
Bab 39
Sepulang dari rumah Kenan, Rain harus mampir dulu ke perusahaan milik sang papa. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, sebenarnya Rain sangat malas jika saja Damian tidak memaksanya. Hubungannya dengan Damian dan juga Ando semakin membaik meski Rain masih saja cuek dengan mereka.
Damian berkata jika ada hal penting yang ingin dia katakan. Padahal bisa saja nanti di rumah atau di telepon misalnya. Namun, lelaki itu tetap memaksa karena Rain tidak akan pernah mau berbicara ketika sudah masuk kamar.
Gadis itu selalu sibuk dengan ponsel atau layar laptopnya.
Ketika sampai di lobby perusahaan itu, Rain hendak menuju pintu lift khusus Presdir dan para pejabat tinggi lainnya. Dia enggan memakai lift khusus karyawan karena sedang mengantri.
"Hey, kau gadis berseragam SMA!"
Rain menatap kiri dan kanan karena hanya dia yang sedang memakai seragam sekolah. Dia lupa tidak membawa jaket tadi.
Rain menoleh ke belakang, ada resepsionis dengan tatapan sinisnya.
"Ini lift hanya khusus Pak Damian dan petinggi lainnya. Tidak boleh digunakan sembarang orang!" kata wanita dengan rambut yang dikuncir kuda itu.
"Oh, kalau saya maunya di sini bagaimana?" Rain melipat kedua tangannya.
"Kamu anak magang ya? Kebiasaan sekali anak magang seenaknya. Ayo pindah kemari!" Wanita itu menarik lengan Rain untuk pindah ke lift sebelah.
Ada enam orang yang masuk ke dalam lift itu. Dia malas sekali jika harus berdesak-desakan.
"Nanti aja nunggu mereka naik!" jawab Rain santai.
Wanita bernama Fika itu hanya menggeleng heran saja.
"Kamu anak baru kah? Sepertinya aku belum lihat kamu sama sekali!"
"Nggak juga!"
"Memang ya anak magang sekarang susah sekali menuruti peraturan. Sudah dikatakan jika lift itu tidak boleh digunakan sembarang orang. Kamu harus mematuhi peraturan di sini. Mengerti?"
"Nye ... Nye... Nye ... Nye ..." cibir Rain.
Membuat Fika semakin geram saja. Wajahnya sudah memerah karena menahan emosi. Bisa-bisanya ada gadis dibawah umurnya yang tidak sopan padanya.
"Kamu bagian office girl lantai berapa? Biar saya katakan pada kepala bagian kamu supaya diberhentikan saja! Anak jaman sekarang pada nggak punya sopan santun!"
Rain memutar kedua bola matanya malas.
"Mbak Fika yang terhormat! Saya ini buru-buru dan harus segera bertemu Pak Damian!"
Rain hendak melangkah menuju lift karyawan, tapi Fika segera mencegahnya.
"Kamu nggak bisa sembarangan! Kalau belum memiliki izin dengan Pak Damian, tidak bisa bertemu!"
"Memang saya peduli?" Rain sudah habis kesabarannya.
"Ini peraturan. Saya panggilkan satpam!"
"Pak Slamet! Tolong bawa orang ini!" Fika menarik tangan Rain.
Gadis itu segera menepisnya.
Satpam yang berjaga segera berjalan ke arah mereka.
"Ada apa ini?"
"Ini, Pak. Gadis ini sangat nekat mau menemui Pak Damian. Dia salah satu anak magang di sini yang entah habis keluyuran kemana. Bahkan dia dengan santainya hendak naik lift khusus para petinggi. Saya sudah katakan bahwa lift tersebut tidak bisa sembarangan orang gunakan!" jelas Fika menatap remeh Rain.
"Kamu lebih baik patuh pada peraturan, jika masih ngeyel sebaiknya keluar dari gedung ini!" Satpam tersebut menyeret Rain supaya keluar dari gedung itu.
"Hey, anda tidak sopan! Saya bisa laporkan kalian kepada Pak Damian untuk dipecat!"
Fika berdecih, "Siapa kamu? Hanya anak magang saja belagu!"
"Oh, memangnya kalau anak magang tidak bisa membela diri sendiri, begitu!"
Fika sudah sangat geram, "Apa-apaan ini! Saya akan melaporkan kamu ke sekolah kamu supaya mendapatkan hukuman. Kamu bisa berhenti dari perusahaan ini setelah saya laporkan kepada atasan kamu. Cepat katakan lantai berapa kamu bekerja!" desak Fika yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Rain yang songong.
"Lepasin!" Rain menghentakkan tangan satpam yang terus menarik lengannya.
"Woah, hebat anda ini! Heran ya saya sama perusahaan sebesar ini bisa mempekerjakan karyawan yang tidak sopan seperti anda!" Rain menunjuk wanita itu, kebetulan Rain lebih tinggi darinya.
