Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 84


__ADS_3

Tiba waktunya liburan akhir semester kenaikan kelas dan juga kelulusan. Radit lulus dengan nilai yang baik. Kini mereka tinggal di negara Singapura, kampung halaman ayah Radit. Mereka memulai bisnis barunya dari nol. Sementara Radit sudah menikah dengan Gwen yang ternyata sedang mengandung. Entah kecebong siapa yang berkembang biak itu. Namun, Radit mau bertanggung jawab sebagai penebus kesalahan dimasa lalu.


Mereka hidup damai meski masih merasakan luka lara. Efek yang Rain berikan berpengaruh luar biasa bagi kesehatan mental Gwen. Dia menjadi takut jika bertemu orang asing. Bahkan dia selalu memilih menyendiri. Meski keadaan membaik tapi trauma itu belum juga sembuh.


Sementara Rain sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan di ballroom hotel. Acara pertunangan Ando dan Malina juga Damian berencana untuk memperkenalkan Rain kepada dunia. Mereka semua wajib tahu siapa Rain yang sesungguhnya.


Ballroom hotel yang menampung ribuan orang di sulap menjadi mewah dengan dekorasi bunga di setiap sudut dan juga balon. Dekorasi panggung yang indah dan terdapat foto Ando bersama Malina. Nama mereka juga tersemat di sana.


Rain berjalan diantara kerumunan orang-orang tersebut. Mencari keberadaan Damian. Sungguh jantungnya sejak tadi berdebar tidak karuan. Sebentar lagi dia akan berhadapan dengan para manusia-manusia yang memiliki topeng diwajahnya. Ketakutan yang sejak tadi memeluk tubuhnya, membawa dia tanpa sadar berada di hadapan seseorang.


Dress panjang model lengan pundak cut out berwarna senada dengan kulitnya itu melekat di tubuh Rain. Membuat gadis itu terkesan elegan. Sebenarnya Rain tidak nyaman dengan pakaian yang dia kenakan. Lebih baik memakai celana training, jeans atau celana model lebar lainnya yang di padukan dengan kaos oversize atau hoodie. Memakai sepatu sneaker juga lebih nyaman ketimbang heels yang membuat kakinya bergerak tidak bebas.


Laki-laki yang sedang berada di hadapan Rain tersenyum. Dia sampai tidak berkedip melihat Rain yang jauh berbeda.


"Gila! Lo bisa juga jadi cewek!" ledeknya.


Wajah Rain cemberut, kalau saja tidak sedang menjaga image dia sudah menampar laki-laki itu atau melemparkan heelsnya.


Rain tersenyum penuh paksaan, "Puasin ledek gue!" sungut Rain.


Dia sudah tidak tahan dan ingin segera mengganti pakaiannya juga menghapus make up. Orang-orang salon tadi yang sudah membuat Rain tampil lebih feminim dan mempesona malam ini. Make up yang terkesan natural tapi bagi Rain itu terlalu tebal seperti topeng monyet atau seperti orang mau ngelenong saja. Dia sempat protes tapi para pelayan salon itu tidak perduli.


Damian melihat Rain yang berdiri bersama Bara. Jika dilihat mereka sangat serasi. Terlintas dalam pikiran Damian untuk menjodohkan mereka saja. Kebetulan Alpha adalah sahabat Damian.


"Sayang, akhirnya datang juga!" Damian memeluk Rain penuh sayang dan mengecup keningnya.


"Ayo mulai, Rain pengen pulang!"


Damian terkekeh, sungguh Rain ini selalu saja tidak betah pada acara resmi seperti ini.


Damian meninggalkan Rain, laki-laki berusia empat puluh itu berjalan ke arah panggung. Membuat semua yang berada di ballroom menatap ke arahnya.


"Tujuh tahun yang lalu sebuah mobil Lamborghini yang didalamnya ada supir dan tiga penumpang, mengalami kecelakaan akibat rem blong dan menabrak truk. Menewaskan supir dan dua penumpang lainnya. Dia adalah istri pertama saya, Kimberley Rose dan putri kecil saya yang saat itu berusia 10 tahun, RainaGrittella Klopper. Seperti yang kalian ketahui beritanya bahwa putra saya Rean Gabriel Klopper selamat. Rean dan Rain anak kembar kami. Kehidupan kami sebelum kecelakaan begitu indah. Saya selalu menyendiri setelah kejadian itu karena benar-benar terpukul kehilangan orang-orang yang sangat saya sayangi." Damian menyeka air matanya.


