
Bacanya pelan-pelan ya. Dikit soalnya. 😁😁
***
"Sudah aku bilang jangan pernah percaya pada ucapan maaf lelaki itu! Kenapa ibu selalu saja tidak mempercayai perkataanku? Memang Mentari sekarang mengecewakan ibu, tapi tolong sekali saja dengarkan Mentari, Bu!" ucap Mentari yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Yasmin.
Sorot matanya menatap Nevan penuh kebencian. Juga tubuh yang bergetar kecil karena menahan amarah yang meluap. Sungguh bukan ini yang dia mau, dia tidak ingin berkata dengan nada tinggi terhadap ibunya. Hanya saja Mentari lelah dengan sikap ibunya yang bebal. Selalu saja termakan ucapan manis penuh kebohongan yang terlontar dari Nevan. Lelaki yang harusnya menjadi cinta pertama Mentari dan rasa-rasanya Mentari sudah tidak sudi untuk memanggil dia dengan sebutan ayah.
"Heh, bocah tengik! Lihat itu, anak gadisku menjadi berani karena bergaul denganmu!" Nevan menuding Rean.
"Jangan salahkan orang lain, semua itu karena kamu yang tidak becus mengurus keluargamu sendiri. Laki-laki yang seharusnya bisa menjadi contoh yang baik untuk Sean. Laki-laki yang bisa melindungi istri dan anak-anaknya. Mala justru menyiksa kami hanya demi uang!" Mentari merasa lega karena pada akhirnya dia mampu melawan Nevan. Mampu meluapkan segala emosinya yang sudah menumpuk selama ini.
"Ayah mana yang tega menjual anaknya demi uang, hah! Lebih perduli dengan judi dan minuman keras!" lanjut Mentari.
Nevan semakin geram karena kalah telak. Semua ucapan Mentari ini benar. Dia yang dulu hidup mewah harus menjadi gelandangan karena menikah dengan Yasmin. Meski dulu tidak jadi masalah. Hanya karena terkena PHK Nevan menjadi seperti ini. Dia selalu haus akan harta. Bahkan keluarganya pun sudah tidak perduli. Mereka mau Nevan kembali jika mau menceraikan Yasmin yang sampai sekarang pun tidak pernah Nevan lakukan.
Pikiran Nevan sudah di penuhi dengan uang dan uang. Dia sangat menginginkan uang dan menyusun semua rencana demi uang juga demi melunasi hutang-hutangnya dengan juragan tanah dan lintah darat. Sungguh Mentari lelah jika harus menjadi sapi perah. Bekerja selepas pulang sekolah, menghabiskan masa remajanya demi membantu sang ibu melunasi hutang-hutang Nevan yang sama sekali tidak Yasmin tahu untuk apa uang Nevan pinjam.
Bahkan Rean dengan suka rela menguras tabungannya untuk melunasi semua hutang Nevan agar Mentari bisa menikmati masa remajanya. Rean juga awalnya terkejut karena Mentari adalah putri Yasmin, wanita yang pernah bekerja di rumahnya dulu.
Dunia ini memang sangat sempit, bukan?
Rean juga memberi uang kepada Nevan sangat banyak. Menyuruhnya untuk tidak kembali mengganggu mereka. Memang sudah tidak mengganggu karena uang itu masih ada dan sekarang ... Uang senilai seratus juta habis dalam waktu dua minggu. Nevan kembali membuat onar.
Yasmin yang sudah Rean suruh untuk pindah karena pasti Nevan sewaktu-waktu akan kembali, tetap saja tidak mau dengan alasan sudah cukup dia merepotkan Rean. Bahkan Damian yang melamarkan Mentari untuk Rean dan memberikan rumah untuk Yasmin saja ditolak.
Alasannya terlalu berlebihan dan takut jika Mentari akan bernasib sama sepertinya. Padahal Yasmin tahu keluarga Damian itu sangat baik.
Semua itu karena Yasmin dibutakan cinta dan selalu berharap Nevan akan kembali dan memperbaiki semuanya yang telah hancur. Dia selalu mengharapkan bahwa keluarga kecilnya akan kembali utuh.
Benar-benar bebal.
Yasmin tidak pernah sadar betapa terlukanya Sean dan Mentari yang selalu melihat Nevan pulang dalam keadaan mabuk dan memberikan pukulan bertubi-tubi kedua anaknya itu. Yasmin seolah-olah buta akan perlakuan Nevan yang buruk kepada dua buah hatinya.
"Beraninya kamu, hah!" Nevan maju dan hendak menampar Mentari. Dengan sigap Rean menahan tangan itu.
"Sekali kamu menyentuh Mentari maka aku akan meremukkan tanganmu ini!" ancam Rean tidak main-main.
Nevan memukul wajah Rean, mendapatkan serangan mendadak membuat laki-laki itu jatuh tersungkur.
"Rean!" pekik Mentari.
