Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 22


__ADS_3

Bab 22


Rain memilih keluar dari area yang membuatnya sesak napas. Dia menuju taman yang ada di hotel. Langkahnya terhenti saat melihat siluet lelaki yang sedang bercengkrama dengan seorang perempuan. Dia mengacak rambutnya penuh sayang, lalu mencubitnya.


Hati Rain terasa sakit, langkahnya semakin lebar dan dia memilih duduk pada bangku taman yang tersedia. Pencahayaan yang tidak terlalu terang tapi sinar bulan menerangi wajah Rain, terlihat jelas jika wajahnya sendu.


"Apa ini? Kenapa sakit sekali? Bukankah aku tidak ada perasaan apapun padanya?" gumam Rain.


Rasanya air mata itu ingin tumpah. Rain segera mendongak untuk mengurangi sesak di dada. Menatap langit yang begitu cerah malam ini. Bintang bertaburan menemani bulan sabit di tengahnya. Sungguh indah.


"Rain," panggil seorang lelaki yang sudah sangat Rain hafal.


"Gue cariin dari tadi!"


Rain menghela napas dan menatap lelaki itu penuh kebencian. Buat apa berbasa-basi lagi?


"Oh, ya?" sahutnya.


Lelaki itu duduk di sebelah Rain tanpa permisi.


"Gue ... Minta maaf ya," ucapnya, sambil menatap lurus ke depan.


"Sayangnya gue nggak perduli!" Rain hendak bangkit, tapi segera mungkin lelaki itu mencegahnya.


"Rain, kasih gue kesempatan buat perbaiki semuanya!" Wajah lelaki itu memohon. Berharap Rain akan mau memaafkan semua kesalahannya.


Rain menghentakkan tangannya. Tatapan tajam itu dia tunjukan. Rasa sedihnya hilang begitu saja berganti rasa emosi yang memuncak. Ingin sekali dia meninju lelaki yang sudah membuat moodnya semakin buruk. Jika tidak ingin sedang berada di sebuah acara besar dan banyak orang penting di dalam, Rain sudah membuat lelaki di hadapannya ini babak belur.


"Setelah gue menyerah Lo dengan santainya dateng lagi?" Rain menunjuk lelaki itu, "Dengar, sampai kapanpun gue nggak akan kasih kesempatan buat Lo lagi!" ucap Rain tegas.


"Rain, dengerin gue dulu!" Lelaki itu terus mengejar Rain.


"Apa lagi?" Rain menoleh, mendapati sosok gadis yang memasang wajah cemberut.


Rain sudah menduga ini, sebentar lagi akan ada drama yang memuakkan.


"Jangan pernah kejar gue lagi!" Rain mendorong dada bidang lelaki itu. "Cewek Lo di belakang. Dia cemburu. Lebih baik kenalin sama orang tua Lo dan katakan pertunangan kita selesai!" Rain menahan gejolak emosinya yang bercampur dengan rasa sedih. Ingin sekali dia menangis sekencang mungkin.


Rain terus melangkah ketika melihat Ella datang mendekat. Rain sudah muak dengan sandiwara gadis itu. Dia lebih baik menyendiri daripada harus terlibat dengan dua orang menyebalkan yang membuat moodnya semakin tidak karuan. Apalagi tadi melihat Radit bersama wanita lain.


"Pantesan kemarin teleponnya langsung di tutup. Rupanya lagi sama tuh cewek. Lebih cantik dan anggun!" gerutu Rain sambil melangkah. Dia menendang batu kerikil. Satu tangannya sudah menenteng heels yang menyiksa kakinya.


Rain sudah berganti sandal jepit yang dia temukan saat hendak duduk di taman tadi. Entah punya siapa, kebetulan juga pas di kakinya.


"Dasar bego! Ngapain coba gue marah begini! Awalnya juga gue iseng biar si Kenan cemburu. Kena batunya kan Lo sekarang, Rain!" Sepanjang perjalanan Rain terus ngedumel. Jika ada yang melihat mungkin orang akan mengira Rain sedikit tidak waras.


