Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 38


__ADS_3

Bab 38


"Wajah kalian mirip ya, katanya kalau mirip itu jodoh!" kata Mentari.


Rean terkekeh, lalu mengacak puncak kepala Mentari penuh sayang.


"Mana ada gue jodoh sama dia! Cewek bar-bar begitu!"


"Rain cantik kok!"


Mentari menjadi salah tingkah karena tatapan intens Rean.


"Aku salah bicara ya?" Mentari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Lo juga cantik."


Wajah Mentari bersemu merah, sungguh pujian itu membuat hatinya dipenuhi banyak kupu-kupu. Baru kali ini ada pemuda yang memujinya.


"Rean, jangan liatin aku begitu!" Mentari mendorong wajah Rean. Dia sudah tidak tahan jika jarak mereka sedekat ini.


"Lo kenapa merah gitu sih? Gerah ya? Tapi ac-nya nyala kok!" ledek Rean.


Mentari mengambil bantal dan menutupi wajahnya. Dia benar-benar malu.


"Mentari, Lo mau nggak jadi pacar gue?"


Blusssh ....


Jantung Mentari seakan berhenti berdetak, ranjang uks yang dia tempati seakan melayang jatuh ke luar angkasa lalu tiba-tiba mendarat di dasaran bikini bottom. Lalu mendapatkan tatapan sinis Squidward. Seakan Squidward sedang mengejeknya. Jangan terlalu berharap, sadar diri siapa dirimu ini!


Mentari seketika sadar saat itu juga, terlalu sakit ketika melayang jauh dan terjatuh di detik yang sama. Ditampar oleh keadaan supaya tidak berlebihan menanggapi ucapan Rean.


Mana mungkin Rean menyukainya, dia hanya gadis sederhana yang tidak pantas bersanding dengannya. Rean bisa saja mendapatkan yang lebih darinya. Contoh Rain. Begitu pikir Mentari.


"Mentari, kok bengong?" Rean mengibaskan tangannya di wajah Mentari.


"Eee ... Kenapa?"


Rean menghela napas, " Lo mau nggak jadi pacar gue, seperti kesepakatan kita waktu itu. Lo inget?"


Mentari mengerjapkan mata beberapa kali, ekspresinya sangat lucu. Dia lalu mengingat kejadian dimana Rean menolongnya dan dia bilang tidak ada yang gratis.


"Oh, itu ... Aku ingat!"


"Jadi, sesuai perjanjian kalau nggak ada yang gratis, Lo jadi pacar gue selama gue mau!"


Ya memang seperti itu kan? Rean menolongnya dan itu tidak gratis. Menjadi pacar Rean pura-pura tidak ada salahnya kan? Mungkin Mentari harus bisa merasakan kebahagiaan sebentar saja.


"Eum ... Aku__"


"Nggak ada penolakan ya, Mentari! Lo sekarang udah jadi pacar gue. Kemanapun gue pergi Lo harus ikut!"


Mentari mengangguk pasrah, "Terserah Rean saja!" ucapnya kemudian.


Rean menepuk-nepuk kepala Mentari, "Anak baik!" Rean tersenyum puas.


Biarlah seperti itu toh jika dekat dengan Rean dan menjalani sebuah perjanjian dia akan merasa aman. Tidak ada lagi yang mengganggunya. Anggap saja saling menguntungkan.


***


Damian sedang membaca dokumen yang baru saja di antar oleh sekretarisnya. Lelaki yang sudah berumur itu beberapa kali mengernyitkan keningnya ketika mendapati hasil yang berbeda dari dokumen yang di kirimkan oleh kantor cabang.


Ada permainan di sini, sepertinya Damian akan menyusun rencana dan melakukan audit secara dadakan. Dia tidak mau ada yang berbuat curang di kantor cabang miliknya.


Damian pun langsung mempelajari semuanya setelah itu dia akan menyelidiki kemana mengalirnya uang perusahaan kantor cabang.


