
Rain masuk ke dalam perpustakaan. Mencari novel terbaru dan mengambilnya. Dia duduk di tempat yang sudah menjadi favoritnya itu. Bangku dan meja yang menghadap ke jendela dan hanya muat untuk dua orang saja. Rain memang lebih menyukai kesunyian ketika sedang membaca novel.
Namun, rupanya dia tidak akan bisa menikmati kesunyian itu ketika ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Rain mengerutkan keningnya ketika melihat siapa orang yang duduk di sebelahnya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rain heran.
Lelaki itu mengangkat komik yang dipegangnya. Lalu duduk dengan santai membaca komik tersebut tanpa perduli omelan dari Rain.
"Lo nggak bisa cari tempat lain gitu? Harus banget di sini!"
Lelaki itu tetap mode diam.
"Biasanya Lo milih godain cewek daripada ke perpus!"
"Mending pergi deh. Ganggu aja!" Meski kesal Rain kembali melanjutkan membaca.
Percuma juga mengusir lelaki itu, karena dia malah asyik membaca komik. Jadi Rain melanjutkan kembali membaca daripada membuang waktunya.
"Udah ngomongnya?" tanya Kenan.
Rain hanya melirik saja. Dia jadi tidak fokus membaca karena sedang emosi.
"Perpus kan tempat umum. Siapa aja juga boleh masuk dan bebas duduk dimana aja!"
"Ini tempat gue!"
"Memang ada ya tempat khusus gitu? Apa harus jadi member dulu?"
Rain memutar kedua bola matanya, "Serah deh! Males gue!" Rain bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" Kenan menarik pergelangan tangan Rain.
"Bukan urusan Lo!"
Kenan tersenyum dan memilih mengikuti langkah gadis itu. Sebenarnya dia tidak suka membaca, melihat Rain ke perpustakaan Kenan jadi berinisiatif ke sana. Apapun caranya akan dia lakukan untuk memperjuangkan cintanya. Memang penyesalan itu datang di akhir tapi tidak ada salahnya kan untuk memperbaiki semuanya.
Sebelum janur kuning melengkung tentu saja Rain bukan milik lelaki manapun.
"Lo ngeselin ya, Ken!" Rain mencebik ketika minumannya dihabiskan oleh Kenan.
Lelaki itu hanya mengangkat kedua bahu.
"Bayar sendiri!" Rain memilih pergi ke taman belakang. Moodnya sedang tidak bagus.
Rain duduk di bangku taman sambil membaca novel yang dia pinjam tadi. Tiba-tiba pipinya terasa dingin karena ada yang menempeli minuman kaleng. Rain mendongak, menatap siapa yang sedang menjahilinya.
"Sorry, tadi gue udah abisin minuman Lo. Sekarang gue ganti!"
Rain tidak mengambil minuman itu, dia kembali fokus membaca.
"Aman, nggak gue kasih racun kok!"
"Gue minta maaf karena bikin Lo kesel!"
Kenan terus saja mengatakan maaf sambil berpindah-pindah posisi. Duduk di sebelah kanan Rain, lalu ke kiri, jongkok, lalu di belakang Rain sambil memijit pundak gadis itu. Kembali duduk di sebelah kanan Rain dengan wajah memelasnya. Lelah mengganggu Rain, tapi gadis itu sama sekali tidak terusik.
"Ya udah deh kalau Lo nggak mau maafin gue!" Kenan akhirnya mengalah.
Rain mengulum senyum melirik Kenan yang duduk dengan kepala tertunduk lesu. Wajah cemberutnya itu sangat menggemaskan dan membuat Rain ingin mencubitnya. Entah mengapa setelah berdamai dengan semuanya, kebencian terhadap Kenan menghilang. Apalagi Rain ingat betul permohonan Rain asli untuk menjaga Kenan.
Rain asli memang aneh, seharusnya ya perempuanlah yang harus dijaga ini malah laki-laki.
