
Bab 37
Fania sedang duduk di bangku taman belakang. Tatapannya lurus ke depan, sedangkan pikiran melayang entah kemana. Sementara dibalik punggungnya ada sosok wanita paruh baya yang menatapnya tidak suka. Sejak tadi dia ingin sekali memberi pelajaran pada menantunya itu. Hanya saja dia urung karena belum saatnya dia menghancurkan Fania.
Wanita itu melangkah mendekat dan duduk di sebelah Fania dengan tatapan datar.
Fania terkesiap, lalu memberikan senyum canggung pada mertuanya itu. Meski hati kecilnya sedang tidak baik-baik saja ketika dekat dengan mama mertua.
"Fan, kamu masa nggak bisa sih bujuk Hanna supaya kembali lagi tinggal sama mama? Padahal di sana dia sudah hidup enak dan mendapatkan nilai bagus disetiap pelajarannya."
"Hanna ingin dekat dengan Radit, Ma."
"Ya sudah kalau begitu Radit biar tinggal sama mama supaya Hanna ikut!" Rima benar-benar kesal karena Fania terlalu santai menyikapi sikap Hanna.
"Radit tinggal beberapa bulan lagi lulus, Ma. Sayang jika dia pindah."
"Kamu ini selalu saja ngejawab apa yang mama katakan! Semua ini demi kebaikan anak-anak kamu lho! Radit bisa kok sekolah di Amerika nanti tinggal lanjutin aja itu biar lulus. Hanna itu di sini pasti bakal mendapatkan nilai yang jelek. Apalagi kamu bebasin anak kamu itu keluyuran. Apa kamu nggak takut kalau anak perempuan kamu itu___"
"Ma, stop! Aku tidak membebaskan mereka, aku juga menyuruh mereka melakukan kegiatan tambahan. Hanya di weekend saja aku membiarkan mereka beristirahat. Hanna bisa menjaga dirinya, Ma" Fania benar-benar geram dengan sikap mama mertuanya itu.
Selalu saja ikut campur tentang mendidik anaknya.
"Kalau kamu nurut sama mama dulu supaya hamil lagi biar keluarga kita memiliki tiga lelaki, pasti mama nggak akan sefrustasi sekarang!"
Fania menghela napas lelah, sungguh berbicara dengan mama mertuanya ini membuat tenaganya habis.
"Ma, sudahlah. Aku tidak mau membahas soal kehamilan lagi! Mama tahu sendiri kalau aku sudah tidak bisa memberikan keturunan!"
Rima menatap remeh Fania, hanya dia yang sulit di singkirkan hanya dia juga yang berani membantah sang mama. Sementara satu menantu perempuannya sudah berhasil dia kendalikan. Menuruti semua permintaanya, tanpa perduli seberapa stres menantunya itu.
Entah sejak kapan Rima menjadi gelap mata, dia selalu mengatur para cucunya untuk menikah dengan pilihannya demi menyatukan perusahaan dan mendapatkan banyak keuntungan. Dia tidak mau jika menantu cucu-cucunya nanti dari kalangan rendah.
Rima juga sudah mengetahui jika Radit menjalin hubungan dengan Rain. Rima sangat tidak menyukai Rain karena asal-usulnya tidak jelas. Gadis itu pandai menutupi identitasnya karena tidak mau diketahui oleh siapapun.
Rima tidak tahu saja jika Rain adalah cucu Albert. Rima bahkan tidak tahu seberapa berpengaruhnya Albert. Lelaki paruh baya itu bisa saja menghancurkan semua bisnis Rima dalam sekejap mata jika menyakiti hati cucunya.
Sayangnya Albert tidak mengetahui itu. Padahal jika dibandingkan dengan gadis pilihan Rima yang akan dijodohkan dengan Radit, gadis itu tidak ada apa-apanya. Masih kalah jauh dengan Rain.
"Mama hanya bilang andai saja, Fan. Tidak menuntut apapun. Kenapa kamu marah sama Mama?" Rima menatap sendu Fania.
Membuat wanita berambut sebahu itu mengernyit heran. Sikap mertuanya tiba-tiba saja berubah. Jika tadi angkuh dan penuh kebencian sekarang dia berubah sedih. Fania sudah lelah jika harus terus menerus menghadapi Rima. Dia sudah tidak tahan lagi.
"Mama kenapa?"
Suara seorang lelaki membuat Fania menoleh, dia tidak menyangka jika Alex sudah berada di belakangnya. Entah sejak kapan.
"Mama hanya menasehati Fania, tapi dia malah marah-marah. Maafin mama ya, Fan. Mama sadar kok kalau mama ini hanya orang lain!"
