
Bab 34
Mentari menutup wajahnya dengan bantal, lalu menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Gadis berlesung pipi itu beringsut duduk kemudian tersenyum sendiri seperti orang yang kesurupan. Ah, apakah dia sedang cosplay jadi gadis yang tidak waras?
Sesaat kemudian dia mengambil parfum yang tadi dia beli. Memeluknya erat juga mencium parfum itu. Mengelus-elusnya juga pula. Benar-benar deh, sepertinya otak gadis itu sedang konslet.
"Aaaa .... Demi apa sih aku naik mobil Rean?" gumamnya sambil memeluk parfum tersebut.
Parfum itu bekas tangan Rean, jadi itu alasan mengapa Mentari peluk.
"Rean, kamu itu nggak capek apa ya jalan-jalan terus di otak aku!" gerutunya.
Mentari kembali berguling-guling di atas kasurnya. Sampai-sampai dia tidak sadar jika sudah di tepi ranjang dan ...
Bruuuk!
"Hahaha, sukurin!" Suara tawa itu membuat bibir Mentari mencebik.
"Kamu ngapain sih ke kamar nggak ketuk dulu!" omel Mentari, seraya menahan nyeri di area punggung dan bokongnya.
Lelaki mungil itu tertawa tanpa dosa, "Pintunya nggak ketutup, Kak. Apa harus aku ketuk? Lagi pula aku baru dateng tau-tau kakak udah jatuh!" tawanya kembali hadir.
Lelaki berusia sepuluh tahun itu puas sekali melihat sang kakak yang terjatuh. Dia terus tertawa sampai memegangi perutnya.
"Ibu ... Sean nih ngeselin!" teriak Mentari.
"Ibu lagi pergi, aku ke sini mau bilang kata ibu kalau mau makan malam tolong buatkan telur dadar!"
"Nggak ah, bikin sendiri sana!" Mentari melipat kedua tangannya di dada.
Wajah Sean cemberut, "Ya udah deh aku nggak makan aja!" ucapnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Siapa suruh ngerasain kakak?"
"Maaf." Sean tertunduk merasa bersalah juga karena tertawa di atas penderitaan sang kakak.
Mentari mengulum senyum lalu mengusap kelapa Sean.
"Janji jangan gitu lagi kalau kakak terkena musibah!"
Mentari menyodorkan jari kelingkingnya, pun Sean melingkarkan jari kelingkingnya ke jari Mentari.
"Apa kamu sudah selesai mengerjakan pr?"
Sean menggeleng heboh, "Aku kerjain pr nanti kalau sudah jam makan malam buatin ya!"
Mentari melirik jam yang masih menunjukkan pukul lima sore. Jam makan malam masih lama, lumayan lah untuk waktunya bersantai sejenak. Toh tugas sekolah sudah dia selesaikan tadi.
"Gih, nanti kakak buatin!"
Sean mengacungkan jempolnya tanda setuju. Mentari menutup pintu kamarnya dan merebahkan diri di ranjang. Ponselnya bergetar ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak di kenal.
[Hay.]
Mentari mengabaikan nomor itu, mungkin hanya orang iseng. Pikirnya.
Dia memilih berselancar pada akun sosial medianya. Iseng Mentari mencari nama lelaki yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Jadi ... Mereka sangat dekat ya?" gumam Mentari saat menemukan akun milik Rean.
Ada foto unggahan lelaki itu sekitar lima menit yang lalu. Rupanya lelaki itu jarang sekali buat status. Postingan barunya itu adalah foto Rean bersama Rain.
Mentari segera menggeleng, "Mereka emang cocok, sama-sama good looking!" Mentari sadar jika disandingkan dengan Rean bagaikan luar angkasa dan dasaran bikini bottom. Jauh sekali.
Mentari pun hanya bisa mengagumi ketampanan Rean, dia tidak mau berharap lebih, apalagi lelaki itu sering menjahilinya. Dia nggak mau baperan jadi cewek.
Mentari mendesah pasrah, atensinya teralih pada beberapa pesan yang masuk dari nomor tidak dikenal. Nomor yang sama dengan yang tadi mengiriminya pesan.
[Hay]
[Kok dibaca aja?]
