Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 76


__ADS_3

WARNING: Bacanya pelan-pelan ya. Aku nulis part ini merinding bayanginnya. Padahal baru kemarin pengen duduk sama kuntilanak tawa bareng. Jangan lupa tersenyum untuk hari ini.


_Alaish Karenina_


🦋🦋🦋🦋


Bab 76


"Lo juga luka, sebaiknya obati dulu luka Lo biar nggak infeksi!" tegur Rain, melihat celana Bara yang sedikit sobek dibagian dengkul.


Bara baru sadar itu, dia nyengir karena baru merasakan perih. Sejak tadi dia khawatir dengan keadaan Rain dan memikirkan laki-laki tadi. Kini mereka sudah berada di apartemen Bara yang tidak pernah dia tinggali. Apartemen yang dia beli dari hasil sendiri. Entah papanya tau atau tidak, yang jelas apartemen itu satu-satunya harta yang tidak disita karena hukumannya.


"Gue obatin ya." Rain hendak bangun tapi segera di cegah oleh Bara.


"Lo duduk aja, biar gue obatin sendiri." Bara bangkit dari duduknya dan melangkah dengan menahan nyeri. Dia menuju kamar untuk mengganti pakaiannya. Meski jarang di tempati, Bara selalu menyuruh jasa kebersihan untuk membersihkan apartemennya. Sebenarnya Bara masih memiliki kartu debit yang tidak diketahui oleh sang papa. Di dalam kartu itu ada uang hasil balapannya.


Bara mengambil celana training dan Hoodie miliknya untuk dia pinjamkan kepada Rain karena seragam gadis itu kotor dan juga berantakan. Bara tidak mau dituduh yang tidak-tidak oleh Rean nanti ketika mengantarkan gadis itu.


Saat hendak keluar, ponsel Bara berdering. Menampilkan nama Regar.


"Apa? Jadi benar dugaan gue!" Bara mencengkram kuat benda pipih itu. Ingin rasanya melempar benda itu tapi dia urung karena sayang baru dia beli beberapa bulan yang lalu. Dia tidak bisa membeli ponsel baru dengan harga yang mahal dengan uang bapaknya karena sedang di hukum.


"Jadi apa yang akan kita lakukan, Bar?" tanya Regar di seberang sana.


"Habisi dia lalu kirim tubuhnya ke rumah Gwen. Kita beri dia teror bila perlu setelah ini Gwen yang akan mati!" Bara bersungguh-sungguh ingin menghabisi nyawa Gwen.


Gwen adalah adik musuhnya yang mencoba main-main dengan Bara. Lelaki berhidung mancung itu tahu jika Gwen sebenarnya gadis yang lemah. Dia terlalu terobsesi dengan Radit dan bisa jadi jika Bara melukai Radit maka itu akan menjadi kelemahan Gwen.


"Lo mau coba-coba sakiti Queen, maka Lo berurusan sama gue dua kali lipat!" Bara menyeringai sebelum keluar dari kamarnya dia menghilang segala emosinya.


Ketika dirasa emosinya sudah mereda, Bara menemui Rain dan memberikan baju ganti untuknya.


"Gue tau Lo suka pakai hoodie, jadi gue pinjemin aja. Sekarang Lo ganti baju dulu, gue nggak mau dituduh yang enggak-enggak kalau bawa Lo dalam keadaan berantakan kayak gini!"


Rain mengerjapkan mata berkali-kali. Sungguh baru sekarang Bara bicara panjang lebar. Terakhir kali saat di pantai dan saat di sekolah dia irit bicara bahkan wajahnya juga murung meski dia tertawa atau berusaha menghiburnya. Rain tahu ada yang Bara sembunyikan. Rain tidak memprotes apapun, dia menerima pakaian dari Bara. Saat hendak berdiri, Rain sedikit meringis menahan rasa nyeri di pergelangan kakinya.


"Pelan-pelan, sayang. Gue bantu ya!" Suara Bara terkesan lembut, membuat darah Rain berdesir.


"Bisa nggak jangan panggil gue sayang?"


"Nggak bisa, gue suka aja manggil Lo sayang!" Bara menaik turunkan alisnya.