*Bagus sekali aktingnya, Ma!* Batin Fania.
Sungguh ini diluar dugaan Fania, jadi mama mertuanya sedang berakting?
Sebenarnya apa maksud Rima itu.
"Fania, apa yang terjadi?" ucapan Alex penuh penekanan.
Fania memutar bola mata malas, dia pun menatap Alex dengan emosi yang membara.
"Tanya saja sama mama aku sendiri juga nggak tahu kenapa mama tiba-tiba marah!"
Fania pun berlalu, dia selalu saja salah dimata mertuanya itu. Padahal juga Fania terlahir dari orang berada. Rima menyetujui pernikahannya dengan Alex karena Fania memiliki bisnis properti yang terbilang sukses. Apalagi dia dulu seorang model terkenal.
Sejak hamil Hanna dia berhenti karena mudah lelah. Entah kenapa Rima selalu saja merecoki hidupnya ini.
"Fania!" panggil Alex dengan suara tinggi.
Alex yang hendak menyusul Fania pun ditahan oleh Rima.
"Alex, sudah. Biarkan Fania tenangin pikiran dulu. Mungkin tadi ucapan mama membuat hatinya terluka. Makanya dia bentak-bentak Mama!" Rima meneteskan air mata yang dibuat-buat.
"Bentak mama?" Alex mengulang ucapan Rima.
Rima mengangguk lemah. Alex mengusap wajahnya. Benar-benar membuat emosinya memuncak. Dia sendiri tidak pernah membentak Rima, kenapa Fania malah membentaknya?
Alex selalu memperlakukan mama Fania pun seperti mamanya sendi, tapi Fania?
Ah, Alex tidak tahu saja apa yang terjadi.
***
Keyla menarik tangan Mentari menuju gudang sekolah. Di sana jalanan jarang dilalui jadi selalu aman jika berbuat sesuatu. Gudang itu memang selalu menjadi saksi perbuatan para siswa-siswi. Berpacaran misalnya atau membully siapapun yang lemah.
Rain yang pernah merasakan kekejaman Ella di dalam gudang itu.
"Key, sakit!" rintih Mentari saat Keyla mencengkeram pergelangan tangannya sangat kuat.
Keyla mendorong Mentari hingga gadis itu terjatuh di lantai gudang yang kotor. Udara di sana pengap, penerangan yang minim dan banyak sekali debu.
"Sakit ya? Itu belum seberapa! Lebih sakit hati gue tau nggak!" bentak Keyla.
__ADS_1
"Aku nggak tau apa salah aku sampai hati kamu sakit!" Mentari mencoba berani menjawab Keyla seperti yang Mia katakan. Jika dia harus bisa melindungi dirinya sendiri.
"Masih nanya? Lo itu kegatelan tau nggak! Lo udah rebut Rean dari gue!" Keyla kembali mendorong bahu Mentari.
Namun, kali ini gadis itu tidak terjatuh karena siap menahan tubuhnya.
"Aku ... Nggak rebut dia. Aku nggak ada hubungan apapun sama dia, Key. Aku berani bersumpah!" Suara Mentari mulai bergetar.
Tatapan Keyla yang tajam membuatnya takut, dia takut di dalam gudang itu karena minim cahaya. Gudang menjadi tempat terngeri bagi Mentari. Gadis itu memiliki trauma tentang tempat itu saat di sekolahnya dulu.
Keyla menjambak rambut Mentari. "Lo pikir gue bodoh, hah! Sejak kenal Lo Rean jadi jauhin gue!" Keyla semakin kencang menjambak rambut gadis itu.
"Key, sakit!" Mentari mencengkeram pergelangan tangan Keyla. Berusaha untuk melepaskan tangan gadis itu.
Kepalanya terasa pusing karena Keyla terlalu kuat menjambaknya, seakan kulit kepala mau lepas.
"Rasain, ini belum seberapa dibanding sakit hati gue! Jauhin Rean maka gue nggak akan pernah gangguin Lo!"
Mentari masih berusaha melepas tangan Keyla. Entah kekuatan dari mana Mentari mendorong gadis itu hingga jatuh dan punggungnya mengenai meja yang sudah rusak.
"Lo mulai berani sama gue!" Keyla bangkit dan hendak memberi pelajaran pada Mentari.
"Nggak, Key. Maaf. Aku nggak sengaja. Aku nggak bisa jauhin Rean karena dia duduk di sebelah aku!" Mentari mundur, tubuhnya bergetar karena baru saja dia mendorong Keyla.