[Mentari!]
Mentari terkejut, karena nomor itu tahu namanya. Siapa yang telah mengirimnya pesan ini? Meski penasaran, Mentari enggan membalas pesan tersebut.
Namun, saat Mentari hendak keluar dari aplikasi hijau itu, dia dikagetkan dengan panggilan dari nomor tersebut. Video call pula.
Mentari harus gimana? Dia tetap menatap layar itu hingga panggilan mati.
Berkali-kali hingga ke lima kalinya. Mentari berdecak kesal.
Pada akhirnya gadis itu menyerah. Dia menggeser tombol hijau tapi mengalihkan kameranya pada langit-langit kamar.
"Hay, Mentari!"
Mentari memekik saat mendengar suara itu. Suara yang membuat jantungnya tiba-tiba berdebar.
Dia melirik ke arah layar ponsel yang sengaja diletakkan dekat bantal. Mentari takut jika nomor itu orang jahat atau orang iseng.
Itu ... Suara Rean nggak sih?
"Hey, ada orang di sana?"
Mentari mematikan teleponnya dan mencoba menyimpan nomor tersebut, tapi sayang hanya foto motor sport saja! Apa benar itu Rean? Sekali lagi Mentari bertanya.
Nomor itu kembali memanggil, kali ini Mentari duduk bersandar di bahu ranjang dan mengarahkan kamera belakang. Supaya dia bisa melihat siapa orang yang menelponnya.
"Kenapa dimatiin sih?"
Mentari bisa melihat dengan jelas wajah Rean dengan rambut acak-acakan memenuhi layar ponselnya. Benar-benar sangat tampan. Mentari memekik dalam hati, dia segera mengubah ekspresi terkejutnya dan mengatur debaran di dada. Mentari menarik napas lalu menghembuskannya.
Tangan Mentari sedikit gemetar, dia mengubah kameranya menjadi depan. Lelaki itu tersenyum saat melihat wajah teduh Mentari.
"K-kok Rean ... Tahu nomor aku?" tanya Mentari tiba-tiba terbata kala melihat lelaki itu tersenyum.
"Apa sih yang nggak gue tahu!"
Mentari tersenyum tipis. Dia memalingkan pandangannya. Tidak tahu harus berkata apa.
"Udah mandi?"
Mentari nyengir, "Belum. Rean udah mandi?"
"Udah."
Hening lagi, Rean menopang wajahnya dengan satu tangan dan menatap gadis itu. Sementara Mentari sudah kelabakan dengan debaran dada semakin bertambah.
Ada apa ini? Nggak sehat buat jantung!
"Rean ... Lagi apa?" tanya Mentari memecah kecanggungan.
"Mikirin kamu!"
"Kiw ... Kiw .... Ada yang lagi jatuh cinta nih!"
Suara gadis itu ... Tidak asing ditelinga Mentari. Itu suara Rain. Jadi ... Rean sedang bersama Rain?
__ADS_1
Terlihat di layar ponsel Mentari Rean mengambil bantal lalu melemparnya.
"Berisik Lo! Gangguin orang aja! gerutu Rean.
"Sayang, aku kangen lho ini! Kamu lagi apa!"
Suara Rain sengaja dibuat manja, lalu setelahnya terdengar gelak tawa gadis itu.
"Pergi, Nyet! Ngeselin!" Layarnya bergerak-gerak sepertinya Rean sedang berjalan.
Suara pintu di tutup lalu terkunci. Ah, rupanya lelaki itu sedang berada di kamar. Dari cuplikannya saja Mentari bisa lihat kalau kamar Rean sangat luas. Definisi kamar orang kaya.
Mentari yang tidak sebanding dengannya hanya bisa menghela napas berat. Mentari tersentak ketika tatapannya bersirobok dengan manik mata abu-abu itu.
"Maaf ya, tadi ada sedikit gangguan!"
"Rean sedang sama Rain ya?" tebak Mentari.
Rean terkekeh, "Lo kok tahu kalau itu Rain?" Lelaki itu menjawab dengan santai.
Kaos oblong warna putih yang membalut tubuhnya membuat ketampanan Rean bertambah. Kulitnya yang putih dan otot kekar menambah kesempurnaan lelaki itu.
