Raina Grittella

Raina Grittella
Boncap 1


__ADS_3

Rain menatap tajam pada gadis yang terus meneriaki nama Bara. Laki-laki itu sedang bermain basket dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya. Terlihat berkilau dan menambah kadar ketampanannya dengan kulit seputih susu. Rasanya Rain ingin mematahkan tangan dan kaki para gadis yang mulai kegenitan itu, padahal seluruh sekolah juga tahu kalau dirinya adalah kekasih Bara. Mereka selalu membuat iri siapa saja dan mendapatkan predikat pasangan romantis.


Apalagi pasangan ini sama-sama jenius, siapa yang nggak iri coba. Mereka juga selalu di ikut sertakan dalam perlombaan olimpiade. Sungguh beruntung sekali bisa selalu berduaan dengan sang kekasih.


Pesona Rean sudah tergantikan oleh pesona Bara. Ya, meski tetap saja Rean menjadi incaran para ciwi-ciwi centil. Namun, sekarang dia memiliki pawang yang ganas.


Rain yang masih menatap permainan basket Bara dengan tatapan datar terusik oleh suara yang tidak asing di telinganya.


"Aku cuma minta sedikit tapi kamu pelit banget, jadi jangan salahin aku kalau aku buang!"


Mentari berkacak pinggang sambil menatap dua gadis dengan tatapan tidak bersalah. Dia baru saja membuang minuman salah satu gadis itu yang tidak lain adalah adik kelasnya.


"Maaf, Kak. Bukannya__"


"Apa? Kamu mau bilang jijik kalau bekas aku, hah?" bentak Mentari.


Rain membulatkan kedua matanya melihat Mentari yang bikin rusuh. Dia segera menghampiri gadis itu yang akhir-akhir ini selalu membuat Rean kelabakan dengan tingkahnya. Mungkin ... Ini hormon kehamilan Mentari ya.


Rain menarik lengan Mentari dan membuat gadis itu mencebik. Dia sedang malas bertemu dengan Rain yang selalu membela orang-orang yang menurut Mentari menyebalkan.


"Maafin sahabat gue ya, Lo mending beli lagi aja!" Rain memasang wajah ramah dan memberikan selembar uang lima puluh ribu.


Gadis dengan kuncir kuda dan bando warna pink itu menatap Mentari dengan takut. Dia ragu menerima uang itu.


Rain langsung menyelipkan di saku seragamnya dan menarik Mentari agar segera pergi.


"Lo kenapa sih, Tari?" bisik Rain.


Mentari melepas tangan Rain yang melingkar di lengannya. Dia mencubit kedua pipi Rain dengan gemas.


"Kamu kenapa selalu ngeselin sih?" protes Mentari.


Gadis itu menghentakkan kakinya dan bersandar di tembok sambil melipat kedua tangan di perut. Kesel aja gitu sama Rain yang datang-datang malah kasih duit sama anak yang menurut Mentari ngeselin.


Rain menghela napas panjang, emang harus ekstra sabar ngadepin Mentari yang kadang moodnya berubah-ubah. Kalau bukan istrinya Rean sudah pasti Rain terpancing emosinya.


"Lo mau es cokelat tadi? Ayo gue beliin!" Rain menarik tangan Mentari.


Namun, di luar dugaan gadis itu menghentakkan tangan Rain dan menendang kakinya. Astaga ... Benar-benar bar-bar istri Rean ini.


"Kamu pikir aku nggak bisa beli sendiri!"


Rain mengibaskan tangannya, memilih pergi saja daripada otaknya mendidih karena menahan emosi.


"Bodo amat dah!"


Rain mempercepat langkahnya saat melihat Bara selesai bermain basket, dia sampai lupa kalau mau memberi minuman pada kekasihnya dan mengelap itu keringat. Akan tetapi langkahnya terhenti ketika Rain melihat Keyla yang datang memberi minuman dan mencoba mengelap keringat Bara. Meski lelaki itu menolak, tapi Keyla tetap saja menarik handuk kecil yang di pegang Bara.


