
WARNING: Bacanya pelan-pelan aja ya, bila perlu di eja. Dikit soalnya!
🦋🦋🦋🦋🦋
"Kita ngapain di sini?" tanya Rain, karena Bara membawanya ke rooftop.
Mereka berdua membolos pelajaran matematika yang memang sangat membosankan itu. Apalagi sang guru jika menjelaskan pelajaran itu membuat para muridnya mengantuk.
Bara duduk di kursi panjang dan menatap Rain dengan lekat. Dia sebenarnya sedang suntuk juga ingin merokok untuk menghilangkan semua beban pikirannya sesaat.
"Lo benci asap rokok nggak? Atau Lo ngerokok juga?" tanya Bara, takut saja jika nanti dia sedang asyik merokok Rain ngomel.
Rain menggeleng, "Gue nggak suka ngisep nikotin!" jawab Rain.
Bara memasukkan kembali bungkus rokok ke dalam saku celananya. Dia sudah paham dengan jawaban Rain. Jika tidak merokok tentu tidak menyukai asapnya.
"Berarti Lo suka ngisep yang lain dong!" goda Bara dengan seringaian.
"Otak Lo harus di cuci!" Rain menyentil kening Bara.
Bara pun terkekeh, begini saja sudah membuat sedikit pikirannya lega.
"Lo nggak jadi ngerokok?"
"Takut Lo keganggu sama asepnya!"
Rain menepuk-nepuk pundak Bara, "Bagus, itu baru lelaki baik. Lo ada masalah ya?" tebak Bara.
"Kenapa Lo nggak mau tunjukkin siapa Lo pas acara launching nanti?"
"Belum saatnya, karena gue punya rencana sendiri!"
Bara menatap kagum gadis itu. Siapa coba yang nggak makin jatuh cinta pada gadis mandiri dan multitalenta seperti Rain? Bara heran dengan laki-laki yang pernah dekat dengan Rain. Semua mengecewakannya. Bahkan secara terang-terangan pula.
Bara jadi membayangkan jika suatu hari nanti Rain bisa menjadi miliknya, maka Bara akan langsung melamar gadis itu dan menikahinya secepat mungkin. Dia nggak mau nanti Rain pergi. Itu juga bukti keseriusan Bara, karena Bara yakin jika Rain trauma dengan hubungan sebatas pacaran.
"Rencana Lo nikah sama gue?" ujar Bara sambil menaik turunkan alisnya.
"Ogah amat nikah sama cowok yang masih nungguin cewek bunting!" Rain memilih duduk di pinggir pembatas bangunan itu saja daripada harus berdekatan dengan Bara yang ada otaknya makin nggak waras.
"Jadi kalau misal itu cewek nggak bunting anak gue ... Lo mau nikah sama gue kan?" Bara kembali membahas itu, dia berharap jika mendapatkan lampu hijau dari gadis yang baru di kenalnya.
Rain diam dan enggan menanggapi pertanyaan Bara yang menurutnya konyol itu.
"Kalau Lo diem berarti jawaban Lo ... Iya!"
"Gue nggak suka cowok brengsek!" ketus Rain.
Dua kali di sakiti oleh cowok itu ... Membuat Rain malas untuk kembali jatuh cinta. Dia takut jika suatu hari nanti kembali membuka hatinya dan harus merasakan sakit lagi. Meski sebenarnya memang jika seseorang sudah mau menjalin sebuah hubungan asmara tentu saja harus siap jika sewaktu-waktu merasakan patah hati. Rain tahu, jika cinta itu menyakitkan. Dia sudah merasa nyaman kepada Radit dan menaruh harapan besar pada lelaki itu untuk menjadi jodohnya. Sekarang ... Harapan itu sirna berganti rasa kecewa yang luar biasa dalam.
"Gue cowok baik-baik, Queen. Kalau soal mantan gue yang banyak, terus gue nggak pernah cinta sama mereka itu karena mereka aja yang ngejar gue. Jujur deh nggak gue apa-apain anak orang. Kalau Lo nggak percaya gue buktiin kalau gue masih perjaka!"
