan cuma nanya aja. Takutnya orang berpikir negatif jika kamu sama Rean. Sedangkan aku pacar kamu."


"Kamu cemburu?" tebak Rain.


Sebenarnya Rain juga berpikir seperti itu. Dia selalu dekat dengan Rean karena dia kakak kembarnya. Tentu saja orang yang melihat ini pasti akan berpikir negatif. Apalagi sekarang hubungannya dengan Radit sudah banyak yang tahu.


"Bukan gitu, hanya saja___"


"Iya ya aku nggak kepikiran. Ya awalnya kan mereka tau aku berteman. Ya sudah nanti aku coba jauhin...."


Ucapan Rain tidak dilanjutkan karena terdengar kehebohan di luar sana. Rain segera melihat ke arah jendela. Rupanya kedatangan Rean bersama Mentari lah yang membuat kehebohan.


"Rain, gawat!" Mia yang baru saja datang dengan napas tersengal-sengal bahkan dia sampai tidak menyadari kehebohan para fans garis keras Rean.


Radit pun bangkit dari duduknya. Mempersilahkan pemilik bangku di sebelah Rain duduk.


"Apa sih?" tanya Rain santai.


Mia menepuk keningnya, "Kak, maaf ya. Gue nyampe lupa kalau ada Lo. Gue pinjem Rain bentar ya!" Mia tersenyum kikuk.


"Iya santai aja!" jawabnya. Lalu mengalihkan pandangan ke arah Rain. "Aku balik ke kelas dulu ya. Nanti kayaknya nggak bisa nemenin ke kantin. Aku ada rapat osis."


"Iya nggak apa-apa. Aku bisa sama Mia."


"Gawat, Rain!" Mia menggoyangkan bahu Rain ketika Radit sudah pergi.


"Apa sih, Mi?" Rain bergegas mengeluarkan buku tugasnya yang sudah selesai tadi. "Lo belum ngerjain tugas?" tanyanya.


Mia nyengir. Dia pun meraih buku itu dan segera menyalinnya. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang tinggal beberapa menit saja.


Sementara Rean dan Mentari baru tiba dan mereka duduk di bangku masing-masing.


"Woilah, penganten baru romannya semalam nyetak gol sampai dihubungi susah banget!" sindir Reno yang baru saja datang.


Rean memasang wajah datar, meski dia tahu sindiran itu ditujukan untuknya. Awas saja jika sudah mendekat. Dia akan kasih Reno pelajaran.


"Mentari, gimana rasanya semalam?" tanya Reno yang sudah duduk dibelakang Mentari.


"Ren, Lo mau gue tendang ke antartika atau gue kasih contekan?"


Mata Reno berbinar ketika mendengar kata contekan.


Pletak


Rean memukul kepala Reno dengan buku miliknya.


"Jijik gue!"


"Haha, udah sini!" Reno langsung menyambar buku milik Rean.


Mentari hanya menggeleng saja melihat tingkah kedua teman sekelasnya itu. Mentari menatap ke arah Rain yang asyik memainkan ponselnya. Sejak kedatangannya tadi gadis itu hanya diam saja. Biasanya paling antusias memojokkan Rean.


Apa Rain tahu ya semalam aku sama Rean makan malam? Jangan-jangan Rain tahu jadi dia salah paham.


Sementara Mia sibuk menyalin tugas matematikanya. Rean? Dia melirik ke arah lelaki itu yang ternyata sedang menatapnya.


"Lo kenapa gelisah gitu?" tanya Rean.


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Mentari lalu memilih membuka buku paketnya.


Rean melirik ke arah Rain yang sejak tadi diam saja. Seolah tidak perduli dengan kehadirannya. Ada apa dengan gadis itu. Rean menatap layar ponsel milik Rain. Terlihat gadis itu sedang membuka akun Instagramnya dan membaca komentar entah dari status siapa. Biasanya gadis itu tidak akan pernah kepo.


Rean ikut membuka ponselnya. Ketika dia membuka akun Instagramnya, status yang pertama muncul adalah status Radit dengan jumlah komentar yang membludak. Hampir dua ribu komentar.


Rupanya foto Rain yang di ambil candid oleh Radit itu mendapatkan komentar buruk. Rain dituduh selingkuh dengan Rean karena baru-baru ini Rean memposting kebersamaan mereka. Bahkan nama gadis yang tidak Rean kenal pun dibawa-bawa.


