
Rain menatap bangunan dua lantai yang minimalis tapi juga modern itu. Halaman mungil yang di tumbuh rumput hijau dan kanan kirinya terdapat berbagai tanaman juga dua pohon kelapa menghantarkan kesan asri juga menyenangkan. Ada jalan setapak kecil menuju pintu masuk. Bara membuka pintu tersebut dan mempersilahkannya untuk masuk. Benar-benar indah.
Pertama kali melihat Rain langsung jatuh cinta pada villa itu, meski berlantai dua tapi tidak memperlihatkan kesan kemewahan. Cocok untuk liburan maupun menenangkan diri.
"Ini ... Milik elo?" tanya Rain.
"Ya, gue sering kemari kalau pas lagi suntuk!" jawabnya sambil berjalan menuju dapur.
Rain mengekor sambil melihat-lihat ruang tengah, dimana ada televisi yang lumayan besar. Rain menatap ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan pantai.
Dia menatap Bara, dapur minimalis dan terdapat mini bar juga. Lelaki itu mengambilkan botol air mineral dari kulkas. Lalu membuka lemari dapur untuk mengambil beberapa camilan. Bisa Rain lihat stok makanan lengkap, jadi lelaki itu tidak berbohong. Mana mungkin kan dia mengikuti Rain hingga menyiapkan semua ini.
Rain saja yang terlalu curiga pada lelaki itu.
"Mau di sini atau di belakang?" tawar Bara.
"Gue mau liat halaman belakang dong."
Bara membawa nampan dan berjalan ke pintu belakang. Dia menggeser pintu yang terbuat dari kaca tersebut.
"Ini ... Benar-benar indah."
Di halaman belakang terdapat gazebo kecil yang terbuat dari kayu. Dibawahnya juga ada kolam renang yang langsung menghadap ke laut.
Rumput hijau yang menghiasi halaman itu. Ada dua pohon besar di sisi kolam renang juga pohon pisang dan entah pohon apa di belakang gazebo. Kesan hijau yang memanjakan mata ini membuat Rain betah jika berlama-lama di sana.
"Gimana? Lo suka?" Bara meletakkan nampan tersebut di gazebo.
Rain mengangguk. Dia duduk di samping gazebo sambil mencelupkan kakinya pada kolam renang. Dingin juga menyegarkan.
"Pantesan Lo milih tempat ini buat ketenangan. Benar-benar menenangkan sih!"
"Lo boleh kok dateng ke sini kapanpun Lo mau. Nanti gue kasih kuncinya!"
Rain menggeleng, dia bukan orang gabut yang akan selalu datang seperti Bara. Hanya sekarang saja dia butuh ketenangan, selebihnya ya Rain akan sibuk dengan segala aktivitas yang padat.
"Gue nggak suka."
Bara mengernyit. Rain gadis aneh rupanya. Tadi bilang suka tempat ini sekarang bilang tidak suka.
"Gue nggak suka buang-buang waktu seperti ini!" lanjut Rain.
Membuat Bara menjadi salah tingkah, dia salah menilai Rain. Ah, gadis yang sibuk dan Bara berpikir jika jadwal pacarannya dengan Radit itu singkat juga sehat. Bara benar-benar semakin mengagumi gadis itu.
"Lo kalau sibuk gitu nggak curiga cowok Lo selingkuh?" Bara tentu saja asal bicara. Mana mungkin seorang Radit itu selingkuh.
Dia saja kaget jika Radit memiliki kekasih--yang Bara pikir kekasihnya itu--seperti gadis-gadis lainnya. Hanya mau dengan harta dan ketampanan yang bagi gadis itu sangat menguntungkan.
Ketika melihat Rain awalnya begitu, wajah cantik yang naturalnya membuat Bara menilai rendahan. Namun, saat melawan dirinya dan mengatakan dia adalah Queen, sungguh dugaan itu menguar begitu saja ke udara.
Rain berdecak, dia menatap ke arah air laut yang mulai menenangkan. "Kalau dia selingkuh ya cari lagi, nggak usah dibuat rumit kalau masih batas pacaran!" jawab Rain santai.
Bara terhenyak dengan jawaban itu. Di zaman seperti ini ada gadis yang berpikir sesimpel itu. Apa dia tidak pernah merasakan patah hati? Yang membuatnya gila dan bahkan rela melakukan apa saja agar tidak putus dengan kekasih pujaan. Ah, Rain benar-benar unik.
"Memang Lo nggak rugi kalau putus dari Radit? Secara ... Gue yakin kalau ___"
"Gue nggak akan pernah rugi karena pacaran gue sehat. Memangnya elo yang celup sana celup sini!"