Rain mendorong dada Bara hingga laki-laki itu hampir terjatuh. Beruntung ada lemari di dekatnya jadi bisa buat pegangan.


"Lo masih sakit aja galak ya!"


Rain mengangkat kedua bahunya dan pergi ke kamar Bara untuk membersihkan diri dan berganti baju.


Bara memilih mengobati lukanya yang tidak terlalu parah.


Rain sudah rapih dengan pakaian Bara yang cukup kebesaran jika dipakai olehnya. Hanya saja itu tidak masalah, toh Rain selalu meminjam hoodie milik Rean. Laki-laki itu membuat Rain pening karena terus menelponnya dan menanyakan dimana dirinya. Bahkan Rean sangat khawatir ketika tahu Rain kecelakaan. Entah dia tahu darimana. Padahal Rain tidak memberitahu siapapun. Anehnya saat Rain dibawa ke apartemen Bara, laki-laki itu tidak lagi mengganggunya.


"Ra, Lo kasih kabar ke Rean ya?" tanya Rain yang sudah duduk di sebelah Bara.

__ADS_1


"Iya, tadi pas Lo lagi di periksa. Gue nggak mau di tuduh bawa Lo kabur," jawab Bara santai.


Rain lebih suka memanggil Bara dengan sebutan 'Ra' karena kalau panggil dia 'Bar', bagi Rain terdengar aneh saja.


"Oke, Lo udah bikin kepala gue pusing!" ketusnya.


Terlebih saat ponselnya kembali berdering, gadis itu menarik rambutnya frustasi. Dia kesal dengan tingkah Rean yang cerewet.


"Dimana?" tanya Rean di sebrang sana.


"Apartemen Bara!"


"Kirim lokasinya, gue ke sana sekarang!" kata Rean tegas.


Rain menghela napas kesal. Dia melempar ponselnya asal dan menatap tajam Bara yang santai mengobati lukanya.


"Gara-gara Lo nih!" tuduh Bara.


"Demi keselamatan Lo, Queen. Kalau bukan karena kejadian tadi, semua orang nggak bakal sibuk dan gue pasti anter Lo pulang."


"Maksudnya?" Sejak tadi Rain penasaran dengan apa yang terjadi. Dia ingin bertanya tapi takut jika Bara tersinggung. Cukup melihat Bara yang emosi tubuhnya menggigil.


"Gwen! Dia orang yang disuruh Gwen buat celakain Lo. Mending udah deh Lo lupain laki-laki brengsek itu! Gue sama Rean yang akan bantu Lo buat dia jauhin Lo. Tenang aja, keselamatan Lo kita yang jamin.!" Bara bersungguh-sungguh, dia tahu Gwen mengincar Rain karena dendamnya yang tidak bisa mendapatkan Radit.


"Sialan! Dia udah ganggu ketenangan gue!" Rain mengepalkan kedua tangannya.


"Udah, mending sekarang Lo pulang dan istirahat. Besok gue jemput Lo buat sekolah!" Bara mengacak rambut Rain.


"Naik angkot?" Rain meledeknya.


"Gue bisa berangkat sekolah sendiri!" tolak Rain dengan angkuhnya.


Bel berbunyi dan Bara dengan sigap membukakan pintu. Nampak wajah Rean menyembul, dia langsung masuk dan mencari keberadaan Rain.


Melihat Rain yang duduk dengan wajah kusut Rean bernapas lega. Setidaknya gadis itu baik-baik saja. Dia takut jika kejadian dulu terulang lagi.


"Ayo pulang!" ajak Rean sambil menarik lengannya.


Kedua mata Rain melotot melihat Rean yang sudah datang padahal dia belum mengirimkan alamat apartemen Bara.


"Raina Grittella Klopper!"


Rain langsung berdiri, jika sudah memanggil nama lengkapnya pertanda lelaki itu tidak bisa dibantah.


"Kakinya terluka, jangan kasar sama Queen!" kata Bara yang sedikit kesal melihat Rean yang posesif tapi juga kasar.


"Lo bisa jalan?"


"Bisa!"


Rain berjalan tertatih. Sungguh pergelangan kakinya sangat sakit. Saat sampai di pintu, tubuhnya terasa terbang. Rean sudah menggendong Rain ala bridal style.


