Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 83


__ADS_3

Di dalam ruangan yang pengap dan minim cahaya terdengar suara jeritan kesakitan dari dua orang yang telah mengusik hidup seorang Queen. Mereka mendapatkan balasannya. Mental hancur sehancur-hancurnya, merasakan apa yang selama ini seorang Queen rasakan. Hukuman itu sebenarnya ringan dan Rain memberikan kenikmatan.


Di saat Radit dan Gwen lelah merasakan cambuk dan pukulan. Mereka diberikan minum dengan sensasi panas yang menjalar. Radit dibawa ke kamar Gwen yang terikat tangan dan kakinya di sisi ranjang yang sudah di desain khusus itu. Menikmati setiap sentuhan Radit meski tubuhnya terasa perih karena penuh luka. Kepala pusing akibat terhantam tembok hingga mengeluarkan darah. Hal itu seimbang dengan luka yang Rain miliki. Gwen harus tetap membuka kedua mata meski rasanya lelah.


Ini hari ketiganya menjalani kehidupan dalam keadaan yang mengenaskan. Hanya diberi waktu untuk istirahat saja itu pun tanpa dilepas rantai yang mengikat kedua tangan dan kaki. Merasakan menjadi tawanan sungguh tidak menyenangkan.


Gwen baru tahu jika Rain lebih menyeramkan dari yang dia kira. Gwen pikir Rain hanya gadis sok bisa bela diri tanpa memiliki siapapun, nyatanya dia ini lebih dari pembunuh berdarah dingin. Jika di suruh memilih dia ingin pergi untuk selamanya daripada harus disiksa seperti ini. Sudah tiga kali dia di cekoki obat perangsang. Melayani dua lelaki dengan tubuh kekar lalu setelah berganti dengan Radit yang memang dibawah pengaruh obat itu. Adegan panas itu diabadikan dalam kamera tersembunyi yang akan dijadikan alat ancaman jika tidak ada jera setelah mereka bebas.


Rain tidak akan membuat mereka mati dengan mudah. Memberikan kelonggaran hukuman karena tidak tega dengan Fania yang memohon untuk Radit. Namun, grandma Rima telah menghancurkan rasa ibanya. Dia kembali mengusik kehidupan Rain dan hampir membuatnya celaka. Beruntung Alex segera menghentikan aksi gila grandma Rima yang membakar kafe milik Rain. Mengganti kerugian yang Rain dapatkan. Belum lagi mobil ringsek karena seseorang menabraknya. Saat itu mobil dikendarai oleh seseorang profesional yang bisa menjelma menjadi sosok Rain.


Jebakan untuk grandma Rima berhasil dan membuat wanita paruh baya itu berhenti mengusik setelah tahu siapa Rain sebenarnya.


"Katakan kepada wanita tua itu untuk berhenti membuatku celaka! Jika masih berulah maka aku tidak akan segan-segan membuat kalian bangkrut!" ancam Rain saat berada di rumah Radit.


Emosi yang selalu dia tahan karena masih menghargai mereka sebagai orang tua kini hilang bagai ditelan bumi. Tidak perduli siapa yang sedang menjadi lawan bicaranya.


"Kami minta maaf, saya akan meminta Ibu saya berhenti mengganggu kamu," jawab Alex dengan tatapan memohon.


Wajah lelah itu terlihat kentara. Rain yakin banyak masalah di perusahaannya. Fania juga terlihat hancur dengan kedua mata membengkak. Belum lagi wajah yang biasa terlihat terawat itu mendadak kusam.


"Aku selalu menghargai kalian sebagai orang tuaku. Nyatanya hanya karena Radit mencintaiku dan menolak pertunangan itu, dia menjadi membenciku. Selama ini kata-kata pedasnya aku biarkan, rupanya dia makin berulah dan menjadi-jadi!" Rain menunjuk ke arah Rima yang masih terlihat angkuh.


"Gadis miskin kurang ajar! Kamu memang tidak pernah di didik sopan santun. Mati saja kamu! Begini kalian mau menerima jadi mantu, hah? Kesialan yang selalu ada. Dasar penjilat!" ucap Rima yang masih memperlihatkan kesombongannya.


"Ma, diamlah. Jangan buat keadaan semakin runyam. Jika mama terus nekat seperti ini Radit tidak akan kembali!"