Rain melempar sepatunya tepat mengenai kaki panjang lelaki itu.
"Sebenarnya Lo ngajak gue bolos terus ke sini mau bahas apa sih!" Rain mulai kesal karena Bara makin ngelantur.
Bara nyengir dan dia melambaikan kedua tangannya.
"Ya maaf, gue cuma mau ajak Lo santai aja. Soalnya muka Lo asem kayak ketek gue!"
"Bara!! Lo bener-bener ye!"
Bara segera berlari ketika Rain akan melempar sepatunya lagi. Gadis itu sekarang nyeker sambil mengejar Bara.
"Sini nggak Lo!" Bara berjongkok di balik tembok dekat pintu rooftop dengan wajah yang takut.
"Ampun, Queen! Gue bercanda doang tadi. Biar Lo sedikit terhibur!"
"Jadi ini ketua geng liol? Begini aja takut!" Rain tersenyum mengejek.
Bara segera bangkit dan merapikan seragamnya. Bibirnya mencibir, dia jadi merasa malu karena hal konyolnya yang bersembunyi itu. Jujur dia takut kalau Rain marah sebenarnya.
"Dah lah gue pengsiun aja jadi leader geng liol. Lo aja sono, bobol identitas orang aja gue nggak bisa!"
Rain tertawa puas melihat wajah cemberut Bara. Menurutnya lucu sekali. Dulu Rean dan Radit sangat takut ketika Bara muncul. Mereka was-was kalau Bara kembali merusuh. Bara juga ditakuti geng lain, tapi entah mengapa dimata Rain sekarang laki-laki itu menggemaskan dan tidak seram sekali. Bahkan sikap dingin laki-laki itu juga tidak terlihat.
Rain tidak sadar saja kalau saat bersamanya Bara sedang cosplay jadi lelaki yang nyaman buat Rain.
"Puas ketawanya?" tanya Bara dengan wajah datar.
Rain memegangi perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa. Sudah lama juga dia tidak tertawa puas.
"Sorry deh. Udah jangan cemberut. Masa cowok yang ditakuti banyak orang gini cemberut!" Rain mencubit kedua pipi Bara.
"Ya habisnya lo__"
"Jadi kalian di sini?" Suara seorang lelaki membuat keduanya menoleh.
Rain yang belum menurunkan tangannya dari pipi Bara dan laki-laki itu tidak sadar jika pipinya dicubit. Kedua manusia itu melongo, dengan kedatangan laki-laki itu.
"Kenan?" Rain langsung melepas kedua tangannya di pipi Bara.
__ADS_1
Laki-laki itu pun langsung mengusap kedua pipinya yang terasa sakit. Dia mendengus kesal karena kedatangan Kenan. Mengganggu saja!
"Kalian ngapain di sini?" tanya Kenan dengan raut wajah datar.
Sungguh hatinya sedikit nyeri melihat kedekatan Bara dan Rain. Kenan tahu jika hubungan Radit dan Rain sudah putus, Kenan berniat untuk mendekati Rain lagi. Kenan berniat untuk ke kelas Rain, kebetulan semua kelas kosong selama tiga puluh menit karena guru sedang ada rapat dadakan. Kenan ingin memberikan cokelat kesukaan Rain. Kenan hanya mendapat kekecewaan ketika Rean bilang Rain membolos bersama anak baru.
Kenan mencari keberadaan Rain. Dia pikir Rain sendiri, rupanya gadis berhidung mancung itu sedang bersama Bara. Rival Kenan.
Agaknya memang sangat sulit untuk mendekati Rain lagi. Kesalahan yang fatal dan membuat gadis itu membencinya. Rasa benci yang mengakar dan tidak akan pernah bisa hilang. Itu yang ada di pikiran Kenan.
Kenan juga mengira jika Rain kemarin-kemarin baik padanya karena ada Gina. Gadis itu tidak mau membuat Gina bersedih. Padahal Rain sudah memaafkan semua kesalahan Kenan dan mencoba untuk menjalin hubungan pertemanan dengan lelaki itu.
