
Bab 90
"Seriusan gue bakal punya keponakan?" tanya Rain yang sangat antusias mendengar kabar dari Rean.
Mereka sedang duduk di sofa yang berada di ruang televisi. Pulang sekolah Rain mampir ke apartemen Rean untuk menjenguk Mentari yang katanya sedang sakit.
"Ya, udah lima mingguan!" kata Rean merebut bungkus keripik kentang dari tangan Rain.
"Wah, jago juga ya!" Rain melirik ke arah dimana tersangka yang membuat perut Mentari kembung berada.
"Heh!" Rean menyentil kening Rain. "Mata di jaga ya!" protes Rean.
Rain tertawa terbahak. "Nanti gimana sekolah dia? Kalau bunting gitu kan bakal geger sekolahan?" tanya Rain mengalihkan topik.
"Urusan papa. Nanti kalau udah agak besar suruh homeschooling aja!"
"Bang, enak nggak sih kalau nikah muda gitu?" Wajah Rain berubah serius.
Sementara Rean memicingkan matanya. Dia curiga kalau Rain tiba-tiba bertanya seperti ini.
"Jangan bilang kalau Lo mau nikah juga! Lo punya pacar lagi?" Rean terkejut padahal Rain belum menjawab pertanyaan Rean.
"Ya ampun, Lo nggak kapok apa ya? Siapa cowok Lo sekarang? Bilang sama papa biar anak buahnya selidiki dia!"
Rain memutar kedua bola mata malas. Kalau Rean sudah keluar overprotektifnya Rain sangat menyesal bertanya hal itu.
"Gue balik dulu ah!"
Rean menarik tangan Rain agar duduk kembali. Dia belum selesai bicara dan masih penasaran tentang dugaannya.
"Diem berarti bener!" Rean menarik dagu Rain dan menatapnya dengan sorot mata tajam.
Kalau sudah seperti ini Rain tidak bisa berkutik.
"Bara!" cicit Rain.
Tawa Rean menyembur. Ini benar-benar di luar prediksi. Rean kira Rain memiliki kekasih yang lebih gila dari Radit.
"Cowok konyol itu Lo pacarin?" Rean geleng kepala.
Meski konyol kalau setia kan nggak masalah. Apalagi Bara ini cowok baik-baik lho. Rean saja yang selalu over thinking sama Bara.
Sejak dulu mereka memang musuhan, bukankah Bara sekarang sudah mengibarkan bendera perdamaian? Bahkan nasib geng Aksara saja sudah tidak tahu bagaimana. Ketua mereka yang menghilang dan tidak lagi bertanggung jawab membuat mereka ingin menunjuk penggantinya.
Rean terus membujuk Kenan untuk kembali, melupakan semua masalah yang ada. Meski hanya kata maaf yang sering kali Rean dengar, tapi Rean tidak perduli. Toh semua sudah terjadi untuk apa di sesali. Sekarang geng mereka menjadi bahan olokan karena tidak se eksis dulu. Bahkan banyak balapan yang mereka lewati. Juga tawaran balap liar dari geng musuh hanya demi mencari siapa yang terkuat pun tidak ada yang maju karena ketuanya saja diam.
Rean tidak mau mengambil keputusan yang beresiko. Meski anggota lain meminta Rean untuk menggantikan Kenan, tapi Rean tetap berusaha menolak dengan cara yang baik. Kalau saja Rean dendam kepada Kenan karena perlakuannya yang buruk kepada Rain dulu, tentu saja dengan senang hati Rean akan menendang Kenan.
Rean mengesampingkan masalah itu karena tidak mau mencampur adukkan dengan masalah geng motornya. Rean masih menghargai Kenan, berharap laki-laki itu bangkit. Dia sempat merasa bahagia ketika Rain sudah putus dengan Radit dan ingin sekali Kenan menebus semua kesalahan dimasa lalu. Menjalani kisah yang lebih baik, tapi nampaknya Rain sudah menjaga jarak dengan lelaki itu.
