
Rain menatap ke arah sirkuit dengan hati tidak tenang. Entah mengapa rasanya dia mencium bau-bau tidak beres dari pertandingan ini. Gelagat Bara menunjukkan bahwa lelaki itu tidak ingin dikalahkan oleh Radit. Rupanya lawan Radit ini bukan lawan yang sembarangan. Pantas saja saat kemarin Rain mengalahkannya tatapan itu penuh permusuhan. Juga saat Rain menyalip motornya pun begitu sulit.
Rain tidak tahu sebenarnya apa permasalahan mereka berdua. Rain menurut saja untuk duduk di kursi penonton dan tetap tenang melihat pertandingan ini. Meski dia sama sekali tidak bisa duduk tenang. Bokongnya itu bagai memiliki bisul yang hendak pecah, Rain duduk dengan gelisah. Sesekali berdiri yang membuat para penonton lainnya mengomel.
Mereka tidak tahu saja siapa yang duduk diantara mereka ini. Namanya selalu mereka sebut dan mereka beri dukungan. Kalau saja mereka tahu, pasti Rain tidak akan bisa duduk tenang di sana. Akan banyak yang menyeretnya ke sana kemari demi sebuah foto atau tanda tangan.
Fans Rain memang mayoritas para lelaki, tapi para perempuan juga menyukai karena gayanya yang menurut mereka keren. Hanya saja mereka tidak tahu siapa orang yang mereka kagumi dengan nama Queen itu.
Rain memilih pergi karena tidak bisa menikmati pertandingan dengan tenang. Dia akan menuju garis finish untuk memastikan Radit baik-baik saja. Dia akui bahwa malam ini dia benar-benar mengkhawatirkan Radit.
Namun, seseorang menghalanginya.
"Lo mau kemana, girl!" tanya seorang gadis dengan pakaian seksinya.
Dia memutar kedua bola mata malas. Cewek itu, cewek yang selalu mengganggu Radit setiap kali ada balapan.
"Minggir!"
Gadis itu menahan pundak Rain. Meski dia kalah tinggi dengan Rain. "Oh, jadi ini ceweknya Radit?" Gadis itu menatap Rain dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Gadis itu baru pertama kali melihat Rain, meski Rain sering melihatnya karena dia selalu ikut balapan. Gadis itu juga tidak tahu siapa Queen yang selalu bersama Radit. Jadi ya, Rain tahu gimana boroknya gadis yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa memangnya?"
"Gue heran, kenapa Radit nggak pernah bawa Lo ke sini. Sekarang gue tahu jawabannya!" Gadis itu tersenyum remeh. "Lo nggak sebanding dengan gue!" ledeknya.
"Seksi maksudnya? Seksi dan cantik yang rela untuk di bagi-bagi?" Rain tersenyum puas. Setelah mengatakan itu dia berlalu.
Menyisakan tatapan tajam penuh permusuhan dari gadis tadi. Rain tidak perduli karena cewek murahan seperti itu bukan tandingannya yang sekali pukul langsung masuk rumah sakit, mungkin.
Gara-gara cewek tadi, Rain menjadi melewatkan pertandingan yang baru saja selesai. Rain mendengar dengan samar siapa pemenangnya.
Benar, dugaan Rain jika balapan itu ada karena sebuah masalah besar, buktinya sekarang ... Rain mendengar keributan.
Sayangnya Rain terlambat, dia sudah melihat Radit babak belur. Bara pelakunya.
Rain segera memberi serangan kepada Bara dengan menendang punggung lelaki itu dari belakang. Lelaki itu jatuh tersungkur karena mendapatkan serangan tiba-tiba.
"Sialan! Ngapain Lo ikut campur, hah!" kesal Bara.
Rain membantu Radit untuk bangun.
"Udah, Rain. Kamu pergi aja dari sini!" Radit tidak mau jika kekasihnya ini terluka.
"Kenapa memangnya, hah! Kalau sampe Radit kenapa-kenapa Lo bakal berurusan sama gue!" ancam Rain. Bara hanya tertawa melihat itu.
Di mata Bara, Rain adalah cewek yang lemah.
"Oh, begitu ya?" Bara menyeringai, dia ingat betul siapa gadis yang ada dihadapannya ini.
"Pacar Lo udah kalah. Jadi sebagai taruhannya Lo layani gue malam ini!" Bara menarik tangan Rain. Namun, segera Rain tepis.
"Cih, nggak sudi gue!" Rain berdecih membuat emosi lelaki itu tersulut.
Hampir saja Bara menampar Rain, tapi gadis itu dengan cekatan menahan tangan Bara.
"Bar, dia nggak ada urusan sama Lo ya!" Radit menarik tangan Rain agar menjauh.
"Katakan ada apa!" Rain merasa ada yang Radit sembunyikan.