Sementara Yasmin hanya diam mematung. Dia sama sekali bingung harus bagaimana. Di sisi lain ingin mengusir Nevan tapi di sisi lain ingin laki-laki itu tetap ada. Dia memang sangat merindukan Nevan, dia rindu masa-masa indah yang dulu pernah dia lewati. Meski keluarga Nevan tidak pernah merestui hubungannya dengan Nevan.
"Mas, cukup! Hentikan!" Yasmin menarik tubuh Nevan yang sudah kembali menyerang Rean.
"Diam! Jadi kamu membela anak ini, hah!"
Plak
Plak
Kedua pipi Yasmin pun terasa panas karena tamparan yang dilayangkan Nevan tidak main-main. Telinganya berdengung dan kepala berdenyut. Dia selalu mendapatkan kekerasan seperti ini tetap saja mengharapakan laki-laki itu.
__ADS_1
Rean kembali menyerang. Nevan tidak tinggal diam. Kedua lelaki beda usia ini saling baku hantam. Mereka sama-sama kuat.
Sementara Yasmin menangis, dia duduk di dekat pintu merasakan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Salahkah jika dia masih berharap Nevan akan berubah? Salahkah dia masih mencintai lelaki itu, walau rasa sakit yang Nevan berikan. Yasmin tidak ingin Mentari mengalami hal yang sama tapi Yasmin sendiri tidak pernah mengerti kemauan putrinya. Sean yang masih kecil dan harus selalu menyaksikan orang tuanya bertengkar dan juga Nevan yang selalu memberikan pukulan bertubi-tubi kepada Yasmin maupun Mentari. Ini sangat tidak baik untuk kondisi mental dan pertumbuhan Sean.
"Puas, Bu! Puas memberikan contoh yang buruk kepada Sean? Puas ibu melihat aku dan Sean selalu terluka hanya karena harapan ibu yang tidak akan pernah bisa terjadi itu?" Mentari enggan memeluk ibunya dan menolong untuk berdiri. Mengobati luka ibunya saja dia sudah enggan.
Lelah karena akan terus saja seperti ini. Lagi dan lagi Mentari harus pura-pura baik-baik saja. Memberikan semangat kepada ibunya dan selalu mengatakan bahwa suatu saat Nevan kembali. Padahal dalam hati Mentari dia selalu menginginkan ayahnya pergi sejauh mungkin dan tak akan pernah kembali. Mentari muak dengan semua ini.
"Hentikan!" teriak Mentari.
Namun, kedua lelaki itu nampak menuli. Tidak ada yang mau mengalah karena mereka memiliki sebuah tujuan. Nevan yang ingin Rean kalah dan menyerahkan Mentari atau dia akan memberikan tawaran dengan sejumlah uang. Sementara Rean yang ingin Nevan kalah dan lenyap dari muka bumi ini.
"Bangsat!" teriak Nevan yang kembali memberikan bogeman pada perut Rean.
Hanya saja laki-laki itu berhasil menghindar.
"Mati saja kau!"
"Aaaaahhhh, dasar gila!" teriak Mentari.
Sungguh tubuhnya sudah menggigil ketakutan saat melihat pisau lipat yang Nevan keluarkan dari saku celananya.
Bugh
Pisau itu terjatuh ketika Nevan akan menusuk Rean. Rain datang tepat waktu dan langsung melumpuhkan lawan. Nevan jatuh tak berdaya setelah darah keluar dari mulutnya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Rain, membantu Rean untuk berdiri.
Rean memeluk gadis itu, membalikkan badan supaya Mentari tidak melihat ayahnya yang mengenaskan.
"Sudah jangan menangis. Aku baik-baik saja!"
Mentari menumpahkan rasa sesak yang sejak tadi dia tahan. Sementara Yasmin mantap Nevan dengan tatapan datar. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu.
"Angkat dia!" titah Rain kepada orang suruhannya.
Dua orang bertubuh kekar itu menggotong tubuh Nevan dan membawanya ke rumah sakit. Masih untung Rain membawanya ke rumah sakit. Bukan ke penjara.
"Mentari, maafkan ibu!" Yasmin bangkit dari duduknya. Akal sehatnya sudah kembali.
Dia tersadar dari semua lamunan masa lalunya yang kembali berputar. Kisah penuh haru dan juga bahagia. Namun, kini tidak akan pernah kembali. Yasmin lagi dan lagi ditampar oleh kenyataan, bahwa tidak ada lagi sosok Nevan yang penuh cinta. Kedua matanya yang selalu menatap Yasmin penuh cinta itu sudah berganti penuh kebencian.
Yasmin harus menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah bisa lagi memiliki Nevan seperti dulu. Mentari benar, karena egonya dia harus membuat kedua buah hatinya terluka. Sean sejak tadi berdiri mematung di ambang pintu kamarnya.