"Dia baik kok, selalu bantuin gue. Lo inget kan kalau dia pernah selamatkan nyawa gue?" ucap Rain.
"Ya udah gue saranin aja buat hati-hati. Gue takut kalau kejadian yang sudah-sudah terulang lagi." Rean menepuk bahu Rain.
"Iya, gue juga hati-hati. Demi keseriusan dia makanya nanti setelah lulus ngajak nikah!" Rain tersenyum manis sekali.
Rean juga tersenyum sambil menepuk puncak kepala Rain. " Anak Pintar, siapa yang ngajarin, hm?" tanya Rean yang seketika berubah garang wajahnya.
"Abang Rean?" jawab Rain santai.
"Masa depan Lo masih panjang. Jangan di tiru kesalahan gue."
"Papa setuju malah sudah rencana jodohin kita. Soalnya papa Bara itu teman dekat papa lho!"
Tentu saja Damian setuju dengan perjodohan yang ditawarkan Alpha karena itu artinya perusahaan mereka saling bekerja sama dan pastilah sangat menguntungkan. Dua perusahaan besar bekerja sama dan membuat para pelaku usaha pun pasti tergiur untuk ikut berpartisipasi dan melakukan kerja sama juga.
Menikah muda memang tidak masalah jika dari segi ekonomi saja sudah lebih dari cukup. Biasanya para orang berada itulah yang memilih menikahkan anaknya lebih dulu ketika tahu mereka berpacaran supaya mengurangi potensi pergaulan bebas. Ya, meski banyak hal yang harus di pertimbangkan karena menikah itu bukan soal suka sama suka saja. Melainkan banyak hal yang di dalam rumah tangga itu harus kompak. Di bicarakan terlebih dahulu lalu memikirkan bersama. Tidak bisa langsung putus begitu saja ketika kita merasa bosan dengan pasangan. Apalagi jika sudah memiliki anak, pastilah anak yang akan menjadi korban keegoisan kedua orangtuanya.
Pernikahan yang berusia matang saja banyak sekali cobaan apalagi nikah muda. Semua tergantung yang menjalaninya juga sih.
Seperti Rean dan Mentari. Pastilah suatu hari nanti ada masalah yang akan menanti. Mereka akan melanjutkan kuliah misalnya. Rean tentu saja bisa melakukan itu semua tanpa harus memikirkan meninggalkan anak seorang diri. Sementara Mentari banyak hal yang harus dia pikirkan ketika ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.
Kini giliran Rain yang sudah lelah menjalani kisah cinta yang lagi dan lagi menyakitkan. Dia juga ingin menikah muda saja. Dia merasa Bara memang pantas untuknya di masa depan.
"Lo harus mikirin baik-baik, Rain. Nikah itu banyak yang harus di pertimbangkan. Bukan hanya karena saling cinta aja. Sekarang Lo ngebet banget pengen nikah, tar giliran udah nikah Lo bilang nyesel deh nikah muda!" Rean mencoba memberi nasehat untuk Rain agar gadis itu bisa memikirkan lebih matang.
Ya, memang Rain trauma saja pacaran. Dia juga melihat Bara yang berbeda dari cowok lain. Makanya dia mau saja saat Damian bilang kalau sebenrnya Damian dan Alpha sudah sepakat mau menjodohkan mereka.
"Iya sih, gue juga mikir mulu."
Jawaban Rain yang kelewat santai membuat Rean malas untuk menasehatinya lagi. Dia memilih menyalakan televisinya. Sementara Mentari sedang terlelap dalam tidurnya karena merasa lelah seharian bolak-balik kamar mandi.
"Lo yakin mau nikah sama Bara? Lo kan belom kenal deket, Rain. Lo harus tahu gimana Bara. Seenggaknya jalani aja dulu baru memutuskan sebuah hubungan yang serius."
"Duh, calon bapak tuh beda ya kalau ngomong!" canda Rain.
"Heh, gue kasih tahu juga malah bercanda!" Melayanglah remot televisi ke kepala Rain.
"Gue takutnya kayak yang sudah-sudah. Apalagi dia terkenal badung!"
