
Sejak tadi pikiran Rain tidak bisa fokus sama pelajaran. Dia terus memikirkan nasib Radit. Melihat wajahnya yang kacau, jalan susah dan masih banyak yang Rain pikirkan. Dia ingin sekali menemui lelaki itu lalu membantunya berjalan. Hanya saja egonya terus menghantui, ketika hatinya mulai luluh tapi pikiran teringat pada semua ucapan Radit, saat itu juga rasa ibanya hilang. Rain juga bingung harus bagaimana. Di sisi lain dia ingin mempertahankan hubungannya, tapi di sisi lain dia sudah lelah.
Sampai bel istirahat berbunyi Rain masih saja setia duduk sambil menatap lurus ke depan tapi pikirannya melayang ke Radit.
Seluruh siswa-siswi pun berhamburan ke luar. Bara sibuk dengan buku-bukunya. Memasukkan ke dalam laci. Mentari, Rean, Mia dan Reno pun bersiap hendak ke kantin.
"Rain, ayo!" ajak Rean.
Rain masih saja diam. Dia ... Melamun.
"Rain!" Mentari melambaikan tangannya pun tidak di hiraukan olehnya.
Bara memukul lengan Rain, "Banjir ... Banjir ...," teriaknya heboh.
"Hah? Dimana?" Rain kelabakan dan reflek lompat ke meja.
Kelima orang itu tertawa. Membuat Rain bingung sendiri.
"Sapi!!! Lo pada!" ujar Rain kesal.
"Lo di panggil dari tadi nggak nyaut!" kata Reno.
"Iya, kita mau ke kantin nih! Ayo!" ajak Mentari.
Rain menggeleng, "Nggak deh. Kalian duluan aja!" jawab Rain yang kemudian mengambil novel dari dalam laci.
Ke empat temannya itu pun pergi begitu saja. Jika Rain sudah membaca novel maka dia tidak akan pernah mau di ganggu. Sementara Bara masih setia duduk di bangkunya sambil memandangi gadis cantik itu.
Rain melirik sedikit terkejut karena rupanya ada orang di sampingnya.
"Lo ngapain di sini?" tanyanya.
"Duduk!" jawab Bara santai.
"Anak TK juga tahu Lo lagi duduk!"
"Lo nggak laper?"
Rain menggeleng pelan dan tetap fokus pada bukunya.
"Nih makan!" Bara meletakkan kotak bekalnya tepat dihadapan Rain.
Gadis itu menoleh, lalu menatap kotak itu bergantian.
"Lo bawa bekel?" tanya Rain memastikan.
"Iya, kenapa emang?"
Rain mengulum senyum. Bukan masalah sih kalau bawa bekel. Hanya saja dia Bara dan tahu sendiri wajahnya slengean. Sudah gitu kotak bekalnya warna pink gambar hello Kitty pula. Astaga ...
"Nggak apa-apa sih, nanya aja!!" Rain membuka kotak bekal itu.
Ada dua sandwich dan susu stroberi. Rain melirik ke arah Bara. Mencoba meyakinkan diri jika memang Bara membawa bekal dan kebetulan saja isinya kesukaannya.
"Mama yang bikin karena gue lagi di hukum sama Papa. Semua kartu kredit yang gue punya di ambil bahkan motor juga. Gue ke sekolah naik angkot dengan uang yang di pas buat bolak-balik!" jelas Bara.
Rain cukup trenyuh dengan ceritanya. Sebegitu besar masalah yang sedang cowok itu hadapi. Nampaknya lebih besar dari yang dia kira, karena orangtuanya sampai menahan semua fasilitas yang diberikan. Bahkan Bara harus menghemat uang agar bisa naik angkutan umum.
Rain pikir Bara bercanda bawa bekal dan hanya mengada-ada demi mendapatkan simpatinya. Rupanya lelaki itu tidak bohong. Ah, sejak kapan sih Rain jadi se-pe-de ini?"
"Nih Lo juga makan nanti laper!" Rain menyodorkan kembali kotak bekal Bara. Masih ada satu sandwich lagi.
Bara tersenyum, "Thank!" ucapnya.