"Cowok Lo ini nggak bisa nepatin janji, jadi sebagai balasannya Lo harus jadi budak gue selama gue bosen!"
Bugh
Bugh
Rain langsung memukul tulang kering Bara. Memberi bogeman pada wajah yang sama sekali belum lebam. Enak saja dia, membuat Radit hampir pingsan dan sekarang gilirannya membalas itu. Bara sangat terkejut dengan keahlian Rain yang jago bela diri ini. Dugaannya salah, dia bukan gadis sembarangan.
"Apa mau Lo, hah!" tanya Rain saat dia sudah menginjak dada Bara.
"Gue cuma mau tahu siapa Queen dan bawa dia kemari!"
__ADS_1
Rain menarik ujung jaket yang Bara kenakan. "Apa mau Lo setelah ketemu dia!" tanya Rain.
Dia ingin tahu apa yang Bara inginkan setelah bertemu dengan siapa Queen itu. Juga bagaimana ekspresi Bara setelah tahu bahwa Queen adalah Rain.
"Rain, udah nggak usah dengerin dia!" Radit berusaha membuat Rain melepaskan Bara.
Biar bagaimanapun ini urusan para lelaki. Radit juga tidak mau Rain memiliki urusan pada musuh bebuyutannya ini.
Rain pun melepaskan cengkeramannya. Bara tersenyum sinis. Baru kali ini dia dibuat babak belur oleh seorang cewek. Dia juga pernah dikalahkan oleh seorang cewek pula. Bara menyimpulkan jika Queen juga sama seperti Rain. Hal ini membuat Bara semakin dilanda rasa penasaran.
"Ngapain Lo cari Queen, hah!" Rain tidak mendengar apa kata Radit. Dia masih dikuasai oleh emosi.
"Harusnya Lo itu malu! Udah kalah tapi ngaku menang!" sindir Rain.
"Pertarungan Lo aja curang bisa-bisanya Lo ngaku menang!"
Rain tentu saja melihat dengan jeli bagaimana cara Bara menyerang Radit di dalam sirkuit. Lalu membuat Radit kalah tentu Rain sudah tahu gimana triknya.
Bara semakin dibuat terkejut karena Rain yang paham dengan segala upayanya untuk mengalahkan Radit.
"Gue hanya mau ajak dia gabung ke dalam club gue. Itu aja," jawab Bara santai.
"Bukan gini caranya, brengsek!"
"Rain, udah ya. Biar gue yang selesaikan ini!"
"Tuh, pa-car Lo aja ngerti! Ini urusan cowok!" kata Bara penuh penekanan.
"Gue!" Rain menunjuk dirinya sendiri. "Gue adalah Queen!" kata Rain yang sedikit berteriak itu.
Membuat siapa saja yang ada di sana menoleh dan terkejut. Tentu saja mereka tidak percaya.
Bara memberikan senyuman mengejek. Mana ada gadis seperti itu adalah Queen. Bara tidak percaya tentunya.
"Gue tahu Lo jago bela diri tapi gue nggak percaya Lo adalah Queen!"
Radit sangat terkejut karena Rain malah berkata jujur. Jika begini dia tidak bisa melindungi Rain. Gadis itu pasti akan terkena masalah. Radit sangat tahu siapa Bara ini.
"Perlu bukti?" Rain menatap tajam Bara yang sudah meremehkannya.
"Kita bertarung satu putaran!"
Bara memilih memakai motor yang lain, karena motor Radit sudah dia manipulasi.
Dia ingin tahu bahwa Rain benar-benar Queen atau bukan.
"Sorry, gue nggak sudi pakai motor Lo!" Rain membuang kunci motor itu.
Dia berjalan ke arah motornya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Bara semakin melotot melihat motor yang Rain kenakan. Bara terus menatap dari cara Rain memakai helm sampai menaiki motornya itu memang Queen. Meski setiap kali balapan Queen tidak pernah melepas helmnya tapi siapapun sudah hafal helm juga motor yang Queen kenakan.
"Dia ... Benar-benar Queen?"
"Astaga ... Cewek yang gue omelin tadi Queen!"
"Demi apa? Tadi gue duduk di sebelah dia!"
Suara beberapa penonton mulai terdengar. Mereka tidak menyangka jika Queen memperlihatkan wujudnya.
Radit tidak percaya ini. Apa yang ada di pikiran Rain? Kenapa dia malah memperlihatkan siapa dirinya? Radit segera menepi dan menghubungi Rean.
"Kalau gue menang jangan pernah gangguin gue maupun Radit!"
"Gue nggak setuju!"
"Ck, mau Lo apa!" Rain sudah sangat kesal menghadapi cowok menyebalkan itu.
