Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 25


__ADS_3

Rain mondar-mandir di kamarnya. Dia menimbang-nimbang hal yang harus dikatakan kepada Rean tentang fakta ini. Sejak tadi Rain melangkah ke kamar Rean tapi dia urungkan lalu balik lagi ke kamarnya. Begitu terus sampai dia lelah. Pikirannya buntu, jika tidak mengatakannya tentu saja Rean akan kecewa. Dia tidak mau menyimpan rahasia besar ini sendirian.


Rain yang lelah memilih merebahkan diri di ranjang. Menatap langit-langit kamar dan mengingat kejadian tentang Livia juga Dion. Motif Dion yang ingin sekali memperkosanya. Entah apa yang lelaki berambut ikal itu rencanakan.


"Apa mungkin dia tahu sesuatu?"


Rain terus berpikir hingga kepalanya terasa pusing. Getar diponselnya mengalihkan atensi Rain. Dia meraih benda yang diletakkan dekat bantal. Tertera nama Radit di layar ponsel tersebut.


"Kemana aja?"tanya Rain saat panggilan sudah terhubung.


Di seberang sana Radit terkekeh,"Ada. Maaf ya aku sibuk dari kemarin," jelasnya.


"Bersama gadis berambut curly itu?" tebaknya.


"Siapa?"


"Yaelah, segala nanya. Bukannya sejak tadi nempel terus kayak perangko?" Rain sudah sangat kesal.


Sebenarnya tadi di sekolah dia melihat Radit bersama gadis itu, tapi Rain menahannya agar emosi tidak menguasai dirinya. Rain tahu kalau hubungan ini sedang disembunyikan. Jadi mau tidak mau Rain harus bisa mengabaikan pemandangan itu meski terasa menyakitkan.


"Cemburu?"


Pertanyaan yang bahkan membuat Rain semakin jengkel. Seharusnya Radit paham suasana hati Rain saat ini. Bukannya menjelaskan siapa gadis itu malah bertanya begitu.


"Nggak! Mau ngapain telepon!"


Radit terkekeh, "Buka pintu balkonnya!"


Kedua mata Rain membulat saat melihat Radit yang sudah berdiri di balkon kamarnya.


"Kok nggak bilang kalau kesini?" tanya Rain yang sudah mematikan teleponnya.


"Kangen!"


Rain langsung duduk di kursi saat Radit hendak memeluknya. Jadi Radit hanya memeluk angin saja.


Radit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia jadi serba salah jika begini.


"Aku ... Nggak di suruh masuk?" tanya Radit tanpa rasa bersalah.


"Ngapain? Di sini aja!" ketus Rain.


"Kamu kenapa sih?" Radit mencubit pipi Rain.


"Pulang sana! Aku mau tidur!" usir Rain. Radit segera menarik tangan Rain saat gadis itu hendak masuk ke dalam.


Lelaki itu mendekap tubuh Rain dari belakang. Gadis itu pun termenung. Dia juga rindu tapi dia harus bisa membentengi hatinya karena tidak mau terlalu dalam mencintai lelaki ini. Sebentar lagi Radit akan kuliah di luar negeri. Bagaimana nasib hubungannya? Sementara Rain juga mendengar kabar tentang perjodohannya dengan keluarga nomor satu di negeri ini. Keluarga terpandang dan memiliki berbagai macam bisnis.


Rain cukup tahu diri karena dia bukan tandingannya. Meski sang nenek memiliki banyak perusahaan di luar maupun dalam negeri tapi tidak membuat Oma Radit meliriknya dan merestui hubungan yang sudah diketahui keluarga Radit.


Jadi Rain harus bisa melepas Radit dan melupakan cintanya sebelum mendalam.


"Kita putus!" ucap Rain dengan dada yang berdebar kencang.


Kalimat itu membuat Radit mematung. Hatinya sakit bahkan kedua matanya berkaca-kaca. Radit meyakinkan hatinya bahwa dia salah dengar.


"Kamu bilang apa sih!" Radit menyandarkan kepalanya di punggung Rain.


