
Radit sedang mengobrol dengan Marvels di taman belakang sekolah. Dari raut wajah mereka sepertinya obrolan itu cukup serius. Membuat Rain urung untuk mendekat. Rain kemudian membalikkan badan, memilih kembali saja ke kelas daripada nanti malah mengganggu mereka. Namun, saat baru satu langkah tangan Rain di cekal oleh seseorang.
"Lo ikut gue!" kata gadis dengan rambut lurus sebahu.
"Ngapain gue harus ikut Lo?"
"Oh, jadi ... Ceweknya Radit ini nyolot juga ya!" ujar Ika. Dia teman sekelas Radit. Gadis itu mendorong bahu Rain dan hampir saja terjatuh.
"Jadi ini cewek yang terobsesi dengan Radit?" Rain tersenyum mengejek.
Punggungnya bersandar pada tembok dan kedua tangan dilipat. Menatap Ika dari ujung kepala dan ujung kaki. Penampilan yang menarik juga paras cantik itu tentu saja berani mendekati Radit. Apalagi saat Rain tahu mantan Radit itu ... Semua cantik dan menarik. Tidak seperti dirinya yang tomboy meski tetap saja cantik.
"Kalau iya kenapa? Bahkan gue juga pernah ngerasain bibir Radit. Apa Lo udah pernah? Gimana rasanya bibir seksi miliknya itu?"
Rain menahan emosinya, dia tidak boleh terpancing oleh gadis di depannya itu. Rain yakin dia seperti Ella yang hendak membuat hubungannya dengan Radit kandas.
"Oh ya? Bagus dong. Jadi nggak sia-sia Lo suka sama Radit. Ada keuntungannya juga kan bisa ciuman sama dia!"
Ika tidak menyangka jika Rain rupanya bersikap biasa saja. Apalagi sikap Rain yang berani ini hampir membuat Ika ingin menjambak rambutnya.
"Asal Lo tahu ya, Radit itu nggak beneran cinta sama Lo! Liat aja nanti, Lo bakal dibuang sama dia. Apalagi Lo cuma dijadiin bahan taruhan sama dia dan geng motor sekolah lain!" Ika tertawa puas melihat wajah Rain yang terkejut.
"Gue juga jadiin dia bahan taruhan. Akhirnya dia mau publikasi hubungan ini. Lumayan dua puluh juta gue dapetin!" sahut Rain yang malah membuat Ika terkejut.
"Elo!" Ika menunjuk wajah Rain. Dia sudah sangat kesal dengan gadis yang ada di depannya ini.
Dulu Ika tidak kenal Rain karena dia memang tidak sepopuler sekarang. Ika juga mendengar kabar kalau Rain dulunya itu cupu. Bahkan dia ini selalu menjadi bahan bully Ella dan gengnya. Jadi ... Hal ini membuat Ika tertarik untuk kembali membully Rain, meski orang bilang penampilannya sudah berbeda dan bahkan sekarang sikapnya berani juga songong.
Banyak yang tidak menyukai Rain karena dekat dengan Rean. Apalagi sekarang Rain menjadi kekasih Radit. Tentu saja membuat para fans kedua lelaki itu semakin tidak menyukai Rain.
"Santai aja, girl." Rain menurunkan telunjuk Ika.
"Lo mau apa sih sebenernya? Buang-buang waktu gue aja!" Rain menyeringai, dia sudah puas membuat lawannya kicep.
Tidak tahu saja Ika, jika Rain sudah emosi habislah dia. Wajah cantiknya itu bisa jadi babak belur dan pasti bakal masuk rumah sakit.
"Gue mau Lo jauhin Radit! Lo nggak pantes buat dia!"
"Kita liat aja nanti!" Rain menepuk-nepuk bahu Ika. "Selamat berhalu, Kak Ikan!" bisiknya.