"Kalian bodoh! Kenapa tunduk pada dia? Ambil Radit dan suruh orang-orangmu menangkap anak gelandangan ini!" teriak Rima histeris.


"Apa dia gila?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Rain.


Kedua mata Rima melotot. "Kamu! Berani-beraninya mengatakan saya gila? Saya tidak akan pernah takut sama kamu, ancaman bodoh kamu ini tidak berguna!" Rima bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang.


Grandma Rima masih memandang rendah Rain. Menganggapnya bocah gelandangan ingusan yang tidak akan bisa berbuat apapun.


"Kalau sampai cucu saya kenapa-kenapa saya akan tuntut kamu! Dasar anak miskin!"


"Ma, dia yang mama bilang miskin ini pemilik perusahaan yang aku pegang!" Alex akhirnya bersuara.


"Apa?!" Grandma Rima menatap tidak percaya. Sorot mata keangkuhan tadi meredup hingga tubuhnya terhuyung.


"Kamu bercanda, Lex?" tanya grandma Rima.


"Enggak. Dia adalah anak dari Damian Klopper!"


Pernyataan dari mulut Alex itu membuat dunia Rima runtuh. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Gadis yang selama ini dia hina rupanya gadis yang lebih tinggi kedudukannya. Bahkan Gwen saja tidak ada apa-apanya. Sungguh Rima masih tidak percaya ini. Ternyata ini yang membuat anak dan menantunya tunduk. Bahkan mereka diam saja ketika Radit dan Gwen menjadi sandera Rain.


Rima pikir dia gadis tidak waras yang hanya menginginkan harta. Padahal Rain bisa saja membeli harga dirinya dan mengambil semua yang dia miliki.


"Kenapa mama selalu saja menilai orang dari penampilan? Rain bukan gadis miskin seperti yang mama kira. Dia bisa saja mengambil alih harta kita, tapi tidak dia lakukan karena masih menghargai kami yang pernah menolongnya. Apa mama pikir kami tidak sedih melihat Radit yang sakit? Kami baru tahu jika Radit mencintai Rain dengan tidak wajar. Kami juga baru tahu jika Radit hampir memiliki anak dari Gwen!" Suara Alex terdengar bergetar.


Sungguh ini pukulan untuknya yang selalu sibuk bekerja dan menganggap putranya itu baik-baik saja. Dia pikir semua yang dia berikan membuat putra semata wayangnya ini bahagia. Nyatanya dia berbeda dan butuh perhatian lebih. Alex merasa gagal menjadi seorang ayah. Bahkan dia tidak tahu hal sebesar ini. Dia tidak menyangka jika putranya seorang pecundang yang tega membuat anak orang keguguran.


Ya, kedua orang tua Radit tahu karena Rain yang bercerita. Bahkan kedua orang tua Rain menyuruh Rain memberikan hukuman supaya Radit membuka lebar kedua matanya. Merenungi semua perilakunya selama ini. Namun, Alex tidak tahu hal apa yang Rain lakukan.


Rain berpamitan setelah membuat kacau Rima karena kenyataan yang baru saja dia dengar. Harta yang membuatnya gelap mata sampai dia tidak mengetahui semua yang terjadi. Jujur saja Rima sekarang ketakutan dan merasa bersalah karena sudah mencoba melukai Rain. Berkali-kali dia ingin membunuh gadis itu, berkali-kali pula dia gagal. Menghabiskan uang yang tidak sedikit demi membayar orang-orang suruhannya yang hanya memberikan kegagalan saja.


Jadi ini jawaban dari kegagalan niat jahatnya. Rain bukan orang sembarang yang selalu dilindungi oleh orang-orang yang lebih profesional. Mereka melindungi Rain dengan cara yang tidak kentara.


Sekarang Rima merasa takut jika Rain membalas semua perlakuan buruknya. Dia tidak mau miskin. Membayangkan saja dia tidak sanggup.


Alex dan Fania yang melihat Rima frustasi diam saja memilih pergi untuk menjernihkan pikiran masing-masing.


Sementara Rain masuk ke dalam ruangan yang dijadikan kantor itu. Ada seorang laki-laki duduk di kursi kebesarannya. Dia duduk membelakangi Rain. Mendengar pintu terbuka laki-laki itu memutar kursinya dan tersenyum.