"Aku hanya menebak aja!"
"Mandi sana!" titah Rean.
"Aku tutup ya," kata Mentari, yang menahan rasa malu dan juga kecewa.
Kecewa karena dia harus menelan kenyataan bahwa hubungan Rean dan Rain sedekat itu. Kecewa untuk kedua kalinya, jika dia mencintai seseorang dengan kasta yang berbeda. Salahkah itu?
Salahkan hatinya yang menaruh perasaan itu. Mentari yang awalnya hanya kagum pun menjadi menyukai Rean karena sikapnya yang kadang perhatian. Mereka akrab ketika Rean menolongnya ketika ada kakak kelas yang membully, lalu yang kedua saat di supermarket.
Ah, harusnya Mentari sadar kalau sikap Rean itu wajar. Dia tidak akan pernah bisa bersanding dengan lelaki yang memiliki kasta tertinggi.
Mentari hanya remahan krabby patty mungkin.
Gadis itu segera menuju kamar mandi agar suasana hatinya membaik.
***
Radit baru saja selesai video call dengan Rain, hatinya seakan ditumbuhi ribuan tanaman bunga. Semenjak Rain menjadi kekasihnya, hidup Radit berubah menjadi berwarna. Dulu dia hanya bisa mengamati gadis itu dari kejauhan, sekarang gadis itu sudah menjadi penghuni tetap hatinya bahkan setiap hari bisa berdekatan dengannya tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi.
Ketukan pintu membuyarkan semua lamunan Radit tentang perjalanan cintanya.
"Kak, ditunggui mama buat makan malam," kata Hanna di ambang pintu yang hanya terlihat kepalanya saja.
"Ya," jawab Radit. Dengan langkah malas dia menuju ruang makan.
Moodnya seketika buruk kala melihat Oma Rima. Seolah kebahagiaan yang baru Radit rasakan menguar begitu saja.
"Cucu Oma, akhirnya kamu pulang juga!" Oma Rima merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Radit.
Lelaki itu bergeming, lalu menatap ke arah Fania yang sibuk menata makanan di meja.
"Radit, kok diem aja di sapa Oma?" tanya Fania.
Radit pun mendekat dan memeluk sang Oma. Meski dengan wajah datar.
"Sudah besar dan ganteng! Kamu persis banget sama papa kamu!"
Radit hanya tersenyum miring. Lalu duduk di kursi sebelah Hanna.
"Kamu darimana saja, Radit? Oma sejak tadi nungguin lho!" tanya Oma Rima.
"Main!" jawab Radit santai.
"Fania, seharusnya kamu itu kasih Radit les tambahan! Radit kan sudah mau lulus SMA!" tegur Oma Rima.
Fania yang baru saja duduk hendak mengambil nasi pun urung. Lalu menatap Radit sekilas.
"Radit sudah terlalu banyak les, Oma. Jadwalnya padat dan memang setiap Sabtu jatahnya Radit libur kegiatan sepulang sekolah."
"Seharusnya Sabtu gunakan untuk les yang belum dia ikutin. Mungkin les bahasa asing. Oma akan mengajak Radit ke Belanda, bagusnya dari sekarang Radit les bahasa Belanda saja!"
Fania tersenyum meski hatinya berkata lain. "Ini kesepakatan aku dan Mas Alex, Oma. Hanna pun sama setiap akhir pekan tidak ada kegiatan apapun. Supaya mereka mengistirahatkan otak sejenak. Juga agar mereka menikmati masa remaja seperti remaja pada umumnya. Radit dan Hanna terlalu banyak kegiatan. Apa salah jika membiarkan mereka bermain di akhir pekan?" tanya Fania hati-hati.
"Oma hanya kasih masukan, bukan berarti tidak memperbolehkan mereka main! Ya kalau tidak di terima ya sudah, Oma hanya orang lain di sini!" gerutu Oma Rima, wajahnya langsung masam.
Fania menghela napas lelah, dia tidak tahu lagi harus bicara apa. Andai suaminya itu ada, mungkin tidak akan terjadi seperti sekarang.