"Permisi, Pak," sapa Desi, sekretaris Damian.


"Ya, ada apa?"


"Sebentar lagi kita ada meeting dengan klien dari perusahaan Indodarma."


"Oke, kamu sudah menyiapkan yang aku butuhkan?"


"Sudah, Pak."


Damian memakai jasnya yang tersampir di kursi. Lalu dia bergegas pergi bersama Desi. Membuat karyawan yang berada di lorong menatap penuh pesona ketika Damian keluar.


"Mbak Desi cantik, Pak Damian ganteng banget. Cocok ya!" ucap seorang wanita dengan rambut pendek seleher itu.


"Beruntung banget jadi Mbak Desi!" Fitri ikut menyahut.


"Iya, hot banget! Gue jadi pengen banget jadi simpanan Pak Damian. Apalagi sekarang dia duren!" Sari pun ikut berkomentar.


"Iya ya, Pak Damian memang sangat hot dan tampan. Tapi beliau tidak suka dengan karyawan yang malas!" Itu suara Rika, kepala divisi mereka bertiga yang galaknya melebihi guru killer.


"Eh, Bu Rik__"


"Bu Rika! Bukan Bu Rik!" protes wanita yang berusia empat puluh lima itu.


Tatapan tajamnya membuat ketiga wanita yang bergosip tadi mati kutu.


"Lanjutkan pekerjaan kalian!"


Tanpa mengeluarkan suara mereka kembali ke tempat kerjanya masing-masing dengan hati yang misuh-misuh dan jantung berdebar tak karuan.


Bu Rika hanya menggeleng melihat anak buahnya yang selalu saja bergosip tentang Damian. Padahal ya, dia memang ikut mengagumi CEO mereka itu. Siapa yang tidak terpesona dengan ketampanannya meski usianya tidak lagi muda.


***


Sepulang sekolah Rain bergegas menuju rumah Kenan yang sudah lelaki itu kirimkan. Rain tidak bertanya apapun soal alamat yang berbeda. Nanti bisa dia tanyakan saat ketemu lagi. Ya, meski sebenarnya dia harus melewati proses yang panjang ketika meminta izin kepada Radit. Bahkan lelaki itu sempat merajuk membuat Rain kewalahan.


"Nanti kalau Kenan sama kamu di suruh nikah gimana?"


"Rain, kamu nggak boleh pegang tangan Kenan ya."


"Aku masa nggak boleh ikut!"


"Sayang, jangan pergi. Kalau aku sakit gimana? Kepalaku udah pusing nih!"


"Sayang, please! Jalan-jalan dulu ya sama aku."


"Janji ya kamu nggak boleh berduaan sama Kenan. Aku nggak mau Kenan nyentuh kamu!"

__ADS_1


Ya, begitulah Radit ketika tahu Rain hendak ke rumah Kenan. Lelaki dingin itu rupanya bisa merajuk. Tentu saja membuat Rain heran.


Sementara saat berada di parkiran sekolah, Rain melihat Rean memakaikan helm kepada Mentari.


"Rean, jangan lupa traktirannya ya." Rain menaik turunkan alisnya.


"Rese Lo!"


"Yaelah yang lagi kasmaran muka masa ditekuk mulu!"


Rean tidak perduli. Dia justru sudah menyalakan mesin motornya dan menyuruh Mentari untuk segera membonceng.


"Woah, gue ketinggalan berita nih!" Reno yang tiba-tiba datang pun ikut berkomentar.


"Makan-makan lah! Baksonya Mbak Atik!" sahut Lando.


Rean mengangkat kedua bahu dan melesat pergi begitu saja.


"Rain, Abang Lo beneran jadian sama tuh cewek?" tanya Lando.


Rain hanya mengangkat kedua bahu, dia kemudian memakai helm dan hendak pergi.


"Nggak adek nggak kakak sama-sama irit ngomong! Ngeselin!" gerutu Sandy.