"Kayak Lo!"
Rean menoleh dengan tatapan tajam. Membuat Rain susah payah menelan salivanya. Dia memilih mengambil ponsel di saku celananya dan mengangkat sedikit. Lalu menempelkan ponsel itu ke telinga. Pura-pura ada yang menelpon dan dia berjalan menjauh dari Rean.
Saat menoleh dan di rasa sudah aman Rain membuka pintu dan langsung lari terbirit-birit. Dia nggak mau terkena amukan dari Rean. Jadi cari aman saja.
"Dasar Bapak galak!" umpat Rain saat masuk ke dalam lift.
Bersama dengan itu, ponselnya berbunyi. Ada nama Bara di layar benda pintar itu.
"Ngapain?" tanya Bara.
"Diem aja," jawab Rain ketus karena sedang kesal dengan Rean.
"Dimana?" Bara sejak menjadi kekasih Rain itu bawaannya curiga terus sama pacar.
Ya maklum lah Rain ini banyak yang naksir. Apalagi Rain kelewat ramah sama para fansnya. Bara memang banyak juga gadis-gadis yang ngantri, tapi dia tetap cuek karena menjaga perasaan Rain.
"Lagi di lift! Ada apa sih?" gerutu Rain.
"Video call!"
Belum sempat Rain menjawab panggilan itu sudah berganti video call. Rain memperlihatkan sekitar kalau memang dia sedang di lift.
"Aku lagi di apartemen Rean. Ini mau pulang. Astaga! Nggak percaya banget." Rain mengerucutkan bibirnya. Kesal saja dengan Bara yang sekarang malah lebih protektif dari Rean.
"Tunggu di sana! Aku jemput sekarang!"
"Eh_" Belum sempat protes, Bara sudah mematikan sambungan teleponnya.
Rain memilih duduk di sofa yang berada di lobi saja. Menunggu Bara dengan bosan tentunya. Ya aneh saja, jarak rumah Bara dengan apartemen Rean itu jauh kalau nggak di jemput Rain sudah setengah jalan.
"Ayo, pulang!" Bara datang dan sudah menarik tangan Rain.
Rain melongo karena terkejut Bara tiba-tiba saja sudah datang. Dia ke sana naik apa?
"Kamu ...."
"Aku lagi di dekat sekolah, memang kamu nggak liat tadi aku lagi di lapangan?"
Rain menggeleng lemah dia juga baru menyadari kalau Bara masih memakai seragam sekolah.
"Kenapa sih kalau mau pergi nggak bilang dulu? Aku bisa anter kamu. Sudah aku bilang kan kalau__"
Rain sudah tidak tahan lagi mendengar omelan Bara. Jadi Rain memilih menarik bibir atas dan bawah milik Bara secara bersamaan. Tidak perduli bibir itu akan tambah maju seperti Suneo.
"Bisa diem nggak sih!" Rain melepas tarikannya.
Lalu memperagakan seolah-olah bibir Bara adalah resleting. Dia menutup resleting itu dan menguncinya.
"Beres!" Rain menepuk kedua tangannya seolah ada debu di telapak tangannya.
__ADS_1
"Biar nggak berisik. Ayo kita pulang!" Rain melingkarkan tangannya di lengan Bara.
Laki-laki itu menurut saja untuk diam. Jadi sepanjang perjalanan mereka ya diam saja. Sampai motor milik Bara berhenti pada penjual mie ayam langganannya.
Rain ingat betul, saat Bara tiba-tiba mengajaknya makan mie ayam untuk pertama kalinya. Mereka belum kenal dekat dan penjual mie ayam mengira Rain kekasihnya.
Sekarang mereka ke sana dengan status yang berbeda.
Bara mengangkat dua jarinya tanpa suara. Dia pun duduk di tempat lesehan yang lebih nyaman. Penjual mie ayam itu mengernyit. Sementara Rain terkekeh. Dia memutar kunci seolah bibir Bara sedang di kunci. Lalu memperagakan membuka resleting yang ada di bibir Bara.
