
Rain menatap hamparan laut yang luas tak berujung. Deburan ombak memecah kesunyian pagi yang belum menampakkan sinar matahari. Angin yang sepoi-sepoi membuat rambut Rain yang tergerai terayun. Dia duduk di atas batu besar sambil menikmati udara pagi itu.
Sejak tadi kedua matanya tidak bisa terpejam. Dia memilih pergi tanpa tujuan. Hingga laju motornya berhenti di sini. Di pantai yang sama sekali Rain belum pernah kunjungi. Menatap langit yang samar mulai berwarna kebiruan. Pertanda pagi akan menjelang.
Pagi, ya, pagi yang sunyi seperti hatinya. Pagi yang belum terlihat cerah atau mendung karena waktu menunjukkan pukul lima. Rain tidak perduli jika Rean akan mencarinya. Dia butuh ketenangan saat ini.
Bibir Rain menyunggingkan senyuman, sementara hati tertawa. Menertawai kehidupannya yang konyol.
"Memilih untuk bersembunyi karena trauma, lalu setelah itu tidak di akui. Semua rahasia terkuak dan sekarang di paksa untuk keluar dari persembunyian!"
"Rain ... Rain ... Hidup lo terlalu lucu!"
"Bokap yang semula benci tiba-tiba ingin perbaiki diri dan meminta maaf karena semua sudah terkuak. Memaksa untuk mengatakan pada dunia siapa aku sebenarnya! Ini ... Benar-benar gila!"
Rain terus bermonolog sambil memandangi ombak yang mengantarkan air laut membasahi kaki Rain yang telanjang. Tidak perduli jika sebagian celananya basah.
"Sekarang ... Gue di hina gadis sialan oleh orang lain? Kalau membunuh itu tidak masuk penjara dan juga berdosa udah gue lakuin!"
Rain mengusap wajah frustasi. Bahkan dia lupa bagaimana rasanya mengantuk. Kejadian semalam benar-benar mengusik akal sehatnya.
Bara yang penasaran siapa Queen dan tujuan tidak masuk akal itu. Lalu Radit yang tiba-tiba pergi mengalami kecelakaan. Dia di usir lalu di paksa menjauh. Juga Damian yang mengirimkan mata-mata. Bagi Rain uang seratus lima puluh juta yang dia berikan kepada orang suruhan Damian itu tidak seberapa. Uangnya masih banyak, hanya saja orang-orang itu telah mengusik ketenangannya selama ini.
"Haruskah gue kembali kepada Rain dengan sikap dinginnya? Yang tidak perduli kepada siapapun termasuk keluarga!"
"Rain, Lo tahu? Gue jadi Lea nggak pernah sekalipun perduli gimana kabar bokap dan nyokap gue! Karena gue udah terbiasa melakukan semua sendiri. Bahkan gue nggak tahu masih punya orang tua atau enggak. Gue nyaman dengan dunia gue, tapi gue harus jadi Lo yang menurut gue hidup Lo itu menyebalkan juga rumit!"
Rain terus berbicara entah pada siapa. Di sana hanya ada dirinya. Seolah-olah Rain asli ada di hadapannya saat ini.
Rain terus meratapi nasibnya. Jika harus berpisah dengan Radit pun bukan masalah. Hanya cara Rima saja yang sebenarnya membuat dia sakit hati. Juga sikap Gwen yang menurutnya itu mencari masalah dengannya.
Kalau saja dia niat supaya Radit tidak usah di obati, pasti sudah Rain lakukan. Radit tidak akan bisa di terima di rumah sakit manapun karena perlakuan Rima. Pemilik rumah sakit itu adalah kakek Rain. Hanya saja tidak Rain lakukan. Dia masih berpikir jernih dan tidak mau tersulut emosinya.
Rima memang menguras tenaga juga emosinya. Menghadapi manusia itu benar-benar lelah. Lebih baik di diamkan saja. Rain akan melihat sendiri kehancuran keluarga itu tanpa perlu mengotori tangannya.
"Apapun itu gue bersumpah keluarga Lo bakal hancur!"
Rima memang tidak tinggal diam. Dia mempunyai nomor Rain entah darimana. Lalu mengirimkan pesan ancaman dan bahkan kamar Radit di jaga ketat oleh orang-orang yang Rain sendiri tidak mengenalnya. Rain yakin mereka adalah orang suruhan Rima. Bukan Alex.