"Lepasin!" Rain melepaskan tangan Radit yang melingkar di perutnya. "Mulai sekarang kita nggak ada hubungan apapun!" Rain pergi begitu saja dan menutup pintu lalu menguncinya.


Tidak perduli bagaimana perasaan Radit saat ini. Biarlah dia dikatakan cewek matre atau memanfaatkan Radit. Memang itu kan awalnya, tapi Rain malah terjebak sendiri dengan hubungan ini.


Tidak ada suara apapun dari balkon. Rain mengintip dibalik tirai, rupanya lelaki itu sudah tidak ada lagi di sana. Mungkin sudah pergi. Rain mati-matian berusaha untuk tidak menangis.


Dia memilih ke kamar Rean untuk menceritakan semuanya.


"Bang!" panggil Rain.


Lelaki yang sedang bermain game sambil rebahan itu hanya menoleh sekilas.


"Apa?"


"Gue mau cerita deh sama Lo!"


"Soal Lo putus?"


Rain mengernyit, darimana Rean tahu soal itu?


"Radit barusan wa gue!" jelas Rean seakan tahu apa yang ada di pikiran Rain.


"Bukan! Gue mau cerita soal papa sama mama!"


Rean menghentikan permainan gamenya lalu menatap lamat adik kembarnya itu.


"Lo nggak nangis?"


"Apa sih!"


"Lo putus pasti karena sesuatu?"


"Gue kan mau nikah sama Kenan, lagian Radit juga mau kuliah di luar negeri. Udah ah nggak usah bahas. Mending dengerin deh cerita gue!"


Rean menghela napas gusar, dia tidak habis pikir dengan isi kepala adiknya ini.


"Sungguh di luar nurul, tidak habis fikri, ada ya orang begini. Gue kalau jadi Lo nggak bakal lepasin cowok kayak Radit!"


"Lo aja deh yang pacaran sama Radit!" gerutu Rain kesal.


"Ya udah cerita sama gue apaan!" Rean pun enggan mengorek informasi tentang kenapa Rain meminta putus.


Radit sendiri yang meminta Rean untuk membujuk Rain. Lelaki itu tidak tahu apa kesalahannya. Tiba-tiba saja Rain minta putus. Radit tidak mau putus dengan Rain karena dia sudah sangat mencintai gadis tomboy itu.


"Papa lagi tes DNA. Bentar lagi kita lihat hasilnya. Selama ini mama difitnah sama Tante Shely, mama nggak pernah selingkuh. Mama ...."


Rain menatap Rean yang hanya memasang wajah datar. Tidak terkejut sama sekali.


"Lo nggak terkejut, Bang?"


Rean tersenyum, "Udah gue tebak sebelumnya. Lo tahu darimana?" tanya Rean.


"Gue nyuruh orang."


Rain pun menceritakan semuanya kepada Rean saat tadi dia bertemu dengan Aldi. Rain juga memasang flashdisk pada laptop Rean untuk melihat bukti apa yang Aldi temukan.

__ADS_1


Bukti perselingkuhan Shely, rencana pembunuhan Kimberley dan masih banyak lainnya. Dengan itu Rain bisa menjebloskan Shely ke penjara.


"Minta bantuan papa aja. Dia punya anak buah yang bisa diandalkan."


"Ada anak buah papa sebagai penyusup, ini nggak mungkin bisa!"


Rain tentu saja sudah menyelediki dengan detail.


"Gue mau minta bantuan kakek!"


"Kakek?"


"Dia itu banyak koneksi terus dia juga punya anak buah yang lebih bagus dari papa. Salah satunya papa Radit. Lo tenang aja."


"Ehmm ... Cie yang tahu semua tentang pak Alex!" goda Rean.


"Apa sih, Bang! Stop bicarain Radit. Gue males. Gue bakal nikah sama Kenan."


"Lo yakin?"


Rain mengangguk mantap, toh hubungannya dengan Radit tidak akan pernah bertahan lama karena sang Oma sudah menekan Radit menikah dengan gadis pilihannya.


***


Esok harinya Rean dan Rain kembali beraktivitas ke sekolah. Mereka datang lebih pagi jadi sekolah masih sepi. Rain duduk di kursi dan melipat kedua tangannya lalu menundukkan kepala untuk memejamkan mata sebentar. Sementara Rean sibuk bermain ponsel.