***
Seperti biasa, setelah pulang sekolah Rain menunggu hingga suasana sepi. Dia malas sekali jika harus berdesak-desakan. Apalagi melihat drama para siswi yang menatap kagum Rean dan Kenan. Dia sangat muak dengan tingkah para siswi itu. Terlebih jika mereka sedang main basket. Maka para fansnya berteriak heboh.
Ngomong-ngomong soal Kenan ... Dia apa kabar ya? Rain tiba-tiba memikirkan lelaki itu. Sejak semuanya sudah membaik dan lelaki itu memilih tidak mau memperjuangkan perasaannya terhadap Rain, gadis itu tidak pernah melihat Kenan. Biasanya juga sering ke apartemen bersama teman-temannya. Namun, kemarin saat berkumpul hanya ada Rean, Lando, Sandy dan Reno saja. Kenan tidak ikut.
Bahkan mereka satu sekolah pun Rain tidak melihat Kenan.
"Ck, ngapain mikirin dia sih!" Rain membereskan semua buku-bukunya yang berserakan di laci dan memasukkan ke dalam tas.
Dia berjalan santai menyusuri koridor yang sudah sepi. Parkiran juga sudah sepi, hanya tersisa motornya saja. Rain bergegas memakai helmnya dan melajukan motornya.
__ADS_1
Saat hendak melintasi halte, dari kejauhan Rain melihat sosok yang sangat dia kenali. Gadis itu menghentikan motornya tepat di depan lelaki tersebut. Dengan wajah kesal juga gelisah lelaki itu duduk dan memandangi wajah Rain.
"Ayo naik!" ajak Rain.
Lelaki itu menurut saja dan meraih helm yang Rain berikan. Dia memang selalu membawa dua helm untuk berjaga-jaga saja.
"Gue ketinggalan bus. Tadi penuh banget. Gue pikir masih ada bus lagi, tapi di tunggu-tunggu nggak dateng," kata Bara sebelum Rain menyalakan motornya.
Padahal Rain tidak bertanya. Dia juga tahu jika lelaki itu tertinggal bus karena belum terbiasa. Bus hanya satu kali datang dan akan lewat situ lagi satu jam atau bahkan lebih. Terkadang sudah tidak ada lagi bus yang melintas. Rain pernah di posisi itu soalnya. Hanya saja dia beruntung mendapatkan bus berikutnya. Itu sebab mengapa ketika bus dateng sangat penuh.
Akan tetapi ada juga yang memilih jalan lebih jauh dan naik angkutan umum karena angkutan lebih banyak dan sering lewat.
Bara sedikit takut juga di bonceng oleh Rain, rupanya gadis itu jago dalam melajukan motor dengan kecepatan lebih tinggi. Fokusnya bisa di acungi jempol. Padahal sedang tidak balapan. Meski sering balapan juga di bonceng dengan kecepatan sedang membuat Bara merem melek. Takut kalau kenapa-kenapa. Bara tidak tahu harus pegangan apa, dia memilih memegang tas Rain saja. Pura-pura baik-baik saja.
Rain memelankan laju motornya. "Rumah Lo dimana?" tanya Rain.
Rain pernah mengantar Bara pulang memang, tapi dia sedikit lupa arah jalan menuju area perumahan yang Bara tinggali. Karena saat itu sudah menjelang malam. Dia hanya ingat sedikit saja, tapi di saat pertigaan menuju area perumahan Bara dia lupa.
"Lurus aja, Rain. Nanti juga keliatan gerbang perumahannya!"
Rain kembali melaju, benar jika terlihat gerbang perumahan yang di jaga ketat oleh satpam. Bara tinggal di perumahan yang elit, jadi tidak sembarangan orang bisa keluar masuk. Begitu juga dengan mansion milik kakeknya. Berada di lingkungan elit dan tidak sembarang orang bisa masuk. Bahkan para tamu yang hendak pergi ke salah satu penghuni di sana pun harus melapor.
Satpam membukakan palang pintu ketika melihat Bara. Lalu dia sedikit membungkuk juga tersenyum ke arah Bara.
"Berhenti, Rain!" Bara menepuk pundak gadis itu.
