
Menjadi tawanan? Ini yang Rain rasakan dua hari ini. Hanya berdiam diri di kamar, jalan ke dapur, ruang televisi lalu kembali ke dapur. Benar-benar bosan, Rean seolah seperti polisi yang terus memantau kegiatannya. Bahkan dia tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun. Sekadar memasak saja tidak di perbolehkan. Benar-benar menyebalkan bukan? Sungguh Rain sudah mati kutu!
Rain membuka ponselnya yang sejak tadi disimpan oleh Rean. Ya, lelaki itu menyita kembali ponsel Rain setelah Bara menelponnya. Alasannya Rean nggak mau jika Rain kurang istirahat. Melihat tanggal yang tertera di ponselnya, Rain memekik dan langsung berlari ke arah Rean yang asyik main PS di ruang televisi bersama Reno.
"Rain!" pekik Rean, wajahnya sudah pucat melihat Rain yang lari.
Detik kemudian Rain meringis kesakitan ketika merasa kakinya yang masih sakit. Dia lupa jika kakinya sedang cidera dan berlari karena harusnya ini hari yang spesial.
"Gue bilang juga apa! Diem aja di kamar, Lo bisa nelpon gue kalau butuh sesuatu!" omel Rean yang langsung menggendong Rain dan membaringkan tubuhnya ke sofa.
Sementara Reno melongo saja melihat kejadian itu. Reno tidak tahu jika Rain terluka. Dia hanya tahu kalau gadis itu sedang sakit.
"Bang, harusnya kan Lo sama Mentari ...." Rain tidak melanjutkan ucapannya, gadis itu melirik Reno yang masih mematung dengan bibir terbuka.
"Rain, Lo ... Lo terluka?" Pertanyaan itu malah membuat Rain heran. Memang dia tidak boleh terluka ya?
"Lo ngapa liatin adek gue gitu!" Rean menoyor kepala Reno.
Reno mengatupkan bibirnya. Dia kembali menatap luka Rain yang sedang Rean olesi salep. Nampaknya luka itu cukup serius.
"Biasanya Lo selalu tahu kalau ada bahaya datang. Kok bisa sih kalau Lo terluka?"
"Gue juga manusia, Ren. Bukan cenayang yang selalu tahu apapun yang terjadi. Kalau pas apes ya siapa yang tahu sih!" gerutu Rain.
Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar juga sih ucapan Rain. Sejak Rain keluar dari rumah sakit dan dinyatakan amnesia, Reno selalu mengira gadis itu punya semacam indera ke enam yang tahu jika ada bahaya. Ah, dugaan dia salah ternyata.
"Lo kenapa bisa lecet-lecet gini? Kenapa nggak cerita sama babang Reno?" Rean menggeleng pelan mendengar ucapan Reno yang penuh modus.
"Kalau gue bilang emang Lo bisa sembuhin gue?"
"Ya seenggaknya obatin luka Lo kayak yang Rean lakuin!"
"Mending Lo urus Mia deh!" Rean terkekeh. Sementara Reno hanya meringis saja.
Rean merapikan kotak obat yang tadi dia ambil, lalu menyuruh Rain meminum obat pereda nyeri.
"Mau di kamar atau di sini?"
"Sini aja temenin babang ya!" Reno mengelus kepala Rain yang membuat Rean langsung memukul tangannya.
"Jangan coba-coba deketin adek gue!"
"Posesif banget!" Reno memanyunkan bibirnya dan kembali melanjutkan main PS.
Dia sengaja bolos juga karena bosan di kelas tidak ada Rean.
Rain juga memasang wajah cemberut, dia sebenarnya bosan. Apalagi dua hari lagi kan Rain akan membuka kafenya. Ya, meski diserahkan sama Bara tapi tetap saja Rain harus turun tangan. Ah, rasanya benar-benar membosankan.
"Kenapa lagi?" tanya Rean sambil memainkan rambut panjang Rain.
"Bosen! Kapan sih bisa keluar!"
"Kalau kondisi sudah memungkinkan!"
"Memang ada apa?" Rain belum tahu kalau dibalik kecelakaan itu adalah Gwen. Rain juga belum tahu jika Gwen nekat sekali menjatuhkan namanya.