Seluruh tamu undangan terdiam, menatap Damian dengan tatapan sendu. Ucapan Damian berhasil membuat mereka juga merasakan kesedihan.


"Raina Grittella Klopper yang biasa kami sapa dengan Ana, tidak meninggal dunia. Dia masih hidup, hanya saja saat itu dia mengalami koma selama dua bulan. Kami harus memberikan kabar kematian karena sesuatu. Setelah dia melewati masa kritisnya, Ana menceritakan semua yang terjadi. Dia tertekan karena memiliki teman yang hanya memanfaatkannya."


"Awalnya saya sudah mencoba untuk memberikan semangat dan membangkitkan rasa percaya dirinya. Dengan kabar kematian itu Ana bisa hidup bebas dengan nama panggilan baru dan tidak tersemat nama Klopper di dalamnya. Hanya saja Rean masih mendekati adiknya demi melindungi Ana. Namun, semua kembali terjadi. Mental Ana hancur karena kesalahpahaman antara remaja. Rean yang menjadi idola dan Ana sebagai butiran debu selalu dibully, bahkan saya ...."


Damian memejamkan kedua matanya dan menghela napas. Dia sangat sedih ketika mengingat semua kenangan tentang Rain yang sangat menyakitkan.


"Sejak dia kembali, saya selalu menyalahkannya. Memberikan hukuman yang seharusnya tidak dia lakukan. Saya selalu menyalahkannya karena penyebab kematian Kimberley. Hingga saat itu dia menyadarkan saya jika saya hidup bersama orang-orang yang jahat."


"Ya, seperti yang saya bilang tadi. Bahwa putri saya Ana masih hidup sampai sekarang. Semua orang memang mengenal Ana dan Rean. Kembar lucu dimasanya dan kini mereka menjelma menjadi sosok laki-laki tampan dan perempuan yang cantik. Raina Grittella Klopper, kemarilah."

__ADS_1


Semua orang mencari keberadaan gadis yang dulu dikabarkan meninggal dunia. Mereka tidak percaya jika sebenarnya gadis itu masih hidup. Gadis kecil yang kini telah dewasa dan selalu menutupi identitasnya. Gadis yang selalu dipandang sebelah mata, mungkin sebagian dari mereka ada yang pernah bertemu. Gadis itu melangkah dengan anggunnya ke arah Damian.


Mereka tercengang melihat Rain yang menjelma menjadi gadis yang sangat cantik.


"Dia adalah Ana yang sekarang sering dipanggil Rain. Jika kalian kenal dengan remaja tomboy yang sedang naik daun dan selalu memakai helm, gadis misterius yang menjadi idola dikalangan remaja bernama Queen. Dialah orangnya. Rain atau Queen putri saya yang selama ini saya sembunyikan."


"Rain, bicaralah beberapa patah kata."


Rain memejamkan mata dan menghela napas. Menatap semua orang yang mulai bisik-bisik. Rain tersenyum karena mereka semua yang menatapnya itu penuh ketulusan bukan penuh topeng.


"Selamat malam, pertama-tama aku berterima kasih kepada papa yang luar biasa hebat karena mau menuruti kemauanku. Menjadi orang yang tidak selalu di sorot kegiatannya."


"Aku juga berterima kasih kepada Rean dan Ando karena sudah menjadi kakak yang baik. Meski mereka sering menyebalkan."


"Dari kejadian itu aku belajar banyak hal dan memiliki teman yang tulus tidak memandang siapa aku sebenarnya. Terima kasih."


Rain pun bergegas pergi karena sudah tidak nyaman. Acara kembali di lanjutkan dengan tukar cincin Ando dan Malina. Sementara Rain sudah berada di sebuah taman yang terletak di belakang hotel. Dia melempar heelsnya asal karena kakinya lecet.


