
Bab 72
Rain menekan pin pintu apartemennya dengan tergesa, lalu dia melepas sepatu dan meletakkannya di rak, berganti sandal rumahan. Rain menuju dapur untuk mengambil air minum. Tubuhnya terasa lelah, banyak sekali pekerjaan hari ini dan dia harus menjadi gadis yang cerewet, tentu hal itu membuatnya harus menguras energi yang banyak. Rain duduk termenung di kursi bar mini, mengingat sosok dua pria dengan badan kekar yang mengikutinya sejak tadi. Beruntung dia sadar dan bisa mengalihkan mereka untuk tidak mengikutinya lagi. Rasa-rasanya ada seseorang yang sedang memantau gerak-geriknya.
Dia akan membuat keamanan semua akses miliknya lebih kuat, bahkan dia akan memasang cctv di setiap sudut kafenya. Berjaga-jaga saja jika ada bahaya yang mengintai.
Rain teringat, jika di jalan yang tadi dia lewati itu ada cctv, dia akan mencoba meretasnya. Beruntung ilmu dari Aldo waktu itu sangat cepat dia pelajari, jadi jika ada orang yang mengusiknya maka dengan mudah dia bisa mencari informasi. Meski sesulit dan secanggih apapun orang itu membuat sistem keamanan.
Rain belum memiliki target tentang siapa orang dibalik dua lelaki tadi. Sementara ini pikirannya menuju ke Shely, tapi semua itu tidak mungkin. Mereka sudah di penjara dan kasus itu sudah selesai hingga ke akar-akarnya. Jadi, mana mungkin itu ulah dia.
Rain juga sudah lama tidak balapan, terakhir kali dia menantang Bara dan sekarang malah menjadi teman.
Ah, ya ... Mungkin bisa dikatakan teman yang saling menguntungkan. Ck, rasanya aneh saja, waktu kemarin dia membenci Bara dan bagaimana ceritanya sekarang mereka akrab. Bahkan satu bangku pula di sekolah.
Rain hendak ke kamar setelah menghabiskan segelas air putih dingin. Dia terkejut dengan kedatangan Rean yang entah kapan sudah berada di dapur.
"Lo kenapa? Banyak utang?" tebak Rean asal. Lelaki itu mengambil minuman kaleng dan meneguknya hingga habis.
Rain menatap pergerakan Rean hingga lelaki itu membuang kaleng ke tong sampah.
"Lo ngapa sih!" tanya Rean lagi.
"Nggak apa-apa, heran aja gue sama Lo!" Rain geleng-geleng kepala.
"Gue ganteng ya!" Rean meletakkan jari jempol dan telunjuk di dagu.
Rain memasang wajah jijik melihat kenarsisan kembarannya itu.
"Dih ngaku aja, dulu Lo suka sama gue!" Rean duduk di sebelah Rain, tapi gadis itu segera bangkit dan meninggalkan Rean.
"Eh, gue bener kan? Lo bilang gini, coba kalau Lo bukan kembaran gue, pasti gue udah jadiin Lo pacar!" Rean meniru ucapan Rain.
Rain langsung menempeleng kepala Rean, dia sangat kesal juga gemas.
"Udah mending Lo tidur gih, yang bentar lagi jadi suami orang!" sindir Rain, meski di hatinya ada rasa sedih.
Resiko terberat Rain, karena dia yang merencanakan ini semua kan? Dia ingin kebebasan dan memilih untuk tinggal di apartemen sendirian. Dia pasti akan berteman dengan kesunyian. Biasanya, setiap pulang sekolah maupun malam minggu apartemen akan ramai dengan teman-teman Rean. Pastilah nanti dia tidak akan merasakan keseruan malam minggu begadang nggak jelas dengan mereka. Rain akan merindukan momen itu.
Melihat wajah Rain yang menatap ke arah ruang televisi dengan sendu, Rain tahu bawah keputusan ini terlalu berat. Menikah muda memang harus banyak yang dipikirkan. Nampaknya akan banyak masalah yang akan datang. Masa remaja memang masa-masa yang indah dan banyak hal yang ingin mereka lakukan.
"Lo kenapa?" Rean menepuk pundak Rain.
Gadis itu tersadar dan langsung mengayunkan kakinya ke kamar. Baru saja membuka pintu, Rean sudah nyelonong masuk.
"Lo ngapain masuk ke kamar gue sih!" kata Rain dengan wajah sebal.
"Kamar gue berantakan jika Lo lupa!"
Rain tertawa, dia lupa jika belum memanggil jasa kebersihan yang biasa membersihkan apartemennya. Biasanya mereka menggunakan sebulan sekali, karena Rain rajin membersihkan apartemen itu. Gara-gara sibuk membujuk Yasmin dan ada insiden ayah Mentari ngerusuh, Rain jadi melupakan hal itu. Bahkan dia juga lelah jika malam ini harus membantu Rean merapikan kamarnya. Seharian ini mereka membantu Yasmin membersihkan rumah barunya.
