Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 69


__ADS_3

Sebenarnya Rain memang sudah merencanakan untuk hidup sendiri di sebuah apartemen. Hanya saja dia tidak mendapatkan izin dari sang papa. Jadi di saat ada Mentari di apartemen itu, Rain mengambil kesempatan untuk mendesak Damian memberikan izin. Akan tetapi hasilnya nihil. Jadi percuma saja Rain membuat drama yang sedemikian rupa kalau izin Damian saja tidak dia dapatkan. Rain tetap harus tinggal bersama Rean jika mau di apartemen. Tanpa Rean ya dia harus bersama Damian di rumah barunya nanti. Sungguh, ini tidak adil bagi Rain.


Rean nampak pening kepalanya melihat isi kamar yang luar biasa kacau. Di belakang Rean ada Mentari yang sudah syok melihat kekacauan itu. Rain benar-benar mengerikan di mata Mentari.


Rean mengedarkan pandangan, mencari sosok Rain tapi tidak ada di sana. Dia membuka pintu kamar Rain dan hasilnya nihil.


"Rain! Lo dimana sih!" teriaknya.


Mentari mencoba masuk ke kamar Rean. Memberesi apapun yang bisa dia beresi. Semua pakaian Rean dia lipat kembali, sedikit demi sedikit dia masukkan ke dalam lemari.


Rean masih berteriak mencari Rain yang tentu saja tidak akan dia temukan. Rain sedang berada di rumah Mentari bersama Damian. Rencana Damian yang hendak meminta persetujuan ibunya untuk menikahkan Rean dan Mentari.


"Jadi ... Putriku tidak hamil kan?" tanya Yasmin, ibu Mentari yang terlihat syok dan kecewa.


Memberikan kebebasan untuk Mentari rupanya gadis itu salah menggunakannya. Hati ibu mana yang tidak kecewa jika anaknya telah berbohong dan melakukan hal di luar batas. Ya, meski pihak lelaki akan bertanggung jawab tetap saja hubungan di luar nikah itu tidak di benarkan.


Mentarinya yang pekerja keras, penurut dan sangat menyayangi keluarga itu rupanya telah berubah menjadi Mentari yang ... Mengecewakan hati ibunya.


"Tenanglah, mereka tidak melakukan apapun. Maafkan putra saya yang telah membawa putrimu tidur di kamar yang sama."


"Mana mungkin mereka tidak melakukan apapun, Tuan. Mereka satu kamar di dalam apartemen yang hanya ada mereka berdua. Tentu setan bisa lewat." Yasmin sudah tidak bisa lagi menahan kesedihannya.


Wanita itu menangis, Rain mendekat untuk memeluk ibu Mentari. Dia tahu jika ibu Mentari sangat kecewa jika selama ini putrinya menjalin hubungan dengan Rean yang sangat dia tentang karena Yasmin tidak mau putrinya bernasib sama seperti dirinya dulu. Bukan karena tidak percaya dengan Rean, hanya saja bayang-bayang masa lalunya terus sama berputar di kepalanya. Ketika Rean selalu datang menjemput Mentari dan Yasmin selalu mewanti-wanti untuk tidak menyukai atau berpacaran dengan Rean.


Anggap saja itu permintaan Tuan muda kepada pembantunya. Itu yang selalu Yasmin tanamkan kepada Mentari. Yasmin adalah bekas pembantu di rumah Damian dulu saat mereka masih kecil. Yasmin keluar ketika mengandung adiknya Mentari, Sean. Jadi Yasmin tahu betul bagaimana lika-liku kehidupan Damian. Yasmin juga tahu jika mereka orang baik, berbeda dengan keluarga suaminya dulu.


"Bibi percaya sama Rain kan? Tenang saja Rean nggak bakal melakukan apapun. Hanya saja usul Rain lebih baik mereka menikah muda saja. Takut jika sesuatu terjadi sebelum mereka menikah." Rain mengusap puncak Yasmin yang sudah dia anggap seperti ibu sendiri.


Dulu saat bekerja di rumahnya, Rain sangat dekat dengan Yasmin. Beda dengan Rean yang tidak terlalu dekat. Rasanya ini seperti mimpi jika Rean akan menyukai putrinya.


"Rain benar, Rean pasti menjaga Mentari. Hanya saja mereka sudah tidur di kamar yang sama. Meski tidak melakukan apapun. Saya yang akan menanggung biaya sekolah Mentari. Kamu tenang saja." Damian mencoba meyakinkan Yasmin.


Yasmin menghapus air matanya, menatap Rain dan Damian bergantian. Ada rasa takut yang tidak terlalu kentara di sorot mata Yasmin. Bagaimana nasib Mentari nanti. Bukan soal harta yang dia pikirkan. Namun, menikah muda itu banyak sekali yang harus di pikiran. Menikah tidak seperti berpacaran. Membayangkan jika Rean akan bosan dan memilih berpisah lalu Mentari menjadi single parent sepertinya. Oh, tidak.