Bara kalah telak!
Lelaki itu memilih membuka botol air mineralnya untuk menetralisir suasana hatinya atas ucapan Rain.
"Nggak ya! Gue nggak seburuk itu!" kilah Bara.
Rain mengangkat kedua bahunya, "Maling mana ada yang ngaku!" kata Rain.
Membuat Bara ingin sekali mengikat itu bibir. Hih, gemas!
"Kayaknya Tuhan pas nyiptain Lo itu lagi emosi ya, jadinya nyebelin kayak gini!"
Rain mengambil air kolam dengan kedua tangannya dan menyiram ke arah Bara yang duduk di gazebo. Lelaki itu langsung mundur. Takut basah rupanya.
"Lo juga ngeselin!"
"Tapi gue ganteng!"
"Huweeek, para cewek di luar sana kayaknya minus mata. Makanya pas liat Lo ganteng!"
"Lo bakal jatuh cinta sama gue!" ucap Bara penuh percaya diri.
"Gue nggak akan pernah jatuh cinta duluan, sayangnya!"
"Gue bakal buat Lo jatuh cinta!"
"Kayaknya Lo dulu!" Rain tidak mau kalah.
Dia baru menyadari, obrolan macam apa ini!
Rain memilih memalingkan wajahnya saja! Malas sekali menatap lelaki yang percaya dirinya melebihi Spongebob itu.
"Baju Lo basah, Lo mau godain gue?" Bara memicingkan matanya.
Rain yang duduk di hadapannya itu segera melihat hoodie yang dia kenakan. Tidak basah, kalaupun basah juga tidak akan memperlihatkan lekukan tubuhnya. Dibalik hoodie ada kaos oversize yang dia kenakan. Hanya celana jeansnya saja yang basah.
"Lo tidur ya? Mana ada baju gue basah!" Rain sudah kesal dengan lelaki ini.
"Oh, iya. Gue lupa kapan terakhir tidur!"
__ADS_1
Rain mengernyit heran. Mana ada sih orang nggak tidur-tidur. Terbuat dari apa itu mata?
"Mana ada orang lupa tidur!"
"Serius, gue kalau lagi banyak pikiran nggak bisa tidur, Queen!"
Queen? Ah, Rain baru pertama kali mendengar seseorang memanggil namanya dalam wujud Rain.
Biasanya orang memanggil dia saat di arena balap saja.
"Panggil gue Rain!" protesnya.
"Lo yang pake nama itu Lo juga yang nggak mau di panggil itu! Heran gue!"
Rain melempar kacang atom ke arah Bara. Lelaki itu malah tertawa. Pertama kalinya Bara bisa tertawa lepas seperti ini bersama seorang ... Gadis.
"Memang Lo punya pikiran?" tanya Rain. Mendengar omongan Bara yang ngalor ngidul tidak jelas itu saja membuat Rain berpikir bahwa lelaki ini sangat santai dan tidak perduli terhadap apapun. Rain yakin dia selalu seenaknya duit bapaknya kalau bertindak.
"Jangan salah! Gini-gini gue lagi berusaha buat bangun sekolahan dari paud sampai universitas!" ucapnya bangga.
Rain takjub, dia segera menarik pikirannya tentang Bara. Rupanya lelaki itu memiliki sosialisasi yang tinggi. Jarang lho anak muda yang berpikir ingin membangun sekolah.
"Serius? Dimana emang? Terus ... Udah tahap apa? Kalau hanya menghayal gue juga bisa!" Rain menopang dagu, menanggapi dengan santai saja.
"Ye, gue udah beli bahannya, Rain. Bahkan lagi tahap membangun paud. Makanya gue lagi banyak pikiran sampai lupa namanya tidur. Seolah tidur gue itu bakal membuat mereka takut kalau gue nggak akan bangun lagi. Kalau gue nggak bangun dalam tidur gue yang panjang pasti mereka kehilangan gue juga kehilangan pekerjaan. Soalnya siapa lagi yang bakal bayar mereka kan?"
Jadi ... Maksud Bara lupa kapan terakhir kali tidur itu ... Rupanya dia tidak bisa tidur nyenyak. Banyak tanggung jawab yang harus dia lakukan.
"Keren!" Hanya itu ungkapan untuk Bara, Rain tidak mau berkata panjang lebar. Terlebih mereka juga baru kenal kan?
"Iya dong!" Bara menepuk dadanya bangga.
"Jadi nanti gue bakal kasih nama itu sekolah Internasional Bikini Bottom!"