Radit dan Hanna pun diam, mereka sudah di didik sejak dini ketika ada orangtua berbicara janganlah menyela, kecuali memang penting dan darurat.
Sebenarnya Radit sangat geram ketika melihat Fania diperlakukan seperti itu oleh Oma Rima. Rait juga semakin tidak suka dengan Omanya ini setelah tahu bagaimana perlakuannya kepada Hanna saat gadis itu tinggal bersamanya. Ruang gerak Hanna sangat terbatas. Hanna bisa beristirahat ketika jam makan malam, dia akan bebas bermain gadget atau tidur. Seharian selalu di tuntut untuk belajar dan belajar. Bahkan dihari libur pun Hanna harus melaksanakan berbagai kegiatan tambahan.
Hanna sudah tidak betah, hanya saja Oma Rima selalu mengungkit tentang kebaikan Oma Rima di saat Fania mengalami pendarahan ketika melahirkan Hanna dan harus segera mendapatkan transfusi darah. Oma Rima lah yang mendonorkan darahnya untuk Fania, jadi sebagai balas Budi maka semua yang Oma Rima inginkan harus dipenuhi. Termasuk mengekang Hanna.
Demi kebaikan dia di masa depan katanya. Oma Rima tidak pernah tahu seberapa stresnya Hanna sehingga membuat gadis berusia empat belas tahun itu menjadi gadis yang penutup. Bahkan Oma selalu memilihkan siapa yang boleh berteman dengan Hanna.
Sejak diberikan kesempatan untuk pulang, Hanna meminta untuk tinggal di Indonesia saja, dia tidak mau kembali tinggal bersama Oma Rima.
"Radit, kamu masih ingat Om Suryo?" tanya Rima di saat sedang menikmati makan malamnya.
Radit mengernyit heran, karena tidak biasanya Omanya itu akan berbicara ketika sedang makan. Tidak sopan, katanya.
"Lupa," jawab Radit santai.
"Dulu kamu sering dibawa Opa ke kantor Om Suryo. Anak dari teman Opamu itu. Opa Gutomo. Masa kamu lupa?"
"Ya, aku lupa!"
Hana menahan tawa dengan jawaban sang Kakak. Dia juga ingin seperti Radit yang cuek. Hanya saja Hanna selalu ketakutan jika berduaan dengan Oma Rima saja.
"Ya sudah nanti kalau ketemu kamu pasti ingat, Om Suryo itu ajak kita makan malam. Dia juga punya anak lho seumuran sama kamu, nanti kamu mau ya makan malam bersama?"
Radit melirik ke arah Fania, untuk memberikan jawaban jika Radit enggan datang ke acara seperti itu.
"Hanya makan malam saja, tidak akan ada rencana apapun!" ucap Oma Rima yang sudah tahu jika Radit akan menolak.
"Ya udah atur aja!" sahut Radit.
Lelaki itu bangkit dari duduknya karena sudah selesai. Biasanya Radit akan makan banyak jika Fania masak makanan kesukaannya.
"Kamu nggak nambah, sayang?" tanya Fania.
"Udah kenyang, Radit capek mau tidur!" Radit melenggang pergi.
Sementara Hanna sudah bersiap ingin mengikuti gaya kakaknya yang datar dan dingin itu. Dia juga bangkit dari duduknya.
"Hanna juga sudah, Ma."
"Hanna, apa kamu tidak punya sopan santun? Kami masih makan dan kamu pergi begitu saja? Cepat habiskan makananmu!" omel Oma Rima.
Sementara Hanna menatap Fania dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Benar-benar terlihat sekali perbedaan perlakuan Oma Rima dengan Radit. Hanna tidak perduli itu. Dia memilih ke kamar Radit untuk menumpahkan kesakitan hatinya itu. Hanna ingin sekali pergi dari rumah sampai Oma Rima pulang.
*
__ADS_1
Di kamar, Oma Rima tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya apa yang dia impikan akan menjadi nyata. Wanita paru baya itu sudah tidak sabar ingin mempertemukan Radit dengan calon yang sudah Oma Rima siapkan. Tentu saja pilihan Oma Rima bukan sembarangan.
Oma tidak mau jika cucunya menikah dengan orang dari kalangan biasa, dia berpikir nanti hartanya akan habis jika cucu menantu dari kalangan orang biasa.