Tidak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat, lalu duduk di sebelahnya. Rain pikir itu Mia. Lalu langkah kaki menjauh. Mungkin Rean pergi. Rain tidak perduli itu, karena dia masih ngantuk dan juga Rean mengajaknya untuk pergi lebih pagi. Takut macet katanya.


Rain merasakan ada yang mengusap-usap kepalanya, membuat dia semakin mengantuk. Rain segera menghilangkan rasa kantuk itu karena tidak mungkin Mia yang melakukannya.


"Kak Radit!" pekik Rain saat membuka mata.


Rain menoleh, tidak ada Rean di belakangnya.


Radit memberikan setangkai bunga mawar merah dan beberapa cokelat kesukaan Rain.


"Maafin aku ya."


Rain menggeleng dia tidak mau membuat hatinya meleleh karena hal ini.


"Kakak apa-apaan sih. Balik sana nanti banyak yang lihat!"


"Nggak, biarin aja. Biar mereka tahu hubungan ini!"


"Kak, aku udah tunangan sama Kenan. Kakak bentar lagi kuliah di luar negeri. Jadi lebih baik kita berteman aja!"


"Jadi itu alasannya? Aku nggak perduli. Bila perlu kita nikah sekarang supaya nanti kamu percaya aku nggak akan macem-macem di luar negeri."


Rain menghela napas panjang. "Bukan itu maksudnya!" Rain membuang wajahnya. Tatapan Radit hanya akan membuat hatinya meleleh.


"Pergi, Kak. Sebentar lagi banyak yang datang!"


"Rain, kamu mau maafin aku tidak? Aku akan tetap di sini sampai kamu mau maafin aku!"


Benar-benar keras kepala! Rain tidak bisa membiarkan lelaki itu tetap di sini. Perjodohan dikalangan orang terpandang itu memang sangat mengganggu. Mereka yang masih muda tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi pasangannya. Harus menikah dengan pilihan orang tua dan seumur hidupnya terus berusaha mencintai pasangannya.


Ya, di dunia bisnis memang seperti itu dan pantang untuk bercerai. Jika bercerai maka mereka akan kehilangan kepercayaan terhadap rekan kerja masing-masing. Seperti Damian yang mengalami penurunan saham karena skandal yang dia lakukan. Maka dari itu Rain yang harus dinikahkan dengan Kenan karena hanya perusahaan Arya yang mau memberikan dana untuk menaikkan kembali perusahaan milik Damian.


"Iya, gue maafin."


"Istirahat aku jemput!"


"Kak!"


"Nggak ada penolakan."


Rain hanya bisa pasrah saja daripada nanti Radit berbuat nekat.


"Aku ke kelas ya, sayang."


"Ya."


Rain memperhatikan Radit yang berjalan keluar kelas. Beruntung belum ada yang datang jadi tidak ada yang melihat mereka tadi.


"Apa gue deketin Kenan lagi ya?" gumam Rain.


Rain yang hanyut dengan pemikirannya pun tanpa sadar kelas sudah ramai. Mia juga baru datang.


"Tumben udah dateng!" tanya Mia.


Rain menoleh saja, wajahnya terlihat sangat tidak bergairah.


"Lo kayak nggak semangat hidup!"


"Berisik banget dateng-dateng!"


Mia tertawa," Lo patah hati? Gue tadi lihat Kak Radit sama cewek yang kemarin!" bisik Mia.


Hanya Mia yang tahu hubungan mereka karena Rain yang bercerita.


"Kita jalan aja ya nanti pulang sekolah. Biar pikiran Lo fresh. Udah lama nggak jalan bareng."


Ucapan Mia ada benarnya juga. Sudah lama juga Rain tidak merasakan hang out.


"Boleh, ajak juga itu anak baru!" ujar Rain.


Mia mengangguk. Tidak lama kemudian Rean dan kawan-kawan datang. Rain menatap tajam Rean seakan ingin memberi tinju pada lelaki itu. Rean yang di tatap hanya nyengir saja.


