
Malam yang ditunggu-tunggu pun tiba, semua peserta lomba balap liar pun sudah datang dan tengah bersiap-siap. Ada juga yang sedang mengetes motor mereka sebentar. Sebelum pertandingan dimulai satu jam mendatang. Radit dan Rain baru saja datang. Penampilan Rain seperti biasa, selalu menarik siapapun yang melihat. Hanya memakai celana jeans hitam dan jaket kulit saja terlihat sangat keren.
Sementara Kenan dan kawan-kawan masih dalam perjalanan. Rafa yang melihat kedatangan Rain segera berlari ke arah mereka. Radit sedang sibuk menelpon dan Rain masih duduk di motornya menatap sekeliling dan hanya membuka kaca helm saja. Sementara wajahnya sudah tertutup masker.
"Hay, Queen!" sapa Rafa yang kini berdiri di depan Rain.
Rafa menatap mata bulat Rain yang benar-benar membuatnya suka. Entah mengapa mata itu selalu menari-nari di dalam kepalanya.
"Sendirian aja, Radit mana?"
Tatapan tajamnya seolah mengatakan jika gadis itu enggan berbicara pada siapapun.
Rain menunjuk ke arah Radit dengan tangannya.
Rafa menoleh ke arah Radit, melihat lelaki itu yang sedang memunggunginya Rafa tersenyum tipis. "Oh, lagi sibuk!" katanya.
"Hmm, kenapa!" Bukan sebuah pertanyaan tapi Rain hanya mengucapkan dengan nada sinis.
"Gue boleh minta nomor Lo?"
"Nggak!"
Rain sudah malas meladeni orang seperti Rafa yang menurutnya tidak penting itu. Dia pun bergegas pergi, tapi urung karena mendapatkan umpatan dari Rafa.
Rain menatap tajam lelaki itu kemudian menyeringai. Sebenarnya dia ingin sekali memberikan pukulan diwajah yang sok kegantengan itu, tapi belum saatnya.
"Liat saja nanti!" batin Rain.
Dia melangkah menuju tempat teman-teman Radit berada, tapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis dengan pakaian seksinya juga memakai kacamata tebal.
Gadis itu sesekali menurunkan roknya, juga memeluk tubuh karena merasa dingin.
"Gila aja tuh cewek dingin gini pake baju kurang bahan? Mikir nggak sih?" cicit Rain.
"Lo ngapa jadi ngurusin orang?" Marvels sudah berdiri di belakang Rain.
Gadis itu hanya nyengir saja. "Risih gue liatnya. Cewek yang ada di garis start aja nggak segitunya. Lo liat tuh meski dia suka pake baju seksi, tapi udara dingin gini tetep aja ketutup. Ya meski pakaian tetep ketat. Lha dia?" Rain melirik ke arah Luna.
Ya, itu Luna. Gadis itu sedang di rangkul oleh Boy.
"Bentar deh, bukannya dia ceweknya Samuel ya?"
"Samuel siapa lagi?"
"Sahabat si Rafa, kok sama Boy ya?"
Rain menoyor kepala Marvels, "Kayak Lo nggak tahu kelakuan geng itu aja!"
"Oh, piala bergilir!" Marvels terkekeh.
"Lo nggak pengen gitu feminim dikit?" Marvels melihat Rain dari ujung kepala ke ujung kaki.
"Heh gue punya banyak dress sama gaun pesta ya. Gue bisa juga dandan. Dikatakan Feminim itu bukan berarti harus pake baju seksi. Lo gila aja pake tangtop sama rok mini di atas dengkul cuaca dingin gini!"
Marvels segera membungkam mulut Rain yang nerocos itu ketika tatapannya bersirobok pada gadis bermata sayu yang ada di seberang.
"Bocor Lo, Rain!" gerutu Marvels.
"Lo tahu nggak, tuh cewek denger terus liatin Lo. Bisa abis Lo sama si Boy! Lo dingin tapi sekalinya ngomong pedes!" Marvels masih enggan melepas bekapan tangannya.
Rain sudah memberontak. Bahkan dia hendak menendang lelaki itu tapi dengan sigap Marvels terus menghindar.
"Wle ... Nggak kena!"
"Kalian berdua ngapain?"
Aura dingin dan penuh intimidasi itu seketika hadir, membuat bulu kuduk Marvels berdiri. Dia langsung lari terbirit-birit ketika melihat sosok lelaki posesif ada di depan matanya.
"Hehe ... Kita bercanda doang. Gue ambil motor dulu!" Rain pun ikut berlari ke arah motornya. Enggan menatap Radit yang sedang cemburu.