"Gue mau Lo! Gue nggak akan berhenti gangguin Lo, sampai Lo mau gabung sama gue!" Bara akan nekat sampai apa yang dia inginkan tercapai.
Rain menghela napas lelah. Rupanya dia tidak bisa memakai emosi karena yang dihadapi adalah cowok keras kepala.
"Lo kalah harus gabung geng motor gue!"
__ADS_1
"Okey! Kalau Lo kalah jangan pernah gangguin gue sama Radit!"
Bara menimbang ucapan Rain, kalau dia menyetujui dia akan memikirkan cara lain tentunya. Mendapatkan Rain memang tidak mudah, yang penting dia sudah tahu siapa Queen ini.
"Ya ... Ya ... Baiklah baiklah! Sekarang tunjukkin kalau Lo emang beneran Queen!"
Bara masih penasaran jika Rain itu Queen atau bukan. Dia tidak mau tertipu meski penampilan sama. Bisa saja Rain mengada-ada kan? Supaya Radit selamat.
"Oke!" jawab Rain santai.
Gadis seksi yang tadi mengganggunya sudah berdiri di hadapan mereka dengan wajah tertunduk malu. Dia kira Rain seperti dirinya yang gampang tergoda lelaki tampan. Rupanya dia adalah Queen, gadis balap yang selalu dia kagumi karena kemampuannya. Hanya sekadar kagum biasa bukan berarti dia tidak normal ya.
Gadis bernama Nindy itu menghitung mundur.
"Satu!" kata Nindy
Bara langsung tancap gas, begitu juga Rain yang membiarkan lelaki itu mendahuluinya. Dia akan buat Bara kalah malam ini.
**
Rean segera pergi ke tempat yang Radit katakan dengan tergesa. Mentari yang melihat kepanikan Rean pun meminta ikut. Takut lelaki itu kenapa-kenapa juga takut kalau di apartemen sendirian.
Meski Mentari juga takut kalau Rean akan ngebut. Dia masih sayang dengan hidupnya.
"Pegangan yang kencang!" kata Rean.
Mentari menurut tanpa protes.
Namun, saat Rean sudah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi mulut Mentari komat-kamit. Dia sangat ketakutan tapi mau bagaimana lagi, ini juga mau dia ikut kan? Jadi ya harus terima resikonya.
Mentari juga tidak menyangka jika Rain tadi bertengkar dengan cowok. Membuat cowok itu babak belur. Mentari jadi bergidik ngeri sekaligus takjub secara bersamaan.
"Ya, Tuhan ... Mentari masih mau hidup!"
"Ibu, Sean ... Maafin Kak Tari ya yang selalu nyusahin kalian."
"Ayah, aku bakal gentayangin ayah pokoknya."
"Rean, aku sayang banget tau sama Rean. Aku cinta sama Rean!" teriak Mentari.
Tentu saja Rean dengar semua ucapan-ucapan Mentari yang sangat ketakutan itu. Rean tersenyum mendengarnya. Namun, ucapan yang terkahir itu membuat Rean ngerem mendadak.
"Rean, astaga!" Mentari terkejut setengah Mati. Dia pikir Rean menabrak atau kenapa.
"Coba bilang lagi yang tadi!" kata Rean.
Mentari linglung, jiwanya seperti melayang begitu saja karena Rean yang membawa motor dengan kecepatan tinggi itu. Jadi dia tidak ingat apa saja yang dia katakan tadi. Dia benar-benar kacau dan meracau asal-asalan.
"Apa?"
"Katakan yang terakhir barusan!"
Mentari membuka kaca helmnya dan menatap Rean. Saat ingat apa yang Mentari katakan gadis itu segera menutup kembali kaca helmnya. Wajah Mentari sudah seperti tomat. Dia sangat malu dan bagaimana bisa Rean mendengarnya.
Jika dia dengar, maka semua ucapannya tadi juga Rean dengar. Ah, Mentari sangat malu. Rasanya dia ingin menenggelamkan wajahnya ke dasaran bikini bottom.
"Rean," rajuk Mentari.
"Udah, ayo nanti Rain kenapa-kenapa." Mentari mengalihkan topik. Dia tidak mau membahas itu.
Rean terkekeh. Bagaimana bisa ada makhluk yang bernama perempuan yang menggemaskan seperti ini.
"Katakan dulu!"
Mentari malah memeluk Rean dan menyembunyikan wajahnya di punggung lelaki itu.
"Aku malu, Rean!"
"Haha, ya udah nanti kalau udah sampe sana bilang lagi ya!"
Mentari diam saja. Dia sangat malu karena hal ini. Bisa-bisanya juga dia bicara seperti itu.
__ADS_1
Ah, andai waktu bisa Mentari putar kembali, ingin rasanya Mentari putar dan memperbaiki ucapannya itu.
Bersambung..