Mia yang melihat Rean tersenyum ke ara Rain pun kaget bukan main. Pasalnya Rean jarang sekali tersenyum.


"Gila si kulkas kalau senyum ganteng, anjir!"


"Lo apa sih yang nggak dibilang ganteng. Reno aja Lo bilang ganteng!" celetuk Rain.


Reno yang mendengar itu pun menoleh dan tersenyum ke arah Mia.


"Hay, Mia!" Reno melambaikan tangannya.


Mia segera membekap mulut Rain, "Jangan dengerin ya, dia agak laen kalau lagi patah hati!" ucapnya.


Mia menatap jengkel Rain yang bicara sembarangan. Kalau gini kan Mia jadi malu sama Reno. Bakal ketahuan kalau mengagumi diam-diam.


"Lo sekali lagi bantuin Radit, habis sama gue!" ancam Rain saat Rean duduk di bangkunya. Rain juga mengacungkan tinju.

__ADS_1


Mia yang mendengar itu menjadi ngeri sendiri. Entah mengapa sahabatnya itu selalu seperti kucing dan anjing kalau dekat Rean. Padahal dulu mereka seperti musuh. Bahkan Rain enggan dekat dengan lelaki itu.


"Permisi, aku mau duduk!" Rean hanya diam saja. Dia masih tetap membuka tasnya dan mengambil buku-buku secara perlahan.


"Aku ... Mau lewat." Lagi-lagi Mentari berkata tapi di abaikan oleh Rean.


Rain melihat itu pun merasa heran. Rean tidak memakai headset tapi tidak mendengar ucapan Mentari. Sedangkan Reno hanya tersenyum saja melihat itu.


"Woy, Lo budek ya!" bentak Rain yang membuat seluruh kelas menoleh padanya.


"Mentari mau lewat, bego!"


Rean dengan wajah datarnya pun berdiri dan memberi cela supaya Mentari bisa duduk di kursinya.


Rean hanya menggeleng saja melihat emosi Rain. Namun, dalam hatinya dia ingin tertawa karena melihat Rain yang emosi. Sejak kemarin gadis itu murung. Rean juga senang menggoda Mentari.


"Lo nangis?" tanya Rean saat menoleh ke arah gadis itu.


"Aku boleh nggak pindah di sebelah situ?" ucap Mentari takut. Kedua matanya juga sudah berkaca-kaca.


"Maaf, ya. Gitu aja nangis sih!" Rean menepuk-nepuk kepala Mentari.


Sungguh ini pertama kalinya Mentari mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang lelaki. Jantung mentari berdebar tidak karuan. Jiwanya seakan melayang hingga ke gunung Himalaya. Sentuhan Rean benar-benar membuat Mentari malu juga bahagia.


"Hey, Lo nggak maafin gue?" Ini pertama kalinya Rean menjadi cerewet. Kemarin Rean selalu diam dan hanya bicara ketika butuh saja.


Mentari nggak lagi mimpi kan? Gadis itu mencubit tangannya dan terasa sakit.


"Iya nggak mimpi!" batin Mentari.


"I-iya ... Aku boleh pindah nggak?"


"Nggak, di situ aja!"


Mentari menggigit bibir bawahnya. Membuat Rean semakin gemas dengan gadis itu.


Pelajaran pertama pun dimulai. Bu Santi yang sedang menjelaskan itu membuat seluruh murid-murid diam karena takut jika Bu Santi sudah marah.


***


Jam istirahat pun tiba, Ella berjalan dengan langkah yang tertatih. Wajahnya juga terlihat pucat. Lingkaran mata membuat Ella seperti zombi. Sungguh penampilannya kali ini benar-benar acak-acakan.


Semalam Kenan benar-benar mengerjainya dengan alat-alat itu. Kenan tidak menyentuhnya sama sekali, membiarkan Ella mengerang karena alat yang Kenan pasang. Lelaki itu tidak sudi menyentuh bekas banyak orang. Dia juga sudah memutuskan hubungannya dengan Ella. Mengusir Ella di apartemen dan memberikan sejumlah uang.