"Tuan, sebaiknya tidak perlu cepat-cepat menikah. Jika Rean tidak melakukan apa-apa. Menurut saya__"


"Mentari tidak akan sepertimu. Jangan khawatirkan itu. Aku tahu, kamu sedang khawatir apa yang kamu rasakan itu akan Mentari rasakan? Rean tidak sebrengsek suamimu itu, Yasmin!" Damian berkata tegas. Dia juga tahu bagaimana kehidupan Yasmin dulu hingga sekarang Damian tahu jika ayah Mentari masih mengganggu mereka.


Rean yang menceritakan semuanya dan meminta bantuan Damian untuk membuat ayah Mentari menjauh.


"Aku akan membelikan rumah untukmu setelah Mentari menikah nanti. Pindahlah dari sini dan aku akan memberikan modal supaya kamu bisa membuka usaha di rumah menjaga Sean."


"Tidak perlu, Tuan. Melihat Mentari bahagia sudah cukup bagi saya." Yasmin merasa sungkan dan juga menurutnya Damian terlalu berlebihan.


Menjadi besan mantan majikan sungguh tidak pernah Yasmin pikirkan. Semua di luar dugaan. Antara senang juga sedih.


"Aku hanya meminta persetujuan kamu saja. Jadi bagaimana? Jangan pernah menolak apa yang aku berikan, Yasmin."


"Bibi, apa yang dikatakan papa benar. Bibi tidak mau kan jika suatu hari nanti terjadi hal yang tidak-tidak. Lebih baik nikahkan saja mereka." Rain yang sejak tadi diam pun ikut bersuara dan meyakinkan Yasmin.


"Bibi, tenang saja pernikahan ini hanya sah dimata agama. Setelah mereka lulus baru kita resmikan," usul Rain.


"Ya, Rain benar. Bagaimana?"

__ADS_1


"Baiklah, Tuan. Saya akan bicara dengan Mentari."


Damian menghela napas lega. Sebenarnya juga dia sudah tidak tahan di rumah Mentari yang sungguh membuatnya merasa seperti sedang di rebus di air mendidih.


"Kabari aku jika Mentari juga setuju." Damian memberikan kartu namanya.


Lalu mereka pamit dan pergi dari rumah Mentari yang sangat sempit. Kepergian mereka menyisakan kerinduan akan mendiang Kimberley. Apalagi jika melihat Rain, selalu saja Yasmin memeluk gadis itu untuk melepas rindu terhadap mendiang Kimberley. Seumur hidup, Yasmin selalu mengenang kebaikan Kimberley yang sudah banyak menolongnya.


"Nyonya, lihatlah putramu sudah besar dan sekarang mencintai putriku. Kalau saja kamu masih hidup." Yasmin menghela napas dan bangkit dari duduknya.


Dia pergi ke kamar untuk melihat Sean yang sedang terlelap karena bangun terlalu pagi akhirnya dia tertidur. Beruntung sekolahnya libur. Yasmin berjualan kue di pasar dan Sean selalu ikut karena Mentari menginap di rumah Rain yang ternyata Rain tinggal di apartemen bersama Rean. Juga Yasmin baru tahu jika Mentari menjadi kekasih Rean.


Yasmin mencium dengan gemas pipi bakpao Sean. Suara ketukan pintu membuat jantung Yasmin berdebar. Dia selalu was-was jika suaminya itu datang dan meminta uang. Atau keluarga suaminya datang untuk mencari putra kebanggaan mereka dan mengobrak-abrik rumah kecilnya. Bahkan mereka tidak pernah perduli dengan Sean dan Mentari yang tak lain adalah cucu mereka.


"Ibu, ini Mentari!" teriak gadis itu yang tahu jika ibunya sedang ketakutan.


Mentari yang panik lupa mengatakannya. Yasmin memang selalu mewanti-wanti Mentari jika mengetuk pintu katakanlah jika itu dirinya.


Yasmin segera membuka pintu itu dan menghambur ke dalam pelukan sang putri. Sementara wajah Mentari sudah pucat pasi.


"Ibu, peluknya nanti saja. Ayo masuk!" Mentari sedikit mendorong tubuh ibunya. Lalu mengunci dengan rapat pintu itu.


Dia juga menutup gordennya agar terlihat tidak ada orang.


"Dimana Sean?"


"Di kamar. Ada apa, nak?"


Mentari bergegas ke kamar. Benar saja jendela itu terbuka lebar. Kamar yang di tempati Yasmin dan Sean memang dekat jalan. Dia langsung menutup jendela itu dan menguncinya. Dia juga menutup gorden.


"Ayo, kita ke kamar, Bu," bisik Mentari.


"Ini ada apa?"


Belum sempat Mentari menjawab suara pintu di gedor pun terdengar. Yasmin sudah tahu itu siapa, wanita itu hendak membukanya tapi Mentari langsung menghalangi.


"Jangan!"


"Mentari, buka, Nak. Apa kamu tidak dengar jika ayah ingin berkumpul lagi dengan kalian. Ayah minta maaf. Tolong buka pintunya."


Mendengar hal itu hati Yasmin sedikit tersentuh. Rupanya Nevan mau meminta maaf dan ingin berkumpul lagi seperti dulu.