Beberapa hari belakangan, Rain tidak pernah datang ke rumah Kenan untuk menjenguk Gina. Biasanya seminggu sekali Rain akan datang untuk menanyakan kabar mama Kenan. Rain sangat sibuk karena kafenya. Namun, Kenan berpikir jika Rain mulai menjauhinya karena tahu jika laki-laki itu mulai menaruh rasa padanya.
"Apa yang kita lakukan di sini? Kita sedang menikmati sarapan sambil menonton televisi!" sahut Bara, menirukan gaya bicara tokoh kartun spons kuning.
Rain memutar kedua bola matanya malas, sementara Kenan mengedarkan pandangan untuk melihat apakah ada televisi dan makanan. Akan tetapi tidak ada apa-apa di rooftop ini. Hanya ada meja dan kursi saja.
"Lo jangan percaya sama omongan dia!" Rain melirik ke arah Bara.
Sementara laki-laki itu duduk sambil memainkan ponselnya.
"Lo berdua kalau mau pacaran silahkan. Anggap gue nggak ada! Gue lagi cosplay jadi manusia tak kasat mata nih!" Bara berjongkok di bawah meja.
Kenan membulatkan matanya, melihat tingkah Bara yang agak aneh gitu. Kenan langsung mengambil kesempatan saja untuk menarik tangan Rain dan memberikan lima batang cokelat di telapak tangannya.
"Buat gue?" tanya Rain.
Kenan mengangguk.
Rain pun terlihat berbinar. "Aaaa... Makasih banyak!" Rain spontan memeluk Kenan.
"Ehm ...." Bara berdehem.
Membuat Rain langsung melepaskan pelukannya. Dia juga tidak sadar peluk itu laki-laki karena saking girangnya dapat cokelat banyak.
"Sorry!"
"Nggak apa-apa. Gue denger dari Rean ... Lo akhir-akhir ini capek banget ya sama urusan kafe?" tanya Kenan.
"Ya, Lo tahu sendiri kalau gue nggak minta bantuan siapapun. Semua gue urus sendiri!" Rain membuka salah satu bungkus cokelat pemberian Kenan.
Dia duduk di kursi panjang, sebelah meja tempat persembunyian Bara. Kenan juga menyusul duduk di sebelah Rain.
"Lo emang keren ya! Semoga sukses sama kafenya. Nanti pas launching gue pasti bakal dateng."
"Dateng aja! Cobain deh menu di sana. Banyak diskon juga!" ujar Rain sambil mengunyah cokelat kesukaannya.
"Gue ke kelas dulu ya!" Kenan mencubit hidung mancung Rain.
Gadis itu tidak perduli karena asyik makan cokelat. Bara sebenarnya menahan rasa kesalnya. Dia heran dengan perasaannya sendiri. Kenapa setiap Rain dekat dengan lelaki lain, rasa ingin memberikan bogem pada lelaki itu.
Bara mengambil satu batang cokelat yang Rain letakkan di meja.
"Pantes cowok gampang bohongin Lo, cuma di kasih cokelat gini Lo langsung luluh. Gue bisa beli sepuluh sekaligus biar Lo mau jadi pacar gue!" ucap Bara yang langsung di tendang kakinya sama Rain.
"Lo kalau ngomong bisa di filter nggak sih?" kesal Rain. Dia langsung menyumpal bibir Bara dengan cokelat.
"Sekali Lo nilai gue yang terkesan rendah karena cokelat, jauh-jauh deh!"
Rain meletakkan semua cokelat itu. Hatinya benar-benar memburuk. Bara terkesan merendahkannya.
"Eh, kok marah sih? Jangan marah, Queen!" Bara mengerjar gadis itu.
Rain tidak perduli dengan Bara yang terus memanggil. Dia terus berjalan hingga ke taman belakang sekolah yang menjadi tempat favoritnya ketika bolos sekolah. Di sana dia selalu menikmati kesunyian karena tempat itu jarang di lewati siapapun.
Saat itu langkah Rain terhenti ketika mendengar suara aneh. Bara jadi ikut berhenti dan tanpa sengaja menabrak tubuh Rain.
"Anj__"
Rain menutup mulut Bara agar tidak bersuara.
