Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 61


__ADS_3

Seminggu berlalu, Rain sudah selesai dengan masa skorsingnya dan sekarang dia bisa masuk sekolah kembali. Dengan rasa malas dia melangkah menuju kelas. Hanya saja langkah itu terhenti ketika melihat sosok lelaki menyebalkan. Rain harus berbalik dan memilih jalan lain.


Lelaki itu dengan jalan yang tertatih karena memakai alat bantu jalan, pun memaksa diri untuk berjalan cepat. Mengejar pujaan hati yang sudah mendiaminya selama kurang lebih dua minggu. Suasana hatinya kacau dan bahkan wajahnya terlihat kuyu, itu tidak akan membuat Rain merasa iba.


Hati mana yang tidak terluka jika mendapatkan ucapan pedas dari lelaki yang sangat dia cintai. Rain masih terus berjalan meski pikirannya mengingat semua kata kasar Radit di pesan singkat yang lelaki itu kirimkan.


Dasar cewek matre. Seharusnya gue sadar kalau Lo mau jadi pacar gue karena semua harta gue dan supaya kebusukan keluarga Lo bisa terungkap kan? Lo cuma manfaatin gue supaya bokap gue bantuin Lo!


Cewek tolol! Gue nggak nyangka Lo sepicik ini, Rain!


Dulu sok lemah, lalu pura-pura hilang ingatan terus berubah jadi serba bisa. Lo pikir gue bodoh apa!


Gue yakin Lo cuma pura-pura. Lo gunain tuh tubuh buat godain cowok-cowok keren!


Pantes aja Kenan nolak Lo, sekarang gue tau sifat asli Lo!


Deketin bara, tidur bareng biar Lo bisa hancurin gue, iya?


Bagus, Rain. Dibayar berapa tubuh Lo sama Bara? Seharusnya gue juga dapet tubuh Lo karena pengeluaran gue buat Lo banyak!


Cewek murahan!


Cewek ja la Ng


Cewek sialan!


Mampus aja sono!


Yang lagi sibuk ngelayanin gebetan baru. Berapa ronde? Sampai nggak mau bales


Oh, jadi bener ya Lo emang lagi tidur sama Bara? Lihat nanti, Rain kalau gua udah sembuh! Gua bakal bales apa yang Lo lakuin ke gua!


Rain berlari dan tidak perduli jika dia menabrak siapapun dan mendapatkan umpatan. Dia sudah malas bertemu lelaki itu. Hatinya sudah sakit, Radit nggak tahu kalau dia tidak ada di sisinya karena lelah dengan segala ancaman dari grandma Rima. Rain masih menghargai wanita separuh baya itu, dia tidak mau melawan meski hatinya sangat sakit dengan semua ucapannya. Rain masih menganggap dia wanita tua yang harus di hargai, bukan di lawan.


Orang kaya memang selalu memikirkan kelangsungan hidupnya. Agar tidak merasakan hidup susah. Mereka selalu memilihkan jodoh kepada keturunannya tanpa perduli perasaan mereka. Bagi mereka orang miskin itu akan merugikan. Jadi orang miskin tidak enak karena selalu di salahkan.


Rain paham dengan itu semua. Di dunia ini memang uang yang berbicara, tapi tidak bisakah untuk tidak menghina? Kalau saja Rain mau, dia akan mengatakan siapa dirinya dan seberapa besar kekayaannya.


Sebagian besar kekayaan Radit tidak akan sebanding dengan kekayaannya. Jadi yang harusnya di hina itu keluarga Radit. Mereka seperti butiran debu dimata Rain. Hanya saja gadis itu memilih untuk tidak sombong pada sebuah titipan. Dia selalu merendah dan bahkan menyembunyikan semua hartanya. Menjadi orang biasa itu lebih menyenangkan. Dia juga tidak mau orang terlalu menyorotnya dan gerak-gerik nya terbatas.


Rain juga tidak mau di kelilingi oleh orang-orang munafik yang hanya mengambil keuntungan darinya. Biarlah dia menjadi diri sendiri, biarlah orang menganggapnya sebelah mata, biarlah Rain menjalani kehidupan normal seperti remaja pada umumnya.


"Rain ... Tunggu! Aku ingin bicara padamu!" teriak Radit yang masih terus mengejar Rain.


Kalau saja dia tidak mengalami kecelakaan dan membuat kakinya patah maka dia sudah bisa mengejar gadis itu dan tidak tertinggal jauh.


"Rain ... Aggggrrrr!" Radit berhenti karena rasa sakit yang luar biasa menjalar di kakinya.


Dia di bantu oleh beberapa murid di koridor untuk duduk.