Bahkan Fania saja tidak bisa berkutik. Grandma Rima itu benar-benar berusaha kuat untuk menjauhkan Radit dari Rain. Tidak masalah, toh jodoh sudah Tuhan yang mengatur. Rain gadis yang kuat dan tidak akan patah hati.
"Untungnya gue cuma ngincer duitnya. Nggak taunya gue lebih kaya dari tuh cowok!" Rain tersenyum miris.
"Gue nggak rugi juga karena ciuman pertama gue yang ambil Rean sableng!"
Rain geleng kepala ketika mendengar cerita Rean bagaimana bisa mereka kehilangan ciuman pertama masing-masing.
**
Matahari mulai menampakkan diri. Hawa yang semua dingin menjadi menghangat. Rain masih setia duduk di atas batu besar itu tanpa mau berpindah. Dia masih menata hatinya yang berantakan. Mematikan ponsel agar ketenangan itu terasa.
__ADS_1
Nyatanya, Rain harus kembali berjuang karena tugasnya belum selesai. Menjadi di kenal oleh semua orang karena dia bagian dari Klopper pasti akan membuat traumanya kambuh. Padahal Rain tidak perduli jika orang mencaci makinya. Dia tidak mau merasa berkuasa dengan nama Klopper.
Dia juga tidak mau orang menilainya mentang-mentang jika suatu hari mendapatkan prestasi. Menjadi penulis terkenal yang karyanya dijadikan film misalnya. Pasti semua orang menganggap jika ini hanya kebetulan karena dia adalah anak Damian yang bisa saja membayar produser kan?
Hal itu sudah Rain pikirkan matang-matang. Tentu akan memiliki rasa yang berbeda ketika orang tidak mengenal dirinya dengan pencapaian tersebut, pasti akan mendapatkan dukungan dari para netizen diluar sana. Hanya saja desakan dari keluarga besar sang ayah juga kakek dan neneknya membuat Rain frustasi.
Jika begini, impiannya menjadi penulis terkenal malas dia gapai. Takut orang menganggap ini pengaruh Klopper yang membuat novelnya terkenal.
"Arggghh .... Sialan!" teriak Rain. Suaranya menggema karena pantai itu sepi.
Kedua matanya terpejam, meresapi angin yang berhembus juga suara ombak yang menenangkan. Bersama dengan aroma kopi yang membuat jiwa Rain tenang.
Tentang Rain dan secangkir kopi hitam.
Ya, pikirannya lebih baik efek dari aroma kopi hitam itu.
Kedua matanya terbuka dan terkejut saat melihat secangkir kopi hitam.
Darimana kopi itu. Dia melihat ada telapak tangan yang memegang cangkir kopi yang terbuat dari plastik itu. Khas pedagang keliling tepi jalan.
Rain menoleh, memastikan kopi itu bukan halusinasi juga yang memegang adalah manusia.
"Cuaca dingin, lebih baik Lo angetin dengan kopi. Tenang aja nggak gue kasih racun kok!"
"Lo!" Kedua mata Rain melotot. Laki-laki itu .... Kenapa bisa ada di sini!
"Ambil, Rain. Panas nih!" gerutu lelaki itu.
Rain mengambil kopi dari tangan lelaki itu dan menyesapnya sedikit. Hangat terasa di tenggorokan dan menjalar hingga ke seluruh isi perutnya. Bara benar, di sini dingin dan Rain baru menyadari hal itu.
"Lo ngikutin gue?" tebak Rain yang tentu saja terdengar penuh percaya diri.
Bara mengangkat kedua bahunya. Dia duduk di batu sebelah Rain.
"Ini tempat favorit gue kalau pengen menyendiri. Eh nggak taunya gue liat Lo di sini. Ya udah gue beli kopi aja sekalian dua!"
Rain menatap sekeliling. Belum ada warung yang buka, tapi darimana dia mendapatkan kopi ini?
"Di ujung sana udah buka, baru mau sih tapi gue udah beli dulu karena langganan!"
Rain mengikuti arah jari telunjuk Bara. Benar, di sana ada seorang ibu yang sibuk menata dagangannya. Jika kita berdiri di warung sana, maka tempat Rain duduk memang sangat terlihat. Tepat di ujung sebelah kiri Rain. Tadi dia menatap sekitar sebelah kanan.
"Lo ngapain ke sini?"