"Suryo, pertemuan dipercepat menjadi lusa ya. Soal pertunangan nanti kita bicarakan langsung," ucap Oma Rima kepada Suryo melalui sambungan telepon.
Sementara di rumah yang sama dan kamar yang berbeda Fania merasa hatinya gelisah. Keputusannya salah, dia takut jika Radit akan membencinya. Fania terus merubah posisinya dan mencoba untuk memejamkan kedua mata, hanya saja itu sulit karena pikirannya penuh dengan rencana mama mertuanya.
Fania bisa saja mengadukan semuanya kepada Alex, hanya saja dia tidak berani mengadukan ini karena sudah mendapat ancaman dari mama mertuanya. Apalagi Alex sedang berada diluar kota dan entah kapan lelaki itu pulang.
Fania saat ini butuh suaminya untuk memberi ketenangan. Semua masalah terus terjadi jika mama mertuanya datang.
Fania juga memikirkan Hanna, wajah putrinya itu terlihat ketakutan ketika bertemu Oma Rima. Fania selalu menanyakan tentang apa yang terjadi selain Oma mengekangnya, tapi Hanna masih tidak mau cerita. Dia hanya mengatakan tidak betah dengan Oma Rima dan lelah jika belajar terus menerus. Oma Rima terlalu mengekang. Selebihnya Fania yakin ada alasan lain dibalik ketakutan Hanna.
Fania larut dalam pikirannya hingga kantuk melanda. Dia pun bisa memejamkan kedua mata dan berharap hari esok tidak ada masalah lagi.
***
Pagi itu Rean dan Rain berangkat lebih awal, ini atas permintaan Rean. Lelaki itu juga tidak mau membawa motor, memilih dibonceng Rain saja. Rain merasa ada yang sedang Rean rencanakan tapi gadis itu tidak bertanya, toh nanti akan tahu sendiri.
Meski awalnya Rain uring-uringan karena masih ngantuk dan memilih berangkat belakangan, tapi Rean terus saja memaksa. Apalagi mereka sedang berada di apartemen. Jadi Rean bisa leluasa mengerjai adiknya itu tanpa omelan dari sang papa.
"Rean, Lo gila ya ini masih jam 6!"
"Udah nurut aja deh, nanti gue kasih setengah uang jajan gue!"
"Ogah, duit gue udah banyak. Lo mending naik ojek aja! Gue mau tidur lagi!"
Rean menarik kerah seragam Rain ketika gadis itu hendak kembali ke kamarnya.
"Rain, bantuin gue sekali ini aja. Gue janji deh bakal turutin apa yang lo mau!"
Mendengar itu Rain pun menyeringai, tentu ini sebuah kesepakatan langka.
"Beneran?" Rasa kantuk Rain seketika hilang ketika mendengar ucapan yang keluar dari bibir sexy Rean.
"Oke, gue bantu!" Rain mengulurkan tangannya. "Deal ya!"
Rean mengangguk dan membalas uluran tangan Rain. "Deal!" Meski Rean bisa merasakan aura yang tidak enak.
"Demi masa depan gue deh, daripada Lo nggak mau bantu!"
"Iya gue bantu! Ya udah ayo berangkat!"
Rean berbinar dan mengecup singkat bibir Rain.
"Makasih, sayang!"
Rain menggeleng pelan, "Kelakuan orang lagi jatuh cinta emang agak laen!" gumam Rain.
"Lo yang bawa ya, Lo kan jago nyalip-nyalip!" Rean menaik-turunkan alisnya.
"Wokey, sayang!" Rain memberikan helm kepada Rean. "Pakein!" pinta Rain.
Rean menghela napas kesal, belum apa-apa sudah dimanfaatkan!
Rain membawa motor tersebut dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalanan sepi jadi dia bisa cepat sampai pada tujuan.
Rean melingkarkan tangannya pada perut Rain, meski dia pembalap tapi ngeri juga kalau Rain yang bawa. Pantas saja dia selalu juara. Sebenarnya Rean tidak terlalu suka balapan, itu hanya iseng saja. Dia lebih suka olahraga seperti basket, futsal atau yang menguji adrenalin.
