Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 75


__ADS_3

"Lo suka cokelat hangat?" tanya Bara.


Mereka kini sudah berjalan sangat jauh dari area sekolah. Bahkan mereka sedang berada di depan restoran bintang lima di sebelahnya ada sebuah toko kue dengan menyajikan beberapa jenis minuman kopi dan cokelat. Aromanya sampai di hidung Bara. Lelaki itu juga sudah merasa lapar. Mereka berjalan kaki dibawah terik matahari. Tidak perduli jika kulit mereka akan terbakar dan sedikit kecokelatan. Ah, tapi tidak mungkin, kulit kedua anak remaja itu putih bersih dan hanya memerah jika terkena sinar matahari.


Rain memakai topi pemberian Bara yang tadi lelaki itu beli dari gaji yang dia dapatkan. Dia tidak menyangka nominal uang yang Rain berikan. Bara ingin bertanya, tapi biarlah dia ingin menghibur gadis itu, meski harus sedikit menghamburkan uang pemberian eum ... Bos atau calon pacarnya.


Rain menatap restoran dan toko kue itu, kemudian menggeleng.


"Siang begini? Gue lapar dan hanya Lo kasih cokelat hangat yang Lo beli di toko kue itu?" Rain heran dengan pemikiran Bara.


Lelaki itu mengusap tengkuknya, "Cuaca sangat panas, jika kita minum air dingin percayalah kepala lo akan sakit!" ujarnya.


"Tidak! Kita kesana saja!" Rain menunjuk ke arah lain. Dimana ada tempat sederhana yang menjual mie ayam dan bakso.


"Lo yakin?" Bara sedikit ragu, jika Rain bisa makan di tempat seperti itu.


Kalau Bara sih tidak masalah karena sering makan dimana saja. Asal tempat itu nyaman. Dia juga punya tempat langganan mie ayam yang rasanya sungguh enak. Bahkan Bara ingin sekali nanti jika punya pacar mengajak makan di sana. Sayangnya dia harus mengurungkan niat itu karena cewek jaman sekarang mana ada yang mau makan di tempat sederhana yang hanya menyajikan mie ayam dengan harga yang murah. Mereka pasti lebih suka makan di kafe atau restoran. Mengingat Bara adalah putra tunggal Alexio yang memiliki uang tanpa seri itu. Para remaja perempuan pasti akan merayu laki-laki itu untuk bisa makan di restoran. Mereka berpikir jika hanya makan-makan mewah di sana tidak akan membuat uang bapaknya Bara habis.


Ya, meski Bara tahu jika uang bapaknya juga tidak menjamin dia mendapatkan cinta yang tulus dari seorang gadis. Mereka hanya memanfaatkan kekayaannya saja.


"Ck, kenapa memang? Lo nggak suka?" tebak Rain.


"Gue suka makan dipinggir jalan, gue nggak masalah kok. Hanya saja ... Lo yakin?"


Rain tidak menjawab dan langsung melenggang pergi ke tempat tersebut. Dia memang lebih suka makan di pedagang kecil pinggir jalan daripada harus ke restoran mewah. Baginya makanan di pinggir jalan itu lebih enak.


"Queen, kalau Lo nggak biasa jangan paksain. Kita makan di resto aja gue masih punya duit kok!"


Rain malah tertawa. Dia juga sudah duduk anteng di warung itu. Memesan satu porsi mie ayam pangsit dan es jeruk.


"Lo pikir gue cewek resto apa? Gue lebih suka makan di tempat seperti ini!"


Kedua mata Bara membulat, sungguh dia baru menemukan gadis yang berbeda. Gadis yang pede makan dimana saja dan tidak memandang tempatnya.


"Bukan gitu, gue cuma___"


Bibir Rain terbuka membentuk huruf O bersamaan dengan kedua mata melotot.


"Jadi Lo samaain gue sama mantan-mantan Lo itu, hah!" Rain menarik rambut Bara, sangat kesal!

__ADS_1


"Menyebalkan!"


"Aduhh, Queen. Iya ampun, gue nggak samain Lo lagi!"


Rain melepaskan jambakannya dan mengangkat kedua jari jempol.


"Anak pintar!"


Bara mengelus kepalanya yang terasa sakit. Rain benar-benar ganas kalau sedang marah.


Mereka terdiam saat pesanan datang. Rain terlihat sumringah menatap mie ayam porsi jumbo dengan pangsit goreng dan rebus. Napsu makannya akan bertambah jika moodnya buruk. Dia segera menuangkan saos, kecap dan sambal yang banyak. Bara hanya bisa meneguk salivanya susah payah menatap gadis di hadapannya ini.


"Itu terlalu pedas, Queen. Lo kebanyakan makan gini bikin gemuk!"


Rain tidak perduli dengan komentar Bara. Dia mengaduk mie ayamnya dan menikmati dengan para pangsit-pangsit itu. Sementara Bara hanya porsi sedang dengan bakso. Melihat Rain yang makan dengan lahap, dia jadi menginginkan mie ayam milik Rain yang terlihat menggoda. Bara mencicipi kuah mie ayam itu sedikit. Dia langsung tersedak karena sangat pedas, anehnya gadis itu biasa saja.