"Saya sopan jika anda sopan. Gadis urakan seperti anda ini yang tidak pantas magang di sini! Sebaiknya katakan dimana anda bekerja, saya akan mengatakan jika anda di sini tidak niat magang dan malah keluyuran!"
"Gue bukan anak magang!" Rain mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi berdering.
Melihat nama sang papa di layar itu Rain tersenyum miring.
"Udah di loby tapi nggak boleh masuk sama nenek sihir! Mending cepet turun!" kata Rain dengan nada kesal.
Gadis itu tidak mendengar jawaban Damian dan langsung saja mematikan ponselnya.
"Apa kamu bilang?"
__ADS_1
"Sudah-sudah. Kamu sebaiknya keluar saja daripada memancing keributan!" Pak satpam kembali menarik tangan Rain.
Beberapa karyawan yang berlalu lalang pun berhenti untuk menyaksikan kejadian ini. Ada juga yang memuji Rain karena gadis itu sangat pemberani.
"Saya ke sini mau bertemu Pak Damian karena ada kepentingan! Tapi si Mbak Fika ini malah menghalangi saya, Pak!" jelas Rain.
"Dia ini tidak mematuhi peraturan yang ada!" Fika menatap tajam Rain. Dia akan membuat perhitungan pada gadis itu jika sudah tahu dimana dia magang.
"Bagaimana saya bisa jelaskan jika anda terus saja menuduh!" bentak Rain.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Damian yang baru saja keluar dari lift.
Semua yang ada di sana terdiam. Fika tersenyum miring karena sebentar lagi akan melihat gadis songong itu di usir. Pak Damian pasti akan bangga padanya.
"Ini, Pak. Anak ini adalah anak magang sebagai office girl, entah berada di lantai berapa dia kerjanya hanya keluyuran dan tadi mau naik lift khusus, alasannya karena lift karyawan antri. Lalu setelah di tegur malah marah-marah. Dia juga bilang mau bertemu Bapak, katanya ada hal penting tapi dia belum mempunyai janji dengan bapak!" jelas Fika percaya diri.
Sementara Rain berdiri di samping Damian.
"Papa nggak mau pecat orang yang udah kurang ajar ini?"
Papa?
Tubuh Fika menegang ketika Rain mengamit lengan Damian dan memanggil lelaki itu dengan sebutan Papa. Wajah Fika juga sudah pucat pasi.
"Kamu tahu, Fika? Dia putri saya yang tidak pernah diketahui oleh publik. Seharusnya kamu bisa bertanya baik-baik atau hubungi saya. Apa bisa kamu perbaiki sikap kamu atau sebaiknya kamu angkat kaki dari perusahaan ini?"
Rain tersenyum puas lalu bibirnya mengatakan "mampus" tanpa suara.
Fika tidak percaya ini, kakinya seperti jelly yang tidak bisa menopang tubuhnya. Jadi gadis ini adalah putri pemilik perusahaan Albert group?
"Ma-maafkan saya, Pak. Jangan pecat saya. Saya janji akan memperbaiki sikap saya dan lebih ramah lagi. Tolong jangan pecat saya!" Fika menangkupkan kedua tangannya. Memohon pada Damian karena pekerjaannya ini sangat dia butuhkan.
"Rain, gimana?"
"Minta maaf sama gue! Sini Salim!" Rain mengulurkan tangannya.
Damian hanya geleng kepala saja melihat tingkah absurd putrinya ini.
Fika pun meminta maaf kepada Rain begitu juga dengan Pak Slamet.
"Jadi kalian semua yang ada di sini perhatikan gadis ini baik-baik. Dia adalah putri kandung saya yang tidak pernah dipublikasikan karena memang anaknya yang meminta. Dia adalah Raina Grittella Klopper, jika dia kemari lagi saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi!"
Damian mengumumkan bahwa Rain adalah putrinya.
Membuat siapa saja yang melihat pun berbisik-bisik. Setahu mereka anak Damian Ando, Rean, Livia dan Dion. Hanya saja setelah berita beredar bahwa Livia dan Dion bukan anak kandung Damian, mereka hanya mengetahui Rean dan Ando saja. Mereka tidak tahu tentang Rain.
"Kamu ini baru dateng udah bikin keributan!" kata Damian setelah mereka sampai di ruangan milik Damian.
Rain duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya. Dia tetap bersikap santai saja seolah tidak terjadi sesuatu.
"Papa udah deh sebaiknya bilang ada apa? Ngeselin banget jadinya orang pada tahu aku ini siapa!" gerutu Rain.
Damian kemudian duduk di sebelah Rain dan mencubit pipinya dengan gemas.
"Pantas saja Radit jatuh cinta, putri papa ini sangat menggemaskan!"
"Papa!"
Damian terkekeh, "Iya iya ... Papa hanya kangen aja sama kamu, Rain?"
Gadis itu melongo karena rupanya tidak ada hal penting yang hendak Damian sampaikan.
