Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 57


__ADS_3

"Mentari hamil!"


Rain syok dengan ucapannya itu. Bagaimana bisa dia memiliki kakak sebrengsek ini! Merusak masa depan anak gadis orang.


Sementara Rean masih berdiri dengan tubuh yang menegang. Dia tidak melakukan hal itu. Dia hanya sekadar menyusu dan tidak lebih dari itu. Dia juga tahu jika melakukan **** diluar nikah itu membuat hubungan tidak sehat.


Lalu ... Jika Mentari hamil. Dia hamil dengan siapa? Lelaki lain?


"Lo berdua kenapa?" tanya Bara.


Keduanya terkejut, apalagi saat Mentari ada dibelakang Bara.


"Lo baik-baik aja?" Rain berjalan ke arah Mentari. Mengabaikan pertanyaan Bara.


"Iya, aku baik-baik aja."


"Katakan, kalau ini nggak bener! Kalau pun iya gue bakal pastikan dia tanggung jawab!" bisik Rain sambil mengajak Mentari duduk di tempat semula.


Pikiran Rain benar-benar kacau. Masalah Radit saja membuatnya pusing sekarang di tambah Rean yang datang-datang membuat Rain syok dan menambah pening kepalanya.


"Oh, astaga!" Rain mengusap wajahnya frustasi.


"Hey, lebih baik Lo minum dulu mumpung hangat," kata Bara.


Lelaki itu sedikit canggung, sepertinya ketiga tamunya itu sedang ada masalah besar dan dia tidak tahu harus bagaimana.


"Makasih, tapi aku nggak haus!" tolak Mentari.


"Minum aja biar perut Lo enakan. Atau Lo mau teh hangat biar gue buatkan!"


Mentari menggeleng. Mengingat ucapan Bara saja membuat perutnya kembali mual.


Ya ampun, masa iya dia harus minum darah hangat itu sih.


"Bar, Lo bisa pergi bentar? Gue ada perlu antara cewek!"


Bara menghela napas berat. Dia di usir?


"Baiklah!" Lelaki itu menurut. Lalu mendorong tubuh Rean untuk ikut dengannya.


"Jadi berapa bulan?" tanya Rain setelah memastikan kedua lelaki itu pergi.


Mentari menautkan alisnya dalam, apa maksud pertanyaan Rain?


"Berapa bulan apanya?"


"Lo hamil kan? Rean harus tanggung jawab. Dia kan yang rusak Lo?" tembak Rain.


Kedua mata Mentari membulat sempurna. Bagaimana bisa dia hamil jika tidak melakukan hubungan badan? Apa hanya memberikan Rean susu bisa hamil?


"Aku lagi haid dan Rean tidak pernah melakukan apapun sama aku!"


Rain tidak kalah syoknya.


"Haid? Terus tadi Lo muntah kenapa?"


"Itu ... Tadi siapa? Dia bilang kalau itu darah kucing panas dicampur sama racun! Jadi aku langsung mual karena bayangin itu kucing yang di ambil darahnya," jawab Mentari polos.


Rain menepuk keningnya dan setelah itu tertawa sumbang. Bisa-bisanya dia berpikir jauh ke luar angkasa. Oh, astaga ... Ada apa denganmu, Rain.


"Rain, kamu baik-baik saja?" tanya Mentari yang memang tidak tahu apapun.


"Gue baik banget!" Rain menggeleng pelan, "Ya ampun. Ancur banget pikiran gue ya. Udah nuduh Abang gue yang enggak-enggak!"


"Jadi kamu pikir aku muntah karena hamil?"


Rain mengangguk.


"Rean nggak pernah ngelakuin itu kok. Dia selalu jaga batasannya."


Meski hanya menyusu. Imbuh Mentari dalam hati.


**


"Rain bilang dia kabur dari apartemen lalu mendarat ke pantai ini. Di luar prediksi BMKG, gue dateng nggak sengaja liat dia. Ya udah gue tawarin tidur bareng di villa!" jelas Bara yang sepenuhnya tidak benar.


Rean menatap tajam Bara, "Katakan yang bener!" desis Rean.


Bara menyemburkan tawanya. "Oke, dia gue tawarin buat istirahat di villa karena semalam nggak tidur. Begitu juga dengan gue yang udah oleng. Ya udah semua baik-baik aja nggak ada kejadian apapun! Santai, boy!" Bara menepuk pundak Rean.


