Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 86


__ADS_3

Rain membuka kedua matanya dan tidak mendapati Bara yang semalam tidur di sebelahnya. Meski di usir berapa kali, kantuk yang menyerang membuat Rain mengalah saja. Ponselnya terus bergetar, menampilkan nama yang membuat Rain ketakutan. Dia tidak takut apapun, tapi kalau dihadapkan sama satu nama itu jantungnya berdebar tidak karuan. Mau mengabaikannya nanti yang ada makin ngamuk, kalau di angkat ya tetep ngamuk. Jari jempolnya malah menggeser tombol hijau. Sungguh Rain kesal sekali. Ingin mengumpati jari yang malah menggeser tombol hijau karena tidak sinkron dengan otak, tapi itu jarinya sendiri. Sekarang siapa yang salah?


"RAINA GRITTELLA KLOPPER! BISA NGGAK SIH SEHARI AJA NGGAK CARI MASALAH. BENER-BENER LO YA BIKIN SEMUA ORANG PANIK KARENA LO PERGI TIBA-TIBA DAN NGGAK TAHU KEMANA!"


Rain menjauhkan ponselnya karena teriakan Rean bisa merusak gendang telinganya.


"Bisa pelan tidak?" protes Rain.


"Nggak bisa! Kirim alamat Lo sekarang dimana!" Rean masih saja ketus meski tidak lagi berteriak.


Mampus kan? Rean pasti makin jadi ngereognya kalau tahu Rain sedang berada di hotel dan lebih parahnya lagi dia sama Bara. Entah dimana keberadaan laki-laki itu.


"Nggak bisa! Gue butuh privasi hari ini. Gue nggak mau ketemu___"


"Privasi apa, Sapi!!! Terakhir Lo pergi akhirnya Lo dapet masalah. Buruan kirim!"


Harusnya Rean mengaktifkan GPS diponsel Rain. Hanya saja tidak dia lakukan. Dia tetap memperbolehkan Rain pergi supaya pikiran fresh tapi jika semalam tidak pulang maka Rean akan terus mengomel supaya adiknya itu jera dan tidak main pergi gitu aja. Tetap saja Rain melakukan lagi dan lagi.


"Kalau nggak mau gimana? Gue pengen sendiri dulu nikmatin liburan sekolah!"


Rean menghela napas panjang. Rasanya ingin mengikat Rain dan menyimpannya di dalam lemari saja. Punya adik cewek satu-satunya selalu membuat Rean jantungan. Kelakuan udah kayak cowok. Dia yang cowok saja nggak pernah kabur-kaburan seperti ini. Ya ampun, Rean bisa-bisa kena stroke di usia muda kalau Rain terus bertingkah. Nggak lucu kan kalau dia stroke di usia tujuh belas tahun dan Mentari belum hamil.


"Oh ... Astaga ... Gue kena karma apa sih punya adek gini amat!"


Rain terkekeh, "Gue lagi pergi ke tempat yang jauh sama Bara!" Rain menutup mulutnya karena dia keceplosan.


"PAAAAA, RAIN LAGI SAMA BARA MEREKA KAYAKNYA BERDUAAN NGGAK TAU DIMANA! NIKAHIN MEREKA CEPAT!"


Di sebrang sana suara pintu terbuka terdengar.


"Apa kamu bilang?" Itu suara Damian.


"Mampus, Rain!" batin Rain sudah ketar-ketir dia menggigit bibirnya dan memilih mematikan panggilan teleponnya. Rain juga mematikan ponsel itu supaya tidak ada yang menganggu.


"Mereka ini sehari aja nggak khawatir sama gue bisa nggak sih!" kata Rain di depan ponsel yang sudah mati itu.


Rain melempar asal ponsel tersebut dan mengayunkan kakinya ke kamar mandi. Membersihkan diri supaya lebih fresh. Tubuhnya jauh lebih baik dari semalam.


Selesai melakukan ritual Mandi dia bergegas mencari keberadaan Bara. Kaos oversize dan celana pendek selutut itu melekat di tubuhnya.


Saat membuka pintu, Rain mendapati Bara sedang sibuk entah ngapain. Dia memunggungi Rain dan sedikit menundukkan tubuhnya. Hingga celana boxer bergambar Patrick itu terpampang jelas. Karena gambarnya berada di bagian bokong Bara. Sungguh Rain ingin tertawa tapi dia tahan.