Tepat di rumah paling mewah dengan pagar yang menjulang tinggi warna hitam itu motor Rain berhenti.
"Lo masuk dulu yuk!"
"Nggak deh, gue duluan!"
Saat Rain hendak melajukan motornya kembali, itu terhalang dengan suara ...
"Lho kok pacarnya nggak di kenalin sama mama?" suara lembut dari Mama Bara terdengar.
Rain pun turun dari motornya dan bersalaman dengan mama Bara.
"Siang, Tante!" sapanya.
"Rain, Tante."
"Oh ... Rain, makasih ya sudah anterin Bara. Jadi ngerepotin kamu."
"Nggak apa-apa, Tante. Tadi Bara ketinggalan bus soalnya. Kasian kalau nunggu sampe sore!"
Bara mengulum senyum, dia baru pertama kali melihat mamanya ini akrab sama cewek yang dia bawa pulang. Biasanya suka cuek.
"Masuk yuk, kita makan siang dulu!" Jasmine--mama Bara itu melingkarkan tangannya di lengan Rain.
"T-tapi, Tante ... Aku harus___"
"Pak, bawa masuk motor Rain ya!" titah Jasmine pada satpam rumahnya.
Rain tidak jadi melanjutkan ucapannya. Mama Bara ternyata memang suka memaksa.
"Tante masak tumis kangkung kayaknya tadi pengen banget makan itu. Ada udang saus Padang sama capcay seafood. Ayam goreng krispi juga ada. Kamu suka yang mana?" tanya Jasmine saat mereka melangkah ke ruang makan.
"Apa aja aku suka, Tante!"
"Waah ... Enak ya kalau nggak pilih-pilih makanan. Nggak kayak anak Tante nih. Pilih-pilih makanan!"
"Apa sih, Ma!" Bara jadi kesal jika mamanya mulai membandingkan.
"Ayo, Rain. Makan yang banyak!" kata Jasmine ketika mereka sudah berada di ruang makan.
Tidak lama kemudian muncul sosok lelaki yang mirip sekali dengan Bara. Hanya saja usianya lebih tua. Rain yakin jika itu ayah Bara. Sekarang Rain tahu wajah tampan Bara ini rupanya menurun dari sang ayah.
"Siapa lagi ini, Ra?" tanya Alpha yang langsung di hadiahi cubitan di pinggang oleh Jasmine.
"Sakit, sayang!" ucap Alpha dengan meringis.
Cubitan itu sangat pedas sekali.
"Bisa nggak papa ini jaga ucapannya!" bisik Jasmine.
__ADS_1
"Siang, Om. Saya teman sekelas Bara. Saya Rain." Rain mengulurkan tangannya. Tidak peduli dengan ucapan Alpha dan tatapannya yang penuh selidik juga curiga itu.
"Rain?" beo Alpha. Keningnya mengerut. Mengingat nama Rain.
Sedetik kemudian wajah yang datar tadi pun tersenyum.
"Jadi ... Kamu yang bantu Bara ya?" tanya Alpha sambil menikmati makan siangnya.
Rain mengangguk, sebenarnya canggung juga karena baru pertama kali bertemu kedua orang tua Bara, tapi sang mama seakan sudah akrab dengannya. Sekarang Rain seakan sedang di interogasi oleh papa Alpha.
"Bara juga sudah membantu saya," jawab Rain sambil tersenyum.
"Oh ya?" Alpha melirik putranya yang hanya diam saja. "Memangnya apa yang bisa dia lakukan?" tanya Alpha.
Jasmine menyikut lengang Alpha. Benar-benar ya suaminya ini suka bikin gara-gara. Niat hati mau dekati Rain karena Jasmine nilai dia gadis yang berbeda, tapi Alpha membuat gadis itu tidak nyaman.
"Rain, makan yang banyak ya!" kata Jasmine memecah rasa yang sudah tidak enak ini.
"Terima kasih, Tante. Masakannya enak. Tante yang masak?" Rain mengabaikan pertanyaan Alpha.
"Enggak, tadi di bantu sama Mbak Rini dan yang lainnya."