Rain hanya terkekeh, "Buruan ikut gue! Lo pada mau nengokin Tante Gina nggak?" tanya Rain.


"Lo serius?" tanya Reno tidak percaya.


"Iya."


"Ikut dong!"


"Gue nggak bawa motor!"


"Sama gue juga!"


Sandy dan Lando saling pandang. Pasalnya tadi Lando berangkat bersama Reno. Sementara Sandy diantar oleh supirnya dan sekarang dia belum juga di jemput.


"Ren, Lo bonceng gue! Biar Sandy sama Lando pake motor Lo!"


Rain tidak mau ambil pusing, mereka pasti akan ribut kalau tidak segera diberi keputusan.


"Asyeeek, dibonceng cewek cantik!"


"Buruan kalau nggak gue tinggal!"


Reno pun langsung membonceng Rain. Sementara Lando mengambil motor Reno. Mereka melesat pergi mengikuti Rain.


Radit yang melihat itu pun mengepalkan tangannya. Dia tidak terima jika ada lelaki lain yang berboncengan dengan Rain. Apalagi Rain yang mengemudikan motornya.


*


"Rain, Lo yakin ini rumahnya?"


"Dia pindah rumah!"


Reno dan Lando saling menatap. Mereka teman dekat Kenan saja tidak tahu kalau lelaki itu pindah. Sementara Rain yang bermusuhan sama Kenan malah lebih tahu.


"Kayaknya ada berita yang tertinggal!" celetuk Reno.


Reno pun diam saja.


Mereka sampai di depan gerbang rumah mewah milik Kenan. Satpam yang berjaga segera membukakan gerbang tersebut. Sebelumnya memang sudah diberi tahu jika ada teman Kenan yang mau datang.


"Gue rasa Kenan nggak bangkrut ya, Lan!" ujar Reno.


"Ho'oh. Rumahnya lebih mewah!" Sandy ikut menimpali.


"Lo berdua gosip mulu kayak cewek!" Itu suara Lando.


Rain hanya menggeleng saja. Setelah itu melenggang pergi menaiki undakan.


"Raiiin ..." Gina yang baru saja membuka pintu pun melihat Rain langsung memeluk gadis itu.


Ketiga lelaki itu saling pandang dengan berbagai pertanyaan.


"Tante seneng banget akhirnya kamu mau dateng!"


"Iya, apa sih yang enggak buat Tante."


"Hallo, Tante," sapa Reno.


"Eh ada Reno, Lando sama Sandy. Ayo masuk!"


Mereka semua pun masuk ke dalam, menuju ruang tengah dimana hanya ada kesunyian.


"Sebentar ya, kalian duduk dulu. Tante panggilin Kenan dulu."


"Tante, biar aku aja yang panggil!" Rain menawarkan diri.


Membuat ketiga temannya itu melongo.


"Wah, kamu kangen ya. Ya sudah sana. Tante buatin kalian minum ya. Kamar Kenan ada di lantai dua. Ada tulisannya kok."


Rain mengangguk dan bergegas pergi.


"Rain, gue ikut ya!"


"Heh, Lo ganggu aja kalau ikut. Rain lagi mau kangen-kangenan sama Kenan!"


"Lo bertiga diem deh! Gue ada perlu sama dia!" ketus Rain.


"Sandy sama Reno doang, Rain yang berisik gue nggak!" protes Lando.


Rain hanya memutar kedua bola mata malas. Dia kemudian menuju kamar Kenan.


Hanya mengandalkan insting saja. Biasanya cowok itu suka kamar yang paling ujung. Rain menelusuri lorong dan menemukan ruang televisi lumayan luas, ada PlayStation juga. Sebelahnya ada kamar bertulisan Kenan.


Rain mengetuk pintu kamar bercat cokelat itu. Sosok lelaki dengan rambut acak-acakan dan muka bantalnya muncul dari balik pintu tersebut.