Tanpa sadar gadis itu sudah berjalan jauh dari hotel. Sekarang ... Dia baru merasa lelah dan memilih menyerah. Duduk di sebuah bangku yang tersedia di trotoar. Jalanan itu terlihat sepi. Hanya beberapa motor maupun mobil yang sesekali lewat. Malam juga semakin larut.


Rain menghela napas panjang, dia melempar apapun yang ada di hadapannya. Entah batu atau botol minuman untuk mengurangi semua perasaan yang berkecamuk dihatinya. Rain mengangkat tangan kiri, ada heels yang dia tenteng ingin dilempar tapi dia urung.


Rain merasa lelah dengan kehidupan ini, dia merasa menjadi sosok Rain itu sangatlah sulit. Banyak sekali masalah yang terjadi dan itu menguras tenaganya.


Gadis itu mendongak, "Tuhan, boleh nggak aku balik lagi ke tubuhku yang dulu?" Rain sudah pasrah.


Menjadi Lea sangat menyenangkan, tidak ada permasalahan di keluarganya. Hanya permasalahan antar geng motor atau musuh Rain si bandar narkoba. Menjadi Lea juga tidak memiliki beban berat. Hanya skripsi yang membuatnya pusing. Dia bebas melakukan apa saja karena memang kedua orangtuanya yang sibuk.


Sementara menjadi Rain? Dia harus memecahkan rahasia yang rumit. Kalau boleh meminta lagi, Rain ingin kembali ke tubuhnya. Dia mau menjadi Lea, tidak perduli meski harus berurusan dengan para preman yang membunuhnya. Tidak perduli dengan kehidupan Rain ini. Masa bodoh jika Rain menyerah dan tidak mau bertahan lagi. Dia lelah, dia ingin bebas menikmati kehidupannya seperti dulu saat menjadi Lea.


"Tuhan, kalau aku harus bertahan tolong dong, aku ingin nikmatin masa remaja ini. Jadi ... Kirimkan aku pangeran berkuda putih." Rain membayangkan sosok lelaki tampan yang akan membahagiakan hidupnya.


"Biarkan aku merasakan jatuh cinta dan juga di cintai!" Gadis itu tersenyum miris.


Meratapi semua yang terjadi, terjebak dalam kehidupan yang dia sendiri tidak tahu apa permasalahannya. Tidak mengenal pemilik tubuh gadis bernama Rain, tapi dia harus melanjutkan perjuangan hidupnya demi mendapatkan keadilan dan pengakuan dari Damian.


"Orang kaya memang rumit!" gumamnya.


Ah, banyak sekali keluhan gadis bermata bulat itu malam ini. Rain terlihat tidak karuan, seolah tidak memiliki semangat hidup lagi.


"Rain, dateng Lo sekarang! Gue udah bongkar satu kebusukan. Kalau semua baik-baik aja, Lo balik deh di tubuh Lo ini! Gue mau pergi soalnya!" ucap Rain pada langit, seolah di atas sana ada seseorang.


Rain mendesah, dia mengambil heels yang diletakkan di sampingnya. Melemparnya asal tanpa perduli mengenai apapun.


"Aduh!"


"Mampus!" Kedua mata Rain melotot. Dia setengah merinding karena melihat sekitar jalanan yang sepi.


"Suara apa tadi? Manusia bukan ya?" tanya Rain entah pada siapa.

__ADS_1


Di seberang jalan tempat Rain duduk memang gelap karena cahaya temaram, banyak pohon-pohon besar. Jadinya dia tidak tahu ada apa di sana.


Rain memilih duduk di bangku yang ada di belakangnya. Jadi membelakangi pohon-pohon itu.


"Jadi ... Lo yang lempar sepatu ini?"


Rain mendongak, menatap lelaki dengan setelan tuxedo. Lelaki itu terlihat tampan dan lebih dewasa. Ah, Rain sangat memuja ketampanan itu dan ketakutan yang tadi hadir hilang begitu saja. Namun, saat mengingat kejadian di hotel tadi ... Rain langsung mengerjapkan matanya dan memalingkan wajahnya.


"Gue nggak sengaja!" Rain meraih heelsnya dan memilih pergi dari hadapan lelaki itu.