"Hey, siapa yang datang ini? Apa aku tidak salah lihat?" ejek laki-laki itu.


Rain melempar sepatunya dan berhasil dia tangkap.


"Nggak usah meledek deh! Benci banget gue!" gerutu Rain. Dia langsung mendorong laki-laki itu dan duduk di kursi tadi.


"Aku akan menyimpan sepatu ini, ketika kau mencarinya maka kau harus menikah denganku!" Laki-laki itu terkekeh.


"Gue bukan Cinderella!" Rain meneguk kaleng soda yang baru saja laki-laki itu sodorkan.


"Jadi ... Harus panggil Lea atau Rain, hm? Gue akui memang otak Lo ini lebih cerdas dari Lea!"


Rain meremas kaleng soda yang sudah habis. Lalu melemparnya ke tong sampah. Laki-laki itu masih memandangi wajah cantik Rain. Dia duduk di tepi meja. Jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Jarak Lo gini gue jadi mikir kayak yang di novel-novel!" Rain terkekeh membayangkan adegan yang ada di novel.


Berciuman di kantor dan kemudian sang gadis dibaringkan di atas meja lalu melakukan sebuah hubungan demi memuaskan si bos.

__ADS_1


Laki-laki itu menyentil kening Rain dengan gemas.


"Adik kecil tak boleh berpikir dewasa!" ledeknya.


"Heh, gue udah dewasa ya, anjing!"


"Anjing pintar!" Laki-laki itu mengusap kepala Rain layaknya mengusap hewan peliharaan.


"Ashu!"


"Ini bibir nggak bisa bilang yang lebih sopan sama yang gede?" Laki-laki itu menjewer telinga Rain.


"Aaa, iya ... Gue minta maaf deh ... Eum Abang?"


Laki-laki itu terkekeh, panggilan itu menggelitik telinganya. Dulu panggilan itu terdengar wajar tapi setelah mengetahui siapa Rain agaknya panggilan itu menggelikan.


"Kenapa Lo nggak cerita sejak kita ketemu? Pantas saja sikap Lo persis Lea!"


"Males! Kalau gue cerita pasti Lo ketawain gue dan anggap gue ini gadis sinting!"


Aldo menyemburkan tawanya yang sejak tadi dia tahan. Sungguh tingkah Rain malah menggemaskan. Jika dulu dia melihat sebagai Lea pasti sangat menyebalkan dan ingin sekali Aldo tendang sampai ke kampung durian runtuh agar dimakan buaya. Sekarang melihat Lea yang menjelma jadi anak ingusan membuatnya semakin gemas.


"Kalau gue nggak berusia lebih tua dari Lo udah gue pacarin! Sayangnya gue udah nikah sih!"


"Ogah amat ya pacaran sama om-om!" Rain bergidik ngeri.


"Hey, jangan salah jiwa gue anak muda tau. Gue bisa kok puasin Lo!" Aldo menyeringai penuh arti.


Rain meninju dada bidang Aldo dan membuat laki-laki itu meringis.


"Gila, tenaga Lo makin kuat aja. Makan apa sih? Terakhir gue liat Lo pas jadi Lea nggak sepintar ini!"


"Otak tubuh ini tuh pintar. Jadi gue lebih pintar dari aslinya! Haha lucu ya takdir gue. Sekarang gue jadi liat Lo menua sementara gue masih dibawah umur Lo!"


Aldo sudah tahu siapa Rain karena beberapa waktu yang lalu dia bertemu dan menceritakan semuanya. Rain juga meminta orang-orang Aldo membantunya untuk memberi hukuman kepada Gwen dan Radit. Meski orang-orang itu bekerja pada Aldo tapi otak dari rencana itu adalah Rain. Sebagai bukti untuk Aldo jika Rain adalah Lea. Dulu Lea selalu berhasil memecahkan masalah tentang mengungkap bos bandar narkoba yang sudah menghabisi nyawa keluarga salah satu anggota gengnya.


"Bara boleh juga dia. Anggotanya nggak kalah mengerikan dari anggota gue!" Aldo mengagumi Bara yang pandai mengelabuhi musuhnya.


Apalagi saat dia menolong Rain, sungguh adegan yang menakjubkan.


"Ya, dia ketua geng liol yang ditakuti. Di atas Bara ada Lo yang sayangnya sembunyi dibalik ketek gue! Sialan!" Rain menggebrak mejanya.