"Hanya itu?"
"Nanti malam ada acara makan malam bersama keluarga salah satu klien Papa. Kamu harus ikut ya, ada anaknya juga yang ikut!"
Firasat Rain sudah tidak enak jika menyangkut soal makan malam dan dia harus ikut.
"Nggak ada perjodohan, Rain. Papa bilang jika kamu sudah punya pacar. Hanya kenalan saja!" Damian sudah tahu apa yang Rain pikirkan.
"Oke! Aku pulang dulu kalau gitu!"
"Papa belum mengizinkan ya!"
Rain menghela napas pasrah, "Iya, Rain di sini nemenin papa kerja!"
Damian mengacak rambut Rain. Dia kembali ke meja kerjanya dan fokus pada layar laptopnya.
Rain merebahkan tubuhnya di sofa dan bermain ponsel.
"Rain, kalau lelah kamu bisa ke kamar Papa."
Rain mengernyit, dia heran saja jika di ruangan Damian ada kamar.
"Tuh buka pintu itu!"
Damian menunjuk pad pintu warna hitam yang terletak di sebelah kanan pintu masuk. Rain berjalan santai ke sana. Benar saja ada ruangan kecil yang bersisi lemari, kulkas kecil dan tempat tidur. Ruangan itu nyaman karena ada jendela yang bisa memperlihatkan pemandangan hiruk-pikuk suasana kota.
__ADS_1
Rain pun membuka aplikasi game, tapi ada nomor Radit yang menelponnya.
"Sayang, udah pulang?" tanya Radit dari seberang sana.
Radit mengernyit karena latar belakang kamar Rain berbeda. Gadis itu sedang tengkurap di kasur dan menatap wajah Radit yang memenuhi layar ponselnya.
Radit selalu melakukan panggilan video call.
"Kamu lagi dimana?"
"Kantor papa!" jawab Rain santai.
Gadis itu tidak tahu saja jika Radit sejak tadi uring-uringan karena melihat Rain berboncengan dengan Reno. Juga Rain yang tidak kunjung membalas pesannya.
"Lho, bukannya kamu ke rumah Kenan?"
"Ya, hanya sebentar!"
"Dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?"
Melihat wajah khawatir Radit, membuat ide jahil Rain muncul.
"Tadi dia cium aku, katanya buat perpisahan mau ke Singapura. Dia juga peluk aku!"
"Kamu nggak nolak?"
Rain menggeleng, lalu dia mengalihkan pandangan untuk tersenyum sebentar.
Dan ... Ya? Wajah Radit sudah garang!
"Kenapa nggak nolak? Bagian mana dia cium kamu?"
"Bibir, pipi, kening dan hidung!"
"Kurang ajar! Kamu tetep di situ aku akan jemput kamu sebentar lagi!"
Melihat Radit yang sudah kepalang marah Rain sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Kok kamu tertawa?"
"Sayang, Kenan nggak apa-apain aku kok! Tadi aku hanya bercanda aja!" kata Rain dengan senyum jahilnya.
Radit menghela napas lega, "Gitu kamu ya!" Sekolah lelaki itu malah cemberut.
"Seorang kulkas masa bisa ngambek?"
"Rain, aku juga manusia!"
Rain tertawa puas karena sudah mengerjai kekasihnya itu.
"Rain ..." Panggil Radit yang wajahnya seperti menahan sesuatu.
"Kamu kenapa?" tanya Rain yang khawatir karena Radit memegangi dadanya.
Napas lelaki itu seperti tersengal-sengal, ah ... Sesak napas sepertinya.
"Kamu bengek ya?" tanya Rain dengan polosnya.
Radit terus memegangi dadanya dan menepuk-nepuk dada bidang itu.
"Rain, sepertinya aku sulit bernapas!"
"Dit, jangan bercanda. Kamu sama siapa di rumah?" Rain sudah panik, dia merubah posisinya menjadi duduk.
"Rain ...."
"Lo nggak lagi bercanda kan?"
"Enggak, aku kesulitan bernapas, soalnya kamu separuh napasku!"
Blusssh
Wajah Rain merona bercampur dengan kesal juga. Radit berhasil membuatnya khawatir.
Satu sama hasilnya!
"Radiiit, kamu ngeselin!" Rain menutup panggilan itu.
Di sana Radit tertawa puas. Sementara Rain menutupi wajahnya dengan bantal dan berguling-guling di kasur.
"Ngeselin banget sih, tapi aku sayang!" Rain mengelus foto Radit yang dia jadikan wallpaper.
"Aaa jadi gini ya rasanya jatuh cinta!"
Rain senyum-senyum sendiri. Lalu dia memilih untuk menenggelamkan wajahnya pada bantal. Sungguh dia merasa jika tadi bukan Radit. Si kulkas itu rupanya bisa ngegombal.
Bersambung ....
__ADS_1