"Mie ayam dua ya, Pak. Es teh nya juga dua!" ujar Bara.
Rain terkekeh melihat tingkah Bara. "Udah ngomong aja. Lagian nurut banget!"
"Seneng kan?" Bara mengusap puncak kepala Rain.
"Banget! Kamu selalu aja ada tingkah yang bikin aku ketawa!"
"Iya dong, buat kamu apa sih yang enggak!" Bara menggenggam tangan Rain dan mengecupnya.
"Aku akan selalu buat kamu bahagia."
Penjual mie ayam itu ikut tersenyum melihat keromantisan dua remaja tersebut.
"Mas Bara kayaknya lagi jatuh cinta ya? Mbaknya cocok banget deh sama Mas Bara. Semoga langgeng ya," kata Penjual mie ayam sambil meletakkan dua mangkok pesanan mereka.
"Bapak bisa aja!" ujar Bara.
Bara melirik ke arah ponsel milik Rain yang menampilkan nama Kenan. Bara langsung menyambar ponsel itu dari tangan Rain dan menggeser tombol hijaunya.
"Rain, bisa kita ketemu nanti malam di taman kota? Ada yang ingin gue bicarain sama Lo."
Wajah sumringah Bara mendadak hilang berganti wajah masam bersamaan dengan darah yang mendidih. Api cemburu mulai berkobar. Sementara Rain bingung apa yang Kenan katakan.
"Keluar dari kandang singa masuk ke kandang monster!" Rain menepuk keningnya.
"Jam berapa!"
"Bara? Gue nggak bermaksud__"
"Jam berapa gue tanya!" teriak Bara membuat pengunjung lain pun menoleh ke arah mereka.
Rain menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan maaf.
Setelah selesai berbicara dengan Kenan, Bara meletakkan ponsel milik Rain di tas ransel milik Bara. Dia tidak memperbolehkan Rain melihat ponselnya.
"Blokir atau ganti nomor saja!" kata Bara.
Rain tidak menjawab karena pasti kalau di jawab pun serba salah.
"Kenapa diam?"
"Iya nanti aku ganti nomor."
"Nggak usah, blokir aja nomor cecunguk itu!"
"Cecunguk?" beo Rain. Tidak mengerti siapa yang Bara maksud.
"Mantan Lo yang sok ganteng! Minta ketemuan nanti malam!"
Rain mengulum senyum. Jadi Kenan mengajaknya ketemuan dan Bara cemburu. Pikir Rain.
"Dimana? Jam berapa?" Rain sengaja memancing emosi Bara yang pasti sangat membahayakan kenyamanan dirinya memakan mie ayam.
"Delapan di taman kota. Gue anter nggak boleh sendiri."
Bara masih memasang wajah masam. Sungguh mode cemburu gini tuh Bara sangat menggemaskan dan kadar ketampanan malah lebih. Rain jadi takut kalau para pengunjung yang rupanya para mahasiswi itu melirik Bara lalu naksir pacarnya ini.
"Jangan ngambek. Aku suapin ya," rayu Rain, juga untuk menunjukkan kalau Bara itu adalah miliknya.
Baru sehari saja pacaran tapi Rain sudah pusing dengan sikap protektif Bara. Dia ini juga benar-benar cemburu. Tandanya Bara sangat menyayangi Rain.
Ah, mengingat itu saja membuat jantung Rain berdebar tidak karuan.
***
Malam harinya Rain bertemu dengan Kenan sesuai janji yang sudah di sepakati. Meski ponsel Rain masih ada pada Bara. Rain harus memakai ponsel lelaki itu yang kelewat berisik karena terus berdering menampilkan notifikasi dari grup WhatsApp gengnya. Belum lagi para gadis yang mengirim DM dan kirim pesan ke Bara. Membuat Rain kesal juga penasaran dengan ponsel milik kekasihnya ini.
Melihat isi ponsel itu, Rain luar biasa terkejut. Banyak sekali foto candid dirinya. Saat melihat pesan yang begitu banyak, rupanya pesan dari nomor tidak di kenal dan tidak pernah Bara tanggapi. Bahkan satu pun tidak ada yang dia buka.
