Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 67


__ADS_3

Gwen melempar semua barang yang bisa dia jangkau. Tidak perduli jika sekarang kamarnya sudah seperti kapal pecah. Gwen juga tidak peduli dengan ketukan pintu entah siapa saja yang mencoba menenangkan dan memaksa agar gadis itu segera membuka pintunya. Dia melampiaskan semua kemarahannya malam ini.


"Rain! Semua ini gara-gara Lo! Gue nggak bakal tinggal diem! Gara-gara Lo, gue kehilangan Radit lagi!" Gwen bermonolog.


Napasnya tersengal dan penampilan sudah acak-acakan. Belum puas menghancurkan semua barang-barangnya, dia menarik lampu tidur dan melemparnya hingga jatuh berkeping. Gwen juga menarik sprei dan bantal.


"Lo bakal nyesel udah usik hidup gue!" teriak Gwen.


Gadis itu meraih ponselnya yang masih tersimpan di tas. Lalu menekan nomor seseorang.


"Cari informasi perempuan bernama Rain Grittella. Mulai besok buntuti dia foto aktivitas dia. Pokoknya kasih kabar terbaru ke gue setiap harinya!" Gwen pun menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang dia telepon.


Gwen tersenyum puas. Dia akan membalas dendamnya kepada siapa saja yang telah menghalangi jalannya untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Bara, Lo harus bayar semua yang udah Lo lakuin. Abang gue mati dan harta berharga gue buat mendapatkan Radit lagi pun mati semua gara-gara Lo!" ucap Gwen di depan cermin yang sudah sebagian retak.


"BRENGSEK!" Gwen memecahkan kaca tersebut dan mengusap wajahnya frustasi.


"Gwen! Apa-apaan ini!" teriak seorang wanita yang wajahnya mirip dengan Gwen. Hanya saja usianya berbeda.


Dia adalah Ibu Gwen. Alkaira Ansana.


Gwen menoleh dan menatap datar sang ibu. Tidak ada lagi air mata yang mengalir. Seolah air mata itu sudah dia habiskan tadi saat bertengkar dengan Radit di taman.


"Dia nolak aku lagi, Ma! Setelah apa yang dia lakukan sekarang dia pergi gara-gara gadis sialan itu!" jelas Gwen dengan nada tinggi.


Alkaira melotot, dia pun melangkah ke arah Gwen dengan langkah hati-hati. Takut jika kakinya terkena pecahan kaca atau benda apapun. Meski memakai sandal rumah. Kamar Gwen benar-benar seperti kapal pecah dan tentu saja itu membuat Alkaira pening. Gwen yang duduk di kursi rias itu pun segera berhambur ke dalam pelukan sang ibu.


"Gwen capek, Ma. Gwen harus gimana? Gwen nggak mau tahu dia harus bertanggung jawab!" ujar Gwen dengan isak tangisnya.


Alkaira mengelus punggung putri satu-satunya ini untuk menenangkan. Dia sudah terbiasa dengan sikap Gwen seperti ini. Seperti dua orang memang. Gwen yang tadi seperti monster dan sekarang seperti anak perempuan berusia enam belas tahun dan masih manja kepada ibunya. Sayangnya, itu satu orang dan itulah sifat asli Gwen.


"Sabar, sayang. Mama akan terus tekan grandma Rima untuk mempercepat pertunangan kamu. Bila perlu setelah lulus nanti kalian menikah."


Gwen tersenyum penuh kemenangan dalam pelukan sang ibu. Alkaira tidak tahu itu.


"Gwen nggak berani bilang semua sama Radit. Dia selalu saja membandingkan Gwen dengan gadis miskin itu!" adunya seperti anak kecil.


"Sudah mama bilang, kamu tenang saja. Mama akan bicara dengan Fania. Tentang semua yang kamu alami." Alkaira menghela napas panjang. Sebenarnya dia sangat sakit hatinya melihat putri semata wayangnya seperti ini.


Alkaira mengurai pelukannya, dia menghapus jejak air mata di wajah Gwen.


"Istirahat ya, kamu pasti lelah. Ayo." Alkaira mengajak Gwen untuk tidur di kamarnya.