Rain melempar botol minuman itu dan Bara langsung memekik kaget. Dia melepas tarikan handuknya membuat Keyla hampir terjatuh.


"Sayang!" panggil Bara.


Rain sudah tidak perduli, dia kesal karena Bara malah menerima minuman dari Keyla. Sudah dibuat emosi sama Mentari sekarang Bara juga. Rasanya Rain ingin meninju seseorang untuk pelampiasan.


"Yank, tunggu ... Aku bisa jelasin!" Bara menarik tangan Rain tapi segera di tepis.


Aksi itu menjadi tontonan para siswa-siswi lainnya. Mereka seakan seperti sedang menonton drama Korea secara live.


"Ngapain kalian ngumpul-ngumpul!" bentak Rain. Membuat segerombolan siswa yang hendak melihat pun mundur.


Rain pergi ke rooftop dan saat itu dia melihat Rean baru saja keluar dari perpustakaan. Melihat Rean, gadis itu tersenyum miring. Rain segera menarik tangan Rean untuk ikut dengannya.


Rean menatap ke arah Bara yang mematung, dia mengangkat kedua bahu tanda tidak mengerti. Melihat Rean yang di seret Bara juga mengikuti langkah mereka.


Bugh


Rain mendorong tubuh Rean hingga jatuh tersungkur di pagar pembatas.


"Lo udah bikin gue kesel!"


Bugh


"Lo juga bikin gue kesel!" Rain memukul perut Bara.


Laki-laki itu belum siap saat Rain menyerangnya. Bara meringis juga Rean yang berusaha berdiri, tapi Rain menarik rambutnya.


"Ampun, Rain. Lo kenapa sih!" Rean berusaha melepas tangan Rain.


"Lo tahu? Istri Lo bikin rusuh lagi!"


"Bikin rusuh?" Ulang Rean. "Dimana dia sekarang?" tanya Rean yang tentu saja luar biasa khawatir.


Baru saja dia menyelesaikan tugas di perpustakaan akibat Mentari yang mengganggunya dan berakhir mendapatkan hukuman di perpustakaan. Sekarang ada saja tingkah istrinya itu.


"Mana gue tahu!" bentak Rain dan kini tatapannya beralih ke arah Bara.


Laki-laki tampan itu menelan ludahnya susah payah. Kalau sudah emosi pacarnya ini luar biasa menyeramkan.

__ADS_1


Seringaian itu berubah menjadi senyuman manis, tapi Bara tetap was-was.


"Sakit ya, sayang?" Rain mengelus perut Bara yang tadi dia tinju.


"E-enggak ko ...k ini ... Ng-nggak sakit!" jawab Bara terbata.


Bugh


Satu tinju lagi dia layangkan di tempat yang sama. Bara memegangi perutnya yang benar-benar sakit.


"Sayang, aku bisa jelasin, tadi nggak seperti yang kamu___"


Rain tidak perduli dan malah memilih pergi meninggalkan Bara. Cukup sudah emosinya tersalur pada dua lelaki itu. Selanjutnya dia memilih ke kantin untuk membeli minuman dingin supaya kepala dan hatinya terasa segar.


"Mbak Ami, bakso satu sama es teh satu ya!" kata Rain pada salah satu penjual di kantin sekolah.


"Siap, Rain."


Rain memilih duduk di pojokan karena lebih nyaman dan lagi di situlah tempat yang kosong. Lagi dan lagi ketenangannya terusik. Dia nggak mau mood makan baksonya hilang. Memilih memasang headset di kedua telinganya dan menambah volume agar suara gaduh itu tidak terdengar. Sekali ini saja Rain ingin tidak perduli dengan kakak iparnya itu yang terus membuat kerusuhan.