"Hahaha ... Gue cuma mau liat seberapa hebat Lo! Nyatanya Lo lebih pantes jadi ketua mafia!"


"Keren ya anjing bisa bakar kafe!"


Rain meraih gelas kaca dan ingin sekali memukul laki-laki itu. Namun, Aldo sudah lebih dulu lari.


"Canda, Rain. Elah sensi amat! Lo lagi dateng bulan ya!" tebak Aldo. Dia sangat suka menggoda Rain. Seperti yang dulu dia lakukan sama Lea.


"Jadi gimana? Lo mau lepasan dua manusia itu?" tanya Aldo.


"Bawa mereka ke rumah sakit dan pastikan mereka mendapatkan perawatan yang bagus!"


"Baik hati sekali anda, Baginda Ratu!" Aldo membungkukkan tubuhnya. Memperagakan tanda hormat seperti orang kerjaan.


"Gue liat Radit dulu deh!"


"Ya, silahkan. Siapa tahu Lo rindu sama dia atau di sentuh dia!"


Rain melayangkan pukulan tepat di perut Aldo. Laki-laki itu selalu saja kecolongan karena gerakan Rain yang gesit.


"Rain gila! Gue babak belur!" teriak Aldo karena Rain sudah keluar.


Di ruang pengap yang mirip penjara itu Rain menatap sosok lelaki yang pernah singgah di hatinya. Rasa cinta telah berganti kebencian yang menggunung. Laki-laki itu berdiri dengan kedua tangan di rantai pada sisi dinding. Sehingga dia tidak bisa melakukan apapun selain berusaha untuk melepaskan diri. Nyatanya usaha itu sia-sia karena yang dia dapatkan adalah rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Di pukul berkali-kali, diberikan sengatan listrik dan di suntikan cairan yang mengandung obat perangsang. Lalu dia bergerak seperti orang kesurupan. Awalnya dia di jebak dengan meminum minuman yang sudah tercampur obat itu. Lalu saat kembali di paksa minum setelah pengaruh obat itu habis, dia memberontak dan menolak. Kaki yang tidak terikat menendang minuman tersebut. Radit tidak memakai sehelai benang karena dia baru saja melakukan tugasnya untuk memuaskan Gwen.


Melihat Rain datang, orang yang berjaga segera menutupi tubuh Radit dengan pakaian seadanya.


Rain berdiri dengan kedua tangan dilipat dan tatapan penuh kebencian. Radit yang menyadari ada orang yang datang segera mengangkat kepalanya.


"Rain," ucap Radit. Suaranya melemah karena tenggorokan sudah kering.


"Gimana rasanya? Ini belum seberapa! Lo udah rusak mental gue, brengsek!"


Rain ingin sekali memukul laki-laki ini tapi dia tidak mau mengotori kedua tangannya.


"Lo pikir bisa dengan mudah bawa gue dan Lo lakuin apapun supaya gue bertekuk lutut dihadapan Lo? Gue nggak bisa pergi dari Lo yang bakal jerat gue gitu?"


Rain berjalan memutari tubuh Radit sambil tertawa puas. Tawa yang mengerikan. Sebilah belati itu menempel di leher Radit.

__ADS_1


"Jangan harap rencana Lo bisa selalu mulus, Dit! Sekarang Lo bakal terima akibatnya kalau sampai Lo usik hidup gue lagi!"


Napas Radit tersengal, susah payah dia mencoba untuk tenang, tapi betapa takutnya laki-laki itu sekarang jika Rain sedekat ini.


"Kenapa? Lo takut? Gue bisa dengan mudah habisin nyawa Lo sekarang juga! Kalau saja gue nggak kasian sama Tante Fania! Lo gue bebasin tapi dengan syarat jangan pernah Lo usik hidup gue lagi kalau nggak mau video panas Lo sama Gwen gue sebarin!"


Rain menggoreskan belati itu pada leher Radit. Membuat laki-laki itu mengerang kesakitan.


"Di sini, pernah ada gue kan?" Rain menunjuk dada Radit dengan belati.


Dia mengukir huruf X dengan belati itu hingga dada bidangnya mengeluarkan darah.


"Nah, sekarang gue udah pergi dari hati Lo! Dan ini! Gue benci!" Rain menempelkan belati itu pada bibir Radit yang dulu pernah menciumnya.