Siapa Gwen?


Tunangan Radit?


Rean tidak akan segan-segan memberi pelajaran pada lelaki itu jika sampai menyakiti hati Rain. Bahkan Rean lihat, tidak ada tanda-tanda Radit membela Rain di akunnya. Tidak ada lagi postingan apapun untuk menunjukkan sisi baik Rain.


Ini yang Rean takutkan jika Rain tidak mau mengakui siapa dirinya yang sebenarnya. Ketika memiliki pasangan maka kedekatannya pasti akan bermasalah. Rean sangat ingin bisa leluasa menggunggah kebersamaan dengan adik kembarnya itu.


Daripada frustasi memikirkan Rain, Rean juga memiliki ide untuk mengambil foto Mentari secara diam-diam.


"Si jelek😍." Begitu caption Rean pada postingannya.


"Ha? Demi apa?" pekik salah satu siswi teman sekelas Rean.


Para fans garis kerasnya selalu menunggu update status Rean setiap saat. Berharap Rean akan memposting fotonya. Namun, selalu saja dia posting foto bersama Rain.


"Gue juga mau. Ah, so sweet banget!"

__ADS_1


Keyla yang melihat status Rean pun semakin jengkel dengan Mentari. Apalagi gadis itu sibuk dengan bukunya.


"Sok-sokan baca buku!" gumam Keyla.


Rean tersenyum ketika beberapa orang berkomentar positif tentang Mentari. Namun, ada juga yang memojokkan Rain. Lelaki itu gatal sekali ingin mengatakan kepada dunia bahwa mereka kembar.


Rean mencolek Mia karena Rean duduk dibelakang gadis itu. Mia baru saja selesai menyalin tugasnya pun menoleh.


"A__" Mia tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Rean sudah meletakkan jarinya di bibir Rean sendiri.


Rean mengibaskan tangannya, memberi isyarat pada Mia supaya minggir. Mia melirik ke arah Rain yang wajahnya tertutup oleh rambut. Mia akhirnya minggir sebentar.


"Ikut gue!" Rean sudah menarik paksa Rain.


Rain yang hatinya sedang jengkel juga bercampur sedih belum siap dengan tarikan dari Rean. Hampir saja gadis itu jatuh. Mentari yang melihat itu seketika hatinya sedikit sakit, tapi dia tidak mau egois. Toh Rean dan Rain memang sedekat itu. Mungkin Rean akan menjelaskan tentang kejadian semalam pada Rain.


"Lo tahu kan? Kalau Rean itu nggak suka sama lo!" kata Keyla yang duduk di seberang Mentari.


Mentari diam saja, dia melanjutkan membaca kembali. Namun, pikirannya masih menuju Rain. Dia tidak enak jika Rain salah paham. Jika nanti Rain kembali masih diam, maka Mentari berniat istirahat nanti akan menjelaskannya.


**


"Gue udah baca, Rain! Ini yang gue takutkan! Please, Lo nurut sama gue supaya bokap kasih tahu kalau Lo anak dia juga! Biar semua orang tahu kalau kita kembar!" kata Rean. Mereka sekarang berada di rooftop.


"Gue nggak mau, Bang! Nanti__"


"Semua orang manfaatin elo? Semua orang pasang topeng di depan Lo? Rain, Lo tuh jadi cewek mikir ke situ mulu sih! Buat apa Lo jago dalam bidan apapun kalau otak Lo aja dangkal begini!"


"Lo kan bisa pilah-pilih teman. Mia contohnya yang dulu nggak tahu Lo siapa tetep berteman kan? Bahkan sekarang dia tahu siapa Lo tetep biasa aja, dia juga nggak ember kan? Lo harus mikir efeknya Rain. Bukan buat gue juga, Lo juga pasti kena. Orang akan mikir kalau gue ini punya hubungan spesial sama Lo, tapi gue jalan sama cewek lain!" Rean meremas rambutnya frustasi. Entah mengapa Rain bisa sesantai ini menyikapi masalah yang menurutnya memusingkan.


Apa susahnya sih mengatakan kalau mereka kembar. Hanya itu supaya mereka bebas berbuat apa saja.


"Udah ah, males. Gue mau ke kelas!" Rain pun membalikkan tubuhnya.


"Kalau gitu gue yang bakal umumin ini, supaya mereka tahu kalau Lo kembaran gue!"