Bakso dan es teh datang, Rain segera memberikan sambal lima sendok dan juga saos. Dia menikmati kuah baksonya supaya emosinya reda. Bara tiba-tiba datang dan duduk di hadapan Rain. Tangannya terulur melepas headset yang dia kenakan.


"Udah pergi sama Rean!" ujar Bara.


Rain menoleh ke arah dimana Mentari ribut, rupanya benar kata Bara kalau sudah tidak ada keributan lagi.


"Kalau kamu nggak bisa hadapin Mentari mending langsung aja suruh Rean!"


Saran dari Bara tidak Rain perdulikan. Dia memilih makan bakso dan menyeruput es tehnya.


"Yank, jangan marah terus dong. Aku kan nggak salah apa-apa. Aku bisa jelasin tapi kamu marah terus gimana aku mau jelasin coba?"


Rain menatap Bara dan kembali melanjutkan makan. Dia tidak perduli dengan apapun itu. Jelas dia kesal karena Bara menerima minuman dari Keyla dan laki-laki itu bilang nggak bersalah?


Oh, astaga ... Apa semua lelaki itu tidak mau di salahkan?


Rain memang mengabaikan Bara tapi setelah sosok kuyang yang terus datang itu membuat Rain segera ingin pergi saja. Kuyang itu bergelayut manja di lengan Bara.


"Ayank kok nggak makan? Makasih ya tadi kamu udah nolongin aku."


Rain menatap Bara dingin, dia memilih pergi saja meski Bara berusaha keras menjauhkan Keyla yang bergelayut manja itu. Bahkan mendorong tubuh gadis itu.


"Lo gila ya!" Bara sangat heran dengan sikap Keyla yang kelewat batas.


Laki-laki itu mencari keberadaan Rain. Pacaran sekarang ini ujian ulet bulu yang kegatelan nempel sama kekasihnya. Meski Bara selalu memperlakukan Keyla dengan kasar. Laki-laki itu juga selalu bersikap dingin sama siapapun bahkan kalau bicara singkat padat dan jelas. Nggak seperti saat sama Rain.


Rain menuju taman belakang, sebelum langkahnya dihentikan oleh Reno dan ucapan laki-laki itu membuat Rain beralih tujuan.


"Bolos yuk, Rain. Habis ini pelajaran fisika yang bikin ngantuk!" Reno menaik turunkan alisnya. Dia melirik ke arah Sandy yang sudah memegang kunci mobil.


Rain tersenyum miring dan mengangguk. Mereka berjalan santai menuju halaman belakang yang kunci pagarnya Reno miliki. Sejak ada yang ketahuan bolos lewat taman belakang, pagar belakang sekolah selalu di kunci, sekarang Reno memiliki kuncinya jadi dia bebas keluar masuk tanpa ketahuan.


***


Rean menatap tajam Mentari yang malah merasa tidak berdosa sama sekali dengan kerusuhan yang terjadi di kantin sekolah. Juga kejadian saat guru fisika datang. Belum lagi adiknya bikin ulah karena bolos bareng kedua sahabatnya. Padahal Rain sudah janji untuk nggak bolos lagi, ini pasti ulah Reno dan Sandy yang telah merusak kembali otak Rain.


Untuk urusan Rain, sudah dia alihkan ke Bara. Biar laki-laki itu yang mengurusnya karena saat ini otaknya sudah ngebul dengan tingkah istrinya yang selalu buat onar.


Alasannya sangat simpel dan buat Rean tercengang saat ditanya kenapa malah milih keluar kelas padahal sudah mengerjakan tugas. .


"Habis muka Pak Arif ngebosenin. Mana botak lagi, ih siapa coba yang betah lama-lama liat muka dia!" kata Mentari santai.


Gadis yang akan menjadi ibu itu justru asyik mengecat kukunya.


"Astaga...." Rean mengusap wajahnya frustasi.


"Kamu lagi hamil, amit-amit ih nanti kalau anak kita kayak Pak Arif!" Tegas Rean.