"Tuhan, ini bukan pangeran. Tampan sih tapi nyakitin!" batin Rain.


Lelaki itu menarik pergelangan tangan Rain. Hampir saja gadis itu jatuh karena tarikan yang sangat kencang. Beruntung lelaki itu dengan sigap menahan tubuh Rain. Sesaat mereka saling memandang. Mengagumi satu sama lain. Rain segera sadar dari kekagumannya itu dan kembali berdiri tegak.


"Ck, gue kan nggak sengaja. Lagian Lo nggak kenapa-kenapa!"


"Kepala gue sakit lho! Untung aja nggak gegar otak!" keluhnya sambil mengelus kepalanya yang memang sakit.


"Bodo amat!" Rain benci tapi sekaligus senang karena bertemu lagi dengannya.


"Kamu kenapa sih?" Lelaki itu menahan tangan Rain agar tidak pergi lagi.


"Di sana itu jalan sepi banget! Kamu mau jalan kaki sampe rumah?"


Rain juga sebenarnya sudah takut, ini aja jalan lumayan jauh dari hotel tadi karena saking kesalnya sama Kenan. Juga cemburu melihat Radit bersama cewek lain.


"Aku tadi panggil kamu, tapi malah diem aja. Terus ada Kenan tadi lagi deketin kamu. Kalian ... Udah baikan?"


Jadi dia lihat aku? Kenapa nggak ngejar coba?


"Nggak usah kepo urusan orang lain!" Rain masih saja ketus.


"Oke!" Lelaki itu mengajak Rain duduk kembali. " Gue ikutin Lo tadi setelah tahu kalian bertengkar. Lo jalan cepet banget sampe gue capek!" Lelaki itu memijit kakinya.


Ngapain dia ngejar aku? Bukannya udah punya cewek baru ya? Mungkin cewek itu tahu kalau dia dijadikan selingkuhan.


"Rain, kamu kenapa sih marah gitu? Aku ada salah ya?"


"Iya Lo ada salah! Nggak peka banget jadi cowok!" Tentu saja itu Rain katakan dalam hati.


"Nggak mau, gue bukan anak kecil yang bisa dibujuk pakai cokelat!"


"Ya udah!" Lelaki itu kembali mengantongi cokelat yang memang sengaja dia beli untuknya.


"Rain, maaf ya kemarin aku bersikap cuek. Habisnya kamu gitu sih kalau nggak dihubungi duluan nggak pernah mau menghubungi aku!" keluhnya.


Rain sebenarnya juga bingung hubungannya dengan Radit. Ya, lelaki itu adalah Radit. Dia hanya memanfaatkan saja. Mau mengirim pesan duluan juga canggung. Rain belum pernah merasakan jatuh cinta dulu saat menjadi Lea. Rain juga tidak tahu harus bagaimana bersikap dengan pasangannya. Rupanya Radit menganggap serius hubungan ini. Meski di sekolah mereka seakan tidak mengenal satu sama lain. Mereka menyembunyikannya hubungan ini karena Kenan. Radit tidak ingin ada keributan dan merembet ke gengnya hanya karena cewek. Rain juga tidak mau jika berurusan dengan fans fanatik Radit.


Jadi mereka sama-sama untuk tidak mempublikasikan hubungan itu. Meski sebenarnya Kenan tahu, tapi hanya tahu jika Rain dan Radit sekadar dekat saja. Dia tidak melarang karena dirinya juga memiliki hubungan spesial dengan Ella. Bagi Kenan yang terpenting nanti menikah dengan Rain.


Rain yang cuek kini membuat Radit lelah dan juga gemas. Dia selalu mengharapkan kabar dari Rain. Berkali-kali mengirim pesan pun tidak pernah di balas. Dia akan membalas jika di bom telepon. Itu juga singkat saja. Maka dari itu kemarin Radit bersikap dingin padanya. Apa Rain akan berubah, nyatanya sama saja. Malah Rain menjadi marah dan itu membuat Radit gemas. Rupanya sekarang Rian memiliki perasaan padanya.