Kenan sudah merendahkannya bahkan lelaki itu terus menghinanya. Lelaki itu juga belum melepaskannya, pagi ini Kenan menjemput paksa Ella dan berangkat lebih pagi. Kenan melanjutkan aksinya di gudang sekolah. Bermain dengan tubuhnya, tapi tidak ada niatan untuk mencicipi gadis itu. Lagi dan lagi Kenan hanya menggunakan alat-alat yang dia gunakan kemarin.


"Lo sakit?" tanya Jeny saat melihat Ella yang hanya mengaduk-aduk minumannya.


Entah sudah berapa kali gadis itu menanyakan hal itu.


"Apa semalam Daddy main sampai pagi?" bisik Jeny, gadis itu tahu soal rahasia Ella. Dia pun sama halnya dengan Ella.


"Kenan yang buat gue seperti ini!"


"Apa?" pekik Jeny.


"Cerita sama gue, nikmat nggak dia?" Jeny penasaran. Bagaimana permainan Kenan yang tampan itu. Pikiran Jeny yang liar pun jadi membayangkan jika dia menjadi Ella. Ah, membayangkannya saja membuat rahim Jeny menghangat.


"Dia tahu berita itu dan gue di siksa pakai alat-alat miliknya. Dia bahkan nggak nyentuh gue. Cuma ciuman aja. Gue sekarang udah__"


"Gila sih, masa iya nggak tergoda sama sekali!"


"El, tuh si Rain dateng!"


"Gue lagi capek, males berantem."


Ella berdecak kesal, "Lo payah banget. Baru juga di gempur pake alat udah letoy. Gimana kalau sampai pagi main sama dia!" gerutu Jeny.


Ella hanya diam menanggapi, tubuhnya lemas dan terasa sakit apalagi diarea sensitifnya. Rasa-rasanya dia ingin pingsan.


"Hay, Jen." Seorang lelaki dengan rambut ikalnya itu duduk di sebelah Jeny.


"Kak Hans, udah makan?"


Hans yang satu kelas dengan Radit itu mengangguk. Lalu berbisik di telinga Jeny. Gadis itu tersipu malu.


"Ya udah ayo."


"El, gue pergi dulu ya!"


Jeny tidak perduli dengan jawaban Ella. Dia pergi dengan menggandeng tangan Hans menuju gudang sekolah yang sepi itu. Tidak ada orang yang akan berlalu lalang juga di sana.


Sementara Rain bergabung dengan geng Aksara. Ah, tidak geng Aksara yang bergabung dengan Rain. Kenan meminta maaf secara terang-terangan tentang semua yang telah dia lakukan. Dia mengaku salah dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Rain.


Teman Rain dan teman Kenan hanya menyimak saja. Sementara Rain tidak perduli dan memilih menikmati makanannya.


"Mentari, jangan bingung ya. Nanti gue ceritain!" bisik Mia pada Mentari.


Mentari mengangguk.


Selesai makan, Mentari, Rain dan Mia menuju taman belakang sekolah. Rain masih belum memberi jawaban pada Kenan.


Lalu pipi Mentari terasa dingin, dia mendongak untuk melihat siapa yang menempelkan minuman dingin padanya.


"Kak Radit?"


"Aku sudah bilang buat tunggu, kenapa duluan?"


Mentari menatap lelaki itu, dia sangat iri melihat Rain yang dikelilingi lelaki tampan.


"Tari, pergi dari sini yuk!"


"Lo berdua diem di sini!" tegas Rain.


"Radit! Gue cariin Lo di sini rupanya!" Gadis berambut curly itu datang mendekati Radit dan langsung memeluk lengan Radit.


"Ayo, katanya mau ke perpus nyari buku buat tugas!"


"Lo apa-apaan sih, Bel!" Radit terlihat geram.


Sementara Rain pergi begitu saja meninggalkan Mentari dan Mia.


"Buaya kalau berkata emang manis!" Rain mencubit lengan Rean dengan gemas saat tiba di kelas.

__ADS_1


Lelaki itu meringis kesakitan. Entah apa yang terjadi dengan adiknya ini. Tiba-tiba emosinya memuncak dan seolah ingin memakan mangsanya.


Bersambung...


__ADS_2