"Besok gue panggilin orang buat beresin kamar Lo, sekarang gue dengan baik hati bolehin Lo tidur di sini!"
Rean mencubit kedua pipi Rain, "Nah, itu baru namanya adik yang baik!" Rean pun melangkah ke ranjang.
Rain menarik kaos yang Rean kenakan dan mendorong tubuh lelaki itu.
"Bersihkan badan Lo dari kuman dan ganti baju. Gue nggak mau kasur gue kotor terus badan gue gatel-gatel!"
Rean mendengkus kesal. Terlalu banyak aturan memang Rain. Adiknya itu meski tomboy tapi super bersih. Rain menunggu Rean mandi, dia membuka laptopnya dan mencoba membuka cctv jalan yang tadi dia lewati. Melihat wajah dua lelaki itu dan akan mencatat plat motor yang mereka gunakan untuk mempermudah siapa orang yang menyuruh dua lelaki tadi.
__ADS_1
"Ck, nggak keliatan lagi mukanya!" gerutu Rain. Dia sudah berhasil meretas cctv di jalan tadi.
Rain mencatat plat nomor kendaraan yang mereka gunakan. Setelah itu dia akan menemukan siapa bos mereka. Namun, semua aktifitas itu harus terhenti ketika ponselnya berdering.
"Cewek gila, Lo mikir nggak sih gue masih di kafe terus Lo tinggalin!"
Rain menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara Bara yang setengah teriak itu. Dia juga menepuk keningnya sendiri. Bagaimana bisa dia lupa kalau ada Bara yang sedang membantunya di kafe. Meletakkan semua stok barang persediaan di kafe. Persiapan kafe Rain memang sudah sembilan puluh persen dan dia juga sudah memiliki beberapa karyawan yang dia seleksi sendiri. Salah satunya ya Bara itu.
"Sorry, gue lupa!"
"Lo bilang nyari makan buat gue, satu jam gue nungguin dan Lo nggak dateng! Sampai orang yang tadi bantuin gue udah pulang! Lo dimana sih!"
Rain nyengir meski Bara tidak melihat itu. Gara-gara di ikuti dua orang tadi Rain jadi memutar jalan untuk mengecoh mereka dan berakhir lah Rain pulang ke apartemen.
"Di apartemen," jawab Rain santai.
"APA!" teriak Bara yang tentu saja membuat kekesalannya bertambah dua kali lipat.
Dia menunggu satu jam dengan perut keroncongan. Rupanya yang katanya mau beliin makan sudah pulang dengan santainya.
" Lo emang cewek nggak waras yang gue kenal, Queen! Sekarang nasib gue gimana, cantik!" kata Bara yang harus menahan emosinya. Kesabarannya itu setipis tissue, tapi kalau Rain ada di hadapannya pasti lah sudah dia maki sampai kesalnya ilang.
"Gue pesenin ojol ya, sekalian pesen makanan buat Lo!" kata Rain pasrah. Berharap laki-laki itu mau menerimanya.
"Nyenyenye ... Lo pikir dengan rayuan Lo itu kekesalan gue ilang gitu! Lo nyadar nggak sih, Queen! Astaga!" Bara mencibir lalu mengusap wajahnya.
Dia baru pertama kali mengenal perempuan yang luar biasa menguji kesabarannya. Kalau saja sedang tidak di hukum, Bara sudah melenggang pergi ke apartemen Rain. Sayangnya dia sedang mendapatkan hukuman. Uang saja tidak punya apalagi motor. Sungguh malang sekali nasibmu, Bar. Harimu selalu Senin sepertinya.
"Ya udah gue ke sana. Tungguin ya."
"Kelamaan! Lo besok jemput gue sebagai permintaan maaf Lo, gue minta gaji gue naikin!"
"Ck, mau nggak sih? Gue nggak jadi bantu Lo kalau kayak gini!" ancam Bara.
"Iya deh. Gue pesenin ojol ya biar sekalian antar makan Lo!"
"Heeem!" jawab Bara yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Rain terkekeh mengingat kelakuannya itu. Bisa-bisanya dia lupa jika sedang mencari makan malam untuk Bara. Akhirnya gadis itu memesankan makanan untuk Bara dan juga meminta ojol teresebut mengantarkan Bara pulang ke rumah.
Sementara Rean baru saja keluar dari walk in closet dengan piyama tidurnya. Rean mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, pemandangan itu membuat Rain menelan ludah. Sungguh indah makhluk ciptaan Tuhan satu ini.
"Gue emang ganteng, Rain!" Suara itu membuat Rain sadar dan langsung mengalihkan pandangannya.
Kalau di pikir-pikir lagi, kadar ketampanan Rean ini lebih banyak daripada kedua mantannya itu.
"Tadi siapa yang nelpon!" tanya Rean yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Bara, gue lupa ninggalin dia di kafe," jawab Rain sambil nyengir.
"Ha? Bisa-bisanya. Menurut Lo Bara sama gue gantengan siapa?" Rean sedang menyisir rambutnya.