"Lo bukannya tadi sama cewek Lo? Kasian tuh ditinggal sendirian. Sana pergi gue pengen sendiri!" usir Rain. Dia juga tidak menanggapi ucapan Radit tadi.


Sungguh lelaki itu ingin tersenyum melihat Rain jengkel. Kedua telinganya juga memerah karena menahan emosi tentunya.


"Memangnya kenapa kalau aku di sini, kamu juga cewek aku kan?"


Juga cewek aku? Bener dong yang tadi itu pacar Radit?


"Dah sana pergi, kasian ceweknya nungguin. Gue mau sendiri di sini!" Rain mendorong bahu Radit. Lelaki itu enggan untuk beranjak.


Radit menahan tawanya membuat bibir lelaki itu kaku. Dia telah berhasil mengerjai Rain. Gadis itu cemburu itu berarti Rain memang sudah memiliki perasaan padanya.


Radit menarik bahu Rain dan memaksa gadis itu untuk bersandar di dadanya. Meskipun gadis itu berontak tetap saja Radit paksa.


"Dengerin detak jantung aku!" Rain pun menurut saja meski jantungnya juga jumpalitan saat dekat dengan Radit. "Debaran ini lebih kencang saat deket sama kamu!" Satu tangan Radit mengelus kepala Rain.


Radit meraih tangan Rain untuk di letakkan di dadanya juga,"Jadi ... Kamu harus tahu kalau di hati ini ada kamu!" Radit memperhatikan wajah Rain. Meski hanya diterangi cahaya bulan tetap saja terlihat memerah wajah gadis itu.


"Dia adik aku yang baru datang dari luar negeri. Kamu cemburu?"


Blusss


Wajah Rain semakin memerah. Dia sangat malu, kenapa baru tahu kalau Radit punya seorang adik. Dia juga tidak melihat seksama wajah gadis tadi. Rasa sakit hatinya sudah menguasai seluruh tubuhnya.


Rain menyembunyikan wajah di dada lelaki itu. Dia tidak mau menatap lelaki itu karena malu. Radit terkekeh melihat tingkah Rain ini. Dia begitu ... Menggemaskan.

__ADS_1


"Makanya nanya dulu dong!"


"Siapa coba yang nggak negatif thinking. Kemarin tiba-tiba ada suara cewek terus telepon kamu matiin!"


Kini Radit tertawa geli, itu memang rencananya. Dia ingin mengetahui perasaan Rain yang sebenarnya. Namun, dia enggan untuk jujur. Memilih tertawa saja daripada Rain marah lagi.


"Maaf, aku kaget aja ada Hanna. Dia pasti cerewet banget. Makanya aku matiin!" kilah Radit.


"Maaf ya." Radit menunduk dan mencoba melepaskan pelukan Rain.


"Jangan di lepas. Biarin gini aja. Aku malu!"


Mendengar gaya bicara Rain yang sudah kembali, Radit merasa sangat senang. Akhirnya hubungan mereka akan baik-baik saja. Radit juga senang karena Rain memiliki kecemburuan. Jadi usahanya tidak sia-sia. Cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan.


***


Rena terus memandangi gadis yang tadi tidak sengaja menabraknya. Gadis itu sangat cuek dan hanya meminta maaf lalu pergi. Dia berbeda dengan gadis pada umumnya. Jika mereka akan dengan senang hati bertemu Rean yang memiliki visual tampan banyak penggemar tapi dingin. Maka berbeda dengan gadis tadi. Tidak menjerit histeris dan bersikap berlebihan.


Wajah gadis itu pun memenuhi otak Rean. Ingin sekali mencarinya dan mengajak kenalan tapi Rean tidak menemukannya.


"Pangeran sedang mencari seorang permaisuri. Jika biasanya dia akan dikejar maka kali ini dia akan mengejar," celoteh Reno.


"Apaan sih!"


Reno terkekeh, dia yang melihat kejadian tadi karena memang Rean sedang mengobrol dengannya.


"Ngomong-ngomong, dimana adek Lo? Cantik banget malam ini. Gue jadi naksir!"


Rean langsung menatap tajam Reno. Nyali lelaki itu menciut dan memilih pergi saja. Daripada dia akan ditelan mentah-mentah oleh Rean. Dia masih ingin hidup.