Sementara Mentari sudah istirahat di kamar yang Rain tempati. Rencananya besok pagi mereka akan pulang bersama.


Rain menuju halaman belakang. Melihat kedatangan Rain, Bara segera pergi. Memberikan waktu untuk adik-kakak yang sedang ada masalah itu. Dia tidak mau ikut campur.


"Bang, gue salah paham!" Rain nyengir tanpa dosa.


Rean menghela napas panjang, "Makanya tanya dulu baru nuduh!" sungut Rean.


Rain terkekeh, "Ya maaf. Gue kan lagi stres! Lagian Lo segala nyusul!" Sekarang Rain yang kesal.


Rean memeluk Rain dengan erat, "Katakan semuanya. Juga percaya sama gue kalau gue nggak akan ngerusak cewek yang gue cintai!" lirih Rean.


"Jadi ... Lo ngaku juga kalau cinta?"


"Hmm ... Ya?"


Mereka masih berpelukan tapi saling bicara. Seakan dengan berpelukan beban yang sedang Rain rasakan hilang.

__ADS_1


Rean melepas ikatan rambut Rain, dan mengelus rambut panjangnya yang kini tergerai. Memberikan rasa nyaman kepada adiknya supaya bercerita tentang masalah yang sedang dia hadapi. Meski Rean tahu apa yang sedang Rain pikirkan.


"Gue capek. Dulu gue trauma gara-gara Lo. Terus gue pengen tenang sampai-sampai nggak di akui juga. Sekarang hubungan gue sama Damian Klopper baik-baik aja, dia dengan seenak jidatnya memaksa gue buat keluar dari persembunyian. Dia mau semua orang tahu siapa gue. Ck, gue capek kalau harus jadi sorotan. Lo tahu sendiri cita-cita gue apaan!"


Benar dugaan Rean, selain masalah Radit ... Masalah papanya yang memaksa Rain.


"Gue udah bilang sama bokap kalau Lo sebenarnya berat buat keluar dari zona nyaman Lo. Meski sebagian udah tahu siapa Lo karena insiden Lo nyerang Keyla. Gue janji akan selalu lindungi Lo, Rain. Jangan pernah pergi lagi seperti ini!" Rean lebih mengeratkan lagi pelukannya. Menyalurkan rasa sayang juga kekhawatirannya.


"Kapan ya gue punya cowok kayak Lo gini! Hah, capek banget sumpah!"


Rain menenggelamkan wajahnya di dada Rean. Menangis ... Itu yang Rain lakukan. Dia terlihat kuat tapi ketika bersama Rean, dia tidak akan malu untuk meluapkan segala kesedihannya.


"Lupakan Radit. Gue yakin Lo bakal dapetin cowok yang baik." Rean membiarkan Rain menangis dan mengotori jaket yang dia kenakan.


"Kalau aja gue bukan kembaran Lo, mungkin gue akan paksa Lo buat jadi pacar gue!"


Rean terkekeh, selalu saja Rain berkata seperti itu kalau sedang putus asa.


"Gue emang ganteng dan kegantengan gue ini nggak ada duanya!"


Rain mencubit pinggang Rean.


"Awww, sakit, Rain. Capitan Lo pedes juga ih!" protes Rean yang hampir membuat pelukannya terlepas.


"Bang, gue mana bisa lanjutin tunangan sama Kenan. Gue udah sakit hati. Terus Radit ... Perlakuan grandmanya udah keterlaluan, tapi Radit masih aja gangguin gue dan sekarang nuduh gue selingkuh coba! Darimana dia tahu kalau gue di pantai sama Bara yang nggak sengaja bertemu. Kenal dia aja barusan gimana ceritanya gue selingkuh!" jelas Rain di sela tangisnya.


Rean tetap mendengar semua ucapan Rain tanpa berniat untuk menyela. Sementara di balkon kamar ada sepasang mata yang sedang menatap mereka.


*


"Hidup gue dulu menyakitkan. Sekarang gue tenang dan gue bisa seberani ini, tapi kenapa harus dipaksa untuk keluar dari zona nyaman! Apa keuntungan buat gue kalau tujuannya supaya orang nggak semena-mena sama gue. Mereka mau perlakukan gue kayak apapun nggak akan gue pedulikan selagi gue bener ya udah, kita lawan. Kalau gue salah ya udah mereka berhak tegur gue!"