Rain yang sedang minum pun tersedak mendengar nama yang akan Bara berikan untuk bangunan sekolahnya. Seperti ... Nama tempat kartun yang setiap harinya muncul streaming di layar televisi.
"Lo waras?"
"Iyalah, gue baik kan? Mempermudah jalan para rakyat bikini bottom. Di sana belum ada sekolah paud, SD, SMP, SMA bahkan universitas soalnya!"
Rain geleng-geleng kepala. Sejak tadi dia menanggapi serius bahkan memuji Bara dalam hati. Ternyata itu semua hanya khayalan semata. Rain sekarang ragu untuk menanggapi semua obrolan Bara dengan serius. Isi kepalanya tidak bisa di tebak.
Kayaknya juga Bara terlalu sering menonton kartun Spongebob itu.
"Agak laen ini anak!" Rain tertawa terpingkal-pingkal.
Bara ikut tertawa, dia juga tidak menyangka bisa se-absurd ini. Setidaknya melihat Rain bisa tertawa itu lebih tenang. Dibandingkan dengan tadi yang murung.
**
Seperti sekarang ini, Rain pergi tanpa ada yang tahu juga tidak membawa apapun kecuali tas samping dan motornya. Jadi ketika sedang jauh dari toko dan dia butuh baju ganti tinggal membuka jok motor saja. Dimana tersimpan baju ganti, perlengkapan mandi dan dalaman. Handuk, kebetulan Bara memiliki stok baru yang banyak. Tidak perlu khawatir.
Ketika Rain sudah terlelap, berbeda dengan Bara yang sedang santai di kamarnya. Dia sedang berselancar di akun sosial medianya. Mengunggah foto Rain yang sedang memunggunginya tadi. Duduk di tepi kolam renang sambil bermain air.
Gadis yang unik😉
Kalimat itu yang Bara gunakan dalam unggahan foto tersebut. Hanya dalam beberapa detik saja, foto itu langsung ramai dengan komentar fans Bara yang diluar dugaan BMKG itu.
Siapa sih yang tidak kenal Bara? Tentu banyak yang tidak kenal. Haha
Tidak ... Tidak ... Semua juga tahu siapa Bara. Hanya Rain saja yang tidak kenal dan bahkan tidak perduli pada lelaki yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Lucunya, dia datang dengan memaksa Radit untuk mengatakan siapa Queen.
Lalu tatapan Bara tertuju pada komentar seseakun.
@Coconut: Itu kayak Queen ya. Dari postur juga style-nya.
@Helens: Kalau itu Queen, gue yakin sih bakal ada the next Raja dan Ratu racing. Kayak beberapa tahun yang lalu. Jamannya emak bapak gue masih muda. Haha
Masih banyak lagi komentar tentang foto itu. Ya, mereka semua benar jika itu adalah Rain. Rupanya fans Rain juga banyak sampai mereka hafal style juga postur tubuh Rain.
Tidak lama kemudian sebuah pesan inbox masuk dari akun .... @RadityaRain.
Bara tersenyum puas. Dia yakin bahwa Radit kelabakan sekarang.
[Berani deketin Rain, gue nggak akan segan-segan nyerang markas Lo dan bunuh pasukan Lo satu per satu!]
Black devil dan liol memang sama-sama kuat, tapi mereka tidak pernah memiliki masalah. Mereka selalu bekerja sama dengan baik. Kecuali geng milik Kenan dan Rafa yang tidak pernah akur dengan kedua geng itu.
[Santai, boy. Gue nggak bakal rebut dia. Gue tadi ketemu dia di pantai terus ajak dia ke villa. Nih sekarang dia lagi tidur. Capek soalnya habis main. Haha]
Bara sengaja membuat Radit tersulut emosinya. Biarkan Radit berpikir yang tidak-tidak. Dia tidak akan pernah melibatkan anak buahnya untuk bertengkar dengan Radit hanya karena seorang gadis. Bara memang menginginkan Rain menjadi miliknya meski sangat sulit. Dia sangat mengagumi Rain, tapi gadis itu sulit di raih. Dekat dengannya saja Bara sudah senang.
[Lo apain cewek gue, hah! Kalau sampai Lo nyentuh dia, gue bakal bunuh Lo!]
Bara hanya membalas dengan emoticon tertawa. Lalu setelahnya keluar dari aplikasi tersebut dan memilih memejamkan matanya. Semalam memang dia belum tidur karena pikirannya dipenuhi oleh Queen yang tak lain adalah Rain.
Dia pergi ke pantai yang memang seringkali dia kunjungi untuk menenangkan hati juga pikirannya. Tidak ada yang tahu, bahkan teman-teman juga tidak tahu jika Bara sering ke pantai tersebut. Kalau dia mengajak teman-temannya sama saja Bara bukan menenangkan diri, yang ada malah pening melihat kelakuan mereka.