Tangan Rain terulur untuk menarik pipi Kenan. Membuat lelaki itu meringis.
"Sakit, Rain!"
"Hahaha .... Lagian ngeselin!"
Kenan mengelus pipinya yang terasa sakit karena cubitan Rain. Namun, dia tersenyum karena Rain tidak lagi marah padanya. Gadis itu sedang meneguk minuman yang dia berikan dan tersenyum manis kepadanya.
"Lo maafin gue kan?"
"Iya!"
Kenan merasa lega karena Rain tidak marah lagi. Memang dia akui sikapnya tadi sangat konyol. Ingin mendekati gadis itu tapi malah membuatnya kesal.
"Rain?"
"Ya?"
Kenan memandangi wajah Rain yang sedang fokus pada novelnya. Debaran jantung yang bertalu-talu itu memang selalu hadir ketika sedang bersama Rain. Meski dia akui baru menyadari perasaan itu. Entah kenapa dulu Rain selalu dia sakiti dengan bergonta-ganti pacar hanya karena ingin membuat Rain benci padanya dan membatalkan pertunangan itu.
Sekarang ... Dia menyesal.
"Gue ...." Kenan berdehem karena dia gugup untuk mengatakannya.
Gestur Rain sekarang ke arah Kenan. Dia meletakkan novel di sebelahnya yang kosong.
"Em ... Ada nggak sih kesempatan buat gue?" Akhirnya Kenan bisa mengatakan itu.
"Lo lupa ucapan gue ketika minta Lo tetap di sini?"
Kenan menggeleng. "Itu artinya ... Gue masih ada kesempatan buat deket sama Lo?"
"Ya." Rain yakin ini jalan terbaik, selain melupakan perasaannya kepada Radit, dia juga harus menjaga perasaan Tante Gina.
Tante Gina yang tahu jika hubungan pertunangan mereka ini masih baik-baik saja. Sewaktu-waktu akan drop jika tahu hal yang sangat mengejutkan. Bahkan Tante Gina juga sudah membuat disain gaun pengantin untuknya. Rain sudah pasrah jika harus berpisah dengan Radit. Toh sebentar lagi mereka akan berpisah karena Radit melanjutkan kuliah di luar negeri.
"Jadi ... Gue boleh ajak Lo kencan?" tanya Kenan hati-hati.
"Buat gue senyaman mungkin maka gue akan pertimbangkan tentang pertunangan ini!"
Meski berat tapi amanah pemilik tubuhnya tetap harus dia laksanakan. Rain akan mencoba membuka hatinya. Meski dia tidak yakin itu. Mencintai Radit saja Rain masih ragu, karena dia merasa nyaman di dekat lelaki itu. Rain belum pernah merasakan jatuh cinta jadi dia ragu dengan perasaannya sendiri.
Rain sudah pergi ke kelas meninggalkan Kenan dengan hati yang berbunga-bunga. Kenan meras lega karena Rain tidak lagi mengibarkan bendera perang. Kesempatan yang gadis itu berikan akan Kenan gunakan sebaik mungkin.
***
"Anjiiirr! Jadi kambing congek gue!" protes Rain ketika duduk di sofa.
Melihat Rean yang sedang disuapi Mentari. Gadis itu gugup kemudian meletakkan kembali mangkuk berisi salad buah itu.
"Rain mau?" tawar Mentari.
"Ogah! Mending kalian berdua nonton di kamar! Di sini tempat gue!" usir Rain yang langsung membuka laptopnya dan mematikan televisi yang sedang menampilkan film romantis itu.
Rean menarik tangan Mentari dan mengajaknya ke kamar. Mentari menatap Rain bingung. Entah kenapa Rain sejak tadi memang uring-uringan.
"Biarin aja, dia emang suka kumat gitu!"
"Kumat? Memang Rain sakit?" tanya Mentari.
__ADS_1
Rean terkekeh, "Iya, sakit kalau liat orang bahagia. Kewarasannya suka terganggu!" kata Rean santai.