"Sialan!" teriak Rain yang langsung menampar Radit hingga bibir itu robek.


Rain sedikit menjauh, mengambil ancang-ancang untuk menendang kepala Radit. Dia melampiaskan semua amarahnya.


Bugh


Dengan gaya memutar Rain berhasil menendang tiga kali kepala laki-laki itu. Membuat rasa sakit yang luar biasa.


"Gue harap Lo hilang ingatan, Sialan!"


Rain pergi dari ruangan pengap itu. Lalu para penjaga melepas rantai yang terpasang di kedua tangan Radit. Membawa tubuh penuh luka ke dalam mobil untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Rain memberikan perawatan khusus. Jika dia bisa selamat bisa dipastikan untuk menikah dengan Gwen dan menyuruh keluarganya untuk pergi dari negara ini.


Keluarga Alex sudah menyetujui semua perintah Rain.


Sekarang dia berada di kamar Gwen. Gadis itu sedang meliuk-liuk karena sedang berada di pengaruh obat. Satu laki-laki sudah bersiap memperagakan adegan yang akan diabadikan dalam kamera tersembunyi. Melihat keberadaan Rain, Gwen teriak histeris. Dia seperti melihat hantu.


Gwen tidak menyangka jika Rain semengerikan ini.


"Hay, cantik!" sapa Rain dengan senyum misterius.


"Jangan mendekat!" Gwen beringsut, dia menarin selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Panas!"


Gwen menarik laki-laki yang berdiri di sampingnya. Laki-laki itu hanya diam saja memperhatikan gerak-gerik Gwen.


"Cium gue, brengsek!"


Rain puas melihat betapa frustasinya Gwen.


"Lihat! Bahkan panggilan ja lang lebih pantas buat Lo! Berapa laki-laki yang sudah Lo puaskan, hm?" Rain tersenyum mengejek.


Gwen tidak perduli. Dia masih memaksa laki-laki itu.


Rain melempar kantong kresek yang penuh dengan uang.


"Seharusnya Lo dapat bayaran. Itu uang dari mereka yang udah Lo puasin!"


Rain pergi begitu saja dan memerintah orang yang berjaga untuk membawa gadis itu ke rumah sakit.


"Kenapa? Kalian mau coba dia? Terserah yang penting setelah itu bawa dia kerumah sakit dan pastikan dia mendapatkan perawatan yang baik!"


Tentu saja rumah sakit itu milik Damian sendiri jadi tidak akan menaruh kecurigaan. Damian sendiri sedang disibukkan dengan pekerjaan di luar negeri. Membuka beberapa supermarket dan usaha lainnya.


Rain kembali ke ruangan tadi. Dimana Aldo sedang sibuk dengan laptopnya.


"Gue udah simpan video-video panas Gwen!" Aldo menunjukkan layar laptop itu.


"Bagus! Gue nggak semudah itu lepasin mereka!"


Aldo mengangguk, dia juga memperlihatkan keadaan Rima sekarang.


"Kebetulan dia di rawat di rumah sakit yang sama!"


"Baguslah, biar dia dapat karmanya!" ucap Rain penuh emosi.


Gara-gara Rima kafe yang Rain bangun susah payah dari nol harus hancur begitu saja. Rima memang selalu membela Gwen dan membuat Rain hancur. Meski Gwen sudah bangkrut tapi dalam pikiran Rima, Gwen masih memiliki rumah sakit, hotel dan mall yang semua itu sebenarnya adalah milik Damian. Rima sudah terjebak tipu daya Gwen.


Demi mendapatkan Radit kembali, Gwen menggunakan Rima untuk memaksa Radit kembali. Memamerkan harta yang sebenarnya bukan miliknya. Gwen selalu pandai bersilat lidah.


Seperti saat mengumumkan jika dirinya adalah Queen. Padahal Queen asli sedang melihat tingkah gilanya.


Sungguh, Gwen tidak perduli dengan semua ancaman Rain. Dia hanya ingin Radit kembali. Dan ... Lihat sekarang?


Gwen menerima akibatnya. Dia hidup tapi dengan ketakutan yang luar biasa.


Bersambung..

__ADS_1


Aku minta maaf ya jika update selalu lama. ngurus yg mau masuk sekolah bikin pusing.


__ADS_2