Bisa-bisa dia akan diceramahi panjang lebar dan tidak jadi ikut balapan.
"Bara dateng!"
"Dia bakal ikut balapan, gila ya setelah satu tahun dia menghilang kembali lagi!"
"Gue yakin dia yang bakal menang malam ini!"
Suara itu datang dari arah seberang Rain. Tiga lelaki sedang membicarakan Bara yang Rain tidak kenal. Gadis itu juga tidak perduli. Memilih untuk melajukan motornya ke arah garis star.
Radit berada di samping kiri Rain, lelaki itu membuka kaca helmnya.
"Rain, Lo liat cowok yang Deket Rean?"
Rain pun seketika menoleh ke arah kanannya. Jarak mereka hanya dua motor saja. Rain mengangguk.
"Dia sama kayak Lo, penakluk aspal. Lo harus hati-hati sama dia!"
Rain mengacungkan jempolnya tanda mengerti.
Semua peserta balap sudah berjejer rapih dengan motor masing-masing di garis start. Gadis dengan pakaian seksi itu mengibarkan bendera dan menghitung mundur. Semua sudah bersiap untuk tancap gas.
"Satu!" Pada saat itu si gadis segera berlari. Semua peserta telah meninggal garis start.
Kecuali Rain.
Dia masih santai saja di sana.
"Queen, ayo!" teriak penonton laki-laki.
"Dia ngalah apa gimana sih!"
Boy yang melihat jika Queen masih di garis start pun tersenyum puas. Dia mengira jika Queen akan mengalah. Itu berarti kemenangan untuk geng Omorfos ada di depan mata.
"Si Queen ngapain dah?" tanya Samuel yang mendekati Boy.
"Dia mengalah!"
"Anjir, gue rasa itu trik dia buat mengecoh lawan!"
Ketika di rasa mereka sudah jauh, Rain segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Angin berhembus kencang ketika Rain melewati Boy dan Samuel.
"Gila, bener kan kata gue!"
Boy tidak memperdulikan ucapan Samuel. Dia menambah kecepatan motornya untuk segera menyalip Rain. Sayangnya itu tidak berhasil.
Seorang Queen tidak akan bisa dikalahkan begitu saja.
Rain sudah melewati beberapa peserta lainnya. Sekarang giliran menyalip Rean yang berada di urutan ke sepuluh.
Sementara lelaki bernama Bara itu memimpin. Dibelakang ada Radit juga Kenan dengan pertarungan sengitnya.
"Rean!" teriak Rain.
Lelaki itu menoleh.
Sial! Rain berhasil menyalipnya.
"Njiir, mimpi apa gue punya adek nggak ada akhlak!" umpat Rean.
Kini Rain sudah berhasil menyalip Rean juga Marvels. Dia melewati tikungan yang sangat mudah bagi Rain. Si Ratu tikung.
Rain memperkirakan jarak untuk berada di posisi nomor tiga, setidaknya dia harus memantau permainan Bara.
"Queen!"
"Queen ... Queen ... Queen ..."
"Ayo Queen!"
Sorak Sorai para penonton terdengar.
"Radit ... Radit ... Radit ...."
__ADS_1
"I Love you!"
Otak cerdas Rain mulai bekerja. Ketika tikungan kembali terlihat dia segera menyalip motor Kenan.
Seperti adegan slowmo gerakan itu melambat. Dan ....
Woaaaahhhh
Rain berhasil menyalip Kenan yang selalu dia kalahkan. Rain melambaikan tangannya. Kenan hanya menggeleng saja, meski sebenarnya dia penuh emosi. Kenan akan mengalahkan Queen malam ini.
"Gila, tuh cowok jago banget!"
Radit menjadi pemimpin. Namun, Bara segera mengambil alih.
Rain kembali bersiap karena beberapa putaran lagi akan menuju garis finish. Rain tidak akan mengalah malam ini.
Suara deru motor saling beradu. Kini tiba Rain berada di posisi nomor dua.
Pertarungan Rain dan Bara semakin menegangkan. Bara adalah sang juara Balap yang tidak akan pernah terkalahkan. Selain raja tawuran dia juga sangat ditakuti oleh geng lain.
Namun, masih ada geng Omorfos yang juga mengerikan. Rafa sudah berada di belakang Rain. Dia akan membuat Queen bertekuk lutut karena sudah mengabaikannya tadi.
Namun, sial! Rain selalu tahu gerak-gerik lawan sehingga sulit bagi musuh untuk menyalipnya.
"Bara!" gumam Rain. Dibalik helm full face nya itu Rain tersenyum miring.