Rain sudah lebih tenang dari sebelumnya. Tangisannya tidak lagi terdengar. Mereka duduk di gazebo sambil mendengar suara ombak yang menenangkan. Sosok yang sejak tadi melihat mereka sudah pergi.


Mentari, tidak sengaja melihat Rean yang memeluk Rain. Awalnya dia iri dengan Rain. Betapa sayangnya Rean pada gadis itu. Namun, saat tahu Rain sedang tidak baik-baik saja dan untuk pertama kalinya melihat Rain menangis, rasa cemburu itu seketika sirna.


Mentari memilih masuk, takut Rean lihat dan malah mengganggu saja. Mentari berharap semua masalah yang menimpa Rain secepatnya selesai.


"Gue nggak mau liat Lo terpuruk lagi dan lakuin hal yang diluar dugaan, Rain. Gue takut!" Rean menggenggam erat jemari Rain.


Mengingat kejadian Rain yang hampir saja kehilangan nyawa itu cukup membuat Rean trauma. Itu sebab dia sangat kacau ketika mendapati Rain pergi dari apartemen tanpa memberi kabar. Juga ponsel yang mati semakin menambah rasa bersalah Rean.


"Gue nggak kayak dulu, Bang. Gue baik-baik aja. Hanya saja gue capek. Serius!"


"Kenan yang tunangan gue aja brengsek, Radit yang memang lebih baik dari Kenan ... Nyatanya yang buat gue sakit hati grandmanya. Eh sekarang dia malah nuduh gue selingkuh. Terus itu dia apa coba kalau sama Gwen? Bahkan gue liat status Gwen bikin nyesek tau nggak! Gue emang belum secinta itu sama Radit, tapi rasa sayang gue ke dia udah ada. Ya, udah buat apa kan di pertahankan kalau kayak gini?"


"Terus langkah selanjutnya apa?"


Rain menggeleng, pikirannya yang kacau membuat otak cerdas tidak bisa berpikir jernih.


"Putus?" tebak Rean. Lelaki berhidung mancung itu berharap jika adiknya putus dengan Radit. Dia ingin kehidupan Rain bahagia dan mendapatkan lelaki yang tepat.


Rean mengacak rambut Rain. "Anak pinter!" Rean tersenyum haru dengan keputusan Rain.


Rean tahu jika Rain tidak mau menyakiti siapapun jadi menurutnya itu adalah keputusan yang baik.


Ponsel Rain berdering pendek. Menampilkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya. Bukan nomor Rima, karena nomor wanita tua itu sudah Rain blokir.


"Siapa, sayang?" tanya Rean.


"Nggak tahu!" jawab Rain yang masih serius membaca pesan tersebut.


Sebuah foto yang memperlihatkan jemari lelaki dan perempuan yang memakai cincin di jari manis masing-masing. Lalu foto kedua memperlihatkan Radit yang sedang duduk di ranjang rumah sakit dan Gwen duduk di sebelahnya. Memperlihatkan cincin mereka. Tangan Radit yang sedang di infus itu memakai cincin yang sama dengan Gwen. Itu artinya ....


Rain tertawa miris. Air matanya kembali menetes. Dia segera menghapusnya karena tidak mau menangis hanya karena lelaki yang tidak tegas seperti ini.


[Jadi ... Lo tahu kan? Siapa pemenangnya! Lo hanya orang miskin yang nggak sadar diri dan berharap jadi Tuan Putri! Miliknya akan kembali kepada pemiliknya!]


Pesan dari nomor tersebut.


Rain tahu siapa yang mengirimkan pesan ini. Tujuannya ya membuat Rain hancur, tapi dia bukan gadis yang lemah. Dia memilih memblokir kontak tersebut dan menghapus pesannya.


Rean mengelus punggung Rain supaya lebih tenang. Dia juga membaca itu dan merasakan sakit hati.


"Sabar, sayang. Gue yakin Lo pasti bisa lewatin ini. Lo bakal dapet cowok yang lebih dan lebih dari mereka. Lo nggak boleh terpuruk. Okey?"


Rain mengangguk, hatinya menghangat mendapatkan nasehat dan perhatian penuh kasih sayang dari Rean. Kembarannya ini benar-benar yang terbaik.


"Bang, kalau aja__"


" ... Gue bukan kembaran Lo, Lo mau jadi pacar gue!" tebak Rean.