"Sstt! Lo denger nggak?" bisik Rain.
Bara menajamkan pendengarannya untuk mendengar lebih jelas suara apa yang Rain maksud. Kedua mata bara mendelik ketika mendengar suara itu. Dia segera menarik tangan Rain untuk pergi dari sana.
"Lo nggak boleh denger ginian!" bisik Bara.
Rain mengernyit, dia kembali melangkah untuk mencari tahu itu suara apa.
Bara heran, siapa yang sedang melakukan hal-hal negatif seperti itu di sekolah. Benar-benar memalukan. Namun, dia juga penasaran. Akhirnya Bara mengikuti Rain saja.
Di gudang belakang sekolah memang tidak pernah ada orang berlalu-lalang. Sering digunakan untuk para murid laki-laki merokok.
"Eh kok suaranya kayak cewek ya?" kata Rain dengan suara yang berbisik-bisik.
Bulu kuduk Rain berdiri, tapi tidak membuat gadis itu berhenti. Dia terus berjalan mengendap-endap. Hingga suara itu semakin jelas.
"Dit, pelan-pelan!"
Tubuh Rain menegang saat mendengar suara gadis itu memanggil nama 'Dit'. Bara juga bisa merasakan ketegangan Rain karena lelaki itu memegangi lengan Rain.
__ADS_1
"Udah balik aja kita, Queen!"
Rain meletakkan telunjuknya di bibir.
Dia pun sedikit membungkuk untuk sampai di jendela dan mengintip dari sana, siapa yang sedang berada di dalam. Suara itu tentu saja tidak asing untuk Rain.
"Diiiit, ssshh."
Rain sudah berdiri di samping jendela dan dia mengintip dari jendela itu. Terlihat jelas dua orang yang sedang melakukan hubungan terlarang di dalam sana. Kedua mata Rain membulat dengan bibir menganga. Sungguh, pemandangan yang menyakitkan hatinya.
Kedua mata Rain terasa panas. Paru-parunya seperti terhimpit, terasa sesak sekali. Bara yang melihat itu segera menarik Rain dan menutup kedua matanya.
Sudah dia duga jika di gudang itu tidak beres. Apalagi gadis tadi menyebutkan nama yang tidak asing di telinganya.
Bara membawa Rain keluar dari sekolah lewat pintu belakang yang memang gerbangnya tidak terkunci. Rain yang masih syok tidak sadar jika dia sudah sedikit jauh dari sekolah.
"Minumlah!" Bara menyodorkan kaleng soda dingin.
Mereka sudah berada di depan mini market dekat sekolah. Dada Rain naik turun, dia sangat emosi.
"Queen?" panggil Bara pelan.
"Ra, gue ... Nggak salah liat kan?" tanya Rain. Pandangannya terlihat kosong.
"Udah, gue bilang lupain cowok kayak gitu! Lo bilang udah nggak perduli. Kenapa Lo malah kayak gini?" Bara ingin sekali membuat Radit babak belur, bila perlu sampai dia meminta kematiannya.
Sungguh, melihat Rain saat ini hatinya sangat sakit. Tadi padahal dia sudah sangat ceria. Bara juga merutuki dirinya sendiri. Kenapa tidak memaksa Rain untuk pergi saja dan malah ikut penasaran.
"Mending ikut gue, sekarang Lo minum deh biar otak Lo nggak konslet!"
Rain pun menuruti perintah Bara. Dia meneguk hingga habis soda tersebut. Mengikuti langkah Bara yang entah kemana. Pikirannya masih tertuju di gudang tadi. Dimana Radit sedang bersama gadis yang tidak Rain kenal siapa.
Radit sedang menikmati tubuh gadis itu, Rain tidak menyangka jika Radit tega melakukan hal seperti itu di belakangnya. Rain selalu menilai Radit lelaki yang baik dan berbeda dari Kenan maupun laki-laki lain. Rupanya dia lebih buruk dari Dion. Anak dari Shely yang hampir memperkosanya dan menyimpan semua foto-fotonya.