Rain bersandar di depan pintu kamar. Hotel ini memang mirip apartemen karena benar-benar hotel yang ditujukan untuk kalangan menengah ke atas. Biasanya digunakan para pengusaha-pengusaha yang sedang ingin beristirahat atau melakukan pertemuan.


"Sayang, udah bangun?" Bara menyadari kehadiran Rain yang berdiri di depan pintu kamar dengan kedua tangan dilipat di dada.


"Aku siapkan sarapan untuk kita. Tadi saat kamu tidur aku membelinya di dekat hotel ini!" Suaranya lebih lembut dari biasanya.


Rain memutar kedua bola mata malas. Dia melangkah mendekat dan menoyor kepala lelaki itu.


"Gue rasa otak Lo konslet!" cibir Rain.

__ADS_1


Sebenarnya hatinya sudah ditumbuhi ladang bunga saat Bara memperlakukan hal manis seperti ini.


Namun, Rain memilih abai saja daripada nanti laki-laki itu kepedean. Rain meraih styrofoam yang berisi bubur ayam. Ketika mengingat sesuatu dia mendongak, menatap Bara dari ujung kaki ke ujung kepala yang sedang berdiri di sampingnya.


"Lo keluar dengan penampilan seperti itu?" Rain melongo.


Boxer warna hitam bergambar Patrick dan kaos oblong warna hitam juga. Sungguh membagongkan saja kalau dia keluar dengan penampilan seperti itu.


Bara mengusap tengkuknya. "Ya ... Ada yang salah?" Sebenarnya dia juga malu karena sudah terlanjur sampai luar jadi ya lanjut saja.


Bara buru-buru keluar supaya nanti pas Rain bangun sudah terhidang makanan.


Rain sudah tidak bisa menahan tawanya. Bibirnya kaku sejak tadi menahan tawa.


"Hahahaha ... Ya, Tuhan!" Rain memegangi perutnya.


Sementara wajah Bara sudah memerah karena malu juga, tapi bukan Bara namanya kalau tidak bisa mengendalikan rasa malunya. Dia memilih duduk dan menyantap sarapan miliknya.


Sementara, di mansion milik Kakek Albert sedang heboh dengan berita dari Rean. Bahwa Rain dibawa kabur sama Bara entah kemana. Damian menyuruh orang melacak keberadaan Rain, tapi hasilnya nihil. Ponsel Rain mati dan tentu saja dia lebih pintar dari orang-orang Damian. Keberadaannya tidak akan bisa ditemukan dan ponsel Rain juga tidak akan bisa di sadap dengan mudah.


"Dimana anak itu!" Damian memijit pelipisnya yang sudah pusing memikirkan kelakuan Rain.


"Minum dulu, Pah!" Rean memberikan segelas air putih.


Kakek Albert hanya diam saja, sementara Nenek Sania juga ikut khawatir dengan cucu perempuan satu-satunya itu. Mentari meremas jemarinya karena dia juga belum terlalu dekat dengan keluarga Rean, juga tidak tahu harus berbuat apa.


Sementara Ando sudah pergi bekerja, dia mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Rain.


"Kita lapor polisi saja!" usul Rean.


"Rain sudah besar dan ini belum dua puluh empat jam!" Nenek Sania angkat bicara.


"Kakek, kenapa kau diam saja!" Damian yang menyadari itu kesal.


"Lantas aku harus bagaimana? Bukankah Rain sudah besar? Dia bukan anak usia sepuluh tahun lagi!" jawab Kakek Albert santai.


"Hahahaha ...." Damian tertawa sumbang, sungguh mertuanya ini benar-benar menyebalkan.


"Dia cucumu dan dia anak perempuan!"


"Lalu?"


"Sudahlah, tidak bisa diandalkan! Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Rain?" Wajah Damian sudah tidak bersahabat.


Bahkan dia sampai membatalkan meeting dengan orang yang penting. Tidak perduli jika kerja samanya nanti dibatalkan. Jika Rain belum kembali maka hatinya tidak tenang. Mengingat Rain berkali-kali dalam bahaya.


"Apa kau lupa, Damian? Dia selalu berhasil menangkap orang-orang jahat. Sepertinya Rain cocok menjadi ketua mafia yang kejam!" kata Kakek Albert.


"TIDAK BISA!" jawab Damian, Rean dan nenek Sania serempak.


Kakek Albert hanya terkekeh saja. Dia sudah percaya dengan Rain jika gadis itu tidak akan berbuat macam-macam. Dia hanya ingin menenangkan pikiran karena sekarang seluruh dunia tahu siapa dirinya. Damian bersikeras mengumumkan jika dia punya anak perempuan dan pagi ini berita tentang Rain sedang menjadi trending topik.