Tentu saja Rain mendengar hal itu.
"Rean!" Rain melempar bantal sofa dan mengenal perut lelaki itu.
"Sekali lagi bilang yang enggak-enggak gue patahin tangan Lo!"
Rean menarik Mentari untuk berlari. Keduanya tertawa meski Mentari masih heran kenapa Rain marah-marah terus. Kemanapun Rean dan Mentari berada selalu di usir oleh Rain.
Sekarang Rean memilih menonton film di kamarnya. Tentu saja lelaki itu akan sangat senang menghabiskan waktu berdua di kamar apartemennya tanpa gangguan Rain. Rean juga sudah mengunci pintunya.
"Apa Rain baik-baik saja?"
"Dia lagi patah hati. Nanti juga baikan. Biarin aja udah!"
Mentari mengangguk. Lalu kembali menyuapi Rean salad buah.
"Gue mau minum!"
"Aku ambilin ya!" Mentari yang hendak bangkit pun ditahan oleh Rean.
"Minum itu!" Rean menatap ke arah dada Mentari.
"Oh, baiklah!" Meski wajahnya bersemu merah, Mentari tetap saja membuka kancing pakaian yang dia kenakan.
Mentari tidur miring dan membiarkan Rean menikmati bongkahan kenyal dengan topping cery itu. Seperti bayi yang kehausan.
"Ayah Lo masih suka gangguin nggak?" tanya Rean di sela-sela menyusu.
"Nggak kok!" Sejak Rean membuat sang ayah babak belur, Mentari merasa lega karena lelaki yang seharusnya menjadi cinta pertamanya itu tidak lagi datang.
"Ssh, sakit, Rean!"
Seolah tidak perduli dengan ucapan Mentari, Rean menyesap cery itu dengan kuat. Satu tangannya meremas bongkahan kenyal yang menganggur. Sesekali mencubit topping cery itu. Memberikan sensasi aneh dalam tubuh Mentari. Dia ingin menolak tapi tubuhnya meminta hal lebih dari ini.
"Rean?"
"Hmmm."
Jemari Rean semakin gemas bermain di area bongkahan kenyal dengan ukuran yang pas di telapak tangannya.
Rean meraih bibir ranum Mentari setelah puas menikmati dua topping cery itu. Mentari sudah tidak sekaku kemarin saat pertama kali berciuman dengannya. Rean bisa leluasa menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Mentari. Menjelajahi gigi juga rongga mulutnya. Rean tidak perduli jika Mentari kehabisan pasokan oksigen. Lelaki itu terus saja menikmati bibir ranum yang menjadi candu. Kedua tangannya juga sibuk bermain di bongkahan kenyal yang menggemaskan.
"Rean ...." Mentari kembali melenguh ketika ciuman Rean beralih ke leher Mentari. Memberikan jejak merah yang tersembunyi.
"Suka?" bisik Rean sambil menjilati telinga Mentari.
Mentari mengangguk, akal sehatnya sudah tidak berfungsi lagi. Dia haus akan sentuhan Rean.
Sepertinya senja akan menjadi saksi bisu kisah romantis Rean dan Mentari. Membawa mereka ke dalam peluh kenikmatan yang tiada tara. Membawa mereka terbang ke langit ketujuh bersama rasa lega yang tidak pernah Mentari rasakan.
Sementara Rain sudah pergi dari apartemen sejak tadi. Kini dia menikmati secangkir cappucino hangat bersama kekasihnya. Wajah yang semula kesal kini berubah ceria kembali kala pujaan hatinya mengajak untuk bertemu. Sejak kemarin Rain harus mengalah waktu karena Radit harus menuruti perintah grandma Rima yang mengajak Radit bertemu Gwen.
"Gimana makan malamnya?" tanya Rain.
"Biasa aja. Aku lebih suka bareng sama kamu, sayang!"