Sejak tadi Rain penasaran dengan lelaki itu karena banyak yang takut. Namun, Rain tidak perduli.
Rain sudah bersiap hendak menyalip Bara ketika berada di tikungan.
Benar saja gadis itu mengambil celah ketika bara membelokkan motornya saat melewati tikungan.
Blusssh ...
Rain menyalip dan menambah kecepatan untuk segera sampai ke garis finish yang sebentar lagi terlihat.
"Siapa dia!"
"Kurang ajar!"
Bara kembali menyalip Rain tapi itu tidak berhasil, Rain melambaikan tangannya karena garis finish sudah di depan mata.
"Queeeeeeennnnnn!"
Bruuuummmmm ...
Tepuk tangan meriah kembali terdengar ketika Rain lebih dulu melewati garis finish. Di susul oleh Bara dan kemudian Rafa.
Beberapa penonton turun dan memeluk Rain. Gadis itu sudah turun dari motornya tanpa membuka helm
Rain masih berjingkrak-jingkrak bersama para fansnya.
"Seperti yang kalian ketahui, juara malam ini adalah .... Queeeennn!" teriak juri.
"Apa? Dia perempuan?" gumam Bara.
Sementara Rafa sudah mengepalkan kedua tangannya. Dia memang berhasil mengalahkan Kenan juga Radit, tapi dia tidak berhasil mengalahkan Queen. Kalau saja Bara tidak tiba-tiba hadir maka Rafa bisa mengalahkan gadis itu dan membuatnya bertekuk lutut.
"Jadi bagaimana?" tanya Rain kepada Rafa dengan senyum mengejek. Tentu saja lelaki itu tidak tahu karena wajah Rain tertutup masker.
"Tuh!" Rafa melempar kunci motornya.
Dia juga mengambil tiga amplop cokelat. Masing-masing berisi 100 juta.
"Lo yakin ini 500 juta?"
Rafa berdecak, teliti sekali tuh cewek! "Lo bener-bener ya!" kesal Rafa.
"Santai, sayang!" Rain menepuk-nepuk pundak Rafa.
"Gue bakal kasih 200 nya lagi kalau Lo kasih nomor Lo!"
Rain mengangkat kedua bahunya, "Tidak ada di perjanjian!" Rain mengulurkan tangannya. "200 juta!"
"Oke, gue ikhlaskan. Itung-itung amal karena gue yakin Lo lagi bokek!"
"Njiir, Lo ngerendahin gue!" Rafa menyeringai.
"Gue bakal kasih kalau kita ketemu lagi!"
"Gimana gue bakal ketemu Lo kalau muka Lo aja gue nggak tahu!"
Rafa semakin mendekat dan hendak memberi pelajaran pada gadis itu. Sementara Bara sudah berdiri di samping Rain.
"Kalau kalah ya ngaku aja kalah!" ucap Bara.
Membuat Rafa mengumpat dalam hati. Mana mungkin dia akan memukul lelaki itu, nyalinya saja langsung menciut.
"Brengsek!" Rafa memberikan amplop yang berisi dua ratus juta itu.
"Thanks!" ucap Queen. Dia memasukkan amplop-amplop tersebut ke dalam tasnya.
"Lo siapa!"
Rain mendongak, "Gue manusia!" jawabnya santai. Kemudian pergi untuk menuju podium.
Bara tersenyum miring, "Gue akan cari tahu!" Bara melirik ke arah motor Rain. Sekilas tapi dia langsung bisa menghapal nomor itu.
Radit memeluk Rain, dia bangga pada gadisnya ini yang bisa mengalahkan geng Omorfos.
"Sesuai perjanjian! Lo kalah meski Lo bisa ngalahin gue, tapi Lo bukan yang pertama di garis finish!"
Rafa tidak memperdulikan ucapan Radit, hatinya sudah sangat kesal dan dia ingin sekali menonjok siapa saja yang ada dihadapannya ini.
"Puas kan Lo!"
"Jangan gitu, brother! Namanya juga pertandingan!"
"Kunci motor gue!" Kenan memberikan kunci motornya.
Perjanjiannya memang jika Rafa menang maka Kenan siap kehilangan motor kesayangannya. Radit mobil sport miliknya. Sementara Rafa motor dan juga uang lima ratus juta. Dia dengan bangga mendeklarasikan bahwa malam ini adalah kemenangannya.
Lalu meminta Rain untuk jadi miliknya. Sayang, kesombongan Rafa dibayar dengan Rain yang mempermalukan dia.
Rain tentu saja untung banyak. Ketika Rafa meminta Rain dia menyanggupi karena Rain yakin Rafa tidak akan bisa mengalahkannya.