"Gantengan bokap!" jawab Rain sambil melangkah ke kamar mandi.
"Ck, bilang aja gue yang paling ganteng!"
Rain tidak menjawab, badannya sudah lepek dan ingin segera melakukan ritual mandi. Sementara Rean melihat ke arah layar laptop Rain yang masih menyala. Dia melihat rekaman cctv jika Rain sedan di ikuti oleh dua orang berbadan kekar. Rupanya ada yang hendak mencelakai Rain.
Jika begini siapa yang akan melindungi Rain nanti ketika dirinya sudah menikah. Pasti Rean akan sibuk dengan Mentari. Ini alasan kenapa Rain tidak dia perbolehkan untuk tinggal di apartemen sendirian.
__ADS_1
"Gue bakal cari tahu siapa tuh orang!" Rean mengutak-atik ponselnya.
Dia bergegas ke ranjang dan pura-pura sibuk dengan ponselnya ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Rain sudah memakai piyama tidurnya juga dengan handuk yang dia gulung di kepala menutupi rambutnya yang basah. Rain kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia segera menutup layar laptopnya yang menampilkan rekaman cctv, takut jika Rean melihat itu.
Sementara notifikasi pesan masuk di ponselnya. Rain hanya melirik sekilas.
[MAKASIH, CALON PACAR!]
siapa lagi kalau bukan dari Bara yang kadang lembut kadang ucapannya nyakitin. Namun, Rain tidak pernah ambil hati semua ucapan dia. Sudah biasa juga sih, Rain juga lebih suka orang yang blak-blakan seperti itu.
Ketika Rain sibuk melanjutkan menulis novelnya, Rean sibuk berbalas pesan dengan teman-temannya di grup yang hanya berisi Rean, Kenan, Lando, Sandy dan Reno.
[Lo cari tahu plat nomor yang gue kirim tadi. Dia coba-coba gangguin adik gue!]
Kenan: [Rain baik-baik aja kan?]
[Aman!] balas Rean.
[Gue bakal bantu Lo buat cari tuh orang. Tenang aja, Ren.] balas Reno.
Rean merasa senang memilik sahabat seperti mereka. Meski hubungan Rain dengan Kenan tidak baik, tapi lelaki itu mau membantu Rean mencari orang yang sudah mengikuti Rain.
Rean menatap punggung Rain, merasa gadis itu tidak lagi seperti dulu yang selalu terbuka. Entah mengapa Rain menyembunyikan hal ini. Apa mungkin karena dia akan menikah dengan Mentari? Jadi Rain berusaha untuk tidak melibatkan Rean?
Rean jadi merasa keputusannya itu sangat berat. Dia akan memikirkan lagi dan setelah itu membicarakannya dengan Mentari juga Damian. Rean juga akan mengatakan kepada Damian jika Rain sedang dalam bahaya.
***
Gwen menendang meja persegi panjang yang ada di hadapan dua lelaki berbadan kekar itu. Gwen menatap tajam dua lelaki tersebut tanpa rasa takut. Dia benar-benar sangat marah dengan kinerja bawahannya yang gagal mencari tahu dimana tempat tinggal Rain.
Ya, kedua orang tadi memang suruhan Gwen. Dia akan membalaskan sakit hatinya kepada Rain. Itu cara untuk membuat Radit kembali. Gwen akan melumpuhkan kelemahan Radit, supaya lelaki itu mau kembali padanya.
"Bos, meski kami gagal, tapi kami mendapatkan tempat dia bekerja," jawab laki-laki berkepala plontos itu.
Wajah Gwen yang semula kesal pun berganti binar kelegaan.
"Dimana gadis itu itu bekerja!"
"Gritell Queen kafe!" jawabnya.
Gwen mengernyit, nama kafe itu sangat asing di telinganya.
"Kalian nggak salah baca?"
Kedua laki-laki itu saling menyikut. Akhirnya yang berkepala plontos itu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto yang tadi dia ambil.
"Bara? Mungkinkah dia buka kafe dan Rain jadi pelayan di sana?"
" Selidiki mereka! Ingat, laki-laki ini urusan saya dan kalian harus berhasil buat gadis itu babak belur. Setelah itu bawa dia kehadapan saya!" perintah Gwen yang kemudian keluar dari markas miliknya.
Gwen merasa sangat kesal karena hari ini rencananya gagal. Namun, dia masih memiliki banyak rencana untuk membalaskan dendam pada Bara juga Rain.
"Bagus, jika mereka saling kenal maka dengan mudah gue bisa lenyapin mereka!"
Gwen pun mengemudikan mobilnya menuju club malam dimana ada seorang yang sedang menunggu kedatangannya. Setidaknya dia akan menghabiskan malam ini dan melupakan kekesalannya terhadap kedua anak buahnya itu.
"Radit, Lo nggak bakal bisa lari dari gue malam ini!" Gwen menyeringai saat sudah sampai dia sudah sampai di tempat yang dia tuju.
Bersambung ....
__ADS_1