Rain tersenyum, dia sudah menduga itu. Radit memang selalu berkata untuk menolak perjodohan tapi dari matanya Radit menyimpan keraguan. Entah apa yang membuatnya bimbang.
"Gwen itu ... Kata kamu dulu sekolah di luar negeri. Terus kenapa sekarang pindah?"
Radit mengangkat kedua bahunya. "Bisa nggak sih kalau kita jangan bahas dia?" protes Radit.
"Iya deh. Bentar lagi kan kamu ujian. Semangat ya! Setelah aku selesai ujian juga gimana kalau kita liburan?"
"Itu baru aku suka. Kamu mau liburan kemana?"
"Villa punya papa aja. Di sana pemandangan bagus apalagi dekat pantai. Kita bareng-bareng aja."
Radit mengangguk setuju. Ada baiknya dia berlibur dengan Rain supaya bisa melepaskan penat setelah ujian akhir nanti.
"Nanti malam ada balap, aku pengen kamu nonton aja ya. Ini urusan aku sama Bara."
Rain mengangkat alisnya. Tumben sekali Rain tidak boleh ikut. Biasanya Radit akan mendukung dan paling semangat kalau Rain ikut.
"Kenapa?"
"Masalah cowok. Kamu tenang aja!" Radit menggenggam tangan Rain.
"Ya udah. Aku liatin kamu sama kasih semangat ya!"
"Iya."
Meski sebenarnya Rain penasaran dengan masalah mereka. Namun, gadis itu memilih menurut saja. Sepertinya masalah cukup serius antar sesama geng motor.
Marvels mengedarkan pandangan untuk mencari bangku kosong. Tatapannya tertuju pada Radit. Ada dua bangku kosong di sana. Mau tidak mau dia harus bergabung dengan kencan Radit. Kafe ini sangat ramai dan semua bangku sudah penuh.
"Kita ke sana aja gimana?" ajak Marvels pada temannya.
Gadis itu menatap ke arah telunjuk Marvels. Ada Radit dan kekasihnya. Gadis itu tersenyum miring.
"Radit lagi kencan. Gue takut ganggu mereka." Gwen menundukkan kepala.
"Udah tenang aja. Ayo!" Marvels menggenggam tangan Gwen dan berjalan ke arah Radit.
"Hay, boleh kita gabung? Semua bangku penuh."
Radit menoleh, dia terkejut karena ada Gwen bersama Marvels. Sementara Rain merasa tidak nyaman karena kedatangan Gwen. Dia juga merasa minder setelah melihat Gwen secara langsung.
"Duduk aja!" kata Rain.
Dia tidak boleh menunjukkan rasa kesal bercampur cemburu itu. Rain akan selalu menunjukkan kemenangannya. Meski tunangan tapi Radit tetap memilihnya. Egois sedikit boleh kan?
"Hay, gue Gwen. Temen Radit!" Gwen melirik ke arah Radit.
Rain membalas uluran tangan Gwen.
"Rain!"
"Jadi ini cewek kamu yang sering kamu ceritain?"
Kamu? Rain jadi curiga jika mereka memiliki hubungan. Radit bilang nggak kenal dan baru ketemu beberapa kali aja. Terakhir ketemu juga pas mereka sama-sama usia sepuluh tahun. Namun, dari cara Gwen berbicara kepada Radit seperti berbeda.
"Iya."
"Cantik ya. Pantes aja Radit jadi cowok setia sekarang!"
"Memangnya dulu Radit playboy ya?" tanya Rain.
"Gwen, Lo mau pesen apa? Malah ngobrol!" Marvels mengalihkan pembicaraan karena suasana sepertinya tidak kondusif.
__ADS_1
"Gue ikut Lo aja." Gwen kembali menatap Rain. "Tadinya gue ke sini sendiri. Kebetulan ketemu sama Marvels. Ya udah bareng aja. Eh bangku penuh. Kita nggak sedang ganggu kalian kencan kan?"