Rain pun terkejut dengan pesan dari Regar yang baru saja masuk.
[WOY!! Lo lagi unboxing ya? Pantesan sok sibuk. Gimana rasanya punya pacar?]
[Njiir, dibaca doang. Lo lagi ngapain, Sat!]
[Iya deh yang lagi jatuh cinta beda. Lupa sama kita-kita. Gue turut bahagia Lo akhirnya bisa jatuh cinta sama orang yang tepat. Selamat bersenang-senang, kawan!]
Tanpa sadar Rain tersenyum. Membaca rentetan pesan dari Regar. Rupanya bukan hanya dugaan saja. Bara memang cowok berbeda dan dia cowok setia. Firasat Rain kali ini tidaklah salah.
Hingga ponsel Bara berdering. Ada nama 'Sayang' yang memanggil.
Rain tersipu malu karena nama kontak milik Bara hanya dia kasih nama Bara saja. Sementara Bara menamai nomor miliknya dengan nama 'sayang'.
"Ngapain?"
Selalu saja tidak ada kata penyambutan romantis dari cowok itu.
"Nungguin kamu dateng!"
"Aku udah di depan!"
Bara mematikan ponselnya. Rain menggerutu karena kesal dengan tingkah Bara yang seenaknya mematikan sambungan teleponnya. Bisa nggak sih Bara tuh sedikit romantis kalau lagi ngobrol lewat telepon. Kesannya tuh ketus gitu.
Rain melangkah menuruni anak tangga. Kebetulan suasana mansion sepi karena para penghuninya sibuk menghadiri pesta.
Bara menatap Rain yang kini berdiri di ambang pintu. Penampilan yang berbeda membuat Bara mendorong tubuh Rain.
"Ngapain pakai dress? Oh, kamu mau tebar pesona kan sama mantan kamu itu?"
Rain melotot. Sungguh Bara ini kalau bicara asal sekali, ingin rasanya Rain menyumpal bibir Bara dengan sepatu flat miliknya.
Dia capek-capek dandan karena ini kencan pertama kan? Eh malah Bara mengacaukan suasana hatinya.
"Ngeselin banget! Siapa juga yang mau tebar pesona! Tadi katanya kita makan dulu." Rain melipat kedua tangannya di dada dengan bibir mengerucut.
Bara sangat gemas kalau Rain sedang mode ngambek. Ingin rasanya dia memojokkan Rain ke tembok dan mencium bibir itu hingga membengkak. Namun, Bara harus menahan ide gila itu karena tidak mau Rain berpikir dia mesum dan hanya menginginkan itu saja darinya. Padahal jelas-jelas dia cinta mati sama Rain.
"Jadi kamu dandan buat aku?" Bara mengulum senyum. Dia juga merasa bersalah karena sudah menuduh Rain.
"Dah lah males. Mau ganti aja!"
"Hey, jangan marah!" Bara menarik dagu Rain untuk menatapnya.
"Nggak perlu repot-repot kamu begini buat aku. Tampil apa adanya kamu aku suka kok. Aku tahu kamu pasti nggak bakal betah pake dress!"
Rain nyengir kuda, wajah yang cemberut tadi mendadak hilang. Benar kata Bara, kalau Rain tidak akan betah pakai dress. Rain saja yang sok-sokan mau tampil feminim.
"Aku ganti dulu deh kalau gitu."
Bara mengangguk. Dia mendaratkan bokongnya di sofa sambil memandangi punggung Rain yang semakin menjauh.
"Gue nggak bisa bayangin Lo pergi dari hidup gue, Rain. Mungkin gue nggak punya semangat hidup karena Lo udah berhasil nyuri hati gue!" gumam Bara.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan Bara pun berdiri. Melihat tampilan Rain seperti biasanya membuat Bara lebih lega. Kalau kayak gitu kan nggak akan ada yang tahu jika Rain sebenarnya sangat cantik seperti bidadari. Cukup Bara saja yang lihat Rain tampil feminim.