"R-Rain?" Kenan mengerjap beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah.


"Lo baru bangun tidur?"

__ADS_1


Kenan mengusap tengkuknya. Dia merasa malu karena mukanya pasti terlihat kusut.


"Ya, Lo ... Daritadi? Kok tahu kamar gue?" Kenan celingukan karena tidak ada mamanya disamping Rain.


"Insting aja! Ada temen Lo di bawah." Rain menerobos masuk untuk melihat kamar lelaki itu.


Rasa penasarannya muncul begitu saja. Kamar itu sangat luas. Cat hanya putih dan abu-abu saja. Simpel.


Rain melotot karena ada banyak foto dirinya yang semua di ambil secara candid. Foto Rain semasa cupu dan sekarang. Terpajang di dinding.


"Lo ... Bener-bener ya!"


Kenan tersenyum kikuk. "Sorry, gue___"


"Mending Lo mandi, gue tungguin. Gue mau ngomong sama Lo!"


Kenan hanya mengangguk saja dan menuju kamar mandi.


Sementara Rain melihat-lihat semua yang ada di kamar Kenan. Rupanya lelaki itu menyimpan fotonya sangat banyak. Lalu cincin yang pernah dia kembalikan pun ada di meja belajar milik Kenan.


"Sebenarnya perasaan Lo sama gue gimana sih?" gumam Rain.


Beberapa saat kemudian Kenan muncul dengan kaos oblong warna hitam dan celana pendek santai. Rambut yang basah dia keringkan dengan handuk.


Rain susah payah menelan salivanya. Kenan mode begini lebih tampan.


"Lo mau ngomong apa?" Kenan meraih kursi yang ada di meja belajarnya.


Sementara Rain duduk di tepi ranjang Kenan yang berantakan.


"Empuk ya, ngerasain kasur baru!"


Kenan hanya menggeleng saja.


"Geng Omorfos ngajakin balap, Lo harus ikut, Ken. Gue kan gabung sama geng Radit."


Kenan menggeleng, "Gue nggak bisa, Rain."


"Lo harus ikut, tanpa Lo Aksara berasa mati! Lo nggak kasian sama temen-temen Lo yang merasa kehilangan Lo. Ayolah, Ken!"


Kenan menghela napas, dia seperti itu karena tidak mau meninggalkan mamanya sendirian. Meski ada Tante Maya dan Oma Lily. Ada satpam dan beberapa bodyguard yang berjaga. Tetap saja Kenan merasa tidak aman jika dia pergi ikut balapan.


"Ada Rean juga Lando. Atau Lo gantiin gue aja!"


Rain mendesah kesal, keras kepala sekali.


"Nggak bisa, Ken. Gue juga ikut tapi di geng Radit. Ayolah. Lo harus bangkit nggak boleh kayak gini! Lo juga nggak sekolah lagi!"


"Gue mau ke Singapura, Rain!"


"Ya udah demi Aksara supaya nggak di olok sama Omorfos! Lo peduli nggak sih sama geng Lo?"


Rain menatap manik mata Kenan yang menyiratkan kekhawatiran.


"Lo pasti bisa ngalahin mereka dan gue! Tanpa Lo geng Aksara mulai kehilangan jati dirinya. Mereka selalu mengalami kekalahan dan mendapatkan olokan. Apalagi sekarang Omorfos nantangin kita!"


"Gue kayaknya bakal keluar dari geng itu!"


"Lo serius?" Rain tidak percaya ini. Seorang Kenan bisa menyerah begitu saja.


Kenan dihadapannya ini sangat berbeda. Biasanya dia paling tidak terima jika teman-teman gengnya mendapatkan olokan dari geng lain.


"Apa yang buat Lo begini?"


"Mama! Gue nggak bisa ninggalin dia sendiri!"


Sudah Rain duga, Kenan akan bersikap posesif untuk melindungi Gina dan membuatnya bahagia.