"Rean, turunin gue!" protes Rain karena malu saja jika di tatap oleh orang-orang yang berlalu lalang di apartemen.

__ADS_1


Rean tetep kekeuh dan membawa Rain hingga parkiran. Memasukkan Rain ke dalam mobilnya.


***


Gwen sedang menikmati drama Korea ditemani jus mangga dan keripik kentang. Senyum terus mengembang karena dia mengira rencananya berhasil. Dia sudah tidak sabar menunggu kabar tentang Rain yang menurutnya sudah tiada.


Gwen membayar supir truk tronton yang membutuhkan uang banyak karena dia teman dari anak buahnya.


Gwen memastikan jika tubuh Rain hancur dan tidak terselamatkan. Gwen terus tersenyum bahagia, dia sesekali melihat ponselnya karena tidak sabar menunggu kabar duka itu datang. Sungguh, harinya sangat bahagia bisa menyingkirkan satu musuhnya. Penghalang dia mendapatkan Radit.


"Sekarang giliran Lo, Bara! Gue nggak akan biarkan keluarga Lo dan seluruh anggota Liol hidup tenang!" Gwen tertawa renyah seperti orang gila kehabisan obat.


Suara ketukan pintu terdengar, mengganggu ketenangan Gwen. Gadis itu mengeram kesal. Gwen segera menuju pintu kamarnya, mengira jika seseorang mengabarkan tentang Rain.


"Ada apa!" kata Gwen sedikit membentak. Rupanya dugaan Gwen salah karena bukan kabar tentang Rain yang dia dapatkan.


Bi Yani, asisten rumah tangga Gwen yang datang.


"Ada paket, non. Pak Agus yang menerimanya dan membantu saya bawa kemari."


"Paket?" Gwen mengernyit karena dia tidak merasa memesan apapun.


Bibi Yani mengangguk lalu pergi meninggalkan Gwen. Gadis itu membuka dua kardus yang dibungkus rapih. Betapa terkejutnya Gwen melihat isi di dalam kardus itu.


"Aaaaaa .... Bibiiii, siapa yang melakukan ini!" teriak Gwen histeris.


Melihat tubuh supir yang telah dia bayar untuk menabrak Rain berada di dalam kardus itu. Dia sudah tidak bernyawa dengan kepala yang terpisah bersama kedua tangan dan kakinya.


Sebelum mayat supir bernama Beni itu berada di rumah Gwen, Regar sudah membuat lelaki berusia empat puluh enam tahun itu babak belur. Dia telah membuat kesabaran Regar habis.


"Katakan siapa yang sudah menyuruh lo!" bentak Alen.


"Ini murni kecelakaan! Nggak ada yang nyuruh gue!" jawab Beni dengan sinis.


Dia menganggap ketiga lelaki itu hanyalah anak ingusan yang tidak akan bisa melakukan apapun.


Sementara Angga sudah mencari sesuatu di laptopnya. Jemarinya dengan lincah menari di keyboard lalu tersenyum sinis.


"Beni Hendarto. Laki-laki berusia empat puluh enam tahun. Bekerja sebagai supir truk tronton pengangkut barang untuk membiayai keluarganya."


"Siti Lestari istri Beni berusia empat puluh tahun. Memiliki dua anak laki-laki bernama Ridwan dan Ridho! Ridwan yang sakit-sakitan dan membutuhkan biaya besar untuk pengobatannya!"


Angga tersenyum miring, "Lo nggak akan bisa mengelak lagi, brengsek! Lo hampir aja bikin temen gue celaka!" tegas Angga.


"Jangan, jangan lukai mereka! Gue akan bilang siapa orangnya!" Beni mulai ketakutan. Sejak tadi dia penuh keangkuhan kini keangkuhan itu hilang sudah.


"Dia orangnya?" Alen menunjukkan foto Gwen dan lelaki itu mengangguk.


Pistol menempel di kepalanya dan detik itu juga ...


Door!


Peluru itu telah menembus kepalanya!

__ADS_1


"Bawa mayatnya ke rumah gadis itu!" titah Regar.


Bersambung ...


__ADS_2