"Gue punya kenangan buruk, semua yang deketin gue tuh selalu aja ngincar apa yang gue jaga. Kenapa, Ra?" Rain lelah harus berurusan dengan laki-laki brengsek.
"Gue pengen deh punya cowok kayak Rean. Mentari beruntung banget dapetin dia!"
"Jangan bilang Lo suka sama Rean? Dia kakak Lo, Queen!" Bara menggelengkan kepala. Rasanya dia ingin bilang kalau dirinya itu adalah lelaki seperti Rean.
Bara akan selalu menjaga Rain, bahkan Bara juga bisa membuktikan jika dirinya lebih baik dari Rean.
"Nggak lah, dulu kita hampir aja saling suka. Ciuman pertama gue dia yang ambil."
Bara menghentikan langkahnya, dia sangat terkejut mendengar cerita Rain. Benar-benar kisah yang buruk.
"Itu berarti Rean juga buruk!" kata Bara sedikit membentak.
Mana ada lelaki baik yang mengambil ciuman pertama pada adiknya sendiri. Kalau dia memang kakak yang baik, pasti akan menjaga dan melindungi Rain.
"Kok Lo bilang gitu? Dulu kan kita lagi polos-polosnya, Ra. Terus menurut kita ya sekedar ciuman aja nggak masalah kan?"
Bara menyentil kening Rain, "Lama-lama Lo bisa kebablasan!" Bara menghela napas kasar.
Rain tersenyum kecut, "Iya sih, hampir aja kita punya hubungan terlarang. Gue juga hampir nyerahin tubuh gue agar Kenan mau sama gue. Pertunangan itu bikin gue frustasi dulu."
Bara yang semula emosi menjadi menatap pilu gadis tomboy yang ada di hadapannya ini. Dia tidak menyangka jika Rain memiliki masa lalu yang buruk. Dibalik tawanya dia menyimpan luka yang dalam. Sungguh, Bara tidak tahu semua tentang Rain.
Dia merangkul pundak gadis itu dan akan menghiburnya supaya melupakan semua masalah tadi.
"Kalau gitu gue bakal hapus luka Lo!" kata Bara dengan sungguh-sungguh.
"Memang bisa?" Rain tidak yakin jika lelaki badboy seperti dia bisa mengobati semua luka yang semakin menganga.
"Bisa, caranya gue lempar Lo dari sini!" Bara mendorong tubuh Rain agar melihat ke bawah.
Mereka sedang berada di jembatan. Di bawah sana jalan besar dan banyak mobil-mobil besar berlalu lalang.
"Lo liat kan? Betapa tingginya jalan ini, gue sekali dorong Lo, bisa buat luka Lo ilang. Lo bakal hidup damai di surga!" Tentu saja Bara tidak sungguh-sungguh.
"Ra, lepas. Lo nggak lagi mau bunuh gue kan?" Rain menelan salivanya susah payah.
Bara terkekeh, dia langsung memeluk tubuh Rain yang menggigil.
"Nggak, sayang. Lagian kalau gue bunuh Lo sekarang nggak asyik! Masih banyak hal yang harus kita lalui!"
Rain menghela napas lega, dia pikir Bara benar-benar mau membunuhnya. Rain juga sempat berpikir kalau Bara adalah psikopat.
"Sekarang ... Ayo kita nikmatin hidup ini!" Bara mengamit jemari Rain.
"Kita mau kemana?"
"Menangkap ubur-ubur, minum cokelat hangat atau kita bermain ke rumah Sandy. Kita coba hal-hal baru yang Sandy buat!"
Rain terkekeh, ucapan Bara itu selalu membuatnya terhibur. Dia selalu menirukan kartun spons kuning.
"Baiklah, gue akan ikutin Lo keliling kota bikini bottom."
"Dengan memakai bikini!"
Mereka berdua tertawa bersama dipinggir trotoar. Tidak sadar jika sudah sangat jauh dari sekolah. Rain meninggalkan motor juga tasnya di sekolah. Membiarkan pikirannya lebih baik. Bersama Bara dia merasa bisa tertawa puas. Laki-laki itu selalu menghiburnya.
__ADS_1
Bersambung ...