__ADS_1


Gwen pun mengangguk dan mengikuti langkah Alkaira yang perlahan. Sebelumnya dia meminta para pelayan membereskan kekacauan itu.


"Besok tolong keluarkan semua barang yang sudah rusak!" kata Alkaira pada para pelayan.


Mereka berdua akhirnya pun ke kamar. Gwen sudah selesai membersihkan diri dan berganti dengan piama tidur motif polkadot.


***


Sementara Rain tengah merebahkan diri di ranjang empuknya yang ada di apartemen. Kedua tangannya sebagai bantal, tatapan menerawang ke langit-langit. Memikirkan sesuatu yang dia temukan tadi. Rain tidak menyangka jika Gwen adalah orang yang berbahaya. Rain tidak perduli permasalah Bara dengannya, yang terpenting dia harus hati-hati dengan gadis itu.


"Putri Alterio rupanya!" gumam Rain.


Rain pun mencoba memejamkan mata, tubuh dan pikirannya juga terasa lelah. Tidak perduli sama Rean yang entah kemana. Sejak bucin sama Mentari memang waktu untuknya hampir tidak ada. Dia hanya menemukan depan televisi yang berserakan bungkus camilan saja tadi.


Rain memilih tidur saja daripada membereskan sampah-sampah itu yang pastinya pelaku adalah teman-teman Rean. Dia harus menyiapkan diri untuk besok karena pertama kalinya akan ke kafe yang sudah jadi itu. Banyak yang harus dia bereskan dan pasti itu membutuhkan banyak tenaga meski ada Bara yang membantunya. Rain juga meminta bantuan Rean dan teman-teman.


Rencananya Rain akan segera membuka kafe itu dalam waktu dekat.


Tanpa Rain tahu, di kamar sebelah yang tidak lain adalah kamar Rean. Sepasang kekasih itu sedang berpelukan. Rean yang terus memandangi wajah yang kekasih yang sudah terlelap. Napasnya yang teratur dan dengkuran halus itu menandakan jika kekasihnya ini lelah. Tadi dia sibuk memasak dan melakukan banyak hal di apartemennya.


Mentari yang hendak membereskan sampah-sampah yang berserakan itu pun di larang oleh Rean. Pada akhirnya mereka ke kamar dan main guling-guling setelah teman-temannya pulang.


Rean mengelus dengan lembut wajah kekasihnya. Jemarinya berhenti pada bibir mungil gadis itu. Rean mengecup bibir yang menjadi candunya dan kemudian dia pun ikut terlelap sambil memeluk Mentari.


***


Seperti oase di padang pasir, Rean datang di saat kehidupannya sedang tidak baik-baik saja. Selalu di bully dan menjadikan Mentari ketakutan. Pada akhirnya dia memilih pindah ke sekolah. Rupanya hal itu tetap terjadi di sekolah yang baru. Kali ini masalahnya bukan karena dia miskin akan tetapi masalahnya itu adalah Rean. Dia dekat dengan Rean membuat gadis yang menyukai Rean pun tidak suka dan berakhir dengan membully.


Rean selalu melindunginya membuat Mentari pun lebih percaya diri. Hidupnya menjadi berwarna. Dia juga bisa tertawa lepas saat berada di dekat lelaki itu.


Untuk sementara Mentari nggak mau memikirkan masa depan yang tentu saja dia harus siap sakit hati. Melepas Rean yang tentu bukan menjadi jodohnya. Mentari berharap sih pengen selamanya bersama, menjadi jodoh Rean tentu saja dia tidak akan menolak. Sayangnya, semua itu bagai mimpi yang tidak akan pernah nyata untuk Mentari.


"Rean ... Kenapa kamu selalu tampan?" ucap Mentari pelan. Takut membuat Rean bangun.


Mentari pun meraih ponselnya untuk melihat jam. Masih jam lima pagi. Mentari mengikat rambutnya asal dan beranjak dari ranjang. Dia akan menyiapkan sarapan untuk Rean. Mentari tidak tahu saja jika Rain sudah pulang.


Setelah mencuci mukanya, Mentari pun menuju dapur. Mendengar suara-suara dari arah dapur, Mentari merinding. Saat melewati ruang televisi dia juga terkejut melihat ruangan itu bersih. Mentari pikir Rean yang membereskan semuanya.