Mentari menutup mulutnya, "Oh ya ampun. Amit-amit jabang bayi!" Mentari mengusap perutnya.


"Kamu homeschooling aja ya tiap hari bikin aku kualahan hadapi kamu yang selalu bikin rusuh!"


"Kamu sama Rain itu sama ya! Nggak pernah mau belain aku. Oh, jadi kamu nyuruh aku homeschooling biar kamu bisa deket sama badut Mampang itu, hah!" ucap Mentari tak kalah tegas. Kedua matanya melotot.


Tidak ada lagi Mentari yang kalem dan selalu terbata ketika berbicara dengan menatap Rean. Tidak ada lagi Mentari yang pemalu meski sudah menikah, sekarang hanya ada Mentari yang bar-barnya melebihi Rain.


"Badut mampang?" Ulang Rean. "Siapa lagi itu!" Rean geleng kepala saja mendengar istilah yang selalu keluar dari bibir Mentari.


Kemarin si kucing orens yang tak lain adalah Rain karena dia selalu menjadi garda terdepan kalau Mentari ngerusuh.


Lalu, kuman yang nempel di kucing orens yang tak lain adalah Bara. Karena Mentari kesal Bara selalu saja ngintilin Rain sementara Rean selalu sibuk dengan tugas ini itu.


Sekarang badut Mampang. Siapa lagi yang Mentari maksud? Rean sudah sangat pusing dengan kelakuan Mentari. Meski Bunda Lastri bilang wajar karena hormon kehamilan tapi kalau kayak Mentari ini wajar nggak sih?


"Keyla!" Mentari mengerucutkan bibirnya.


Rean tertawa terbahak-bahak, Keyla disamakan dengan badut Mampang. Astaga ... Kalau sampai orangnya dengar pasti mereka berantem.

__ADS_1


"Ya ampun, Cinta ... Aku nggak pernah deket sama Keyla. Kamu nih kalau bicara suka ngasal..ini juga demi kebaikan kamu lho karena perut kamu bentar lagi makin gede." Rean duduk di sebelah Mentari sambil mengelus punggungnya.


Mentari menggeser duduknya dan langsung menjepit hidung dengan jari telunjuk dan jempol.


"Mandi sana! Kamu bau banget kayak habis kecebur got!"


Rean mencium tubuhnya yang masih terbalut seragam. Tidak bau keringat, malah wangi parfum yang masih menempel tapi malah dibilang bau got. Kemarin juga dia pakai parfum dibilang bau minyak Mbah dukun. Ada saja protesan Mentari ini.


Rean memilih mengalah saja daripada jadi masalah yang panjang. Ujung-ujungnya dia yang di salahkan dan hanya mau menanam bibit saja di sumur.


*


Bara menjewer telinga Rain saat menemukan gadis itu di markas Aksara. Dia hampir saja menikmati nikotin kalau saja Bara tidak datang tepat waktu. Ini juga gara-gara Reno dan Sandy yang mengajak Rain bolos. Kedua laki-laki itu dengan santainya menikmati rokok yang terselip di jemarinya.


Sahabat Rean ini benar-benar ya, sudah meracuni pikiran adik kesayangannya dan juga kekasihnya.


"Lo berdua kenapa nggak larang?" geram Bara.


"Rain yang maksa, kita berdua udah larang dia!" jawab Reno santai.


"Nggak asyik banget!" Rain mendorong bahu Bara dan pergi.


"Ck, Lo bakal kena amuk Rean!" tudingnya ke arah Reno dan Sandy.


"Mampus nggak tuh!" sahut Reno santai.


Kemudian, "Anj ... Lo sadar nggak sih, Ren!" Sandy memukul kepala Reno.


Sementara Bara sudah lebih dulu keluar menyusul Rain yang hendak menaiki motornya. Motor yang digunakan Bara tadi. Sementara Motor Bara dia tinggal di sekolah.


"Yaaank, kamu kenapa sih marah terus. Aku nggak deketin dia, kamu tahu sendiri kan kalau dia deketin aku!"