Entah apa yang terjadi jika Rain tahu, sementara Damian sudah mengurus tentang keluarga Gwen dan membuatnya jatuh miskin. Radit sendiri juga sudah membuat gadis itu jera.
Sayangnya, bukan Gwen namanya kalau menyerah begitu saja. Rean belum bisa memastikan jika keadaan di luar sana aman. Meskipun yang Damian katakan semua sudah selesai, tapi firasat Rean mengatakan jika masih ada bahaya yang mengintai.
__ADS_1
"Kalau Lo home schooling aja gimana?" Entah ide darimana itu, seenggaknya itu keputusan yang baik untuk Rain.
Ya, bagi Rean itu baik. Namun, bagi Rain itu adalah musibah. Dia seperti terperangkap dalam jurang yang dalam dan tidak bisa keluar.
"Gimana nasib kafe gue? Ini sebenarnya ada apa sih?" Rain menatap Reno dan Rean bergantian.
Reno yang diam pun mengangkat kedua bahunya. Dia juga belum tahu apapun. Bahkan Rean juga tidak menceritakan kepada geng Aksara. Dia hanya memantau kondisi dari Damian juga Bara.
Rean menghirup oksigen sebanyak mungkin. Takut setelah ini akan kehabisan oksigen karena kemarahan Rain jika dia menceritakan semuanya.
"Lo celaka karena Gwen! Semua ini rencana jahat dia. Juga kenapa Lo nggak boleh pakai ponsel, mereka semua hujat Lo!" Rean mengatakan dengan degupan jantung yang bertalu-talu dan bibir gemetar.
Sungguh dia siap tidak siap jika menjadi sasaran amukan Rain. Melihat Reno yang terkejut dia segera menarik lelaki itu untuk duduk di sofa tepat di samping Rain.
"Sorry, gue nggak cerita karena bokap yang nyuruh. Bokap takut kondisi mental Lo kambuh dan juga Lo lagi sakit!"
"Lo boleh lampiaskan marah Lo sama Reno nih!" Rean mendorong tubuh Reno.
"Njiir, gue jadi sasaran," gerutu Reno.
Melihat Rain yang diam saja dengan wajah pucatnya itu membuat Rean ketakutan. Jujur dia takut jika Rain kembali stres seperti dulu. Mental Rain sudah hancur sehancur-hancurnya karena keadaan yang telah mengubah dia untuk menjadi gadis pemurung. Rain tertekan setelah kedatangan Shely. Lalu Damian memperkenalkan Dion dan Livia jika mereka juga anak kandung papanya.
"Rain, Lo baik-baik aja kan?" Rean mengguncang tubuh Rain. Lalu memeluk gadis itu.
Reno juga panik melihat Rain yang diam dengan tatapan kosong.
"Lo nggak lagi cosplay jadi patung kan?" celetuk Reno. Rean langsung menatap tajam Reno.
Rean membawa Rain ke dalam pelukannya. Supaya gadis itu lebih tenang.
"Seenggaknya Lo bilang, jangan bikin gue panik!" Malah Rean yang panik, air matanya lolos begitu saja.
Rain tersenyum, dia mendongak menatap Rean yang menangis. Tangannya terulur untuk menghapus air mata itu. Sementara Reno menatap pemandangan yang menurutnya romantis itu. Ah, sungguh membuatnya ingin peluk ayang juga. Sayangnya Reno tidak punya ayang.
"Kenapa kalian nangis. Gue nggak apa-apa!" jawab Rain santai.
"Ha?" Reno dan Rean melongo.
"Lagian buat apa gue marah, biarin aja itu cewek berbuat sesuka hatinya. Gue nggak perduli. Lagian juga buat apa gue pertahankan Radit. Udah gue lepas juga dia masih aja ganggu!" Rain menggeleng heran.
Mereka sudah putus tetap saja Gwen mengganggunya. Terus berusaha menghancurkan Rain. Gadis itu sangat santai dan tidak perduli dengan Gwen yang menurutnya bukan lawan yang seimbang.
"Dia bisa apa? Habiskan uang bapaknya kan? Sok-sokan balas dendam sama geng liol tapi buktinya sampai sekarang nggak ada penyerangan apapun!"