Tidak di sangka pemandangan pertama yang Bara lihat adalah Rain. Berkali-kali Bara mengusap kedua matanya. Takut jika itu hanya halusinasi saja. Rupanya sosok itu tetap saja masih duduk di batu besar pinggir pantai. Bara berinisiatif membeli dua cangkir kopi. Meski dia tidak tahu Rain menyukai kopi atau tidak. Orang bilang kalau ada cewek tomboy itu pasti penyuka kopi juga.
Bara mendekat dan memberikan satu cangkir kopi, rupanya Rain sedang memejamkan matanya. Bara tahu dia sedang banyak masalah dan Bara tidak mau ikut campur. Bara cukup sadar diri karena mereka sama sekali belum mengenal. Apalagi Rain yang pasti sangat emosi dengannya.
Hingga rasa kesal itu berujung dengan akrabnya mereka berdua. Rain yang terlihat lelah dengan kedua mata memerah karena menahan kantuk dan terlihat sayu itu hendak pulang, segera Bara cegah karena pasti tidak akan memiliki konsentrasi. Begitu juga dengan dirinya yang sudah mengantuk setengah sadar pun tidak bisa mengantar Rain pulang.
Akhirnya dengan bujukan Bara, Rain mau beristirahat di kamar yang kosong. Villa itu memang memiliki empat kamar.
Hingga sore menjelang ... Mereka masih terlelap dan melewatkan sunset yang hendak mereka lihat. Lelah seharian tertawa dan membahas hal yang tidak penting. Lelah dengan semua pikiran juga masalah masing-masing yang berbeda.
__ADS_1
Kedua mata Rain terbuka saat dia menggeliat. Tubuhnya jauh lebih rileks dari yang sebelumnya. Rain melihat ke arah jendela kamar yang besar itu. Hari sudah gelap ternyata. Kamar juga gelap. Rain segera menyalakan lampu tidur dan berjalan ke arah kaca besar untuk menutup korden. Menyalakan lampu utama kamar lalu meraih ponselnya yang sengaja dia matikan.
"Gue pikir mendung. Rupanya udah jam tujuh. Gila sih ini. Tidur apa pingsan!" Rain bergumam sambil geleng kepala.
Bisa-bisanya dia tidur selama itu. Entah suasana yang sepi juga dingin atau memang Rain yang lelah.
"Ha?" Rain terkejut melihat banyak pesan dan panggilan dari Rean. Lelaki itu sangat mengkhawatirkan Rain.
Puluhan panggilan tidak terjawab dari Rean membuktikan seberapa besar khawatirnya lelaki itu. Juga ada panggilan dari Damian, Ando, Mia, Mentari dan ... Radit.
Lelaki itu sudah melewati masa kritisnya. Rain tidak perduli dengan semua pesan yang masuk. Dia segera menghubungi Rean. Namun, lelaki itu lebih dulu menghubunginya dengan panggilan video call. Memastikan jika Rain baik-baik saja.
"Astaga, Rain! Lo dimana, sayang!"
Wajah Rean memenuhi layar benda pipih itu. Kedua mata yang sembab, rambut acak-acakan. Rain yakin Rean benar-benar kacau saat ini. Harinya buruk karena Rain pergi tanpa pamit padanya.
Rain ingin tertawa sebenarnya melihat Rean yang seperti itu. Lelaki itu menangis karenanya. Bagaimana jika Mentari tahu? Oh, iya gadis itu menginap bukan?
Dia lupa dimana Mentari tidur? Bahkan saat Rain pergi dengan mengendap-endap juga Rain tidak terlalu memperhatikan ruang televisi. Lupakan itu! Sekarang lebih baik menenangkan Rean.
"Gue di sini, Rean. Gue baik-baik aja!" Rain mengalihkan kamera menjadi kamera belakang. Memperlihatkan suasana kamar dan pemandangan di luar jendela itu.
Rain membuka pintu kaca dan menuju balkon. Memperlihatkan suasana pantai dari lantai dua. Suara ombak yang menenangkan dan angin malam yang dingin. Tubuh Rain menggigil dia segera masuk lalu kembali bergelung ke dalam selimut.
"Lo dimana? Bisa nggak sih kalau pergi kasih kabar? Lo nggak tahu seberapa khawatirnya gue, seberapa takutnya gue kalau elo___"
Rain meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Membuat Rean terdiam.
"Gue pusing denger Lo ngoceh. Lo nggak usah khawatir. Gue besok pulang. Gue lagi pengen nenangin diri."