Rain terkekeh, rupanya lelaki itu sudah hapal ucapannya kalau lagi galau. Ah, dimata Rain ... Rean ini lelaki cool. Kekasihnya itu ya baru Mentari. Dia cinta pertamanya. Itu berarti tidak memiliki mantan kekasih. Rain berharap mereka berjodoh. Apalagi keluarganya sudah memberikan lampu hijau. Hanya saja keduanya gengsi untuk berkata saling mencintai.


"Rain, gue bukan cowok yang baik seperti yang Lo nilai. Gue harap Lo dapetin lebih dari gue!"


"Udah ah, gue nggak mau bahas itu lagi. Capek!"


Rean mengelus pipi Rain. Menciumi wajah Rain dan mencubit hidungnya dengan gemas. Mereka sama-sama terkekeh. Rean akan berusaha lagi membujuk Damian untuk mengurungkan niatnya itu. Dia tidak mau trauma Rain tentang orang-orang jahat yang bermulut manis dan mengambil keuntungan hadir kembali.


Rean menangkup wajah Rain dengan tangannya. "Gue bakal bujuk bokap tentang rencananya. Lo serahin semua ke gue dan fokus buat gapai cita-cita Lo!" Rean mengecup bibir Rain sekilas.


"Abang!" Rain mendorong dada lelaki itu.


"Lo mikir nggak sih kalau di sini ada Mentari? Gue nggak mau dia salah paham!" Rain mengerucutkan bibirnya.


"Gue cuma hibur Lo, cantik!"

__ADS_1


Andai Rean bukan kakak kandungnya, panggilan lelaki itu padanya sejak tadi selalu membuat pipi Rain bersemu. Kalau saja dia adalah Rain asli tentu tidak akan merasakan ini. Biar bagaimanapun jiwanya tetap Lea. Lea yang sama sekali tidak memiliki ikatan darah dengan Rean. Hanya saja semua kenangan dan ingatan dalam kepala Rain sudah kembali, begitu juga dengan ikatan batin Rain terhadap Rean juga perlahan Rain rasakan.


"Tidur gih, besok kan kita harus balik."


"Kata siapa? Gue masih mau di sini. Besok kan weekend. Gue tadi juga udah minta izin sama Bara!"


Rean tadi memang meminta izin untuk menginap dua malam. Supaya Rain tidak terlalu berlarut dalam kesedihan. Bara menyetujuinya karena lelaki itu jadi bisa lebih mendekati Rain. Meski niat Bara sudah Rean baca, tapi Rean tetap saja pura-pura tidak tahu.


"Serius? Kata dia apa?"


"Ya boleh-boleh aja. Kebetulan dia emang mau sampai besok di sini. Lagi ada problem!"


"Dia cowok gimana sih?"


Rean melirik Rain, suasana jadi berbeda ketika Rain mulai menanyakan tentang Bara.


"Jangan bilang Lo suka!"


"Apaan sih! Mana ada orang nanya begitu karena suka!" sungut Rain.


"Gue nggak tahu karena dia musuh gue!" jelas Rean.


Jawaban itu sudah sangat jelas dan Rain tidak mau mendebat lagi. Biarlah dia tahu sendiri. Semoga saja dugaannya tentang Bara semua salah. Rain berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini. Setidaknya semua unek-unek dihatinya sudah keluar dan sekarang lebih tenang.


"Mendingan?" tanya Rean. Lelaki itu melingkarkan tangannya di punggung Rain.


"Makasih, Abang!"


"Sama-sama." Rean mengecup kening Rain dengan sayang.


"Sekarang Lo istirahat ya biar lebih segar besok!"


Rain mengangguk, ini juga sudah larut malam dan cuaca semakin dingin.


"Good night, Bang!"


"Good night, sayang!" Rean mengecup kembali bibir Rain dan langsung ngacir pergi.


***


Di rumah sakit hati Radit sedang kacau setelah melihat postingan Bara. Dia sudah mengirim pesan pada lelaki itu dan malah menambah rasa panas yang menjalar hingga ke ulu hatinya. Grandma Rima sudah tahu semuanya dari Gwen. Gadis manis itu menceritakan dengan menambah bumbu penyedap. Sehingga membuat grandma Rima mengambil kesempatan.