"Selamat jalan kaki, sayang!" sindir Rain.
"Anjing!"
"Guk ... Guk ... Guk..." Rain menirukan suara anjing.
Sementara Bara menatap mereka dengan tangan dilipat. Bara masih penasaran dengan siapa Queen itu.
"Sorry kalau gue dateng dadakan! Jadi buat yang menang gue transfer 200 juga ya. Mana rekening Lo!"
Radit melirik ke arah Rain ketika gadis itu membuka ponselnya.
"Tuh rekening gue atas nama Queenara!"
Tentu saja Rain memakai identitas seseorang. Rain tidak sebodoh itu. Rekening itu memang dia persiapkan ketika mulai terjun dunia balap.
"Udah masuk ya!"
"Thanks!"
Mereka bergegas untuk pergi, tapi seperti biasa. Radit dan Kenan akan diburu oleh para fans meminta foto.
Rain tidak perduli bahkan pipi Radit sudah terkena kecupan salah satu penggemarnya. Meski cemburu tapi bukan saatnya dia memaki. Ini akan membuat curiga Kenan.
Ketika berada di jalan menuju pulang, Rain melihat Rafa yang sedang berjalan kaki. Dia sesekali menendang apa saja yang ada di jalan. Entah itu botol atau sampah plastik.
"Hay, mau pulang?" sapa Rain yang pura-pura ramah.
"Nggak usah nyindir deh!"
__ADS_1
"Kasian banget, ganteng-ganteng jalan kaki. Nggak punya duit buat bayar taksi?"
"Queen!"
"Ya?"
Kedua tangan Rafa sudah mengepal, wajah terlihat dipenuhi emosi. Sementara Rain tertawa puas. Dia kembali melajukan motornya agar segera sampai di apartemen.
Saat di tengah perjalanan, Rain mengentikan motornya karena ponselnya terus bergetar.
"Ck, baru inget punya cewek!" gerutu Rain.
"Rain, Lo ngapain?" tanya Rean.
Dia menoleh ke arah lelaki itu, dimana ada Mentari yang duduk dibelakang Rean sambil melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu.
"Rain? Jadi itu ... Rain?" Mentari baru menyadari jika orang yang selalu dipanggil Queen itu adalah temannya.
"Bangkek Lo, Rean!"
"Sorry, gue lupa! Ayo pulang!"
Rain melirik ke arah Mentari, "Lo jangan sampe bicara sama siapapun!" kata Rain.
"Iya tenang aja, Rain."
"Bagus!" Rain mengangkat kedua jari jempolnya. "Lo emang nggak dimarahi sama nyokap Lo tengah malem gini berkeliaran?" tanya Rain heran. Juga kesal sama Rean, bisa-bisanya nyuruh anak rumahan buat nonton balapan.
"Aku sudah izin kok tadi. Kebetulan ibu sama Sean lagi keluar kota."
"Lo nginep aja di apartemen gue!" Rain menepuk keningnya ketika teringat sesuatu. Mana mungkin membawa Mentari ke apartemennya.
"Lupa gue!"
Rean hanya menggeleng saja. Rean tidak masalah kalau Mentari menginap, jadi dia bisa lebih lama dengan gadis itu.
"Lo gue boncengin, nginep ke rumah gue ya!"
"Lo yakin, Rain?"
"Ada papa!" kata Rean tentu saja tanpa suara.
"Lain kali ya, gue ada urusan. Serah Rean mau bawa Lo kemana. Kalau dia macem-macem laporin gue!" Rain berkata dengan tergesa-gesa. Dia segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan yang sepi.
***
Rafa menuju apartemen milik Samuel, beruntung tadi ada anak buahnya jadi dia meminta untuk mengantar ke apartemen Samuel. Tidak perlu susah-susah untuk berjalan kaki. Gara-gara ponselnya yang habis daya dia jadi tidak bisa memesan ojek online.
Rafa memang memiliki akses masuk ke apartemen Samuel. Dia bisa setiap saat datang ke sana dengan sesuka hatinya. Menurut Rafa, apartemen Samuel ini nyaman karena rapih dan juga banyak stok makanan. Berbeda dengan apartemen miliknya yang selalu berantakan. Malas sekali dia merapikannya. Bahkan memanggil petugas kebersihan saja satu bulan sekali.
Pemandangan pertama yang mengejutkan ketika membuka pintu apartemen.
Sepatu yang di lempar asal sepertinya karena ada di mana saja.