Membuat Ika mengeram sambil menghentakkan kakinya. Dia tidak menyangka, kalau gadis itu benar-benar punya nyali. Padahal dia sudah menyusun rencana untuk membully Rain. Rupanya rencana itu gagal, Rain tidak seperti yang dia pikirkan.
Radit dari kejauhan tersenyum melihat perdebatan antara Rain dan Ika. Ya, saat Rain hendak pergi Radit sudah selesai bicara. Radit menyadari kedatangan Rain, lalu ketika hendak memanggil gadis itu, Ika lebih dulu mencekal tangan Rain. Radit hanya diam saja karena dia yakin Rain bisa melawan gadis centil itu.
"Berani juga cewek Lo!" kata Marvels yang juga menyaksikan perdebatan tadi. "Gue juga heran sama Lo bisa-bisanya dulu deket sama Ika!" Marvels geleng kepala.
"Salut sih gue sama Rain bisa menanggapi dengan santai. Coba kalau cewek lain. Pasti udah jambak-jambakan. Terus marah sama Lo gara-gara omongan si Ika yang nggak bisa difilter!" Marvels masih saja ngedumel.
Namun, Radit diam saja. Dia juga kagum sama Rain yang tidak terpancing oleh ucapan Ika.
"Coba kalau Rain belum jadi cewek Lo. Udah gue pacaran tuh!" Radit menatap tajam Marvels.
__ADS_1
"Santai, boy!" Marvels mengangkat kedua tangannya. "Canda gue, elah serius banget!" gerutu Radit.
"Lagian gue heran deh sama Ika itu udah___" ucapan Marvels terhenti ketika menyadari Radit sudah berjalan lebih dulu.
"Si Anying! Di ajak ngobrol malah kabur!" Marvels pun bergegas meninggalkan taman belakang sekolah.
**
Radit masuk ke dalam kelas Rain yang membuat para cewek-cewek di kelas itu heboh. Melihat pesona Radit membuat tatapan para gadis itu pun seakan ingin menerkam Radit. Rain yang sedang bermain game bersama Rean pun segera menoleh. Dia menurunkan kakinya yang selonjoran di kursi milik Mia.
"Hay, tadi ke taman ya?" tanya Radit yang sudah duduk di sebelah Rain.
"Woilah pacaran mulu!" sindir Rean. Akan tetapi gesturnya masih menatap layar ponsel.
"Iya, tapi ketemu Mak Lampir!" jawab Rain santai.
Radit terkekeh, membuat para cewek-cewek itu pun langsung merasa meleleh. Senyum yang tidak pernah mereka lihat membuat hati mereka berdebar-debar.
"Rahim gue anget banget liat dia senyum."
"Ya ampun ... Berasa liat air di gurun pasir!"
"Meleleh, guys!"
Rain hanya geleng kepala saja mendengar ucapan para cewek centil itu.
"Gue mau jadi Rain bentar. Iri gue!"
"Tenang-tenang, Abang Reno bisa kok kasih kalian senyuman!" Reno yang baru saja datang pun penyahut. Dia melambaikan tangannya seperti artis saja.
Mereka semua pun menyoraki Reno, lelaki yang terkenal penuh percaya diri itu.
"Jangan dengerin ucapan Ika ya?" kata Radit.
"Jangan dengerin ucapan Rain juga!" sahut Rain dengan senyum semanis mungkin.
"Manis banget sih, pacar siapa?" Radit mencubit pipi Rain gemas.
"Pacar Rean dong!" bisik Rean yang mengikuti gaya bicara mereka.
"Nih cowok nyambung terus. Aku boleh nggak sih kasih pelajaran ke dia?" ucap Radit.
"Boleh, pelajaran biologi aja yang nilainya di bawah rata-rata." Sontak Radit tertawa.
"Ya udah aku ke kelas dulu, sayang."
"Iya, sayang. Hati-hati di jalan ya. Muuacch!" Itu Rean yang bilang, dia sudah berdiri di dekat meja Rain sambil memandang heran dua sejoli itu.
"Geli gue!" ujar Radit yang langsung lari terbirit-birit.