Malam ini grandma yang menjaga Radit sampai Fania dan Alex datang. Grandma Rima juga sudah membawa cincin yang memang sudah dia persiapkan sejak lama. Grandma Rima tetap pada tujuannya untuk menjodohkan Radit dengan Gwen. Keuntungan yang akan di dapat sangat besar tentunya.


"Grandma bilang juga apa! Dia itu gadis yang tidak tahu diri. Kemarin saat kamu kecelakaan kemana dia? Sama sekali tidak datang dan bahkan sampai sekarang tidak menjenguk kamu kan?" ucap Rima.


Radit memalingkan wajahnya. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, grandma malah menambahkannya. Semakin kesal dia.


"Radit, grandma memang sudah menyetujui hubungan kalian. Tapi melihat ini grandma menarik kembali kepercayaan yang grandma berikan kepada gadis itu!" Rima tersenyum, meski hatinya sangat jengkel mengatakan hal ini.


Semua hanya omong kosong supaya Radit mau menyetujui rencananya.


Mendengar hal itu Radit lega karena grandmanya mau menerima Rain. Namun, dia juga kecewa karena Rain malah melakukan hal itu dan membuat grandmanya kembali tidak menyukai Rain. Entah grandma tahu darimana kalau Rain sedang bersama laki-laki lain di pantai. Grandma benar, kalau dia sayang sama Radit pasti Rain akan datang menjenguknya.


Apapun yang grandma lakukan, Rain selalu tidak perduli dan tetap saja menjalani hubungan itu. Seperti saat dia main ke rumah. Perlakuan grandma yang keterlaluan tidak membuat Rain pergi begitu saja. Dia tetap meladeni ucapan grandma yang pedas. Lalu dia kembali lagi ke rumah dan tidak kapok dengan sikap grandma.


Entah mengapa saat dia terkena musibah dan sedang membutuhkannya, Rain malah pergi. Apa benar gadis itu hanya mau senangnya saja. Radit mengingat kembali saat Rain mau menerima cintanya setelah mendapatkan apa yang dia mau.


Benar-benar matre! batin Radit berkata.


Padahal awalnya dia tidak masalah, tapi hari ini dia menyadari jika Rain tidak memiliki perasaan apapun dan hanya memanfaatkan dirinya. Bahkan cintanya bertepuk sebelah tangan.


Apakah Rain sudah tidak perduli karena Kenan menyesal telah menyia-nyiakannya?


"Grandma minta kamu nurut sama grandma sekarang! Buat gadis itu juga merasakan apa yang kamu rasakan, Radit. Jangan pernah berlarut dalam kesedihan yang ada dia malah bahagia!"


Radit membernarkan ucapan grandmanya. "Apa yang grandma mau?" tanya Radit.


Rima mengeluarkan kotak berbentuk hati dari dalam tasnya. Lalu memberikan kepada Radit dan meminta Gwen mendekat.


"Bertunangan lah dengan Gwen."


Radit melirik gadis di hadapannya ini. Meski dia sangat membenci Gwen tapi apa salahnya membuat Rain juga terluka. Dia harus merasakan hal yang sama dengannya saat ini.


"Baiklah!" jawab Radit kemudian.


"Resminya nanti kalau kamu sudah selesai ujian saja. Sekarang ikat Gwen dengan cincin ini!"


Radit membuka kotak tersebut dan memasangkan cincin di jari manis Gwen. Gadis itu sangat bahagia bukan kepalang.


Rima tidak lupa mengabadikan momen ini. Dia tersenyum puas karena rencananya berhasil. Rima mengirim foto-foto itu pada nomor Gwen dan juga Fania.


"Grandma harap kalian akan bahagia. Lupakan gadis itu, Radit!"


Radit tidak menjawab. Setelah keduanya selesai bertukar cincin, Radit kembali fokus pada layar ponselnya. Melihat balasan pesan dari Rain yang semakin menambah kekesalannya.


[Apapun yang kamu tuduhkan itu nggak bener! Tapi tentang gue lagi sama Bara itu bener!]


Hanya itu dan tidak ada lagi jawaban penjelasan dari Rain.


[Kenapa Lo tega sama gue, Rain? Kenapa juga Lo milih sama cowok lain ketimbang temenin gue di rumah sakit!]


Radit sudah tidak lagi memakai aku dan kamu. Dia sudah sangat kesal dengan sikap Rain.


Hah, Radit tidak tahu saja kalau grandmanya yang telah membuat Rain seperti ini.


Andai saja Radit tahu ....

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2