"Berhenti, Rain!"
Rain pun menghentikan motornya. Lalu di saat Rean turun Rain mengernyit. Jalan ini masih jauh dengan sekolahnya.
"Lo mau ngapain di sini? Jangan bilang Lo mau mangkal buat dapetin tante-tante!"
Rean menendang kaki Rain, "Sembarangan Lo kalau ngomong!" gerutu Rain.
Rain terkekeh. "Lagian Lo aneh, sekolah masih jauh malah minta turun deket lampu merah gini!"
"Udah sana Lo pergi, gue ada urusan!"
Rain menyeringai, sekarang dia tahu apa tujuan Rean.
"Baiklah, semoga lancar ya. Siapa tahu dapet tante-tante genit!"
"Anjir, punya adek nggak ada akhlak!"
Rain tertawa puas, dia segera melajukan motornya.
"Hati-hati, sayang!" teriak Rean.
Rain mengangkat tangannya sebagai jawaban.
Rean duduk di tepi trotoar sambil bermain ponsel, dia menghitung menit dan lalu menoleh ke sebelah kirinya. Seseorang yang dinanti pun muncul. Gadis dengan motor maticnya berhenti ketika Rean melambaikan tangannya.
"Mentari?" Rean pura-pura terkejut saat gadis itu membuka kaca helmnya.
"Rean ngapain di sini?" tanya Mentari yang tidak menaruh curiga.
"Motor gue lagi di bengkel, tadi gue nebeng temen malah diturunin di sini. Katanya dia ada urusan bentar!" Rean memasang wajah sedihnya.
"Kasian banget, ya udah kamu bareng aku aja. Nanti kalau nunggu angkutan lama kamu bisa telat," kata Mentari.
Mentari mendelik setelah mengatakan hal itu. Dia tidak sadar dengan ucapannya. Satu motor sama Rean? Ah, ini tidak menjamin jantungnya akan baik-baik saja.
"Lo yang bonceng apa gue yang bawa?"
Mentari mengernyit, dia memahami ucapan Rean. Lelaki itu mengulum senyum ketika melihat ekspresi kebingungan Mentari.
"Rean, bukannya sama aja ya. Kalau aku bonceng kamu yang bawa. Gimana sih!"
Oh, Mentari polos sekali. Membuat Rean semakin gemas saja.
Rean terkekeh, "Yaudah gue yang bawa motornya."
Mentari mengangguk dan membiarkan lelaki itu mengambil alih melajukan motornya. Saat Mentari baru duduk Rean sengaja menarik gas kencang agar gadis itu memeluknya.
"Rean hati-hati!" Mentari memukul punggung Rean.
"Pegangan, Mentari. Kalau Lo jatuh gimana!" protes Rean.
Gadis itu hanya memegang ujung seragam Rean dibagian pinggangnya. Rean yang gemas segera menarik tangan Mentari agar melingkar saja. Tentu membuat jantung Mentari melompat-lompat dan jangan lupakan aroma maskulin dari lelaki itu, sangat menenangkan sekali.
Ah, Mentari rasanya seperti mimpi bisa berboncengan dengan Rean seperti ini. Mentari membiarkan sejenak menikmati aroma parfum Rean dan memeluk lelaki itu. Setelahnya Mentari segera sadar dari mimpi indah itu, bahwa dia tidak akan pernah bisa dekat dengan Rean. Pagi ini hanya kebetulan saja dia bertemu karena Rean terkena musibah.
Ketika hendak masuk ke gerbang sekolah, Mentari segera melepas pegangannya. Dia sedikit memundurkan duduknya, Mentari tidak mau kakak kelasnya salah paham lagi seperti kemarin. Cukup kemarin adalah hari tersial Mentari karena mendapatkan bullyan.
"Makasih ya, kalau nggak ada Lo pasti gue telat nih!" ucap Rean ketika mereka sudah sampai di parkiran.
Saat ini mereka menjadi pusat perhatian, membuat Mentari merasa risih.
"Iya, aku ke kelas dulu!"
Rean mengangguk dan masih duduk di motor Mentari, dia menunggu teman-teman gengnya.
Bersambung....
__ADS_1