Lalu Rain mengambil tissue basah dan ingin menghapus make upnya. Namun, ada seseorang yang mencegah itu.


"Sialan! Siapa yang menghalangiku!" Rain menoleh ke belakang.


"Bara? Balikin nggak!"


"Jangan di hapus. Lo cantik kalau gini!" puji Bara.


Bara duduk di sebelah Rain yang kosong. Membawa heels yang Rain lempar asal tadi.


"Kenapa di lepas?"


"Lo nggak liat kaki gue lecet!" Rain menaikkan satu kakinya.


Bara dengan sigap memijit telapak kaki Rain. Entah mengapa jantung Bara berkali-kali berdebar lebih kencang.


"Lo cantik, Rain!"


"Nggak usah ngeledek deh! Bilang aja gue kayak ondel-ondel!"


"Mana ada, cantik gini kok dibilang ondel-ondel."


Sebenarnya wajah Rain sudah memerah, dia memilih memalingkan wajahnya dan menatap bintang yang bertaburan di langit.


"Aku juga sayang sama kamu, suamiku!"


Rain mendengar suara yang berasal di belakang. Gadis itu bangkit dan membuat Bara keheranan. Dia menatap sepasang suami-isteri yang tidak tahu tempat.

__ADS_1


"Woylah tempat umum nih! Nyosor aja!" teriak Rain.


Membuat Mentari kaget dan juga malu, dia menundukkan kepala dan bersembunyi dibalik tubuh Rean.


"Rain? Ngapain Lo di sini?" tanya Rean kesal. Rencana mau romantis gagal deh.


"Lagi balapan!" sahut Rain sinis.


Dia kembali duduk bersama Bara yang menahan tawanya.


"Lo berdua pacaran ya!" Rean melangkah ke arah mereka dengan Mentari yang masih di belakangnya.


"Nggak!" jawab Bara dan Rain bersamaan.


"Oh, nggak. Baguslah, berarti mata Bara masih normal. Soalnya nggak jatuh cinta sama cewek jelmaan kayak Lo!" Rean menarik tangan Mentari untuk kabur. Dia berlari tapi Rain segera mengambil heelsnya untuk dilempar ke arah Rean.


Sayangnya heels itu masuk ke dalam air mancur.


"Sialan!" pekik Rain.


"Heh, udah. Masa gadis feminim gini jadi bar-bar sih!" Bara menurunkan gaun Rain, karena gadis itu menariknya hingga ke atas lutut supaya bisa berlari.


"Habisnya dia ngeselin!"


Bara malah tertawa membuat Rain semakin kesal.


"Ada yang lucu?"


"Nggak sih, Lo gemesin kalau lagi ngambek. Sini duduk, gue pijit lagi!"


Rain menurut saja, kakinya memang sakit karena tidak terbiasa menggunakan heels.


Rain menatap Bara yang sedang serius memijit kakinya. Entah kenapa dia jadi terpesona dengan wajah tampan Bara. Laki-laki yang selalu membuatnya tertawa karena tingkahnya. Bahkan dia selalu membuat Rain nyaman saat bersamanya. Bara tidak pernah mengungkapkan perasaannya, ya mengalir begitu saja. Bara juga selalu membantu Rain dan rela di suruh ini itu.


"Gue emang cakep, nggak usah segitunya ngeliatin gue!" kata Bara penuh percaya diri.


Tertangkap basah sedang menatap Bara, Rain menjadi malu dan memilih berpaling wajah.


"Rain, Lo tahu nggak kalau wortel bikin mata kita jernih?"


"Tau!"


"Waktu kecil mama selalu nyuruh makan wortel biar mata gue jernih. Gue bangga deh, pada akhirnya mata gue berfungsi dengan baik dan semakin jerni ketika melihat bidadari tanpa heels duduk dihadapan gue!"


"Gombal!"

__ADS_1


Rain memukul lengan Bara dan mendorong laki-laki itu hingga terjatuh. Menggoda Rain itu adalah hoby Bara. Keduanya tertawa bersama. Tanpa mereka sadari ada sosok laki-laki yang tersenyum menatap Rain yang tertawa bahagia.


Bersambung ....


__ADS_2