
Rain mendorong tubuh Rean hingga terbentur di pinggiran meja. Lelaki yang memiliki wajah tampan itu meringis karena merasakan punggungnya yang sakit. Dorongan Rain tidak main-main. Apalagi Rain mendorongnya secara tiba-tiba, saat dia selesai mengancingkan baju seragamnya. Rain datang dan langsung mendorongnya, wajah gadis itu sudah tidak enak di pandang. Rean mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Rean santai. Lelaki itu kemudian menyisir rambutnya.
Rain langsung menjambak rambut Rean sampai lelaki itu merintih kesakitan. Tentu jambakannya sampai kulit kepala terasa mau lepas.
"Aww ... Rain, sakit! Lo ngapa sih pagi-pagi udah ngereog!" Rean mencoba melepas jambakannya.
Tenaga Rain itu seperti laki-laki, jadi Rean kayak sedang berantem dengan laki-laki.
"Lo ngapain berduaan sama Mentari semalam!" Rain melepas jambakannya dan beralih meninju dada lelaki itu.
"Aduh, astaga! Lo habis kerasukan apa sih!" Rean memilih menghindar daripada harus bonyok pagi-pagi.
Nggak bagus juga kan ke sekolah dengan wajah babak belur, ketampanan pasti akan berkurang. Jadi Rean milih cara yang aman. Dia loncat ke ranjang dan melempar beberapa bungkus cokelat yang dia ambil tadi di laci meja.
"Ampun, Rain!" Rain ikut meloncat. Sayangnya saweran cokelat tadi nggak mempan.
"Lo ngapain sama Mentari! Gue aduin bokap Lo!"
Bugh
Bugh
Rain sudah memukul lelaki itu dengan bantal. Rean pun jatuh terpental dari ranjang. Mengakibatkan bokongnya sakit. Sial sekali pagi ini untuk Rean.
"Mentari, tolong!" teriak Rean.
Lelaki itu bangkit dan berlari menuju pintu. Rain yang kian mendekat dan Rean berhasil membuka pintu itu. Saat Rain hendak mengejar ...
"Aduh!"
"Reaaaaan!" Kening Rain terbentur pintu yang sengaja Rean tutup kembali.
Rean langsung mengunci pintu kamarnya dari luar. Kunci yang tadi sempat dia raih. Lelaki itu menghela napas lega.
"Rean, ada apa?" Mentari baru saja keluar dari kamar Rain dan sudah rapih dengan seragam.
"Rain lagi ngereog!" jawabnya.
"Rean! Buka pintunya!" Rain menggedor-gedor pintu tersebut tapi Rean tidak perduli. Dia mengantongi kuncinya di saku celana.
"Kita sarapan yuk!" ajak Rean, dia menarik pinggang Mentari agar dekat dengannya.
"Tapi__"
"Biarin aja, dia kalau lagi ngereog ngeri. Lo mau di gigit sama Rain?"
Mentari menggeleng. Membayangkan Rain yang marah saja membuatnya takut. Jadi dia nurut saja. Duduk di meja makan menikmati nasi goreng yang Rain buat.
Sementara Rain mencari cara untuk keluar dari kamar Rean. Benar-benar punya Abang nggak ada akhlak. Sudah mau marah pun nggak jadi karena tingkah Rean yang di luar dugaannya.
Rain membuka seluruh laci meja Rean mencari kunci cadangan. Pokoknya dia akan membuat kamar Rean acak-acakan kalau sampai tidak menemukan kuncinya.
"Sukurin!" kata Rain, menatap setiap sudut kamar Rean yang sudah Rain buat seperti kapal pecah.
"Rean, buka pintunya!" teriak Rain, tapi percuma saja tidak ada yang dengar.
Kamar Rean kedap suara soalnya. Rain lupa soal itu?
Rain menendang pintu dengan keras. Kesal sekali rasanya. Dia tidak habis akal. Rain menekan tombol angka dua di ponselnya yang langsung menampilkan nomor Damian.
"Pa, tolong Rain!" kata Rain di buat sesedih mungkin. Rain pura-pura nangis.
"Ada apa? Kamu kenapa, sayang?" Damian di sebrang sana khawatir dengan putrinya.
"Rean mengunci aku di kamarnya, Pa. Aku lapar dia malah asyik sarapan sama pacar. Huwaaaaaa..." Rain menambah isak tangisnya supaya lebih dramatis. Padahal dia sedang menahan tawa.
"Papa ke sana sekarang!"