Rain mengeram kesal karena Bara mengambil alih kunci motornya.


"Ck, mau Lo apa sih, Bar?"


Kalau sudah panggil nama artinya Rain sudah terlanjur kesal.


"Lo kalau mau jadian sama Keyla jadian aja toh dia bisa kasih Lo segalanya!"


"Ya ampun!" Bara meremas rambutnya frustasi.


Apa pula yang Rain katakan. Tidak ada lagi orang lain di hati Bara. Dia sudah sangat mencintai Rain karena gadis itu sudah mengambil seluruh hatinya. Namun, ya itu kalau lagi marah Bara selalu ekstra sabar dan butuh perjuangan untuk mengembalikan mood Rain.


"Kamu mau apa biar aku bisa kamu maafin!" Bara sudah lelah dan akhirnya menyerah.


Rain menatap Bara dengan senyum miring, dia memasang helmnya dan mengulurkan tangan untuk meminta kunci motor.


"Katakan apa yang kamu mau!"


"Ikut gue!" jawabnya.


Bara menelan ludah susah payah. Firasatnya udah nggak enak banget. Sudah was-was dia kalau Rain bakal bertindak yang tidak-tidak.


"Rain, aku masih mau hidup!" ujar Bara yang memeluk pinggang Rain dengan erat.


Gadis itu sudah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Meski Bara sering balapan tapi cara Rain bawa motor itu lebih ekstrim. Kadang kalau ada polisi tidur saja dia lewatin gitu aja tanpa mau rem dulu.


"Sayang, aku ga pakai helm!" teriak Bara yang wajahnya sudah pucat.


Rain tetap saja melajukan motornya sampai di dekat danau tempat biasa mereka duduk berdua.


Bara menghela napas lega, rasanya dia sudah mati rasa karena kecepatan motor yang Rain bawa. Benar-benar ajaib gadis itu. Pantas saja selalu menang dalam balapan.


Kaki Bara sudah bergetar untung saja tidak kencing di celana.


"Cemen banget sih!" Rain menepuk pundak Bara.


"Kamu ya! Astaga ... Cewek aku bar-bar banget. Gemes ih!"


Rain memutar bola matanya malas. Lalu dia melangkah menjauh dari parkiran menuju tepi danau. Ada tempat duduk di sana.


"Dia mau ngelap keringat aku tapi aku tolak. Minuman itu aku dapat dari Kenan yang baru beli. Eh kamu tiba-tiba datang terus marah-marah. Padahal aku liat kamu manyun terus tadi, tau-tau udah ilang aja!" jelas Bara. Dia langsung aja kasih penjelasan mumpung ada kesempatan.


Takut Rain kabur lagi dan buat dia kualahan. Rupanya Rain salah sangka. Dia pikir minuman itu dari Keyla.


"Keyla kasih minuman soda tapi aku kasih ke Sandy yang kebetulan lewat. Eh Keyla malah langsung ambil handuk aku yang aku kalungin di leher." Bara menatap Rain yang masih saja diam.


Wajah cantiknya ini benar-benar menggemaskan. Sayangnya pernikahan yang dia minta di ajukan menjadi sekarang di tolak. Kedua orangtua Bara dan Papa Damian nggak setuju kalau mereka menikah sekarang juga. Mereka harus lulus dan kuliah terlebih dahulu.


Diamnya Rain malah membuat Bara semakin frustasi. Nggak tahu lagi apa yang harus dia katakan. Dia akan buat perhitungan sama ulet bulu si Keyla itu, oh iya kalau kata Mentari badut mampang, mungkin membuat patah satu tangan atau kakinya bisa membuat gadis itu jera. Mulai sekrang Bara akan membuat perhitungan sama gadis itu.


Hingga ucapan Bara membuat laki-laki itu mendapatkan berkali-kali pukulan dari Rain.


"Hamilin kamu duluan boleh nggak sih?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2