Keyla tersenyum sinis, "Lo macem-macem sama gue ya!" Keyla menggoyangkan kunci yang sedang dia pegang.
"Mati aja Lo di sini! Nggak akan pernah ada yang nolongin elo!" bisik Keyla yang segera menuju pintu.
"Key, jangan aku mohon!" Mentari sudah sangat ketakutan, dia menarik lengan Keyla agar gadis itu tidak mengurungnya di gudang.
"Lepas! Jijik tau nggak!" Mentari berhasil Keyla dorong.
Keyla membuka pintu lalu menoleh ke arah Mentari dengan senyum puas. Tidak akan ada lagi pengganggu untuk dia mendekati Rean.
"Bagus ya, Key!"
Suara itu mengejutkan Keyla saat hendak keluar dari gudang dan menutup pintu.
Mentari yang mendengar ada orang lain pun segera menarik pintu tersebut. Namun, Keyla justru menahan kenop pintu agar Mentari tidak muncul. Dia segera menutup pintu tersebut.
"Lo ... Ngapain di sini!" Keyla berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak mau orang yang ada dihadapannya ini curiga. Jika di dalam gudang ada orang lain.
"Minggir nggak!"
Keyla berusaha untuk tetap berdiri di depan pintu itu. Menghalangi gadis yang hendak mencoba membuka pintu gudang.
"Lo nggak usah macem-macem sama gue! Buka atau gue bakal ngurung Lo di dalem!" ancamnya.
"Nggak bisa!" bentak Keyla.
"Key, gue udah coba santai ya. Apa Lo mau cara kasar?" Gadis itu menyeringai.
Membuat bulu kuduk Keyla berdiri.
"Buka, tolong!"
Itu suara Mentari. Dia terus menggedor pintu gudang. Membuat Keyla ingin menyiksa gadis itu lagi.
Sial!
"Lo bilang nggak ada siapapun di sana! Minggir nggak?" Rain sudah sangat geram. Dia langsung mendorong tubuh ringkih Keyla.
Tenaganya yang kuat membuat Keyla langsung terjatuh. Telapak tangannya pun terluka karena tergores kenop pintu yang sudah setengah rusak.
"Lo bakal bayar ini semua, Rain!" ujarnya penuh dendam.
Rain tersenyum sinis, "Ancaman Lo nggak bakal bikin gue takut. Seharusnya Lo yang siap-siap bayar ini semua!" Rain membuka pintu gudang. Lalu dia mendekati Keyla dan menarik kerah seragamnya.
"Gue udah bilang jangan ganggu Mentari! Sekali lagi Lo ganggu maka gue yang akan buat hidup Lo menderita!" Keyla mengepalkan satu tangannya.
"Aaaggggrrrrhhhhhh! Mentari sialan, Rain gila!" teriaknya.
Sedangkan Mentari dan Rain sudah berlalu pergi.
Mentari berada di uks dan meminum segelas teh manis hangat untuk menenangkan dirinya. Tubuhnya sudah pucat dan keringat terus bercucuran. Berada di dalam gudang tadi membuat traumanya hampir kambuh. Beruntung dia tidak termor karena Rain cepat datang menolongnya.
Rain memang melihat Keyla yang menyeret Mentari, hanya saja gadis itu membiarkan sampai mana Keyla berani membully Mentari. Mendengar percakapan mereka dan Mentari berusaha melawan, membuat Rain lega.
Namun, disaat Keyla hendak keluar dan mengunci Mentari dari luar, saat itulah Rain bertindak. Dia akan selalu melindungi Mentari karena tidak mau ada lagi siswa-siswi cupu atau pendiam mendapatkan perundungan.
"Nggak usah takut lagi, gue seneng Lo bisa lawan dia." Rain menepuk pundak Mentari.
Gadis itu tersenyum, rasa takutnya perlahan hilang.
"Terimakasih, Rain. Kalau nggak ada kamu ... Aku nggak tahu nasib aku gimana. Aku takut banget!" Kedua mata Mentari sudah berkaca-kaca.
"Lo ada trauma ya?" tebak Rain.
Gadis itu mengangguk lemah. "Aku pernah di kurung dalam gudang saat di sekolah yang dulu. Malah tidur di sana tanpa apapun. Ponselku entah kemana. Beruntung besoknya ada penggeledahan karena ibu melaporkan aku yang hilang." Mentari menghela napas panjang ketika mengingat kejadian itu.
__ADS_1
Dadanya terasa terhimpit benda yang berat, hingga sulit untuk bernapas. Mengingatnya saja sudah membuat Mentari kacau. Melihat itu Rain jadi merasa bersalah tentang pertanyaannya tadi.
