
"Nelpon siapa, Bang?" tanya Rain. Membuat lelaki itu kaget.
"Eh, Neng." Lelaki itu tersenyum kikuk.
Tertangkap basah oleh anak bosnya yang benar-benar di luar dugaan. Dia kira tugasnya ini menangani anak Presdir yang centil atau suka menindas, karena katanya bikin kepala pusing. Nyatanya ... Gadis yang di hadapannya ini lebih ganas dari seorang bodyguard bapaknya.
"Jadi ... Papa yang nyuruh? Anda yang membocorkan semuanya?"
Rain terus menatap penuh intimidasi. Dia tidak mau jika Damian tahu kejadian malam ini. Bisa-bisanya dia kecolongan. Rain juga kesal kenapa Damian memberinya mata-mata. Selama ini dia ingin hidup tenang, rupanya sang Papa sudah mengibarkan bendera perang.
Kita lihat saja nanti, batin Rain berkata.
"Berapa gaji yang papa berikan?" tanya Rain.
"Li-lima puluh juta."
"Berikan rekeningmu!"
Lelaki berbadan gempal itu menelan ludahnya. Nyalinya benar-benar menciut. Gadis dihadapannya ini memiliki aura pembunuh berdarah dingin. Tentu saja dia tidak mau mati konyol karena tertangkap basah memata-matainya.
Dengan tangan gemetar dia memberikan ponselnya pada Rain. Tertera nomor rekening beserta namanya.
"Bapak Pramono! Siapa lagi yang bersama anda!"
"Nggak ada, Tuan Damian menugaskan saya saja," jawabnya dengan setengah ketakutan.
Rain mengetik sesuatu di ponselnya. Lalu ponsel milik lelaki bernama Pramono itu berbunyi. Tanda notifikasi masuk.
"Se-seratus lima puluh juta?" Pramono terkejut mendapati nominal uang yang Rain berikan.
Rain bukan anak yang menghamburkan uang bapaknya sesuka hati. Dia memiliki tabungan yang bahkan tidak akan pernah habis sampai dia kuliah nanti. Uang yang dia dapatkan dari hasil balapan dan menulis itu bernilai fantastis.
"Tentu anda tahu maksud saya!" Rain menepuk-nepuk pundak lelaki itu dan berlalu pergi.
Pramono mengangguk. Dia tidak jadi mengatakan kepada Damian tentang kejadian malam ini. Anggap semuanya baik-baik saja. Uang yang Rain berikan tentu sangat bermanfaat untuknya.
__ADS_1
"Terimakasih, Nona muda!"
Rain tersenyum miring sambil melambaikan tangannya.
Rean tersenyum melihat Rain yang melangkah mendekat.
"Apa kata gue!"
Mentari mengangguk, dia semakin mengagumi ketangguhan Rain yang bisa dengan mudah menghadapi semua masalah sendiri. Sesulit apapun. Mentari yakin, dia tidak butuh bodyguard untuk melindungi dirinya.
"Lo mau kemana lagi, Rain! Ini udah jam dua!"
"Ketemu papa. Pengen gue kasih pelajaran tuh orang!" kata Rain santai.
"Agak laen emang! Ini udah dini hari hampir pagi. Mending Lo pulang sekarang!"
Rain menatap Rean bergantian dengan Mentari. Dia baru sadar ada Mentari di depannya.
"Lo lebih laen! Nyulik anak orang!" Rain menggeleng pelan.
"Udah balik! Mentari nginep di apartemen! Lo lupa tadi siang?"
Mereka pun pergi meninggalkan pelataran rumah sakit menuju apartemen. Saat Mentari hendak ke kamar Rain, gadis itu sudah menutupnya juga mengunci kamar Rain. Agaknya dia lupa kalau ada gadis lain yang sejak tadi mengekor dibelakangnya.
Mentari menggeleng, dia memilih ke kamar Rean. Dimana lelaki itu sudah naik ke ranjang.
"Lho, kenapa balik lagi?"
"Rain lupa kalau ada aku." Mentari mengerucutkan bibirnya.
Rean terkekeh, lalu menepuk ranjang sebelahnya. "Kunci pintu lalu tidur sini!" perintahnya.