"Mentari?" pekik Rain.


Mentari menoleh dengan senyuman. Meski dia juga terkejut awalnya.


"Rain?" panggil Mentari yang agaknya takut dengan kehadiran Rain.

__ADS_1


"Lo kenapa liatin gue kayak liat setan?"


Mentari menggaruk tengkuknya dan menelan ludah kasar.


"Aku pikir ... Bukan Rain. Kamu lagi apa?" Pertanyaan yang terdengar konyol. Seharusnya Mentari sudah tahu jika Rain memakai celemek dan di tangannya ada roti tawar yang baru saja dia ambil dari meja makan.


Rain melihat siluet seseorang berdiri di ruang televisi, maka dari itu Rain segera ke sana. Rain pikir itu Rean baru pulang. Rupanya itu adalah Mentari. Rain juga terkejut sebenarnya. Darimana gadis itu? Kenapa tiba-tiba ada di sana.


"Lo ngapain di sini?" tanya Rain.


"Aku ... Aku mau bikin sarapan."


Rain menggeleng, "Lo mending siap-siap aja. Gue udah bikin sarapan," katanya.


"Aku bantu ya, ini masih pagi lagian aku nggak bawa seragam, Rain." Mentari menundukkan kepalanya dan jemarinya pun saling meremas.


Rain melangkah mendekat, lalu menatap Mentari dengan tatapan penuh tanya. Melihat gadis lugu itu ketakutan Rain urung. Sementara Mentari dengan jantung berdebar tidak bergerak sama sekali, langkah Rain yang semakin dekat membuatnya ingin lari, tapi kakinya terasa berat untuk beranjak.


"Ayo, pakai seragam gue aja. Lo mandi di kamar gue!" ajaknya.


"Eh?" Mentari terkejut karena Rain mengajaknya untuk ke kamarnya. Tidak seperti yang Mentari bayangkan.


Mentari pikir Rain akan melontarkan berbagai macam pertanyaan.


"Nah, ini seragamnya. Tenang gue masih ada kok!" Rain memberikan seragam miliknya yang di rasa terlalu longgar.


"Nih, pilih daleman yang Lo mau. Masih baru, tuh ada segelnya!" Rain membuka selorokan khusus dalaman.


Mentari mengangguk, dia pun memilih asal. Setelah itu menuju kamar mandi.


"Di dalem juga ada alat mandi yang baru, Lo pilih aja!" teriak Rain.


"Iya." kata Mentari yang sudah ada di kamar mandi.


Rain kembali melanjutkan menyiapkan sarapan. Beruntung dia melihat Mentari sebelum memulai memasak. Jadi dia akan membuat nasi goreng spesial saja untuk bertiga.


"Gue curiga deh, jangan-jangan Rean udah buka segel Mentari!" gumam Rain sambil mengiris sosis dan bakso untuk dicampurkan pada nasi gorengnya.


Sementara pikiran melayang jauh ke arah Rean. Setelah selesai masak dia berniat untuk pergi ke kamar laki-laki itu dan mengintimidasi. Kalau sampai apa yang ada dipikirannya itu terjadi, Rain akan mengadukan hal ini kepada sang papa dan meminta papanya untuk segera menikahkan Rean. Dia nggak mau nanti Rean pergi meninggalkan Mentari. Seperti kisah Radit dan Gwen yang secuil saja Rain tahu.


"Kalau mereka nikah, gue pindah ah. Ya kalik gue jadi obat nyamuk." Sejak tadi Rain berbicara sendiri.


Ya, anggap saja dia sedang menghafal dialog untuk menginterogasi Abangnya itu. Bisa-bisanya dia meminta Mentari menginap dan tidur bareng. Padahal ya, kemarin-kemarin kan gitu, hanya saja Rain tidak sadar kalau Mentari mau nginap. Pikirannya lagi kacau dan akhirnya kabur. Lupa kalau ada Mentari di apartemen mereka. Rain memang agak laen sih.

__ADS_1


Sebentar lagi bakal ada sidang untuk Rean.


Bersambung....


__ADS_2