"Kakak nggak apa-apa? Sebaiknya kita ke UKS!" kata gadis yang membantu Radit itu.


"Tidak perlu, gue baik-baik aja. Terima kasih sudah menolong."


Gadis itu mengangguk dan menatap iba kakak kelasnya. Siapa yang tidak mengenal Radit dan kisah cintanya bersama Rain itu? Tentu seluruh sekolah tahu. Mereka selalu membuat iri siapa saja yang melihat jika mereka sedang berduaan.


Melihat Radit yang berusaha mengejar Rain dan gadis itu tidak perduli, membuat seluruh siswa-siswi berasumsi. Jika mereka sedang ada masalah. Mungkin saja mereka putus atau asumsi negatif lainnya.

__ADS_1


"Rain, Lo jadi cewek kejam ya! Radit lagi sakit dan ngejar Lo tapi Lo malah pergi gitu aja! Liat tuh dia kesakitan!" Salah seorang siswi satu kelas dengan Rain tidak sengaja berpapasan dengannya.


Rain mengangkat kedua bahu dan memilih melanjutkan langkahnya.


"Dih, ada cewek gitu! Gue yakin dia ini jauhin Radit karena lagi sakit. Maunya pas lagi sehat tapi pas sakit di tinggalin!"


Rain menghentikan langkahnya karena dia sangat kesal dengan ucapan teman sekelasnya itu.


"Lo siapa, hah! Serah Lo mau bilang gue apa, gue juga nggak peduli! Gue cuma mau Lo jangan ganggu kehidupan gue!" ujar Rain sambil mendorong bahu gadis itu.


"Nez, udah Lo belum tahu gosip baru?" bisik salah satu temannya yang bersama gadis itu.


Rain sudah duduk di taman belakang sekolah. Tepat di bangku yang pernah dia duduki bersama Radit saat pertama kali Rain masuk sekolah. Dimana Lea sudah masuk dalam tubuh Rain.


Gadis itu kagum dengan sosok lelaki tampan yang bilang pernah Rain tolak. Lalu Lea yang ada di tubuh Rain menyukai lelaki itu saat pandangan pertama dan berniat untuk membuat Kenan kecewa. Ya, pertemuan awal itu membuat Rain tersenyum. Dia juga malu karena sudah menghabiskan banyak uang Radit. Saat itu Rain tidak tahu jika dia orang kaya. Rean tidak pernah menceritakan semua tentang keluarganya. Rean selalu menutupi dan bahagia ketika Rain dinyatakan amnesia.


"Rain," panggil seseorang.


Rain menoleh dan mendapati orang yang ada di pikirannya muncul. Wajahnya terlihat kusut dan kantung mata juga sangat nampak. Rain bisa tebak jika lelaki itu sedang tidak baik-baik saja. Terlebih dia harus memakai tongkat untuk membantu jalannya. Rain sangat kasian dan ingin sekali membantu lelaki itu berjalan, lalu memeluknya erat. Jauh di dalam lubuk hatinya dia rindu, rindu akan kebersamaannya.


Namun, mengingat ucapan yang Radit lontarkan semua kenangan indah saat bersama Radit hilang begitu saja, berganti rasa benci yang teramat dalam. Rain memasang wajah datar dan membiarkan lelaki itu sampai dengan sendirinya.


Dia memalingkan wajahnya, tidak peduli jika ada orang lain yang kini sudah duduk di sebelahnya. Menarik jemarinya dan dia genggam. Meletakkan pada dada bidang lelaki itu supaya Rain bisa merasakan degupan jantungnya.


Degupan yang masih sama ketika mereka dekat. Rain juga masih merasakan hal itu. Perasaannya masih sama. Cinta itu masih melekat, hanya saja sedikit berkurang karena perkataan Radit. Rain melepas jemarinya yang digenggam oleh Radit.


"Apalagi?" tanyanya.


"Aku ... Minta maaf. Aku salah, Rain. Nggak seharusnya aku kirim pesan ke kamu begitu. Aku benar-benar emosi. Bara bilang kamu lagi tidur sama dia, jadi ... Aku terpancing emosinya dan kesal karena kamu nggak kunjung bales pesan aku."


Baru jadi pacar lho, dia sudah memaki begitu. Bagaimana kalau jadi istri terus dia lagi jalan sama temen-temennya yang mayoritas laki-laki. Sudah dipastikan akan terus ada pertengkaran.


"Gimana kabar kamu?" tanya Rain. Mencoba menurunkan egonya.


Dia hendak berbicara baik-baik tentang hubungannya ini. Kalau sama-sama emosi pastilah tidak akan selesai dengan mudah.


Radit terkejut karena Rain mulai melunak, dia tidak salah dengar kan?


"B-baik, seperti yang kamu liat!"