__ADS_1


"Sudahlah aku mau istirahat saja. Semalam kau membuat tidurku tidak nyenyak!"


Ya gimana Kakek Albert mau tidur nyenyak kalau Damian dan Rean terus saja uring-uringan. Bahkan Mentari saja kepalanya sampai pusing. Mau tidur nyenyak karena lelah selalu saja dibangunkan oleh Rean. Ada saja hal yang selalu dibahas.


"Lebih baik kalian cari saja sendiri daripada di rumah buat pusing!" usul nenek Sania.


Sejak selesai acara Damian dan Rean memang tidak tidur sama sekali. Mencoba berpikir tenang tetap saja tidak bisa karena Rain sama sekali tidak bisa di hubungi.


Menjadi anak emas memang tidak bisa bebas ya. Selalu saja dikhawatirkan dan memang kekhawatiran itu demi kebaikan Rain.


Meski dia bisa menjaga dirinya dan selalu berhasil menangkap para penjahat tetap saja kan musibah tidak ada yang tahu.


Apalagi mendengar Rain pergi dengan Bara, siapa yang tidak khawatir coba? Namanya perempuan dan laki-laki pasti saja melakukan hal yang tidak-tidak apalagi mereka masih remaja. Kalau suka sama suka ya sudah. Seperti yang dilakukan Rean dan sekarang dia harus nikah mudah meskipun gaya pacaran mereka masih dibatas wajar.


***


Rain menatap mobil yang baru saja keluar dari hotel tempat dia menginap. Entah kapan Bara mengambil mobil ini, dia benar-benar ajaib. Mirip Doraemon. Bahkan dia selalu tahu apa yang dia butuhkan saat ini.


Mobil Porsche itu membelah jalanan yang padat. Hari dimana kesibukan mulai menanti, terasa suntuk ketika para mobil-mobil itu terjebak kemacetan.


"Ini kita mau kemana?" tanya Rain.


"Kemana aja asal Lo bahagia!" jawab Bara santai.


Rain hanya bisa geleng kepala pelan. Bahagia sih soalnya bisa menghabiskan liburan dengan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya menghabiskan liburan di kamar saja.


"Bukannya bahagia yang ada gue sial!" gerutunya. Mengingat ponsel Rain berkali-kali bergetar.


Saat dia mengaktifkan ponselnya, sudah ada panggilan dari Damian. Jika laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu sudah turun tangan, maka dia tidak akan bisa pergi kemanapun sesuka hati.


"Hahaha ... Keluarga Lo nyariin ya?" tebak Bara.


"Ya."


"Udah Lo tenang aja. Gue bakal urus semuanya!"


"Ck, Lo nggak liat tuh ponsel geter mulu!" Rain menunjuk dengan dagunya ke arah dasbor mobil.


"Matiin aja sih ponselnya. Biar Lo bisa nikmatin liburan dengan tenang!"


Bukan hanya ponsel Rain saja yang bergetar. Kini ponsel Bara yang berdering panjang. Papanya yang menelpon. Mereka saling tatap, kayaknya rencana untuk pergi gagal sudah. Bara harus bisa menahan rasa tak sabaran ketika terjebak dalam kemacetan panjang.


Dia hendak memutar balik dan memilih memulangkan Rain saja daripada melakukan hal gila yang pasti resikonya berurusan dengan keluarga besar Klopper.


"Sial!" Bara memukul setirnya karena kesal.


"Gue yakin bokap Lo udah lapor bokap gue!"


Soalnya Papa Bara tidak akan pernah menelponnya jika dia pergi atau tidak pulang sekalipun. Bara memang memiliki kebebasan asal masih di batas wajar. Hanya saja kepercayaan Alpha menjadi hilang begitu saja sejak kejadian ada gadis yang mengaku dihamili oleh Bara. Meski masalah itu selesai dan pada akhirnya gadis itu mengaku siapa yang menyuruhnya tetap saja Alpha masih curiga pada anak laki-laki semata wayangnya ini.


"Balik, Ra. Gue nggak yakin kalau bisa nikmatin liburan dengan tenang. Mana kita nggak izin juga!"

__ADS_1


Bara mengangguk, dia bernapas lega ketika mobil perlahan bisa mulai jalan. Pemandangan yang sudah tidak asing lagi di daerah ibukota setiap paginya.


Bersambung ...


__ADS_2