*
Setelah selesai makan siang, Rain di ajak oleh Jasmine ke dapur untuk membuat kue. Jasmine sangat antusias sekali, terasa seperti menemukan teman yang satu frekuensi. Alpha hanya menggeleng saja, padahal dia belum selesai bertanya pada gadis itu. Alpha juga merasa tidak asing dengan wajah Rain. Seperti pernah bertemu tapi entah dimana.
"Kamu ... Tumben nggak salah cari pacar! Bisa buat mama bahagia begitu!" sindir Alpha.
Mereka sedang duduk di ruang tengah. Alpha sibuk menonton televisi sementara Bara yang sibuk main game. Dia ingin ke kamar tapi ingat ada Rain di rumahnya.
"Apa sih, Pa? Bara kan sudah bilang kalau Bara nggak pernah macem-macem!"
"Lalu ... Kamu lupa gadis yang mengaku hamil denganmu? Papa masih belum percaya sampai anak itu lahir!"
Bara menghela napas, terus di pojokan juga dia merasa lelah. Semua masalah harusnya sudah selesai, 'kan? Karena Bara sudah membuat mereka mengaku. Namun, nampaknya Alpha masih tidak percaya dengan semua bukti yang Bara berikan. Alpha ... Sudah terlanjur kecewa dengan Bara. Kebebasan yang dia berikan di salah gunakan oleh putra semata wayangnya itu. Alpha masih memberi hukuman pada Bara sampai lelaki itu kembali menjadi lebih baik.
Sementara Bara sendiri bingung bagaimana caranya membuat papanya ini percaya. Bahkan dia tetap menyuruh menikahi gadis yang katanya hamil itu. Bara sama sekali tidak kenal dan bahkan tidak tahu siapa gadis tersebut. Dia di jebak dan sudah tahu siapa yang menjebak.
"Bara sudah bilang kalau itu bukan perbuatan Bara, Pa!" Bara meremas rambutnya frustasi.
Alpha tertawa, "Ya, Papa percaya. Nanti jika anak itu sudah lahir. Papa sudah bilang untuk menikah secara agama dulu!" tegas Alpha.
"Terserah! Bara capek terus di pojokan seperti ini. Bara sudah bilang kalau Bara nggak kenal sama itu cewek dan Bara di jebak oleh Kevin!" teriak Bara dan langsung pergi ke kamarnya.
Sementara Jasmine yang mendengar keributan pun langsung berlari ke arah dimana Alpha berada.
"Ada apa sih, Pa?"
Rain yang dengar juga kaget, kayaknya suasana sedang tidak baik-baik saja. Setelah ini dia akan meminta untuk pamitan saja.
Alpha menghela napas gusar, "Anakmu itu!" Alpha geleng-geleng dan pergi begitu saja.
"Papa ini ... Jangan terlalu keras dengan Bara. Mama sudah bilang kan? Kalau Bara tidak mungkin melakukan itu!"
Alpha tidak memperdulikan lagi ucapan sang istri dan tetap berjalan ke ruang kerjanya.
Sementara Rain berdiri mematung di pintu dapur. Saat Jasmine datang, wanita itu tersenyum dan memeluk lengan Rain.
"Ayo kita lanjutkan lagi."
"Tante ... Kayaknya Rain pulang aja deh!"
Jasmine menautkan alisnya, "Lho kenapa? Karena tadi? Jangan di tanggepin ya. Mereka memang begitu setiap harinya." Jasmine masih berusaha terlihat baik-baik saja.
Dia masih ingin mengetahui sifat Rain dan tentu saja jika cocok akan memasukkan ke dalam list perjodohan. Daripada putra semata wayangnya itu di nikahkan sama gadis urakan yang tiba-tiba mengaku hamil.
Rain pun tidak bisa menolak dan akhirnya pasrah.
"Baiklah."
Jasmine tersenyum penuh kemenangan. Selain itu Jasmine akan meminta bantuan Rain supaya suaminya ini tidak lagi memaksa Bara untuk menikah dengan gadis yang menyebalkan itu. Jasmine berharap, Rain bisa membuat Alpha dan Bara kembali akur lagi.
Bersambung ....
Maaf ya kalau typo betebaran.
__ADS_1