__ADS_1
Rain menutup panggilan itu dan tertawa puas.
"Mampus Lo, Rean!"
**
Di ruang makan Rean sudah mengelap bibirnya dengan tissue. Dia meraih tas ranselnya dan bersiap pergi.
"Ayo, nanti kita terlambat!"
"Bagaimana dengan Rain?" Mentari kasihan juga sama Rain yang ada di kamar Rean.
"Biarin aja. Dia udah gede. Nanti juga bisa keluar sendiri!" jawab Rean santai. Dia meraih pinggang Mentari agar merapat dengan tubuhnya.
"Rean, kamu nggak boleh gitu. Kasihan Rain. Bukain pintunya!" Mentari merengek.
Rean tetap pada egonya yang enggan membuka pintu kamarnya. Dia nggak mau babak belur dan juga belum siap ketemu Rain.
"Ada kunci cadangan di kamar. Tenang aja! Kalau dia niat keluar juga udah dari tadi. Kunci ada di laci dan Rain sudah hafal." Rean tentu saja berbohong.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" Mentari pun percaya saja. Terlalu polos memang.
Pada akhirnya Rean dan Mentari berangkat ke sekolah. Membiarkan Rain masih di dalam kamar. Rean tersenyum puas saat menutup pintu apartemen.
Dia pun mengirim pesan kepada Rain..
[Rain sayang, Abang berangkat dulu ya. Muach!]
Rain yang sedang membongkar semua isi lemari Rean pun menghentikan aktifitasnya dan membuka ponsel yang berbunyi.
Notifikasi pesan dari Rean, membuat Rain semakin jengkel. Dia pun kembali melanjutkan mengacak-acak apapun yang bisa dia acak-acak.
[Abang nggak ada akhlak! Baik-baik di sekolah, sayang. Karena gue punya kejutan buat Lo!] Rain mengirim balasan pesan.
Puas melihat kamar Rean yang sudah sangat berantakan. Dia duduk di tepi ranjang. Satu-satunya tempat yang rapih. Sengaja dia nggak buat itu ranjang acak-acakan.
Tidak lama kemudian Damian menelponnya. Dia sudah sampai di apartemen dan hendak membuka pintu namun tidak tahu kodenya.
Damian pun menekan angka yang dia hafal dan pintu berhasil terbuka. Dia segera menuju ke kamar Rean dengan telepon yang masih tersambung.
"Dimana kuncinya, Rain?" tanya Damian.
"Papa cari di laci meja kamar aku, di sana ada kunci cadangan manapun. Papa cocokan aja!"
Damian pun masuk ke kamar Rain. Laki-laki berusia empat puluh lima tahun itu tersenyum saat masuk kamar putrinya yang rapih dan wangi. Dia membuka laci meja dan menemukan beberapa kunci di sana. Damian pun mencoba membuka kamar Rean dengan mencoba satu per satu kunci tersebut dan ...
"Papa!" Rain langsung berhambur ke dalam pelukan Damian.
"Akhirnya papa nolong aku. Nggak tahu nasib aku gimana!" Rain memasang wajah sedih yang membuat Damian percaya.
"Papa akan hukum Rean. Ceritakan apa yang terjadi."
Rain mengurai pelukannya dan mendongak, "Pa, aku lapar." Rain mengusap perutnya.
"Kita sarapan di luar." Damian melihat jam tangannya dan sudah menunjukkan jam tujuh.
"Kamu izin dulu ya tidak usah masuk sekolah. Biar papa yang bilang sama guru kamu. Kita sarapan di luar, hm?"
Rain mengangguk heboh. Dia pun akan mengambil kesempatan ini karena Damian sudah percaya padanya.
"Rain mandi dulu ya!"
**
Rain menggigit sandwichnya yang dilengkapi dengan keju mozzarella. Dia sungguh menyukai menu sarapan paginya. Sementara Damian hanya memesan secangkir kopi saja. Rain meneguk hingga habis cappuccino hangat yang dia pesan. Sudah habis empat potong sandwich. Dia sarapan dengan porsi banyak karena tenaganya sudah habis di keluarkan. Rain tersenyum puas setelah menghabiskan semuanya.
Damian meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap Rain. Menunggu gadis itu bercerita.
"Dia itu harus di nikahkan, Pa!" kata Rain dengan wajah kesal yang kentara.
__ADS_1
Damian mengerutkan keningnya karena tidak tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi antara anak kembarnya ini.
"Pa, belikan aku apartemen yang mewah. Aku mau tinggal sendiri di apartemen."