"Nggak, santai aja!" sahut Rain kembali ke mode dinginnya.
Dia tidak akan terpancing oleh Gwen.
Suasana meja itu menjadi sunyi. Meski Gwen terus menatap wajah Radit. Perasaannya dulu kepada lelaki itu selalu muncul. Pandangan Gwen terpaku pada bibir Radit yang kemerahan. Dimana bibir itu pernah Gwen rasakan.
"Kalian udah lama pacaran?" tanya Gwen memecah keheningan.
"Lumayan!" Rain menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Wah seru dong. Biasanya Radit nggak betah sama satu cewek. Kayaknya sejak kenal Lo Radit jadi___"
"Lo mending pergi deh dari sini!" usir Radit.
"Dit, jangan kasar apa sama cewek!" protes Marvels.
Radit menghela napas, "Mending Lo bawa nih cewek pergi. Ganggu orang aja!" Radit menatap tajam Gwen.
Sementara Gwen kedua matanya sudah berkaca-kaca. Marvels yang melihat itu segera menarik tangan Gwen untuk pergi saja.
"Lo bener-bener ya, Dit!" Marvels menggeleng pelan. "Gwen nggak salah apa-apa Lo bentak gitu!" Marvels pun pergi dengan memeluk pinggang Gwen. Gadis itu sudah terisak.
"Jadi benar kata dia?" tanya Rain selepas kepergian dua orang tadi.
"Radit itu cowok playboy?" Tatapan Rain penuh intimidasi. Membuat Radit kelabakan menjawabnya.
"Eng-enggak kok, dia memang suka mengada-ada! Kamu percaya sama dia?"
Rain menggeleng dan memilih untuk mengakhiri kecurigaannya.
**
Damian sejak tadi disibukkan oleh urusan pekerjaannya. Dia sampai lupa jika harus mengadakan konferensi pers tentang pengumuman putrinya yang sama sekali belum pernah terekspos media itu. Rain harus keluar dari tempat persembunyiannya. Ini sudah saatnya dia muncul dan menunjukkan pada dunia siapa Rain sebenarnya.
Selain itu Damian juga ingin menebus semua kesalahan dimasa lalu. Meski hubungannya dengan Rain baik-baik saja tapi Damian tetap dihantui rasa bersalah. Bayang-bayang tentang dia sering melakukan kekerasan dulu terus berputar. Apalagi sekarang Rain memilih tinggal di apartemen. Membuat Damian semakin dihantui rasa bersalah. Damian merasa jika Rain menghindari dirinya.
"Apa aku mengganggu?" tanya Rain dibalik pintu dan hanya terlihat kepalanya saja.
Kebetulan sekali gadis itu datang. Setidaknya Damian bisa kembali fokus bekerja. Pikirannya sejak tadi kacau karena Rain tidak menghubunginya selama dua hari.
"Oh, astaga! Kemana saja kamu, Rain!" Damian memeluk erat putrinya itu.
"Apartemen. Ada apa?" tanya Rain.
"Papa takut kamu marah. Sampai Papa tidak fokus bekerja."
Rain duduk di kursi kebesaran milik papanya itu. Dia berputar-putar sambil tertawa. Begitu saja sudah sangat bahagia.
Damian menggeleng pelan melihat tingkah putrinya ini.
"Mana ada aku marah. Aku hanya sedang sibuk saja!"
"Bagaimana dengan novelmu?"
Rain berhenti berputar dengan kursi kerja Damian. Dia menatap heran Damian. Darimana Damian tahu soal itu?
"Papa tahu darimana kalau aku nulis novel?"
"Rean."
Rain mencebik, mengumpati Rean di dalam hatinya. Benar-benar cepu.
"Ya aku sibuk dengan novel-novelku."
Damian duduk di sofa begitu juga dengan Rain. Kepalanya mendadak pusing seperti habis naik rollercoaster. Efek berputar pada kursi tadi sepertinya.