"Selamat ya, aku bahagia kamu sudah tunangan sama Gwen!"


Hati Radit seperti ada petir. "Rain, aku nggak akan pernah mau nikah sama dia!" Membayangkan saja Radit tidak sanggup.


Radit sudah tahu bagaimana Gwen dan gadis itu pula yang menorehkan luka pada Radit. Mana mungkin dia menerima sosok gadis yang sudah sangat menyakitinya.


"Kalian cocok. Jadi nggak usah peduli sama perasaan aku!"


"Rain__"


"Kak, stop memaksa aku untuk maafin kamu. Stop ganggu hidup aku. Sekarang aku pengen sendiri"


"Oke, aku akan pergi tapi ... Kamu maafin aku kan? Kita bisa kembali seperti dulu?"


Rain menggeleng, "Entah! Aku sedang tidak mau membahas ini. Jika kamu sudah sembuh dan pikiran kita lebih baik, maka kita bahas ini lagi!" Rain pun pergi meninggalkan Radit dalam kesedihan.


Putus dengan Rain? Itu hal yang tidak bisa Radit lakukan. Dia sangat mencintai Rain.

__ADS_1


***


"Nama saya Bara Alexio, salam kenal semua!"


Rain mendongak saat mendengar nama itu. Kedua matanya melotot dan tidak percaya jika lelaki yang berdiri di depan papan tulis itu adalah ....


Bara?


Bagaimana bisa dia pindah kemari? Bukankah terakhir dia bilang harus di kurung dan akan di kirim ke Singapura guna menyelesaikan sekolahnya? Efek dari permasalahan dengan sahabatnya itu.


"Baik, Bara kamu boleh duduk di ...."


Guru mengedarkan pandangan mencari bangku yang kosong dan menemukannya.


"Di sebelah Rain. Silahkan!"


Rain hendak protes karena bangkunya itu tidak kosong, tapi Bara tersenyum tengil dan sudah duduk di sebelahnya.


Rain tidak duduk sendiri. Ada Mia yang sedang berkelana di sebelah Reno karena mereka sedang mengerjakan tugas rumah bersama. Benar-benar pasangan yang cocok sih. Hanya saja imbasnya pada Rain, guru mengira jika Rain duduk sendiri.


Ah, sial!


"Hay, cantik!" Bara memasang wajah sok imutnya.


Membuat Rain menatapnya dengan geli dan ingin muntah.


"Kita ketemu lagi ya, nggak nyangka kita juga duduk bareng!"


"Sapi! Sial banget sih hari ini!" gerutu Rain.


Bara hanya terkekeh. Melihat kekesalan Rain adalah kebahagiaan untuknya. Karena saat kesal wajah Rain ini menggemaskan.


Rean yang menatap mereka berdua karena duduk tepat di belakang mereka hanya menggeleng. Kenapa Bara dan Rain jadi seperti gambaran dia dan Rain ya? Padahal Rean ini musuh bebuyutannya. Bisa-bisanya adiknya ini sedikit dekat.


Tanpa Rain sadari juga, jika Keyla menatap Rain sedari tadi. Melihat raut wajah Rain yang terlihat berubah itu ketika Bara duduk di sampingnya. Juga Bara yang tersenyum ketika duduk di sana. Seakan mereka ini sudah saling kenal.


Keyla tentu saja sangat kenal dengan Bara karena dia si badboy yang sempat terkenal dulu saat mereka masih smp dan entah menghilang kemana.


"Bara tampan ya, Key?"


Keyla menoleh, "Apaan sih, Tam!" ucap Keyla dengan wajah yang bersemu merah.


"Daritadi Lo liatin dia terus. Nggak ada Rean, Bara pun jadi. Gaskeun!"


Keyla tersenyum malu, ya dia juga dulu pernah menyukai Bara. Hanya saja gadis lain yang lebih dulu menjadi kekasihnya.


"Tenang aja. Aku udah kenal dia kok!"


"Ha? Serius?" pekik Tami.


Keyla mengangguk, "Dia mantan gue!" bisik Keyla tepat di telinga Tami.


Mungkin Keyla hanya mengada-ada saja, Tami juga percaya saja jika Bara adalah Mantan Keyla. Secara temannya ini cantik dan pintar. Jadi siapa sih yang nggak tertarik. Tami saja juga tertarik dengan kecantikan Keyla. Dia kadang juga iri karena banyak cowok yang menyukai Keyla. Apalagi cowok yang Tami sukai juga menyukai Keyla dan mengejar-ngejar gadis itu.


"Hebat ya, mantan kamu cakep semua!" celetuk Tami yang sebenarnya dia juga merasa minder sekaligus sakit hati.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2