"Nah, gitu kan bagus!" puji Bara.
Rain memasang tudung hoodienya dan memasukkan satu tangan ke saku hoodie. Satu lagi memeluk lengan Bara. Rain merasa jantungnya berdebar lebih kencang. Dia saja bisa mendengar apalagi Bara. Rain melirik ke arah Bara karena takut jika dia mendengar suara detak jantungnya yang berdegup.
"Tumben naik mobil?" tanya Rain.
__ADS_1
"Biar kamu nggak kedinginan!"
Bara kemudian melajukan mobilnya. Sebelum menemui Kenan mereka melakukan makan malam terlebih dahulu. Setelah perut terisi mereka pun menuju taman kota tempat dimana Kenan sudah menunggu.
Bara memeluk pinggang Rain dengan posesif. Rain melirik ke arah Bara. Lagi dan lagi jantungnya kembali berdebar tidak karuan.
Saat Bara menghentikan langkahnya mencari keberadaan Kenan, Rain justru memandangi wajah Bara. Tangan cowok itu masih setia bertengger di pinggangnya. Rain merasa beruntung bisa memiliki Bara. Meski dia pernah pacaran sama Radit, rasanya saat bersama Bara dia merasa bahagia luar biasa. Dia merasa memiliki seorang kekasih, diperlakukan dengan baik oleh Bara. Bahkan Bara selalu memutuskan tatapan dan melangkah mundur ketika jarak wajah mereka terlalu dekat.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Aku ... Deg-degan!" Rain memegang dadanya.
"Mau ketemu mantan deg-degan?" Ucapan yang keluar dari mulut Bara benar-benar menyebalkan.
Padahal Rain deg-degan karena jarak mereka yang dekat apalagi Bara memeluk pinggangnya. Rain terus menatapi wajah Bara yang sialnya malam ini sangat tampan. Dia terlihat lebih tampan dari pertama kali bertemu dengannya.
"Aku tuh deg-degan karena deket kamu! Aku jadi merasa punya pacar." Rain terkikik geli. Kenapa juga sekarang dia tuh selalu mengungkapkan semua perasannya. Juga mulut dia seakan nggak bisa di rem kalau lagi sama Bara jadi selalu berkata jujur.
Bara justru terkekeh. "Ya kan aku emang pacar kamu!" Bara mencolek hidung Rain.
"Tuh, temuin sana!" Bara menunjuk ke arah Kenan dengan dagunya.
Rain mengikuti arah dagu Bara dan melihat Kenan sedang duduk di kursi taman membelakangi mereka.
"Kamu tetep di sini kan?"
Bara mengangguk, "Selesaikan dulu masalah kalian. Aku nggak mau kalau pacaran sama orang yang masa lalunya belum selesai!" ucap Bara dengan tenang.
Meski Rain tahu hati Bara sakit saat mengatakan ini. Menurut Rain urusan dengan Kenan sudah jelas selesai. Hanya saja ada Tante Gina yang selalu memintanya datang dan menyuruh Kenan menjemput. Mungkin ini yang dimaksud Bara. Dia tahu karena selama menjadi teman Rain, Bara selalu mengawasi gerak-gerik gadis itu. Takut saja jika Gwen menyakitinya. Meski Bara tahu jika Rain gadis yang tangguh.
Rain sebenarnya Ragu untuk melangkah. Dia takut jika Bara kecewa atau tiba-tiba menghilang.
"Ayo, temui dia. Aku akan menunggu kamu di sini, sayang!" Bara mencium pipi Rain.
Membuat gadis itu merona dan juga tubuhnya mendadak membeku.
"Hey, kok malah diem aja?" Bara melambaikan tangannya tepat di wajah Rain.
Dasar Bara ini tidak tahu saja kalau jantung Rain sedang jumpalitan dan perutnya kembali di serang kupu-kupu. Hanya dengan Bara Rain merasakan sensasi ini.
"Aku ... Ke-sana dulu!" ucap Rain sedikit gugup karena tiba-tiba Bara menciumnya.