"Pulang saja ke rumah kalau begitu!" Damian menjawab dengan tegas.
"Pa, aku pasti sibuk sama kafe yang sebentar lagi mau buka. Belum nanti kalau aku pulang malam pasti dapat omelan dari nenek."
"Bagaimana jika Papa beli rumah baru, hm?" Bukannya Damian tidak mau membelikan apartemen mewah untuk putrinya. Hanya saja dia ingin melakukan pengawasan ekstra.
Mengingat pergaulan di zaman sekarang yang sungguh mengerikan. Damian tidak mau kecolongan.
"Rean itu semalem masukin ceweknya ke apartemen. Mereka di kamar yang sama. Aku pulang larut malam karena ada misi. Jadi pas pulang suasana sepi dan ya ... Pagi sekali aku masak buat Rean seperti biasa__"
"Tunggu, kamu pulang larut malam dan kamu buat sarapan? Papa nggak salah dengar?" Damian menyela pembicaraan Rain.
Rain menggembungkan pipinya. Sungguh dia kesal jika Damian sudah memojokkannya.
"Dengar, Papa! Aku sedang bercerita dan kau dengan seenaknya memojokkan aku?" protes Rain.
Damian tertawa, gemas sekali dengan tingkah Rain. Dalam hatinya dia bersyukur karena putrinya mau memaafkan semua kesalahan yang pernah dia lakukan padanya.
"Ya ... Papa pikir kau tidak akan pernah beres ketika berada di dapur, Rain!"
"Ter-se-rah!" Rain menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan melipat kedua tangannya.
"Jadi ... Papa, aku kaget saat tahu ada Mentari di apartemen. Coba papa bayangkan saja sepasang kekasih di kamar yang sama!"
Damian memicingkan matanya, "Kamu ... Sedang tidak memfitnah Rean supaya papa membelikan apartemen untukmu kan, Rain?" Damian mulai curiga.
Rain menghela napas kesal. Dia bangkit dari duduknya dan menghentakkan kaki. Lalu pergi begitu saja.
"Hey, papa belum selesai bicara!"
"Bodo amat!" Rain tidak perduli jika Damian kelimpungan.
Dia meletakkan tiga lembar uang merah di meja dan pergi untuk mengejar Rain.
"Rain ... Sayang. Dengerin papa dulu!" kata Damian setelah berhasil meraih tangan putrinya.
"Papa nggak percaya sama aku? Setelah lihat kejadian tadi pagi! Papa, aku cuma nanya aja sama Rean tentang semalam mereka ngapain. Aku juga cewek. Adik dia! Kalau sampai karma itu datang ke aku gimana? Mending kalau cowoknya bener, kalau brengsek terus Rain di tinggal?"
Kali ini Damian membenarkan ucapan Rain. Seharusnya Rean tidak berbuat seperti itu. Meski dia tidak melakukan apapun, tetap saja orang akan menilai negatif. Satu kamar dengan kekasih belum halal pula. Siapa yang tidak berpikir yang tidak-tidak?
"Ya, kamu benar. Papa akan bicara sama Rean." Damian memeluk putrinya itu.
Rain tersenyum puas.
"Jadi ... Nikahkan saja mereka, Pa. Mereka sering nginap di apartemen!" imbuh Rain. Menambah bumbu penyedap dalam ucapannya itu sungguh enak sekali.
"Apa!?" Damian melotot. Sungguh ini sudah di luar batas.
"Baiklah, papa akan memaksa Rean untuk menikah. Sekarang juga papa temui orangtua Mentari."
"Aku ikut!"
Damian pun mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk putrinya. Setelah itu dia memutari mobil dan duduk di belakang stir.
"Jadi ... Kamu mau minta apartemen itu karena hal ini? Kamu tidak mau tinggal sama Rean karena nanti jika dia jadi menikah, begitu?"
Rain mengangguk mantap.
"Baiklah, jika itu maumu. Papa tidak izinkan. Papa akan membeli rumah saja supaya bisa memantau apa yang kamu lakukan!"
Rain pun memasang wajah cemberut. Jika begini dia mana bisa keluyuran malam-malam. Balapan misalnya. Yah, nggak asik sekali.
"Rain nggak mau kalau dibatasi dalam hal apapun. Rain bisa jaga diri, Papa!"
Damian menggeleng, "Musibah itu tidak memandang orang bisa jaga diri atau tidak, Rain!" kata Damian.
__ADS_1
Membuat Rain bungkam dan berpikir bagaimana enaknya.
Bersambung....