"Gue masih mau hidup, Ren!" Reno menepuk bahu Rean dan pergi begitu saja.


*


Livia terus bergerak gelisah saat Dion mempermainkannya. Dion menyudahi permainan tangannya di area sensitif Livia. Gadis itu merasakan pusing karena menahan gejolak yang ingin keluar. Livia memasang wajah kecewa. Ingin mengatakan agar Dion melanjutkan permainan tapi dia malu.


Dion menatap wajah Livia yang menggigit bibir bawahnya. Lelaki itu tersenyum puas. Malam ini dia akan membuat Livia memohon padanya.


"Kenapa, sayang?" tanya Dion, suaranya membuat tubuh Livia kembali menegang.


Livia menggeleng, kedua tangannya meremas seprei dan dia menggigit bibirnya kuat. Hingga mengeluarkan darah.


"Lo pengen gue begini?" Dion kembali memasukkan dua jarinya pada inti tubuh Livia.


"Aaahh, i-iya, Kak!"


Dion melanjutkan lagi lalu berhenti di saat Livia sudah hampir mencapai puncaknya. Lagi dan lagi Livia kecewa dan dia bergerak gelisah.


"Memohonlah jika Lo pengen gue lakuin ini lagi!"


Livia sudah pasrah, dia tidak perduli lagi dengan rasa malunya itu. Dia tidak tahan dan ingin segera keluar, meraih kenikmatan yang menjatuhkannya ke dalam lubang dosa.


"Kak, puaskan aku. Aku mohon!" ucap Livia.


Dion tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya dia bisa membuat Livia memohon.


"Begini ya?" Dion kembali memasukkan dua jarinya. Kali ini dia membiarkan Livia meraih puncak kenikmatannya.


Dion benar-benar memuaskan Livia malam ini. Pemanasan yang hampir satu jam itu akhirnya Dion memasukkan miliknya yang sudah sangat menegang.


Livia berkali-kali meraih kenikmatan. Hingga tubuhnya melemas. Ini benar-benar hal yang luar biasa. Dia baru mendapatkannya meski sering melakukan hubungan **** dengan Dion tapi malam ini benar-benar luar biasa. Livia sangat menyukainya. Moment di hari ulang tahun yang mengesankan.


"Kak, aku sakit!" Livia memegangi area dua gunung kembarnya yang terlihat membengkak setelah selesai permainan.


Tiga jam mereka melakukan pergulatan. Meski kamar hotel itu menggunakan AC tetap saja suasana ikut menjadi panas. Tubuh Dion dan Livia pun penuh dengan keringat.


Dion langsung menyesap salah satu gundukan kenyal milik Livia. Cairan itu ... Cairan yang selama ini dia inginkan akhirnya keluar juga. Rupanya apa yang dia lakukan pada Livia membuahkan hasil. Dia bisa mendapatkan kekuatan dari sumbernya secara langsung. Selama ini Dion diam-diam memang mengkonsumsi asi dari pendonor di rumah sakit yang tersedia. Dia selalu mengambil stok seminggu. Tidak ada yang tahu tentang kebiasaan Dion ini.


Livia meringis karena rasa sakit yang luar biasa. Juga rasa lega saat Dion menyesap kencang seperti bayi yang sangat kehausan. Mereka belum membersihkan diri bahkan memakai pakaian. Dion terus menyusu seperti bayi, terus berganti kanan dan kiri, hingga gunung kembar Livia mengeluarkan lebih banyak asi.


Dion menyesapnya hingga dia meras kenyang dan terlelap dalam tidurnya. Livia tersenyum melihat tingkah kakaknya yang menggemaskan seperti bayi. Sesekali bibir itu masih bergerak meski kedua matanya terpejam. Livia ikut memejamkan mata saja karena sudah sangat lelah.


Hari ini dia merasa sangat bahagia. Acara ulangtahun yang sempurna, perjodohan dengan lelaki tampan dan bisa menyusui sang kakak. Itu berarti sang kakak akan lebih menyayanginya.


"Love you, Kak!" bisik Livia.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2