Baju wanita yang berada di sofa. Celana milik Samuel berada di sembarang arah. Rafa menuju kamar Samuel untuk melihat pemandangan yang memanjakan mata.
Depan pintu kamar lelaki itu ada dalaman wanita yang berceceran. Sungguh ruangan itu seperti baru saja terkena gempa bumi.
"Oooh ... Sam! Lo beneran bikin gue gila!"
Rafa mengernyit ketika mendengar suara gadis. Suara yang berbeda dari Luna.
"Baru lagi?"
Cklek
Pintu terbuka menampilkan pemandangan dimana Samuel sedang menikmati permainnya tanpa perduli siapa yang baru saja masuk.
"Sam___" ketika gadis itu hendak memprotes dia langsung membungkamnya dengan ciuman.
Rafa duduk di sofa sambil mengisi daya baterai ponselnya. Memperhatikan kedua insan yang sedang menikmati surga duniawi. Ketika mereka melenguh panjang itu pertanda pelepasan bersama.
Napas keduanya tersengal, sementara Rafa tersenyum miring.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Samuel yang sedang melepaskan pengaman yang dia gunakan.
Sementara gadis itu mencari selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ngapain?" tanya Rafa yang mendekat.
"Nggak usah Lo tutupin, toh Samuel aja nikmati Lo! Sekarang giliran gue!"
"A-apa?"
"Nggak usah munafik, bukannya Lo cewek yang suka di pake geng liol kan?" tebak Rafa.
Gadis itu mengangguk, dia sudah dibuang oleh salah satu anggota geng liol. Samuel yang memungutnya tadi karena gadis itu terus menggodanya. Ya, meski lelah akhirnya Cika pun melayani Rafa yang penuh dengan kekerasan.
***
Rain merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Dia menikmati pagi yang indah dengan udara segar meski sudah terkena polusi.
Pagi ini Rain sedang menunggu Kenan karena lelaki itu telah memintanya untuk terakhir kalinya. Rupanya Kenan tetap pada pendiriannya jika dia akan meninggalkan kota ini.
"Udah lama?" tanya Kenan yang duduk di sebelah Rain.
Mengganggu saja.
Rain segera bangkit dan duduk di sebelah Kenan. Menatap danau yang menenangkan.
"Lo yakin mau pergi?"
"Ya."
"Aksara gimana?"
"Ada Rean, gue yakin dia bisa gantiin gue. Toh selama ini Rean yang pegang kendali, gue hanya status aja ketua!"
Rain terkekeh. Kenan menatap gadis itu dari samping. Benar-benar sangat cantik.
Kenan terus berusaha melepasnya, tapi jika dia berada di sini maka akan sulit baginya. Gina juga meminta Kenan untuk tetap bersekolah kembali, tapi bagaimana bisa melupakan Rain jika masih satu sekolah dengannya.
"Rain ... Bahagia selalu ya. Gue pergi. Maaf selama ini atas sikap gue ke elo!" Dengan berat hati Kenan mengatakannya.
Padahal semalam dia sudah merancang kata romantis, tapi rupanya ketika bertemu Rain kata-kata itu hilang begitu saja.
"Gue udah bahagia tanpa adanya Lo! Jadi ... Lo nggak perlu khawatir!" ucap Rain yang menatap ke arah Kenan.
"Gue tahu kok. Baik-baik ya sama Radit!"
"Oke!"
Sebenarnya Rain merasa berat jika Kenan pergi jauh, entah mengapa perasaannya ingin Kenan tetap di sini. Namun, Rain segera menepisnya bersikap dingin supaya lelaki itu membenci dirinya.
"Maaf ya, Rain. Sekali lagi gue minta maaf soal yang dulu."
Rain menepuk pundak Kenan, "Lo tenang aja! Udah gue maafin kok!" Rain tersenyum.
"Lo hati-hati ya. Jaga Tante Gina. Sorry gue nggak bisa anter karena ada keperluan!"
Kenan mengangguk. Lalu bangkit berdiri.
"Gue pamit ya!"
Rain hanya mengangguk.
"Boleh peluk?"
Rain segera berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Membiarkan Kenan memeluknya untuk terakhir kalinya. Entah mengapa dia ingin sekali menahan kepergian Kenan, tapi bibirnya terasa kaku untuk mengatakan hal itu.
Rain menatap punggung Kenan hingga lelaki itu tidak tampak lagi. Hatinya tiba-tiba sedih, dia ingin sekali mengejar Kenan. Namun, nanti lelaki itu besar kepala dan menganggap bahwa Rain memberikan kesempatan.
"Kok perasaan gue nggak enak gini ya?"
Bersambung..
__ADS_1