Kepergian Rain menyisakan Bara yang mengulum senyum. Dia menghembuskan napas panjang dan mengusap dadanya.
"Ya ampun!" Dia saja sebenarnya termor saat mencium pipi Rain.
"Bener ya kata orang kalau cinta bisa membuat orang berubah!" Bara seperti orang gila yang ngobrol sendiri sama ponsel.
Dia sedang memandangi ponsel Rain yang wallpapernya adalah foto gadis itu sendiri.
Sementara Kenan tersenyum ketika melihat kedatangan Rain. Dia menggeser duduknya supaya gadis itu duduk di sebelahnya dengan jarak.
"Duduk, Rain!" Kenan menepuk bangku di sebelahnya yang kosong.
Rain pun duduk dan menatap lurus ke depan tanpa mau mengatakan apapun. Terjadi keheningan diantara mereka, entah mengapa Kenan menjadi canggung.
"Sebelumnya gue mau bilang makasih karena mau datang!" Akhirnya Kenan membuka suara.
Meski perasaannya masih sama seperti sebelumnya. Mencintai Rain, tapi malam ini ada yang berbeda. Degupan jantung itu tidak berdebar kencang seperti biasanya jika berdekatan dengan Rain. Ya, berdebar tapi tidak terlalu. Apa itu artinya dia sudah ikhlas dengan takdirnya?
"Ya, gue juga sebenernya mau ngomong sama Lo. Tentang Tante__"
"Mama udah tahu kok kalau pertunangan kita batal dan sebenarnya Lo benci sama gue. Mama hanya berusaha buat Lo nggak benci sama gue. Makanya dia selalu mencari cara biar gue deket sama Lo!" jelas Kenan.
Kenan memang menyembunyikan fakta ini, dia juga setuju dengan ide mamanya. Hanya dengan cara seperti itu Kenan bisa menghabiskan waktu bersama Rain meski tetap dalam pengawasan Tante Gina.
Rain tidak bisa berkata apapun karena sekarang otaknya ngebleng. Tubuh gemetar juga takut jika Bara sebenarnya tidak menyukai pertemuan ini. Hanya saja cowok itu nggak tega mau bilang.
"Sorry, ini juga bukan mau gue, Rain! Gue bahagia sekarang karena Lo dapetin cowok yang tepat!" Kenan memegang bahu Rain. Gadis itu sedikit menjauh dan melirik ke arah dimana Bara duduk sambil menatap ke arah Rain dan Kenan.
"Kita udah selesai, Ken! Nggak ada lagi harapan buat Lo!" ujar Rain tegas.
Kenan tersenyum dan mengangguk. "Ya, semoga gue bisa lupain Lo dan menemukan cewek sebaik Lo!" Kenan menatap langit bertabur bintang.
Tiba-tiba saja bintang-bintang di sana membentuk wajah Azella yang sedang tersenyum. Kenan langsung mengalihkan pandangan itu. Ada yang aneh dengan dirinya.
"Sampai bertemu pada takdir terindah dalam versi terbaik kita masing-masing. Aku bahagia bisa mengenalmu dan aku bahagia bisa sesayang ini padamu. Meski pada akhirnya kita kembali menjadi dua orang asing yang pura-pura tidak saling mengenal dan tidak pernah terjadi apapun diantara kita!" Kenan bangkit berdiri dan mengacak puncak kepala Rain sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu.
"Bahagia selalu, Rain. Datang padaku jika kamu nggak bahagia sama dia!" Ucapan terakhir Kenan yang membuat Rain hanya bisa diam.
Kepergian Kenan menyisakan rasa lega di hati Rain. Semua sudah selesai dan tidak ada rasa tidak enak lagi jika Tante Gina mengajaknya bertemu. Rain sudah tahu rencana wanita yang sangat baik itu. Meski semua sudah jelas, tapi Rain tentu saja akan tetap berhubungan baik dengan wanita yang sangat menyayangi dirinya.
Bara datang membawa tissue yang dia usapkan di puncak kepala Rain dan juga pundak gadis itu. Rain terkejut dengan tingkah absurd cowoknya ini.