"Nggak bisa! Kasih alamatnya sekarang biar gue ke sana!"
Rean mana bisa di cegah, yang ada dia nggak bisa tidur kalau tidak bertemu dengan Rain sekarang. Bagaimana nanti jika mereka sudah menikah ya? Tentu saja beda cerita. Rain kan sekarang pergi sendiri apalagi tanpa pamit. Ya jelas Rean panik, dia berpikir yang tidak-tidak. Rean berpikir kalau Rain tiada karena dibunuh oleh musuh. Ah, benar-benar kacau pokoknya.
"Nanti gue izin ama yang punya villa. Terus gue kasih alamatnya ke elo!"
" .... Yang punya villa? Sebenarnya apa yang terjadi? Rain, Lo baik-baik aja kan? Lo masih bisa tinggal sama gue kan?"
"Astaga, Rean! Lo mikirnya aneh-aneh ih. Ceritanya panjang. Gue izin dulu ya. Nanti gue kabarin!"
Rain mematikan sepihak panggilan video call. Panjang urusannya kalau nungguin jawaban dari Rean.
Rain menuju kamar Bara. Saat mengetuk pintu tidak ada sahutan. Dia memilih mencari ke lantai dasar. Mendengar suara dari arah dapur, Rain segera ke sana. Berkali-kali Rean menelponnya dan Rain mengabaikan itu.
"Hay, udah bangun?"
"Ya. Tidur gue terlalu nyenyak!" Rain meringis. Dia pun mengambil gelas di lemari dan menuang air putih di teko yang terletak dimeja.
"Nggak apa-apa. Wajah Lo lebih fresh sekarang. Oh, ya ... Gue udah siapin makan malam buat kita!" Bara membawa nampan yang berisi dua mangkok.
"Lo masak?" Rain tidak percaya ini.
"Hanya sop ayam saja. Soalnya dingin banget cuaca. Lo mau mandi? Lo bisa pakai baju gue."
Bara menyiapkan makan malam di meja. Menata piring, gelas dan juga nasi. Rain hanya memperhatikan itu. Rupanya lelaki ini cekatan dan tahu urusan dapur. Mandiri juga.
"Gue masih ada baju ganti."
"Lo ini niat kabur ya?"
"Nggak, gue emang selalu bawa baju ganti setiap pergi. Buat jaga-jaga aja!"
"Jadi ... Mau mandi atau makan dulu?"
"Mandi deh!" Rain hendak melangkah, saat ponselnya bergetar kembali dia menepuk keningnya.
Bisa-bisanya dia lupa tujuannya menemui Bara.
"Bar, gue boleh nggak? Kasih alamat villa ini sama Rean? Dia khawatir banget soalnya."
Bara sebenarnya berat sekali kalau sampai banyak yang tahu tempat persembunyiannya. Mengingat Rean dan Rain ini anak kembar yang pasti ikatan batinnya kuat, Bara mau tidak mau memperbolehkan orang lain berkunjung ke tempatnya.
"Sebenarnya nggak ada yang tahu villa ini. Keluarga gue bahkan teman-teman gue. Kalau gue ke sini ya sendiri. Benar-benar menyendiri supaya hati dan pikiran gue tenang."
"Jadi gue orang pertama yang tahu?"
Bara mengangguk, "Orang lain pertama yang belum gue kenal menginap di sini!" Bara tersenyum.
Karena Lo spesial, Rain.
"Kalau gitu gue nggak jadi deh ngasih tahu Rean."
"Kasih tahu aja. Asal jangan bawa orang lebih dari satu!"
Rain mengangguk. Dia segera menghubungi Rean sambil melangkah ke kamar yang tadi ditempatinya.
Bara memang sejak tadi mendengar suara getaran ponsel Rain, Bara yakin jika keluarga Rain pasti mencarinya. Melihat kamar Rain yang masih tertutup, Bara tidak mengganggu bahkan mencoba membangunkan gadis itu. Bara membiarkannya sampai Rain bangun sendiri.
Melihat wajah murungnya tadi pagi masalah Rain agaknya sangat berat.
Biarlah ada yang tahu tempat itu. Toh itu kakak kandung Rain. Bara akan mencoba akrab dengannya. Dia juga tidak mau dituduh menculik anak orang nantinya.
"Kalau begini gue merasa seperti Squidward yang ketenangannya tidak rela jika di ganggu." Bara menghela napas.
Biarlah malam ini ramai penghuninya di villa. Semoga saja menjadi malam yang indah dan berkesan. Bara tidak mau membuat Rain kecewa kalau dia melarang Rean datang.
Bersambung ....
__ADS_1