Rain asli juga sama kayak Lo, Mentari
"Sorry, gue nggak bermaksud bikin lo sedih!"
Mentari menggeleng, "Nggak kok, tadi kan Rain nanya. Aku kagum sama Rain yang keren dan pemberani!" puji Mentari.
Yang Lo lihat ini bukan Rain asli, karena yang asli sama kayak Lo penakut. Hanya saja Rain asli udah bahagia di atas sana
"Lo juga pemberani. Buktinya tadi Lo dorong Keyla."
"Kok Rain tau?"
"Ya tau lah, apa sih yang___"
"Mentari, Lo nggak apa-apa kan?" Rean datang dan langsung memeluk gadis itu.
Tidak perduli pada Rain yang sedang duduk di sebelah kaki Mentari.
Mentari yang sedang duduk di atas ranjang UKS itu hampir saja jatuh karena belum siap menerima pelukan Rean. Wajah lelaki itu sangat khawatir.
"Heh, ada orang nih!" Rain menepuk punggung Rean.
Lelaki itu segera menoleh, tapi dia justru duduk di samping Mentari. Menatap gadis itu lekat, memastikan tidak ada luka sedikitpun pada gadisnya.
"Njiir, gue dicuekin!"
"Mentari, apa yang sakit?" tanya Rean.
"Nggak ada kok, aku hanya takut gelap. Rain tadi yang nolongin aku."
"Syukurlah, udah minum obat?"
Mentari mengangguk, "Rean kok tahu kalau aku ada di sini?"
"Ya, tadi ada yang lihat Lo masuk UKS dan gue langsung aja kesini!"
"Nyet! Gue dibelakang, woy! Tangan gue sakit!" protes Rain yang satu tangannya Rean duduki.
Saking paniknya Rean tidak tahu jika ada tangan Rain.
"Apa ada hantu ya? Merinding gue ada suara-suara bisikan!" Rean bergidik ngeri.
Rain mencubit pinggang lelaki itu dengan satu tangannya. Sebenarnya bisa saja Rain menarik tangan Rean, hanya saja kalau belum melakukan kekerasan ada yang kurang.
"Agak laen nih bocah!" kesal Rain.
Saat hendak melayangkan tinjunya, Rean segera melambaikan kedua tangannya.
"Damai, bro!" Rean mengangkat jari telunjuk dan manis tanda perdamaian.
"Nggak ada, Lo harus tanggung jawab karena udah buat tangan gue sakit dan sebagai permintaan terima kasih karena gue udah nolongin Mentari."
Mentari tersenyum melihat perdebatan Rean dan Rain. Mentari juga baru sadar jika sedekat ini wajah mereka hampir mirip.
Katanya kalau mirip itu jodoh ya?
Wajah Mentari mendadak murung, tapi dia segera menggeleng lemah. Dia tidak mau merasa iri karena Rain yang dekat dengan Rean.
Rean mencibir, mana ada tanggung jawab dalam hal itu. Toh tangan Rain tidak terluka parah. Juga bukan mau Rean kan kalau Rain menolong Mentari.
"Siniin black card milik Lo maka gue akan maafin Lo!"
Mentari mendengar hal itu menelan ludah susah payah. Orang kaya emang beda.
"Lo kan punya, Rain!"
"Ck, kasih atau gue bakal___"
"Iya, iya! Dasar cewek bar-bar!" gerutu Rean. Meski kesal tapi dia tetap memberikan apa yang Rain mau.
Rain melirik ke arah Mentari dan menatap Rean dengan senyum puas. Akhirnya dia bisa belanja tanpa perlu mengeluarkan duit. Biar saja Rean yang membayar semua itu.
"Mentari, kalau dia apa-apain Lo, bilang sama gue ya!"
Mentari mengangguk.
"Lo kalau suka bilang, jangan bikin baper anak orang!" bisik Rain yang tentu saja hanya Rean yang mendengar.
Rean menendang kaki Rain, "Pergi sana!" usir Rean.
Rain tertawa puas lalu pergi meninggalkan mereka berdua di uks.
Mentari menatap kepergian Rain. Ucapan Rain yang belum selesai mengganggu pikirannya. Juga sikap Rean yang mudah sekali menurut dengan Rain. Sebenarnya apa hubungan mereka ya? Kalau hanya sekadar sahabat masa iya Rean nurut banget sama Rain.
"Wajah kalian mirip ya, katanya kalau mirip itu jodoh!"
Bersambung ....
__ADS_1