Mentari mengangguk, daripada dia tidak tahu harus tidur dimana kan? Sebaiknya tidur sambil memeluk lelaki itu malam ini saja. Sebelum dia sadar dari mimpinya. Mimpi mendapatkan lelaki tampan kaya raya seperti cerita novel-novel yang sering dia baca.
***
__ADS_1
Gwen duduk di kursi sebelah brankar Radit dengan menggenggam tangan lelaki itu. Kepalanya dia sandarkan di paha lelaki itu. Sambil terisak melihat keadaannya. Dimana lukanya cukup parah.
Bahkan Radit sedang dalam masa kritis. Sementara Fania memilih tidur di sofa. Pikirannya sudah lelah, dia juga mengantuk.
Rima sudah pulang bersama Alex. Dia tidak mau mamanya itu ikut sakit nantinya. Biarkan Fania dan Gwen yang menjaga Radit. Alex juga sudah mengirim pesan kepada Rain. Memohon dengan sangat dan meminta maaf supaya tidak diambil hati tentang ucapan dan perlakuan Rima. Dia tidak mau Radit ditolak di rumah sakit manapun. Mengingat siapa pemilik rumah sakit tersebut..
Entah mengapa Gwen mengklaim rumah sakit itu milik papanya. Agaknya gadis itu lupa jika rumah sakit tersebut bukan pemilik asli keluarganya. Alex tahu apa yang ada dipikiran gadis itu. Mendapatkan simpati dari Rima. Andai Rima tahu siapa Rain sebenarnya, mungkin Rima tidak akan memperlakukan Rain seperti tadi.
"Alex, suruh orang-orang kepercayaanmu untuk menjaga ruangan Radit supaya gadis miskin itu tidak menjenguknya."
Bahkan orang-orang kepercayaannya juga tidak mau jika harus melawan Rain. Mereka sudah tahu siapa Rain karena pernah bertemu dengan gadis itu saat penangkapan Arya.
"Ada yang perlu mama tahu," kata Alex sambil mengemudikan mobilnya.
Rima diam menyimak ucapan Alex, putra semata wayangnya ini.
"Rain itu putra dari Damian Klopper. Dia juga pemilik rumah sakit tersebut."
Tubuh Rima sempat menegang, tapi dia menepis semua itu. Alex pasti bohong, dia pasti sedang membuat dirinya takut supaya mau menerima gadis itu. Tidak, itu tidak akan terjadi.
"Omong kosong! Mama akan menyuruh orang untuk menjaga tempat Radit di rawat! Kamu ini selalu saja tidak becus!"
Alex memilih diam saja, dia pasti akan kalah jika berdebat dengan sang mama. Lebih baik dia menunggu hari itu tiba. Dimana Damian akan mengatakan jika Rain adalah putrinya di semua media. Alex tentu saja tahu, karena sebelum itu Damian meminta pendapatnya.
***
Bara terus mencari informasi tentang Rain, anehnya tidak menemukan apapun. Gadis itu cukup pintar menyembunyikan identitasnya. Bahkan akun sosial medianya pun tidak ada postingan terbaru. Hanya ada postingan foto terakhir kali lima bulan yang lalu. Benar-benar gadis yang unik.
Bara berkali-kali memejamkan kedua matanya, tapi dia tidak bisa melakukan itu karena terus kepikiran Rain. Dia berniat untuk pindah ke sekolah gadis itu. Supaya bisa melihatnya setiap hari.
Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini dengan seorang gadis. Hanya sekadar bermain dan memuaskan napsunya saja. Semua gadis dimatanya itu adalah gadis murahan. Ya, gadis yang mendekatinya itu selalu rela melakukan apapun yang dia mau. Jadi Bara tidak pernah benar-benar mencintainya.
Ketika melihat Queen ... Dia merasa kagum meski tidak tahu bagaimana wajah gadis itu. Dia kagum karena bisa membungkam Rafa yang tengil dan selalu merasa menang. Lalu saat melihat Rain ... Dia takjub ada gadis langka seperti itu. Ah, saat tahu Queen adalah Rain, hatinya semakin memaksa untuk bisa memiliki gadis sepertinya.
"Rain ... Gue nggak akan pernah lepasin elo!" gumam Bara yang kemudian terpejam.
__ADS_1
Bara tetaplah Bara. Apapun yang dia inginkan akan selalu dia dapatkan. Bagaimana pun caranya.
Bersambung ....