"Lo gila? Ini pedes banget! Perut Lo bakal sakit!"


"Ssst, berisik. Lo kalau mau nambah, ngomong aja. Gue yang bayar!" protes Rain. Kesal saja, jika ada yang mengganggu kenikmatannya.


Bara pun menghabiskan satu mangkok mie ayam bakso dan menambah mie ayam pangsit seperti milik Rain yang terlihat menggoda. Dia juga akan menambahkan sambal dan saos versi sedikit karena tidak terlalu suka pedas.


Selesai makan, mereka berjalan tanpa arah. Perut mereka terasa penuh sekarang. Rain duduk di trotoar dan menopang dagunya dengan kedua tangan. Dia merasa lelah, pikirannya juga masih melayang ke gudang sekolah. Baru tahu jika Radit itu benar-benar busuk.


Cinta memang membutakan segalanya. Pertama kali Rain melihat Radit mendekat, dia langsung terpesona dan mau saja menjadi pacarnya. Rain melihat sifat Radit yang dewasa dan selalu menjalin hubungan sehat. Dia juga di didik menjadi lelaki bertanggung jawab. Rain merasa nyaman, karena Radit benar-benar profesional dalam menjalin hubungan dengan dia yang seperti anak magang. Rain belum memiliki pengalaman pacaran. Jatuh cinta saja belum pernah. Bisa dikatakan jika Radit adalah cinta pertamanya.


Jika mau bertanya dulu tentang Kenan, tentu saja itu adalah Rain asli. Rain sekarang itu ... Ibarat pemeran baru. Rain asli memiliki banyak kisah misterius. Apalagi tentang Rean dulunya.


"Queen, Lo mau kemana lagi?" Bara melihat Rain yang melangkah dengan tatapan kosong.


"Huh? Kemana?" Rain tanya balik, dia masih sedikit linglung.


"Gimana kalau kita lakuin sesuatu yang berbeda?" usul Bara.


"Apa?" Rain penasaran dengan isi otak Bara yang kadang tidak bisa ditebak itu.


"Ayo!" Bara menarik lengan Rain dan sekarang mereka hendak menyebrang jalan raya.


Namun, Bara merasa aneh dengan truk tronton yang melaju kencang itu. Mengapa malah mengarah ke mereka. Bara segera menarik mundur Rain hingga gadis itu jatuh tersungkur. Sikunya terluka dan kaki kirinya terkilir.

__ADS_1


Braaak


Truk itu menabrak mobil yang berlawan arah. Mobil itu ringsek dan bisa dipastikan orang yang berada di mobil itu terluka parah.


"Ra?" pekik Rain yang melihat Bara mematung. Lelaki itu sedikit terluka. Namun, wajah Bara terlihat kilatan amarah.


Bara melangkah ke arah supir yang keluar dari truk tersebut. Laki-laki paruh baya itu hendak keluar melarikan diri.


"Ra, Lo mau kemana?" Rain hendak bangkit, kakinya terasa sakit. Dia berusaha untuk tetap berdiri.


"Tunggu!"


Bara mencekal tangan lelaki paru baya yang menjadi supir truk tronton. Sementara suasana sudah ramai. Ada yang memanggil ambulan, sekedar menonton atau mengambil foto dan video. Maklum di negara kodomo seperti ini bila mendapat musibah langsung di rekam terlebih dahulu daripada memanggil bantuan.


"Lepas!"


"Woy, dia mau kabur!" Bara berteriak, membuat atensi orang-orang yang berkerumun menoleh ke arahnya.


Mereka segera menahan supir truk supaya tidak kabur dan di minati keterangan. Sementara ambulance sudah datang. Bara tidak melepaskan supir itu meskipun terluka. Bara akan memberikan kepada anak buahnya yang sebentar lagi datang.


"Queen, kita ke rumah sakit ya. Lo terluka!"


Rain hanya menurut saja, melihat Bara yang penuh emosi Rain jadi takut. Anak buah Bara juga sudah membawa supir tadi untuk mengatakan siapa orang yang telah menyuruhnya. Bara yakin jika kecelakaan itu bukan di sengaja.


"Lo tunggu bentar. Gue ambil motor dulu!" Bara sedikit berlari menuju motor yang terparkir.


Itu motor milik Bara yang di simpan di markas.


"Pegangan ya!" kata Bara setelah membantu Rain naik ke motornya.


Pikiran Rain penuh dan terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Seperti ada yang janggal, apalagi melihat Bara yang tiba-tiba marah. Rain ingin bertanya, tapi nanti saja jika Bara sudah tidak dipenuhi kabut emosi.


Meski akrab, Rain baru pertama kali melihat Bara yang seperti itu. Ibarat tokoh kartun, Bara seperti Hulk.


Bersambung ....



Kenalan dulu. Ini visual Rain Grittella Klopper

__ADS_1


__ADS_2