Reno tertawa puas karena sudah mengusir Radit. Dia merasa tersaingi karena perhatian para cewek-cewek teralihkan.
__ADS_1
"Hay, cantik!" Reno mencolek dagu Mia yang baru saja hendak duduk di kursinya.
Seperti biasa kursi Mia langsung diambil alih oleh teman sekelasnya. Di ganti kursi milik si pengganti itu.
"Bekas Radit jangan sampai Lo dudukin lagi!"
Mia menepuk keningnya, dia juga sampai lupa dengan kekesalan Reno yang baru saja mencolek dagunya.
"Heh, rontokan daki! Nggak usah colek-colek!" teriak Mia.
Rean mengulum senyum mendengar panggilan Mia untuk sahabatnya itu.
"Tenang, sayang. Nanti Abang kasih jatah jajan lebih. Jangan marah ya!" Reno mengedipkan satu matanya.
Mia bergidik geli, dia segera duduk di bangku miliknya.
"Lo juga, kalau pacar Lo kesini tuh suruh duduk di bangku depan!" protes Mia.
Rain mengeluarkan dua bungkus cokelat kesukaan Mia. Gadis itu langsung berbinar mendapatkan cokelat kesukaannya.
"Pacar Lo boleh duduk di sini!" ujar Mia yang membuat Rain heran karena tiba-tiba berubah pikiran.
Rain melirik ke arah bangku Mentari yang masih kosong. Sejak tadi dia izin ke toilet setelah di kantin, sampai sekarang Mentari belum muncul. Apalagi memang jam sedang kosong. Semua siswa-siswi saat pelajaran setelah istirahat di bebaskan selama 20 menit karena guru sedang rapat.
"Mi, Mentari kemana?" tanya Rain.
Mia melirik ke bangku Mentari yang kosong. Sementara Rean sedang fokus pada gamenya. Tidak menyadari jika gadis di sampingnya belum datang.
Rain menatap ke arah bangku Keyla yang juga kosong.
"Nggak beres nih!" Rain bangkit dan hendak pergi.
Namun, Mentari sudah datang dengan rambut acak-acakan juga mata sembabnya. Seragam yang Mentari gunakan juga sudah lecek. Meski gadis itu sudah merapikannya kembali. Akan tetapi penampilannya itu membuat Rain curiga kalau baru saja terjadi sesuatu pada gadis itu. Kedua tangan Rain mengepal kuat. Dia langsung menyuruh Mia geser dan bergegas pergi.
"Rain, Lo mau kemana?" tanya Mia.
Rain tidak memperdulikan pertanyaan Mia. Dia tetap saja melangkah keluar kelas.
Sementara Rean menatap Mentari. Gadis itu terus saja menyembunyikan wajah dengan rambut panjangnya dan fokus membaca novel. Apa yang terjadi dengan Mentari? Penampilannya juga acak-acakan.
"Oh, jadi ini para cecunguk menyebalkan yang selalu buat onar?"
Ketiga gadis yang sedang memoles wajahnya di kaca besar toilet itu pun menoleh. Wajah mereka sudah pucat bahkan salah satu dari mereka menjatuhkan botol parfum miliknya dan berakhir pecah. Tatapan gadis yang ada di ambang pintu itu benar-benar mengerikan. Seperti singa lapar yang siap menerkam mangsanya.
Namun, Keyla kembali berusaha bersikap biasa saja. Meski dia tidak bisa mengendalikan rasa takut juga degupan jantung yang bertalu-talu. Getaran kecil di tubuhnya juga dia rasakan. Keyla tidak mau terlihat takut di depan Rain.
Rain sudah siap untuk membuat mereka semua babak belur. Dia tidak mau ada lagi yang menjadi korban bullying dan membuat si korban berakhir trauma. Seperti yang pernah dialami Rain asli.
"Lo pilih rumah sakit atau Lo minta maaf sama Mentari!"
Bersambung....
__ADS_1