Rain menghentikan langkahnya, dia kemudian berbalik dan menatap Rean. "Serah Lo deh, Bang. Kalau menurut Lo bagus. Saran gue tapi, gue males berurusan sama fans Lo itu. Gue bisa gila kalau di teror seperti waktu kita SD dulu! Apa Lo lupa?" tanya Rain.


Rean tentu saja ingat, juga tahu penyebab Rain tidak mau menggunakan nama Klopper dibelakangnya. Rain tidak mau dekat dengannya ketika di sekolah, juga Rain tidak mau jika Damian muncul di sekolah ketika mengambil raport miliknya. Sejak dulu Rain selalu meminta salah satu pelayan untuk mengambilkan rapot miliknya. Dia tidak mau di teror oleh fans Rean yang terlalu berlebihan. Mendekati Rain demi mendapatkan Rean.


Rean kemudian memeluk Rain, "Maaf ya, gue cuma nggak mau Lo sakit hati atas komentar pedas dari fans Radit!" ucapnya dengan nada yang sudah rendah.


"Udah biasa, dengan mudah gue bisa urus mereka!"


Rean lupa jika adiknya ini seorang hacker yang hebat.


"Iya deh, gue nggak mau Lo kecewa sama Radit. Kalau tuh cowok nyakitin Lo, bilang ke gue!"


Rain mengangguk.


"Senyum dong, kenapa dari tadi muka di tekuk?" Rean mencubit kedua pipi Rain.


"Ish, sakit, Nyet!" Rain menepis kedua tangan Rean. "Gue males sama Lo! Nginep di rumah nggak bilang-bilang. Gue lupa belum ngerjain tugas tahu nggak? Lo sampai lupa sama gue saking asyiknya kencan sama Mentari!" ujar Rain.


Rean tentu saja terkejut. Darimana adiknya ini tahu jika semalam Rain jalan sama Mentari.


"Gue nggak akan halangin hubungan Lo asal Lo itu tulus sama dia!" Rain mendorong tubuh Rean.


"Lo tahu darimana gue sama dia semalam?"


"Nggak penting!"


***


Ketika istirahat tiba Mentari langsung menarik tangan Rain saat gadis itu hendak keluar bersama Mia.


"Rain, aku minta maaf ya?" kata Mentari.


Rain mengerutkan keningnya, dia tidak paham dengan ucapan Mentari. Kenapa tiba-tiba minta maaf? Rain menatap sekitar kelas yang memang sudah sepi.


"Ada apa, Tari?" tanya Mia.


"Aku ngaku salah. Nggak seharusnya aku mengiyakan ajakan Rean. Maaf, Rain. Gara-gara aku, kamu marah sama Rean. Ini bukan salah Rean tapi salah aku." Mentari menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah Rain.


Mia yang mendengar itu mengulum senyum. Rain mana ada marah sama Rean hanya karena jalan sama Mentari. Mia sudah menduga jika Mentari menganggap Rean dan Rain memiliki sebuah hubungan.


Rain menepuk pundak Mentari, "Lo nggak perlu minta maaf sama gue! Lo nggak salah apapun!" kata Rain.


"Aku salah, Rain. Aku nggak ada niat buat bikin kalian bertengkar!"


Rain sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Membuat Mentari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa ucapannya ini terdengar lucu ya. Begitu juga dengan Mia yang ikut tertawa.


"Lo ngira Rain pacaran sama Rean?" tanya Mia.


Mentari mengangguk dengan tampang polosnya.


"Tari, dengerin gue ya!" Rain menarik dagu Mentari untuk menatapnya. "Gue sama Rean itu nggak mungkin pacaran. Sampai kapan pun. Rean emang cakep banget, kalau gue bisa pacarin dia udah gue pacarin sejak dulu. Sayangnya itu nggak mungkin apalagi gue juga bosen sama dia sejak bayi bareng dia terus!"


Mentari melongo mendengar ucapan Rain. Maksudnya gimana? Sejak bayi sama Rean? Jadi mereka sahabatan?

__ADS_1


Ah, ya kedua orangtuanya mungkin menjodohkan mereka sejak bayi. Itu yang Mentari pikirkan. Dia berniat untuk menjauhi Rean mulai sekarang. Meski rasa cintanya sudah terlalu besar.


Bersambung...


__ADS_2