Anak kecil yang seharusnya tidak melihat adegan ini pun akhirnya melihat betapa kejamnya sang ayah.
"Maafkan ibu, sayang." Yasmin hendak memeluk Mentari.
Gadis itu menepisnya dan masih tetap dalam pelukan Rean sambil menangis. Suara tangisan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Bibi." Rain memeluk wanita itu, membawanya ke dalam rumah dan mendudukkan di sofa usang.
Rain menggendong tubuh gemuk Sean. Mendekapnya agar anak laki-laki itu merasa terlindungi.
__ADS_1
"Sean anak yang kuat. Sean nanti belajar bela diri ya sama Kak Rain." Rain berusaha memberikan ketenangan untuk Sean yang wajahnya sudah pucat pasi.
"Sean mau nangis? Menangislah, sayang!" Rain mengusap lembut kepala Sean.
Membuat anak laki-laki berusia lima tahun itu menangis. Jika ada Nevan, Sean selalu di tuntut untuk tidak menangis. Anak laki-laki itu harus kuat dan tidak boleh menangis.
"Ibu jahat, Kak!" Ucapan Sean mampu mengiris hati Yasmin.
Sungguh dia baru sadar jika luka Sean teramat dalam. Ini semua salahnya yang selalu mengesampingkan perasaan kedua anaknya dan mengedepankan ego.
"Sean, di dunia ini tidak ada ibu yang jahat. Ibu sudah melahirkan Sean ke dunia dengan bertaruh nyawa. Mana mungkin ibu jahat. Ibu selalu berusaha untuk tetap kuat meski tubuhnya lelah dan dia sedang sakit, tapi di hadapan kalian ibu menahan semua itu. Demi kalian. Ibu Sean wanita yang kuat. Dia rela begadang, menahan rasa kantuk dan lelah hanya demi Sean dan Kak Mentari supaya bisa makan dan bersekolah."
"Ibu selalu membiarkan ayah kemari dan memukul kami."
Rain terdiam, menatap Yasmin yang mulai menangis. Ucapan Rain sangat menusuk hingga ke relung hatinya yang terdalam.
"Ibu sangat menyayangi ayah. Ibu selalu berharap jika ayah akan datang dan menjadi ayah yang baik untuk Sean dan kak Mentari. Jadi ... Ibu selalu percaya. Ayah Sean saja yang jahat karena selalu berbohong. Sean, jangan pernah membenci seorang ibu karena dia telah berjuang untuk kita."
"Perjuangan seorang ibu tidak akan pernah bisa kita ukur dengan apapun. Sean harus selalu sayang sama ibu. Nanti ketika Sean besar nanti dan memiliki seorang istri Sean akan mengerti betapa besar perjuangan menjadi seorang ibu. "
Sean mengangguk dan melepas pelukan Rain. Anak itu langsung menghambur ke dalam pelukan Yasmin dan kembali menangis.
"Maaf, kalau Sean bilang ibu jahat!"
Rain tersenyum karena berhasil membujuk Sean. Anak itu memang sangat mudah di bujuk.
Sementara Mentari sudah terlelap di pangkuan Rean yang duduk di kursi teras. Dia lelah menangis. Mentari menggunakan seluruh energinya untuk mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini dia simpan.
Rean tetap mengelus punggung Mentari supaya gadis itu nyaman. Rean tidak perduli dengan rasa sakit akibat pukulan dari Nevan. Juga pundaknya yang pegal karena menjadi sandaran kepala Mentari.
Rain memilih keluar, membiarkan ibu dan anak itu berpelukan. Rain tahu jika seorang anak laki-laki, cinta pertamanya adalah ibu. Jadi Rain tadi memberikan pengertian kepada Sean agar suatu hari nanti dia tidak membenci perempuan dan malah menganggap semua perempuan itu jahat.
"Tidur?" bisik Rain.
Rean mengangguk. "Gue bawa ke kamar dulu." Rean berusaha untuk bangkit. Tubuh Mentari terlalu berat.
Rain membantunya dan Rean menggendong Mentari sampai ke kamar. Gadis itu hanya menggeliat dan akhirnya terlelap kembali. Setelah itu Rain mengobati luka Rean dengan hati-hati.
Yasmin membuatkan teh hangat untuk si kembar dan meletakkan di meja bersama kue bolu yang tadi pagi dia buat.
"Terima kasih, kalian sudah menolong kami."
"Bibi, sebaiknya terima tawaran papa," kata Rain.
Yasmin jadi teringat tentang pengaduan Damian. Dia beralih menatap Rean.
"Tuan Muda___"
"Bibi, sampai kapan kau memanggil aku Tuan muda! Panggil aku Rean!" protes lelaki itu yang sebenarnya menahan rasa perih di wajahnya.
"Oh, iya. Rean. Bibi mau tanya. Apa benar semalam kamu dan Mentari tidur bersama?"
Bersambung....
__ADS_1