"Terserah Lo deh kalau memang mau bikin mereka kecewa. Dibawah ada Lando, Sandy dan Reno. Mereka seneng banget bakal ketemu Lo. Kalau mereka tahu Lo nyerah gini, gue nggak yakin mereka bakal mau kenal Lo lagi apa enggak!"


Kenan terdiam sejenak. Bayangan saat pertama kali membentuk geng dan mengenal mereka terlintas. Lalu banyak perjalanan yang telah mereka tempuh. Suka duka mereka lewati. Bahkan rumah ini pun salah satu anggota Kenan yang mengurusnya. Mereka selalu kompak meski Kenan mendapatkan masalah, tetap saja memberikan support untuknya. Rain benar, tidak seharusnya dia begini. Gina akan aman tidak akan ada yang berani macam-macam. Toh suaminya sudah mendekam dipenjara kan?


"Gue bakal suruh seseorang buat jaga selama Lo pergi. Dia sangat handal, Lo tenang aja! Itu kalau Lo mau!"


Kenan menimbang ucapan Rain, mungkin sudah saatnya juga dia bangkit sebelum pergi dari negara ini.


"Gue boleh nggak peluk Lo sekali aja?"


"Asal Lo mau ikut besok malem!"


Kenan mengangguk, Rain bangkit dari duduknya dan merentangkan tangannya.


"Gue bakal dateng, Rain!" Kenan memeluk Rain sangat erat.


Rain membalas pelukan itu untuk menyalurkan semangat kepada Kenan.


Berbeda dengan Kenan yang sangat merindukan aroma Rain dan mereka sedekat ini. Kenan enggan untuk melepaskan pelukannya. Sebentar saja Kenan ingin seperti ini. Kalau saja dia bisa menghentikan waktu dia akan menghentikannya supaya bisa memeluk Rain lebih lama.


Gue bener-bener kangen sama Lo, Rain.


Seharusnya gue segera menyadari kalau gue emang sayang sama Lo. Hati gue bukan untuk Ella melainkan Lo. Andai saja gue nggak gengsi waktu itu.


"Ken, are you okey?" tanya Rain yang merasa napas Kenan tersengal.


Kenan melepas pelukannya, "Terima kasih, Rain."


Rain menangkup wajah Kenan. Menatap manik mata biru laut milik lelaki itu yang berkaca-kaca. Bahkan air matanya sudah mengalir di sudut mata.


"Lo ... Kenapa? Jangan bersedih. Lo bisa bangkit lagi. Lo selalu bilang ke Tante Gina buat buka lembaran baru, tapi kenapa malah Lo yang terpuruk, hm?"


Rain menghapus air mata Kenan. Memeluknya lagi untuk menenangkan lelaki itu. Rain sudah melupakan kebenciannya dan memilih memberikan support pada lelaki itu. Tentu semua demi Tante Gina.


"Udah, masa ketua geng cengeng gini!" Rain membantu menghapus air mata Kenan.


"Maafin semua kesalahan gue ya, Rain. Semoga Lo selalu bahagia sama Radit. Kalau tuh lakik nyakitin Lo, gue nggak akan segan-segan hajar dia dan rebut Lo dari dia!"


Rain terkekeh, "Pengen banget gue sama Lo. Sayangnya gue nggak tertarik!" Rain tersenyum miring.


"Lo jangan ge er, gue begini demi Tante Gina demi sahabat-sahabat Lo yang merasa kehilangan Lo!"


Kenan mengangguk, setidaknya dia bisa melepas rindunya. Juga tidak akan melepaskan Rain begitu saja tentunya.


"Keluar yuk, kasian pada nunggu!"

__ADS_1


Kenan meraih jemari Rain untuk di genggam. Gadis itu menolak karena Kenan jadi ngelunjak. Gadis itu kemudian bersikap dingin. Sepanjang lorong dan menuju ruang tengah tidak ada obrolan sama sekali diantara mereka.


Bersambung....


__ADS_2