"Ada apa?"
"Dia pegang-pegang kamu di sini. Aku nggak mau ada bekas dia!" Wajah Bara sudah terlihat kesal.
Rain tertawa. Ada saja tingkahnya.
"Aku udah selesai, Bara. Nggak ada lagi pertemuan aku dan dia."
Bara menghela napas lega. Lalu dia mencubit kedua pipi Rain.
"Kenapa kamu nggak bisa panggil aku dengan sebutan sayang, hm?"
"Sakit, sayang!" katanya.
Membuat tubuh Bara meremang. Hatinya jumpalitan hanya mendengar Rain memanggil dia sayang.
"Ya, Tuhan." Bara menarik tangan Rain. "Nikah aja yuk. Aku nggak mau kamu jatuh cinta sama orang lain!" ucapnya.
"Ih, nggak ah. Nanti kamu yang berpaling dari aku karena bosan!" Rain mencebik.
"Boleh nggak kalau aku bawa pulang kamu terus aku kurung di kamar?" Rasanya Bara nggak sanggup kalau harus berjauhan dari Rain.
Kayaknya dia akan meminta Bapaknya buat mempercepat pernikahan mereka. Dia nggak mau kalau sampai Rain di dekati banyak cowok.
Rain tertawa dan akhirnya mereka menikmati malam yang indah dibawah langit gelap bertabur bintang itu. Kebahagiaan mereka terlihat sangat jelas seperti langit yang hari ini cerah. Bahkan sinar bulan pun ikut memeriahkan kebahagiaan mereka.
Tidak ada lagi Rain yang patah hati karena selalu di sakiti oleh lelaki. Kebahagiaan itu datang untuk Rain dan juga keluarga Damian. Kehadiran malaikat kecil di dalam perut Mentari membawa keberkahan untuk semuanya.
Bara telah menemukan gadis yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Bara akan memperlakukan gadis itu seperti ratu. Tidak akan pernah menyakiti dan membuat Rain menangis. Itu janji Bara.
"Cinta aku ke kamu itu seperti atom, tidak bisa dibagi dengan apa pun,"kata Bara.
Rain mendorong bahu cowok itu, wajahnya benar-benar memanas saat ini.
"Pinter banget ngegombal!"
"Ih, serius kenapa pula aku gombal!"
Rain memilih memalingkan wajah yang pasti sudah memerah. Jatuh cinta baginya itu benar-benar membuat otaknya tidak bisa bekerja secara sempurna.
"Sayang," panggil Bara.
Suara lembutnya membuat Rain ingin terus berada di sisi cowok ini. Otak Rain sepertinya sudah tercemar. Dia jadi pengen cepet nikah sama Bara supaya hidup bahagia seperti Rean dan Mentari.
"Ya?" jawab Rain, tapi dia nggak mau menoleh ke arah Bara yang pastinya wajah Rain sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Kamu harus tahu, rasa cintaku padamu seperti nilai tangen 90°, kalkulator saja tak mampu menghitungnya, benar-benar tak terhingga."
Rasanya Rain ingin salto saat ini juga. Meski Bara selalu pandai menggombal entah kenapa kali ini hatinya malah bahagia.
Rain berharap selamanya dia akan tetap bahagia seperti ini. Tidak ada lagi orang-orang yang mengganggu kebahagiaannya seperti yang sudah-sudah.
Tamat..
Author berterima kasih kepada para pembaca yang selalu setia membaca, memberi like dan dukungan pada cerita ini. Author meminta maaf jika banyak kesalahan dalam menulis. Ya, karena author hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa. Sampai bertemu lagi pada cerita lain yang akan author upload. Maaf jika endingnya mengecewakan mungkin. Tanpa kalian aku pasti nggak punya semangat buat nulis. Love banyak-banyak buat kalian semua.
Komen yang banyak. bakal ada cerita sekuelnya. kalian pilih cerita Rean dan Mentari atau Rain dan Bara di kehidupan selanjutnya?
__ADS_1