"Jadi kamu setuju kan dengan pengenalan itu? Papa nggak mau orang menghina kamu lagi? Ayolah Rain, tunjukan ke semua orang siapa kamu! Jangan bersembunyi seperti ini!"
"Apa aku juga harus bilang siapa Queen itu?"
Damian mengernyit. Apa maksudnya? Siapa lagi Queen?
"Aku nyaman dan malas juga harus berurusan dengan berita di luar sana, papa! Nanti gerak-gerik aku terpantau!"
"Mana ada, buktinya Rean baik-baik saja!" Damian terus mendesak.
"Ya ya ya. Baiklah. Itu terserah papa saja."
"Anak pintar!" Damian menciumi wajah Rain dengan gemas.
"Apa papa tahu? Putri kesayangan papa itu hamil!"
"Siapa yang menghamilimu, Rain?" Damian tersentak kaget, rahangnya mengeras dan dia sudah menggulung lengan kemejanya sebatas siku.
Rain tertawa, "Livia, papa. Bukan aku! Ish, papa ini. Mana ada aku hamil di luar nikah. Gini-gini bisa jaga diri!" kata Rain sombong.
Damian menghela napas lega. Dia pikir Radit telah menghamili putri satu-satunya ini. Kalau sampai itu terjadi, Damian tidak akan segan-segan menghukum lelaki itu sebelum memintanya untuk bertanggung jawab.
"Maafkan Papa ya, dulu selalu membandingkan kamu dengannya." Damian mengelus rambut Rain.
"Sudah lupakan. Maaf aku salah bicara. Rain kemari hanya untuk memenuhi keinginan papa. Jadi sebenarnya apa yang terjadi?"
Damian mengubah posisi duduknya. Kini dia menatap Rain dan siap menginterogasi putrinya itu. Ditatap seperti ini Rain merasa hawa tidak enak. Tatapan Damian seperti sedang mengulitinya.
"Jadi benar kamu suka ikut balapan? Entah liar maupun resmi!"
Glek
Susah payah Rain menelan salivanya. Benar-benar menyebalkan orang yang mengatakan hal ini kepada papanya itu. Siapa yang sudah mengadukan ini. Apa itu Rean? Kalau iya, Rain sudah tidak sabar untuk memberikan tinju pada wajah lelaki menyebalkan itu.
"Siapa bilang?"
"Jadi ini alasan kamu tinggal di apartemen, hm?"
Rain berusaha tetap tenang, dia menatap kedua mata Damian supaya lelaki itu tidak curiga. Dia tidak boleh gugup.
"Nggak, Pa. Rain pengen aja di apartemen. Soalnya Rean suka bawa temen-temennya jadi Rain nggak merasa kesepian."
"Jangan bohong, Rain. Papa tahu kalau kamu kemarin ikut balapan liar!"
Damian tidak habis pikir dengan putrinya ini. Kenapa bisa berubah drastis setelah mengalami amnesia. Tiba-tiba bisa bela diri dan juga ikut balapan motor. Ya memang Damian lebih suka jika Rain bisa bela diri, itu artinya dia bisa menjaga dirinya sendiri daripada Rain dulu yang selalu lemah dan mudah di tindas.
" .... Tapi ya nggak begini juga!" Tiba-tiba Damian bermonolog. Membuat Rain terheran-heran.
Damian memijit pelipisnya yang pusing.
"Kenapa kamu jadi brutal begini?" Damian terus memandangi Rain tidak percaya.
Sementara Rain hanya nyengir saja. Mau bagaimana lagi? Dia juga sudah tidak bisa berbohong. Damian pasti juga menyelidiki gerak-geriknya sekarang. Mungkin juga Rean yang mengatakan itu. Sedari tadi pikiran Rain tertuju pada lelaki itu dan ingin segera memberikan pukulan mautnya. Rain tidak segan-segan mencekoki lelaki itu racun. Benar-benar menyebalkan. Kembaran macam apa itu!
__ADS_1
Bersambung ....