Reno malah tertawa, melihat Rain sesantai itu juga mendengar cerita Rain, membayangkan gadis bernama Gwen yang stres menghancurkan Rain tapi tidak berhasil. Sungguh dia kagum dengan cara pikir Rain. Membiarkan musuh lelah dulu dan dia akan menghancurkan perlahan. Ya, ini baru namanya balas dendam yang elegan.
"Lo mending jadi leader kita, Rain!" Reno menepuk pundak Rain.
"Nggak ada! Dia nggak boleh ikut geng motor! Balapan boleh kalau masuk geng nggak ada!" ucap Rean ketus.
"Hahaha, sabar, Boy! Lagian dia lebih cocok dibandingkan si Kenan!"
Suara bel pintu berbunyi, Rean langsung melangkah untuk membuka pintu itu. Di sana ada dua penjaga. Siapapun yang akan datang memang harus di interogasi terlebih dahulu. Takut jika mereka ini orang-orang yang berbahaya. Jika bisa masuk itu berarti dia sudah lolos dari interogasi dua bodyguard di sana.
Kenan langsung nyelonong masuk saja dan saat pintu tertutup dia bergidik ngeri.
"Mereka siapa?" tanya Kenan.
Rean tertawa melihat Kenan yang ketakutan. Memang dua bodyguard itu memiliki wajah yang menyeramkan.
__ADS_1
"Sementara apartemen ini di jaga ketat. Demi kebaikan gue sama Rain karena ada orang yang berusaha untuk mencelakai Rain."
"Apa?!" Kenan terkejut, dia memang belum tahu kabar ini.
"Dimana dia sekarang?" lanjut Kenan
"Ruang televisi sama Reno. Dia lagi sakit karena habis kecelakaan!"
Kenan tidak mengatakan apapun lagi, dia langsung bergegas ke ruang televisi. Melihat gadis itu tertawa karena tingkah Reno. Benar-benar membuat hatinya seperti terbakar api.
"Rain, Lo nggak apa-apa?"
"Nah, panjang umur dia!" kata Reno.
"Lo nggak sekolah juga?" Rain balik tanya, mengabaikan pertanyaan Kenan.
"Apanya yang luka?" Kenan sudah duduk di sebelah Rain. Mengusir Reno yang masih asyik duduk di sebelah gadis itu.
"Cuma lecet dikit kok udah mau sembuh!"
"Siapa yang bikin Rain celaka?" Kini Kenan beralih menatap Rean.
Sungguh laki-laki itu lelah menjelaskan kembali. Dia menghela napas panjang lalu melanjutkan main PS.
"Gwen!" jawab Rean tanpa menoleh.
Reno juga bergabung dengan Rean, Kenan menatap Rain yang sibuk sama ponselnya.
"Kenapa nggak cerita?"
Rain hanya melirik saja. Lalu mengangkat ponselnya. Pura-pura jika ada yang menelpon.
"Bentar, gue ke kamar dulu!" Rain berjalan tertatih.
Kenan segera membantunya untuk berjalan menuju kamarnya.
"Thanks," jawab gadis itu dan kemudian menempelkan ponselnya di telinga sambil menutup telepon.
"Huft, untung aja gue bawa benda keramat ini!" Rain mengelus dadanya. Dia lega bisa lolos dari Kenan.
Bertepatan dengan itu Bara menelponnya.
"Dimana?" tanya laki-laki itu.
"Apart!"
"Buka Instagram Lo!"
Rain mematikan sambungan teleponnya dan langsung membuka akun sosial media. Dimana banyak sekali komentar berujar kebencian yang ditujukan padanya. Bahkan ada juga yang mengunggah video Gwen yang berpenampilan seperti dirinya dan mengaku kalau dia adalah Queen.
Rain tersenyum miring, tidak perduli sama netizen yang menghujatnya.
"Lo main-main sama gue?"
Rain langsung membuka laptopnya dan mengerjakan sesuatu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat informasi yang dia dapatkan.
"Baguslah kalau sudah bangkrut. Gue bakal buat Lo menderita juga sih!"
Rain pun menekan nomor seseorang yang sudah dia hapal di luar kepalanya.
__ADS_1
"Tolong cari orang itu. Gue udah kirim fotonya. Buat dia menderita dan mengharapkan kematiannya!"
Bersambung....