"Nak, lihat. Ayahmu mau minta maaf!" Yasmin terharu. Kedua matanya berkaca-kaca.


Sementara Mentari menatap kesal ke arah ibunya.


"Rean akan datang dan mengusir lelaki itu, Bu. Tenang saja!"


"Apa?" Yasmin terkejut karena Mentari malah meminta bantuan orang lain untuk mengusir suaminya.


Laki-laki yang Yasmin benci juga dia rindukan.


"Ibu ini kenapa? Dia sudah jahat sama kita. Minta maafnya itu palsu, Bu. Apa ibu lupa? Dia hanya memanfaatkan ibu supaya menampung hidupnya lalu kembali menyiksa kita jika apa yang di dapat tidak kita kabulkan." Dada Mentari sudah naik turun. Dia sedang menahan emosinya.

__ADS_1


"Apa ibu lupa? Kasian Sean! Seharusnya ibu bisa belajar dari yang sudah-sudah. Dia datang memohon maaf dan berkata lembut, lalu menjadikan ibu sapi perah dan aku yang hampir di jual. Ibu lupa?"


Yasmin terdiam, melihat Mentari dengan raut yang kecewa juga sedih mendalam. Ucapan Mentari benar, tapi entah mengapa dia merasa jika Nevan ini memang tulus untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan keluarga kecilnya.


"Yasmin, tolong buka pintunya. Aku mohon. Maafkan semua kesalahanku, Yasmin. Aku janji akan menjadi ayah dan suami yang baik!"


Yasmin yang tergerak hatinya pun hendak melangkah dan langsung di cegah oleh Mentari.


"Baik kalau ibu percaya sama dia, maka Mentari akan pergi dari sini membawa Sean!" ancam Mentari.


Yasmin menggeleng, "Jangan tinggalkan ibu, Nak. Ibu hanya ingin keluarga kita kembali seperti dulu."


"Lupakan itu, ibu mau aku jadi wanita malam? Ibu mau aku keluar sekolah dan menuruti perintah laki-laki itu! Ibu tidak tahu jika dia hanya pura-pura. Mentari yang tahu akal busuknya! Tuan Damian datang dan dia melihat itu, Bu. Dia membuat malu ibu di depan Tuan Damian dengan meminta sejumlah uang!" jelas Mentari dengan suara yang rendah dan tidak di dengar oleh Nevan.


Sean yang terusik karena suara berisik Nevan pun terbangun. Dia ketakutan dan segera berlari. Sean tahu jika ayahnya tidak suka dia menangis. Akhirnya dia berlari dengan menutup mulutnya sambil terisak.


"Lihat Sean! Betapa ketakutannya dia! Jika ibu masih egois dan percaya pada laki-laki itu silahkan!"


Mentari menggendong tubuh Sean yang gemetaran karena ketakutan.


"Kakak, Sean takut."


Mentari mengusap punggung Sean. Mencoba menenangkan adiknya. Dia menuju ke kamar dan meninggalkan Yasmin yang bingung. Mentari benar tapi dia juga merasa firasatnya itu benar. Jika Nevan akan datang dan menata kembali keluarga kecilnya yang sudah berantakan.


Yasmin tidak perduli itu, dia lebih menuruti kata hati kecilnya dan membuka pintu untuk Nevan.


"Yasmin!" Nevan langsung memeluk erat wanita itu.


Nevan berlutut dihadapan Yasmin untuk meminta maaf.


"Maafkan aku Yasmin. Aku banyak salah padamu. Aku ingin kembali dalam keluarga kecil kita yang sudah hancur berkeping-keping. Aku akan menata kepingan-kepingan itu supaya kembali sempurna meskipun tidak seperti dulu lagi. Maafkan aku," kata Nevan dengan suara bergetar. Dia menangis dan Yasmin semakin percaya.


"Bangunlah."


"Aku sudah memaafkanmu, Mas."


Nevan kembali memeluk Yasmin, dia bahagia karena wanita yang masih menjadi istrinya telah memaafkan semua kesalahan yang telah dia perbuat.


"Aku dengar Mentari akan menikah. Izinkan aku menjadi walinya. Apa dia menikah dengan lelaki___"


Bugh ...


Rean datang dengan memukul punggung Nevan.


"Bibi, pergilah!"


"Apa yang kamu lakukan, Tuan muda?" Yasmin terkejut dengan kedatangan Rean yang tiba-tiba memberikan serangan kepada Nevan.


"Heh, anak ingusan! Jadi ini calon suami Mentari, hah! Aku tidak akan pernah merestui anakku menikah denganmu! Dia sudah aku jodohkan kepada juragan tanah dan sebentar lagi akan aku nikahkan!"


Mendengar hal itu Yasmin terpekik. Bagaimana bisa Nevan menjodohkan Mentari dengan juragan tanah yang sudah tua dan memiliki tiga istri itu!


Apa Yasmin sedang di jebak? Jika benar, betapa bodohnya dia yang selalu percaya dengan ucapan manis Nevan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2