"Gue lagi cosplay jadi tokoh novel, dimana cerita itu di tulis oleh seorang wanita yang selalu berharap novelnya best seller tapi ceritanya suka ngawur!"
Rain berdecak. Apa maksudnya sih!
"Nggak jelas!"
__ADS_1
Bara tertawa terbahak-bahak, karena sepi jadi tawa itu terdengar keras.
"Anjiir, kecilkan volumenya!" protes Rain.
"Gue nanya sama Lo, Lo ngapain di sini?" Bara penasaran, kenapa Rain bisa ada di tempat favoritnya.
Apa memang Rain sering kemari? Tapi Bara tidak pernah bertemu dengannya. Hampir setiap hari Bara menghabiskan waktu di pantai ini.
"Gue nggak tahu. Tiba-tiba gue pergi dari apartemen tanpa tujuan dan terdampar di sini," jawab Rain jujur. Dia meletakkan gelas kopi yang sudah habis isinya di sela-sela batu.
"Apa itu artinya kita jodoh?"
Rain mendengus, "Mana ada!" Bahkan kenal dengan Bara saja tidak.
Dimata Rain itu Bara adalah si bad boy yang playboy kelas kakap.
"Kalau gitu gue akan minta sama Tuhan buat jadi jodoh Lo!" Bara menaik turunkan alisnya.
Rain mengerutkan alisnya dalam, cowok di hadapannya ini benar-benar aneh. Dia memilih kembali menatap hamparan laut yang luas. Tidak memperdulikan orang gila yang ada di sampingnya. Bara terus saja memandangi wajah cantik Rain dengan rambut berayun yang menutupi wajah itu. Ingin rasanya tangan Bara terulur untuk merapikan rambut tersebut. Supaya wajah cantiknya itu terlihat.
"Lo ngapain sih liatin gue!"
"Karena Lo pemandangan yang indah!"
Kalau saja Rain gadis yang akan mudah terpesona dengan gombalan Bara, pastilah wajahnya memerah. Sayangnya, Rain bukan gadis seperti itu. Dia sangat kesal malahan. Dia tidak suka di gombali oleh lelaki yang belum dikenalnya.
"Jijik gue!" Rain memperlihatkan wajah jijiknya.
Membuat Bara terkekeh. Dia semakin gemas dengan Rain. Benar-benar gadis yang berbeda. Di luar sana para gadis pasti akan merona juga berteriak tidak jelas karena mendapatkan kalimat gombal dari Bara. Mereka akan semakin jatuh hati pada pesona Bara. Akan tetapi seorang Rain ?
Dia ... Sangat berbeda dan mungkin ... Lebih baik dari gadis yang pernah menjadi kekasihnya.
"Lo mau nggak singgah di villa gue?"
Rain memasang wajah masam. Tentu saja pikirannya sudah kemana-mana. Secara mereka hanya sekadar tahu nama saja tapi Bara sudah mengajaknya untuk ke villa.
Bara mengangkat kedua tangan, "Jangan salah paham. Gue nggak akan macem-macem!" Bara mengusap tengkuknya. "Ya kalik aja setelah Lo mampir suasana hati Lo membaik, 'kan?" Bara tersenyum kikuk. Takut jika Rain menilai Bara ini lelaki bajingan.
Bukankah memang begitu?
Rain ber-oh ria. Setidaknya tawaran Bara ada benarnya juga kan? Dia juga bisa merasakan gelagat aneh lelaki kalau ada 'mau'nya. Bara memang hanya menawarkan saja. Juga suasana pantai semakin siang pasti semakin panas.
"Baiklah!" sahut Rain kemudian.
Bara mengulurkan tangan, niat hati mau membantu Rain bangun dari duduknya dan sekaligus menggenggam tangannya. Namun, gadis itu menepis tangan Bara dan hampir membuat lelaki itu terjatuh.
Bara lupa jika Rain bukan seperti gadis di sekitarnya. Bara harus selalu mengingat itu. Setidaknya Bara bisa menikmati beberapa waktu dengan Rain hari ini. Begitu saja sudah membuat hati Bara bahagia.
Lupakan degupan jantung Bara yang berbeda di setiap tatapan sinis Rain. Lelaki itu merasa jika ini bukan dirinya. Masa iya seorang bara jatuh cinta?
__ADS_1
Tapi ... Benarkah Bara jatuh cinta kepada Rain?
Bersambung ....